Balas Dendam Putri Bulan

Balas Dendam Putri Bulan
Bab 52. Kekuatan sesungguhnya


__ADS_3

****


Theo menatap lekat ke arah Rubiana, dia melihat kedua mata gadis itu dengan lekat. Mendengar nama Selena disebut, ia jadi teringat dengan sosok sahabat sekaligus cinta masa kecilnya.


Saat Rubiana sadar bahwa Theo menatapnya, dengan cepat gadis itu memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia belum siap mengatakan siapa dia sebenarnya.


"Kalian... benar-benar...uhuk...uhuk..." mulut Barack mengeluarkan banyak darah. Belati yang ditusuk kedalam tubuhnya bukan belati biasa, melainkan belati ajaib milik klan Serigala putih.


Tak lama kemudian, mata Barack terpejam untuk selamanya. Tubuhnya tergeletak berlumuran darah diatas tanah.


"Ayo! Kita harus menemui Hyacinth!" ujar Lucas pada Rubiana, seraya memegang tangan gadis itu. Dia cemburu melihat tatapan Theo pada kekasihnya.


Theo memegang tangan Rubiana yang satunya lagi dan menahannya. Sontak saja Rubiana dan Lucas menoleh ke arah pria itu.


"Kau Selena, kan?" tanya Theo dengan tatapan sendu pada gadis itu.


Rubiana tidak menjawab, ia hanya tersenyum lalu menepis pelan tangan Theo. Tatapannya seolah mengatakan pada Theo, 'kita bicara lagi nanti'. Theo paham, akhirnya ia membiarkan Rubiana pergi dari sana bersama Lucas.


"Rupanya kau masih hidup Selena, kau Selena." gumam Theo lega.


****


SLING!


SLING!


Terdengar suara pedang mengayun tengah beradu kekuatan dengan sinar hitam dan sinar putih mengelilingi tubuh mereka berdua. Ya, mereka adalah Aiden dan Hyacinth.


Keduanya sama-sama berkeringat, namun Hyacinth terlihat masih kuat. Dia bahkan menunjukkan sisi setengah iblisnya. Wajahnya bersisik dan giginya bertaring tampak menyeramkan. Langit pun tampak menghitam gelap gulita layaknya malam hari. Itu semua karena kekuatan gelap Hyacinth.


"Matilah kau!" sentak Hyacinth dengan senyumnya yang menyeringai. Dia membuat tubuh Aiden terlempar jauh ke tembok. Rubiana kaget melihat itu semua, dia takut kakaknya terluka lebih parah. Atau bahkan lebih buruk dari itu, adalah kematian.


BUGH!


"Ohok...ohok..." mulut Aiden mengeluarkan darah setelah dia diserang oleh Hyacinth.


"Hyacinth sayang!!" teriak Rubiana yang mengalihkan perhatian Hyacinth.


Pria itu menoleh ke arah istrinya, ia melihat istrinya jatuh terduduk di lantai dengan wajah yang tampak kesakitan. "Hyacinth sayang, tolong aku..."

__ADS_1


Hyacinth bergegas menghampiri istrinya dan meninggalkan pertarungannya dengan Aiden. "Apa yang terjadi padamu Ruby?"


Diam-diam Rubiana tersenyum menyeringai, lantas ia memeluk suaminya dan tiba-tiba saja Hyacinth terkejut karena ada benda yang menembus jantungnya. Darah mengucur dari dada pria itu, sontak ia melepaskan pelukannya.


Tes, tes...


Darah itu mengucur bahkan sampai membasahi gaun Rubiana yang berwarna putih. Rubiana tersenyum puas melihat Hyacinth kesakitan dengan pedang suci menancap ditubuhnya.


Tak jauh dari sana, Lucas, Damon, Theo dan Aiden melihat itu semua. Aiden bingung kenapa Rubiana membunuh Hyacinth, suaminya sendiri.


"Ruby...kenapa...aku..."


Wajah Hyacinth yang setengah iblis tadi berangsur-angsur berubah menjadi wajah manusianya yang seperti biasa. Bahkan sinar hitam didalam tubuhnya perlahan menghilang.


"Sebenarnya aku ingin mengambil hati dan jantungmu, tapi aku tidak bisa membiarkan kau menyakiti kakakku lebih dalam lagi! Tidak Hyacinth! Kau sudah mengambil segalanya dariku, aku tidak akan pernah membiarkan kau mengambil kak Aiden dan kak Rosela dariku, dua orang yang paling aku sayangi!" mata Rubiana menyorot tajam melihat Hyacinth jatuh terduduk sambil memegang dadanya. Terlihat kekecewaan di mata pria itu kepada Rubiana, gadis yang ia cintai.


Deg!


Tapi saat itu juga Hyacinth tersadar bahwa wanita yang berada didepannya adalah Selena. Wanita yang pernah ia bunuh dengan cara mengambil jantung dan hatinya.


Aiden dan Theo terkejut mendengar apa yang dikatakan Rubiana. Mereka tidak menyangka dan tak percaya bahwa Rubiana adalah Selena.


"Selena...kau..." lirih Hyacinth dengan wajahnya yang sudah pucat. Tanpa disangka-sangka, ia juga menangis saat melihat Rubiana. Saat ia tau fakta bahwa Rubiana adalah Selena.


"Ini...masih belum cukup!!" teriak Rubiana, gadis itu lalu mengambil pedang suci yang menancap di dada Hyacinth. Tak peduli pedang itu berlumuran darah.


Dia mengarahkan pedang itu ke langit, keluarlah cahaya dari pedang itu menembus langit. "Aaarhhhh!!!"


Gadis itu menjerit, matanya berubah menjadi warna putih semua. Tubuhnya melayang di udara. Dia mengubah langit gelap kembali menjadi terang. Semua mata terpana melihat kekuatan Rubiana, dia bersinar dibawah bulan dan matahari.


"SELENA!" panggil Lucas pada kekasihnya itu, dia mulai panik karena Rubiana menunjukkan kekuatan sesungguhnya dan bisa tidak terkendali karena kemarahan.


"Selena hentikan! Sebentar lagi dia akan mati!" seru Lucas yang sama sekali tidak di gubris oleh Rubiana yang saat ini dikuasai amarah.


"MATI PUN KAU TIDAK BOLEH TENANG HYACINTH!" bentak wanita itu, kemudian dia mengambil keluar jantung dari dalam tubuh Hyacinth. Mungkin karena Hyacinth setengah iblis, maka ia masih cukup kuat untuk hidup saat ini meski jantungnya telah diambil.


"Selena... aku mencintaimu..." gumam Hyacinth sambil menangis penuh penyesalan. Dia menyesal sudah melukai Selena karena ambisinya. Dan alasan dia memilih Rubiana karena gadis itu mirip dengan Selena. Tapi semua penyesalan itu sudah terlambat.


"Mencintaiku? Iblis sepertimu mana mungkin punya hati untuk mencintaiku. Aku juga ragu kau punya hati!" sentak Rubiana penuh kemarahan dan dendam. "Setelah apa yang kau lakukan padaku pada keluargaku, aku tidak bisa memaafkanmu Hyacinth!" ucap wanita itu tanpa ampun.

__ADS_1


Kini Hyacinth berdarah-darah berada didepannya, pria itu sudah terlihat tak berdaya. Rubiana sama sekali tidak iba padanya, ini yang dia tunggu-tunggu selama ini. Kematian Hyacinth, dendamnya yang terbalaskan.


"Maafkan aku Selena...tapi kumohon...izinkan aku untuk memelukmu... terakhir kalinya..." pinta Hyacinth dengan nafas yang tersengal-sengal, darah ditubuhnya mengalir sangat deras membasahi tanah tempatnya terbaring saat ini. Rubiana menatap tajam pada Hyacinth, lalu ia menancapkan kembali pedang itu ke perut Hyacinth.


"ARGH!!" erang Hyacinth kesakitan, kemudian dia memejamkan mata untuk selamanya di bawah kaki gadis itu.


Disisi lain, Rosela menghampiri suaminya yang terluka.Dia menanyakan keadaan suaminya itu. "Suamiku, apa kau baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja istriku. Dan ternyata apa yang kau katakan itu benar...gadis itu dia Selena." tunjuk Aiden pada Rubiana yang kini sedang mengeksekusi mati suaminya sendiri tanpa ampun, membalaskan dendamnya.


"Iya suamiku, dia Selena..." Rosela memeluk suaminya sambil menangis haru, dia bahagia karena Selena masih hidup meski didalam tubuh orang lain.


Tiba-tiba saja disaat keadaan lengah, datanglah sebuah Boomerang yang entah muncul dari mana dan mengarah pada Rosela juga Aiden. Namun, dengan cepat Rubiana berdiri didepan mereka dan menghadangnya.


"TIDAK! SELENA!" teriak Lucas dan Theo yang tidak sempat menolong Selena.


Jleb!


Boomerang itu menancap didada Rubiana, ia pun roboh dan jatuh tepat didepan Rosela dan Aiden.


"Selena!"


"Kak Aiden...kak Rosela..." gumam Rubiana dengan darah mengucur dari mulutnya. Dia menatap kedua orang tersayangnya dengan sendu. Bibirnya tersenyum lembut.


Rosela menghampiri Rubiana lebih dulu, dia meletakkan kepala gadis itu di pangkuannya. Lucas dan Theo juga menghampiri Rubiana. Dada Lucas terasa sesak melihat Rubiana, dia juga seperti merasakan rasa sakit yang dirasakan gadis itu.


"Kau akan baik-baik saja, Selena...jika terjadi sesuatu padamu. Maka aku pun...akan..." Lucas mengenggam tangan Rubiana dengan erat. Jangan lupa, bahwa mereka sudah melakukan imprint dan bila salah seorang merasakan sakit. Maka pasangannya juga akan sakit.


"Aku tidak apa-apa Lucas..." gadis itu tersenyum lalu memandang kepada kedua kakaknya.


"Selena, ini kakak! Kau harus baik-baik saja, banyak hal yang harus kukatakan padamu." Aiden mengusap kening Rubiana dengan penuh kasih sayang. Dia mencemaskan gadis itu.


Gadis itu tidak merespon, seluruh tubuhnya sakit seakan lemas tak bertenaga. Kemudian tangannya menyentuh perut Rosela, dia lalu tersenyum. "Rupanya dua-duanya perempuan Kalian harus menjaganya baik-baik," ucap Rubiana dengan tatapan sendunya. Rosela dan Aiden saling menatap satu sama lain sekilas, lalu mereka melihat Rubiana.


"Maafkan aku..." lirih Rubiana sambil tersenyum, air matanya menetes. Ia melihat bayangan ayah, ibu dan adiknya yang sudah tiada ada didepannya.


"Kau harus tetap disini, kau tidak boleh kemana-mana!" seru Lucas panik saat melihat mata Rubiana terpejam dan terbuka. Dia benar-benar ketakutan akan kehilangan gadis itu.


"Aku ingin tidur, aku lelah." ucap gadis itu, lalu tangannya terkulai lemah tak berdaya, bersamaan dengan matanya yang terpejam.

__ADS_1


...***...


__ADS_2