
Hyacinth pun pergi dari sana dengan membawa Rubiana yang tertidur pulas di gendongannya. Dia bersumpah setelah ini ia akan mengurung Rubiana didalam istana tanpa dan tidak akan memberi celah sedikitpun pada wanita itu untuk kabur.
Setelah yakin Hyacinth benar-benar pergi, Lucas keluar dari persembunyiannya. Dia menatap punggung Hyacinth yang mulai menjauh, pria itu mengikutinya sampai ke depan penginapan. Hingga Hyacinth dan rombongannya juga Rubiana pergi dari sana dengan menaiki kereta mewah.
"Sekarang aku harus masuk ke dalam istana, aku harus membantu Selena." gumam Lucas dengan tekad kuat akan membantu Rubiana. Kemudian pria itu pun menghilang bersama dengan sinar putih dari tubuhnya, menghilang entah kemana.
****
Cahaya mentari mulai masuk Lina melalui celah-celah jendela kamar mewah dengan cat yang dominan dengan warna merah muda, di ranjang kelambu itu terlihat seorang gadis tengah tertidur pulas. Hingga ia terbangun saat cahaya mentari itu membuatnya membuka mata dengan terpaksa.
"Kenapa aku bisa ada disini? Ini kamar siapa?" tanya Rubiana bingung dengan kamar asing ini. Namun ia yakin bahwa kamar ini bukanlah kamar biasa. Dekorasi yang di dominasi oleh emas, kamar yang luas, seperti kamar di istana. Anehnya dia tidak pernah melihat kamar ini sebelumnya.
"Apa ini istana? Hyacinth--dia sudah menemukanku? Lalu dimana tuan pengawal?" Rubiana menanyakan Lucas begitu dia bangun dari tidurnya. Saat gadis itu beranjak dari tempat tidurnya, ia hendak berjalan keluar dari kamar. Tiba-tiba saja pintu kamar itu terbuka dan sontak membuat Rubiana terkejut.
"KYAAKKK!" teriakan lolos dari bibir Rubiana, gadis itu terjengkang. Namun satu tangan kekar dari seorang pria dengan sigap menahannya.
Hyacinth? Ternyata benar ini di istana dan dia sudah membawaku kembali. Kapan? Kenapa cepat sekali dia menemukanku? Kenapa aku tidak sadar dia membawaku? Rubiana bertanya-tanya didalam hatinya.
"Kau mau kemana Ruby?" tanya Hyacinth sambil memandangi wajah bingung gadis itu. Wajah yang membuatnya gemas dan terbayang-bayang terus.
"Yang Mulia, kenapa saya bisa ada disini?" tanya Rubiana pura-pura bingung, padahal dia tau bahwa ini akan terjadi.
"Disini memang tempat tinggalmu, Ruby." jawab Hyacinth dengan senyuman tipis yang sulit diartikan oleh Rubiana. Bahkan pria itu memanggilnya dengan akrab.
"Apa maksud anda Yang Mulia?" gadis itu mendorong tubuh Hyacinth, dia menjauh dan menundukkan kepalanya. "Tidak seharusnya Yang Mulia membawa saya kemari,saya tidak pantas untuk kemurahan hati Yang Mulia. Terimakasih untuk kebaikan hati Yang Mulia yang sudah menolong saya, tapi saya harus pergi dari sini."
Rahang pria itu mengeras saat mendengar apa yang dikatakan oleh Rubiana. Dia kembali mencengkram tangan gadis itu dan menaikkan dagunya, hingga wajah mereka bertemu.
"Setelah aku mencarimu semalaman, mana bisa aku membiarkanmu pergi dari sini." tukas pria itu dingin.
"Yang Mulia, jangan lakukan ini." bulu kuduk Rubiana meremang manakala dia melihat tatapan Hyacinth padanya yang penuh obsesi. Apa dia salah lihat?
__ADS_1
"Yang Mulia--" Rubiana panik saat Hyacinth mulai mendekatkan wajahnya, tatapan pria itu juga begitu nanar penuh nafsu padanya. Sontak Rubiana memalingkan wajahnya. Tapi pria itu kembali mendekap tubuhnya hingga tubuh mereka menempel.
Aku tidak sudi disentuh olehmu BRENGSEK! Maki Rubiana dalam hatinya.
"Kenapa anda melakukan ini? Lepaskan saya yang Mulia...saya mohon." pinta Rubiana pada pria itu, namun Hyacinth tak mau melepaskannya.
"Aku mencintaimu, Ruby...aku mencintaimu. Aku ingin kau jadi permaisuriku!" ujar Hyacinth dengan serius dan tatapan dalam pada wanita itu.
"Yang Mulia, anda bisa mencari wanita lain. Saya tidak pantas!"
"Kau berani menolakku? Kau lupa siapa aku? Aku bisa membuat yang tidak pantas menjadi pantas, karena aku seorang Raja. Aku Raja yang berkuasa dan bisa mendapatkan apapun yang kuinginkan. Termasuk dirimu."
"Mana berani saya menolak Yang Mulia, saya hanya merasa tidak pantas."
"No, jangan berpikir begitu. Bukankah sudah kubilang biar aku yang atur semuanya. Kau akan menjadi Ratuku dan itu mutlak!" Hyacinth melepaskan tubuh Rubiana setelah mendapatkan jawaban anggukan kepala darinya.
Lebih baik aku iyakan saja untuk sekarang. Batin Rubiana.
Meskipun kabur, kau tidak akan bisa. Batin Hyacinth.
"Mana berani saya menolak Yang Mulia." jawab Rubiana dengan wajah polosnya. Dia tau bahwa setelah ini jalannya tidak akan mudah, pasti akan banyak orang yang menentangnya sebagai permaisuri. Tapi dia harus menjadi permaisuri akan lebih dekat dengan balas dendamnya. Rubiana juga tidak akan peduli bila seandainya Hyacinth punya wanita lain, atau selir. Dia hanya ingin balas dendam, mengambil kerajaan ini dan membuat Hyacinth menderita.
Hyacinth tersenyum, lalu dia pun menuntun Rubiana untuk duduk di sofa empuk kamar itu. Hyacinth juga memerintahkan pengawal untuk membawakan sarapan ke kamar Rubiana. Pria itu sangat memperhatikan Rubiana, berbanding terbalik dengan sikapnya pada orang lain yang dingin.
Setelah Rubiana setuju dengan permintaannya menjadi permaisuri, Hyacinth sangat bahagia. Dia menawarkan Rubiana banyak mas kawin dan ia akan memberikan apapun yang diinginkan oleh Rubiana.
Keputusan Hyacinth tak bisa diganggu gugat oleh apapun juga, bahkan Rudolf juga dipaksa mengurus semua pendidik calon permaisuri untuk Rubiana. Hyacinth tidak peduli dengan bangsawan yang protes padanya karena mereka tau Rubiana yang akan menjadi permaisuri adalah seorang pelayan dan pelacur dari club' madam Morena. Yang menentang Hyacinth, akan dibunuh dan mereka pun bungkam membiarkan pria itu berbuat sesukanya.
"Bagaimana bisa Yang Mulia memilih gadis rendahan itu menjadi Ratu negeri ini?" celetuk seorang bangsawan setelah keluar dari ruang rapat istana Istvan.
"Tuan Zargan, jaga bicaramu. Kalau terdengar oleh baginda, kepalamu akan melayang." tukas seorang pria bangsawan mengingatkan temannya itu.
__ADS_1
"Sial! Aku bahkan tidak bisa berbuat apa-apa." geram pria itu sambil mengepalkan tangannya. Tadinya dia mengirim putrinya untuk menjadi permaisuri, namun sang Raja begitu diktator dan menunjuk permaisuri seenak jidatnya.
"Kita memang tidak bisa berbuat apa-apa, bukankah raja kita yang sekarang seperti Tuhan. Semua harus sesuai kehendak-nya."
"Benar. Tapi ada satu yang membuatku heran. Kenapa si pelacur calon Ratu negeri ini cukup cerdas untuk menyerap ilmu pengetahuan tentang kerajaan, seolah dia seperti bangsawan. Putriku mengatakan sebelumnya, bahwa dia bisa mempelajari ilmu minum teh dan dia tahu benar silsilah juga tugas-tugas selayaknya wanita bangsawan." jelas seorang pria terheran-heran dengan cerita putrinya beberapa hari yang lalu, dia dipermalukan di pesta teh. Padahal niatnya ingin mempermalukan Rubiana, namun malah dia yang dipermalukan.
Semua bangsawan jelas-jelas tidak setuju dengan kepuasan sang raja tentang Rubiana yang akan diangkat menjadi permaisuri dalam beberapa hari lagi.
Kini Rubiana sedang makan siang bersama Hyacinth setelah Hyacinth selesai rapat dengan bangsawan dan para menterinya. Hyacinth dan Rubiana makan bersama di ruang makan istana, belum jadi ratu saja wanita itu sudah diratukan oleh Hyacinth.
"Apa kau suka makanannya, Ruby?"
"Ya, Yang Mulia." jawab Rubiana lesu.
"Ada apa? Kenapa wajahmu murung begitu? Apa kau sakit? Atau ada seseorang yang mengatakan sesuatu padamu? Katakan padaku!" ujar Hyacinth seraya menatap cemas pada Rubiana.
"Tidak seperti itu Yang Mulia." jawab Rubiana yang masih menundukkan kepalanya, sontak saja Hyacinth beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Rubiana. Pria itu bahkan duduk berlutut didepannya.
Sialan kau Hyacinth! Kau bahkan tidak memperlakukanku semanis ini dulu. Tapi kau begitu manis pada Rubiana. Batin Rubiana kesal mengingat kenangannya dulu bersama Hyacinth.
"Lalu ada apa? Apa kau punya keinginan?" tanya Hyacinth seraya mengangkat dagu si cantik.
"Yang Mulia, saya mempunyai hutang budi pada seorang teman. Dan saya ingin pergi mengunjunginya, tapi saya takut Yang Mulia tidak mengizinkan saya."
"Hutang budi? Pada siapa? Dan dimana rumahnya?"
"Namanya Magenta, dia mungkin tinggal di sekitar hutan tempat pertama kali kita bertemu. Tolong pertemukan saya dengannya, Yang Mulia." pinta Rubiana.
Untuk memperkuat posisiku, maka aku harus menempatkan orang-orang ku di sisiku. Batin Rubiana.
"Mari kita pergi kalau begitu,"
__ADS_1
...****...