
Hyacinth dan Barack yang akan pergi ke tempat pemilihan permaisuri, tengah berjalan melewati taman istana yang tak jauh dari tempat itu. Tak sengaja atensinya tertuju pada sosok Rubiana dan beberapa wanita disana yang menatapnya dengan tajam, memancarkan aura permusuhan. Hyacinth menghentikan langkahnya, entah untuk berapa lama. Ia akan melihat apa yang terjadi disana.
Tak lama kemudian Hyacinth melihat Rubiana terjatuh, terduduk di rerumputan dengan rambut dan gaunnya yang basah.
"Kenapa kalian tega melakukan ini kepada saya? Saya tau saya tidak pantas berada disini, tapi kalian tidak usah cemas...saya akan pergi dari sini sekarang juga...hiks...hiks..." Rubiana menangis dengan kepala dan baju yang basah karena air minum itu.
"Sebenarnya apa yang kau--" salah seorang wanita yang memegang gelas berisi air minum itu terkejut dengan sikap Rubiana.
"Kau tidak akan pergi dari sini!" seru seorang pria yang berjalan mendekat ke arah mereka. Tatapannya begitu tajam pada para pelayan dan tiga orang nona bangsawan yang mengganggu Rubiana. Mereka semua terkejut saat melihat kedatangannya, sontak semua orang di sana menundukkan kepala mereka seraya memberi hormat.
"Hormat kami, Baginda raja!" ucap semua orang disana dengan kepala yang menunduk. Kedua pelayan yang membawa Rubiana ke taman tadi, terlihat gemetar ketakutan.
Rubiana yang masih duduk di rerumputan, melirik tajam pada kedua pelayan itu. Diam-diam dia menyembunyikan senyumannya yang menyeringai.
Gadis itu beranjak dari rerumputan untuk memberi hormat kepada raja Hyacinth m Akan tetapi tubuhnya kembali roboh. "Hormat saya bagin--ahh..."
Dengan sigap Hyacinth memegang tangan Rubiana untuk menopang tubuhnya yang limbung. "Ada apa? Apa kau baik-baik saja?" tanya Hyacinth cemas.
Kecemasan Raja Istvan yang masih muda dan tampan itu bisa dirasakan oleh semua orang yang ada disana, termasuk Barack. Pria itu menatap tajam pada Rubiana.
"Saya tidak apa-apa Yang Mulia." lirih Rubiana dengan wajah memelas. "Tolong lepaskan tangan saya Yang Mulia." pinta Rubiana seraya menepis tangan Hyacinth. Namun pria itu enggan melepaskannya.
__ADS_1
"Yang mulia...tolong lepaskan saya," ucapnya lagi.
Hyacinth, begitu mudahnya kau jatuh cinta pada tubuh ini? Padahal kau belum lama membunuhku, belum lama kau mengatakan cinta padaku. Kau memang BRENGSEK. Rubiana memaki Hyacinth dalam hatinya karena pria itu mudah jatuh cinta pada wanita lain setelah mematahkan hatinya.
"Apa yang kalian lakukan padanya?" tanya Hyacinth pada semua wanita yang ada disana, tangannya masih memegang tangan Rubiana.
"Yang mulia...i-itu..." salah seorang memberanikan diri untuk bicara, namun ia takut dengan tatapan Hyacinth padanya.
"Beraninya kalian mengganggunya?" pria itu bertanya dengan nada bicara yang dingin namun penuh penekanan. Hingga siapapun yang mendengarnya akan terintimidasi.
Seorang wanita berambut pirang lalu berbicara. "Yang mulia, kami tidak melakukan apapun padanya. Dia jatuh sendiri dan menyiram kepalanya sendiri."
"Ackkk!!"
Semua orang yang menyaksikannya terkejut mana kala Hyacinth mencekiknya. Tak peduli wanita itu berasal dari bangsawan mana, Hyacinth tidak akan biarkan siapapun menyakiti Rubiana.
"Barack! Batalkan pemilihan permaisuri hari ini, kirim mereka semua kembali ke rumah mereka!" titah Hyacinth murka.
"Yang mulia saya mohon lepaskan dia." bukannya patuh pada perintah, Barack malah meminta Hyacinth untuk melepaskan nona bangsawan itu. Namun sayang Hyacinth tak mau mendengarkannya.
"Kau--"
__ADS_1
Bagi Rubiana ini sudah cukup untuk membuktikan bahwa Hyacinth jatuh cinta padanya. Gadis itu pun menghentikan Hyacinth sebelum ia membunuhnya. "Yang Mulia, saya baik-baik saja...saya mohon hentikan. Ini salah saya karena berada disini. Saya--saya minta maaf, saya mohon undur diri dulu semuanya."
Rubiana melepaskan tangan Hyacinth yang menggenggamnya. Lalu dia pun berlari pergi dari sana dengan air mata buayanya.
Hyacinth mengejarnya, lalu dia pun memeluk wanita itu dari belakang. "Ya-yang Mulia..."
"Kau mau pergi kemana Rubiana? Kau mau pergi dari istana ini dan meninggalkanku?" tanya Hyacinth yang semakin mengeratkan pelukannya pada Rubiana.
"Yang Mulia...saya tidak bisa berada disini saya tidak pantas."
"Rubiana, aku tau pertemuan kita terbilang singkat. Katakanlah aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama, inilah yang kurasakan." Hyacinth berkata lirih, sungguh-sungguh. Lalu dia membalikkan tubuh Rubiana hingga mereka saling berhadapan.
Kedua netra bertemu cukup dalam, Rubiana dengan mata berkaca-kaca dan Hyacinth dengan mata yang penuh perasaan.
"Rubiana, jadilah permaisuriku! Permaisuri negeri ini."
Deg!
Rubiana tercengang dengan apa yang dikatakan oleh Hyacinth. Dia tidak menyangka akan secepat ini dia meraih posisi itu, posisi terdekat untuk membalaskan dendamnya.
*****
__ADS_1