
...🍁🍁🍁...
Gadis itu terkulai lemas di dalam pelukan pria bertubuh tinggi dan berwajah tampan itu. Dia adalah Hyacinth dan beberapa pria yang bersamanya adalah pengawalnya. Barack juga ada disana.
Hyacinth menangkap tubuh wanita berambut perak itu agar tidak jatuh. Dia melirik sinis para Barack yang memegang panah. "Dasar bodoh! Kau bilang dia rusa?!" hardik Hyacinth pada ajudan setianya itu. Lalu dia melihat Rubiana yang tidak sadarkan diri karena terkena panah di lengan kanannya.
'Sepertinya kita masih punya ikatan takdir Hyacinth, kau sendiri yang datang padaku dan lihat saja. Aku akan membuatmu bertekuk lutut padaku' batin Rubiana.
"Maafkan saya Yang Mulia, lagipula ini hutan...siapa yang akan menyangka bila ada seorang wanita berada di dalam hutan malam-malam begini." kilah Barack seraya menundukkan kepalanya.
"Jangan berkilah! Ini adalah SALAHMU!" seru Hyacinth marah.
"Maafkan saya, tapi--biarkan saya saja yang menggendong wanita ini." tawar Barack merasa bersalah karena sudah menembakan panah pada Rubiana walau tidak sengaja.
"Tidak, aku saja." Hyacinth menolak tawaran dari Barack dan membuat si ajudannya itu keheranan. Pasalnya Hyacinth tidak pernah ingin menyentuh seorang wanita apalagi menggendongnya, kecuali menyentuh Selena.
Hyacinth menatap dalam wanita yang pura-pura tidak sadarkan diri didalam pelukannya itu. Meski pura-pura tak sadarkan diri, tapi anak panah itu sangat menyakiti tangannya.
'Aneh, kenapa aku merasa wanita ini begitu familiar? Padahal aku yakin bahwa aku baru melihatnya' batin Hyacinth.
Mereka pun kembali berjalan untuk keluar dari hutan itu. Namun saat berjalan pergi, tiba-tiba ada beberapa orang bertubuh besar menghadang jalan Hyacinth dan para pengawalnya.
"Kembalikan wanita jalangg itu, tuan!" ujar salah seorang pria dari club' madam Morena itu pada Hyacinth. Mereka tidak tahu bahwa pria yang ada di hadapannya ini adalah Raja Istvan yang baru.
"Beraninya kau bicara seperti itu kepada Yang--" Barack hendak mengeluarkan pedangnya dan menebas leher si pria itu.
"Barack, diam!" seru Hyacinth pada Barack dengan nada bicara yang flat.
"Tapi Yang Mulia--" Barack bicara lagi tapi Hyacinth langsung memotongnya.
"DIAM!" sentak Hyacinth yang tidak suka ada orang menyela perkataannya. Ia menatap tajam pada empat orang yang berada di hadapannya itu. "Kalian bilang dia siapa?" tanya Hyacinth pada mereka berempat. Sementara Rubiana masih pura-pura pingsan, sebenarnya dia khawatir karena ajudan si madam Morena ternyata tidak melepaskannya begitu saja. Rubiana hanya berharap bahwa Hyacinth yang ia kenal sebagai pria kejam itu akan menolongnya.
'Hyacinth--apa kau akan menolongku? Kau bahkan tega membunuhku dimasa lalu...mana mungkin kau akan menolongku' batin Rubiana meragu.
"Tuan, wanita jalangg itu adalah wanita yang kabur dari tempat kerjanya."
__ADS_1
"Ya, lebih baik tuan serahkan wanita itu kepada kami!" seru seorang pria lainnya seraya mendekati Hyacinth.
Hyacinth tersenyum sinis, lalu matanya berubah menyala menjadi warna merah tanpa menyisakan warna lainnya disana. "Jika kalian berani melangkah, satu langkah lagi. Nyawa kalian melayang." ancam pria itu.
Rubiana yang mendengarnya tercekat, dia tidak menyangka Hyacinth akan menolongnya yang notabenenya adalah orang asing. Dia tidak percaya, tapi ini fakta. Hyacinth bisa menolong orang? Oh! Tuhan pasti bercanda!
Dua orang dari keempat pria itu mendekati Hyacinth dan tak lama kemudian kedua pria itu terpanggang oleh tatapannya yang mengeluarkan api.
Wush~~
"Aaaarrggh!!!" jerit kedua pria itu kepanasan, tubuh mereka di lalap oleh api. Dan kedua pria lainnya tercengang melihat kedua teman MEREKA hangus terbakar dan endingnya menjadi abu. Sementara Barack dan pengawal Hyacinth yang lain keheranan kenapa raja mereka menolong gadis ini.
Mereka ketakutan saat melihat Hyacinth, lebih baik bagi mereka untuk melarikan diri daripada berurusan dengan pria aneh didepan mereka. Wajah mereka begitu pucat karena panik.
"Kenapa? Masih mau mendekat dan berakhir seperti mereka?!" hardik Hyacinth dengan senyuman psikonya.
"Ka-kami..." kedua pria bertubuh besar itu menciut ketika melihat apa yang terjadi pada kedua teman mereka.
"Mau lari?" Hyacinth peka dengan gerak-gerik kedua orang itu yang akan melarikan diri. "Baik, larilah, sebelum aku musnahkan kalian!"
Sementara Barack dan para pengawalnya hanya menonton kelakukan Hyacinth yang tidak mudah ditebak ini.
"Kita kembali ke istana!"
"Yang Mulia, bukankah kita belum selesai berburu?" tanya Barack menginterupsi. Kedatangan raja dan rombongannya ke hutan ini karena mereka akan berburu serigala putih yang menjadi mitos zaman dulu. Tapi mereka tak kunjung menemukannya.
"Mood ku sudah hancur, aku tidak bisa melanjutkan perburuan ini. Dan sepertinya raja serigala putih itu hanyalah mitos." jelas Hyacinth dingin.
'Serigala putih? Apa maksud Hyacinth--dia datang kesini karena ingin memburu serigala putih?' batin Rubiana terkejut. Dia pernah mendengar cerita tentang serigala putih dari mendiang ayah dan ibunya dulu. Rubiana beranggapan bahwa cerita itu hanya mitos, lalu kenapa Hyacinth ingin mencarinya?
Mereka pun kembali istana Istvan, Hyacinth sendiri yang menggendong Rubiana meskipun Barack dan beberapa pengawalnya menawarkan diri untuk menggendong Rubiana. Ini pertama kalinya mereka melihat Hyacinth begitu peduli pada seorang wanita selain Selena, tapi mereka taunya kalau pada Selena dia hanya berpura-pura.
"Panggilkan tabib Wen kemari!" ujar Hyacinth pada
Barack tercengang dengan titah Rajanya. Pasalnya tabib Wen adalah tabib khusus Raja seorang. "Yang mulia, tabib Wen adalah tabib khusus untuk merawat Yang Mulia raja..."
__ADS_1
"BARACK! Kau tau aku tidak suka berkata dua kali!" sentak Hyacinth dengan tatapan membunuh pada pengawal pribadinya itu. Lama-lama Hyacinth merasa kalau Barack banyak membantahnya.
'Sial, aku dibentak Yang Mulia karena wanita asing ini? Aku? Yang sudah berada bersama Yang Mulia dari kecil?' Barack kesal namun hanya bisa dia katakan dalam hati.
Barack tidak bisa membantah lagi, yang ada nyawanya yang akan melayang. Dia pun patuh dan membawakan tabib Wen untuk memeriksa Rubiana.
Panah yang menancap itu hendak dilepaskan dari tangan Rubiana oleh tabib Wen, hingga gadis itu terbangun dan memekik kesakitan.
"Aackk!!"
Tangan Hyacinth memeluk Rubiana untuk menghilangkan rasa sakitnya. "Tenanglah, kau akan di obati! Tahan rasa sakitnya sebentar." pinta Hyacinth lembut.
Bibir Rubiana gemetar, dia tidak menyangka bahwa Hyacinth akan memperlakukan orang asing ini dengan lembut. Lalu pada dirinya yang Selena? Dia sama sekali tidak tulus.
"Tolong tahan rasa sakitnya nona." ucap tabib Wen yang akan melepaskan panah itu dari tangan Rubiana.
Satu detik kemudian, Rubiana menjerit dan membuat tangannya memegang erat lengan Kokoh Hyacinth.
"AAAARRGGH!!"
Setelah panas itu di lepas, tabib Wen mengobati luka ditangan Rubiana. Hyacinth terlihat sangat mencemaskan gadis itu, dia bahkan terus menjaga Rubiana. Hingga Barack menaruh kecurigaan pada perasaan Hyacinth.
"Apa kau baik-baik saja?"
"Sudah lebih baik, berkat anda tuan. Terimakasih." ucap Rubiana seraya tersenyum pada pria itu. Dia berpura-pura tidak tahu siapa Hyacinth.
"Tidak, ini semua adalah kesalahan pengawalku karena dia sudah menembakmu dengan panah." Hyacinth tersenyum. Dia merasakan hal aneh ketika dia melihat sosok Rubiana didepannya ini. Terutama mata merahnya.
Sementara itu dari kejauhan, Barack melihat kedekatan Rubiana dan Hyacinth. Dia merasa terancam.
'Jika ini benar perasaan itu, maka aku tidak boleh membiarkan Baginda raja berlarut-larut dalam perasaan ini. Wanita ini berbahaya dan harus aku singkirkan'
...*****...
Sepi banget yang komen 🤧apa gak ada yang baca ya? padahal kalau banyak yang komen mau double up
__ADS_1