Balas Dendam Putri Bulan

Balas Dendam Putri Bulan
Bab 23. Hari pernikahan


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Dengan cepat Rubiana melancarkan aktingnya saat ekor matanya menatap Hyacinth dan Barack dari kejauhan. Entah apa yang Hyacinth lakukan disana bersama Barack malam-malam begini. Yang jelas mereka melewati kamar Rubiana.


Ketika Hyacinth dan Barack sedang berjalan sambil berbicara, atensi mereka tiba-tiba tertuju pada seseorang yang sedang menangis di dekat jendela kamarnya.


"Ruby?" pria itu menoleh ke arah Rubiana, namun Rubiana seperti tidak melihat dirinya. Gadis itu masih terus menangis dan membuat hati Hyacinth meringis.


"Barack, kau kembalilah bertugas. Aku akan menemui Permaisuriku." ujar Hyacinth pada Barack.


"Tapi Yang Mulia, bukankah kita sedang membicarakan--"


"Barack, akhir-akhir kau sangat berani menyela ucapanku!" tegur Hyacinth dengan sorot mata tajam pada Barack, pria itu pun jadi terdiam dan tak berkutik.


"Baik Yang Mulia, maafkan saya." pria itu menundukkan kepalanya, dia menatap tajam pada Rubiana sebelum dia pergi dari sana.


Baginda raja benar-benar sudah dibutakan oleh wanita itu. Padahal pengaruh putri Selena juga tidak sebesar ini. Saat itu Baginda pun hampir jatuh cinta kepadanya. Barack hanya bisa mengomel dalam hatinya, bisa bahaya bila di utarakan. Dia pasti akan mati ditangan Hyacinth. Apalagi sekarang pria itu telah menjadi budak cintanya Rubiana.


Hyacinth bergegas masuk ke dalam kamar Rubiana melaju jendela, ia melompat kesana. Sontak saja Rubiana terkejut dan menghapus air matanya. Gadis itu hampir terjatuh, jika bukan karena Hyacinth yang menahan pinggangnya.


"Ya-Yang Mulia kenapa anda berada disini?" tanya Rubiana yang masih berada di dalam pelukan Hyacinth. Namun matanya mengarah ke arah lain, seolah sedang menyembunyikan kesedihannya.


"Kau kenapa Permaisuriku? Apa ada yang menyakitimu?" tanya Hyacinth seraya memegang dagu gadis itu, dia ingin melihat mata Rubiana tapi gadis itu enggan.


Rubiana menepis pelan tangan Hyacinth, lalu dia membalikkan badannya. Diam-diam dia mengulum senyum menyeringai, tanpa sepengetahuan Hyacinth.


Bagus Hyacinth, rupanya kau sangat peduli kepadaku.


Hyacinth semakin bersimpati dan cemas, dia mendekati Rubiana. Menuntun gadis itu untuk duduk di atas ranjangnya dan kini mereka sudah duduk berhadapan. "Ada apa? Kenapa kau menangis seperti ini Ruby sayang?" tanya Hyacinth dengan jari-jari yang menyeka air mata palsu Rubiana.


"Saya tidak apa-apa Yang Mulia."


Hyacinth tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh Rubiana dan dia kembali bertanya. Matanya tidak berhenti dan terkunci menatap cemas ke arah gadis itu. "Ruby...apa ada yang menyakitimu? Katakanlah padaku!"


"Tidak ada Yang Mulia." cicit gadis itu seraya menundukkan kepalanya.


"Kalau tidak ada yang menyakitimu, kenapa kau menangis seperti ini? Apa ada yang kau inginkan? Katakan, Permaisuriku..."

__ADS_1


Pertanyaan inilah yang memang ditunggu-tunggu oleh Rubiana dari tadi. Ini adalah kesempatan bagus untuk mengatakan apa keinginannya sekaligus menguji perasaan Hyacinth. Seberapa dalam perasaannya pada Rubiana.


"Saya tidak enak mengatakannya Yang Mulia."


Tangan Hyacinth mengapit dagu Rubiana, dia menatap intens ciptaan tuhan yang cantik itu. Hidungnya yang mancung, matanya yang berwarna biru, bibirnya merah semerah delima yang membuatnya mabuk kepayang. Dan lagi-lagi ia melihat Selena didalam diri Rubiana.


"Katakan, apa yang kau inginkan?"


"Saya... sebenarnya pernah berhutang pada seseorang yang bernama tuan Geordo dan juga Magenta." tutur Rubiana yang masih terdengar isak tangis disana.


"Lalu?"


"Saya juga menyukai masakannya dan--"


"Apa sayang?" tanya pria itu lembut.


"Ah, sudahlah...lebih baik tidak mengatakannya." cetus Rubiana mengulur-ulur waktu dan benar saja Hyacinth dibuat penasaran olehnya.


"Kau ingin pria itu dan temanmu ikut denganmu disini? Apa begitu?" tebak Hyacinth. Rupanya Hyacinth langsung memahami apa yang akan dikatakan oleh Rubiana dan apa yang membuat gadis itu sedih. Dia, cukup peka.


"Saya tidak memintanya, tapi saya hanya ingin pergi kesana setiap hari dan memakan masakannya untuk membalas budi." ucap Rubiana beralibi.


"Saya tidak berani Yang Mulia." Rubiana memelas.


"Ruby, apapun yang kau inginkan dan yang membuatmu nyaman...aku pasti akan melakukannya untukmu. Jadi kau tidak usah cemas, aku sayang padamu."


"Terima kasih Yang Mulia."


"Kalau kau berterima kasih, maka kau harus memberiku hadiah." Rubiana mendongakkan kepalanya saat mendengar ucapan Hyacinth.


"Beri aku hadiah."


"Kau mau ap--"


Cup!


Belum sempat Rubiana menyelesaikan ucapannya, Hyacinth sudah mencuri ciuman di pipinya. Sumpah demi Tuhan, Rubiana ingin memukulnya saat ini. Dia memakai Hyacinth dalam hati, tangannya terkepal erat karena marah.

__ADS_1


"Yang Mulia kenapa anda mencium saya?"


Sialan kau Hyacinth, BRENGSEK!


"Aku akan melakukan hal yang lebih, saat kita sudah resmi menikah nanti. Ini baru awalnya, jadi kau harus bersiap-siap untuk menjadi milikku seutuhnya." ucap Hyacinth lembut pada gadis itu. Sementara Rubiana kehilangan kata-kata setelah dicium oleh pria itu.


Di depan kamar Rubiana, Lucas yang sekarang telah menjadi pengawal pribadi Rubiana, berada di sana dan mendengar semuanya. "Dia menciumnya? Sial!" Lucas berdecak kesal dan dia menyesal telah mendengar percakapan keduanya. Harusnya dia menulikan pendengarannya saja.


"Maaf, aku masuk lewat jendela. Itu karena aku sangat mencemaskanmu." jelasnya lagi agar Rubiana tidak marah, sebab ia melihat wajah Rubiana memerah dan tampak datar. Sebenarnya Rubiana tidak marah karena Hyacinth masuk melalui jendela tapi dia marah karena Hyacinth mencium pipinya.


****


Hari penobatan Rubiana sebagai permaisuri pun tiba, di istana itu kini sudah ada Geordo dan Magenta. Magenta dan Karina memiliki posisi sama yaitu sebagai dayang pribadi Rubiana, sedangkan Geordo berada di dapur istana sebagai koki.


Gadis itu, Rubiana tampak cantik mengenakan gaun pengantin berwarna putih. Gaun pengantin yang selalu dia impikan bersama Hyacinth selama ini, saat dirinya menjadi Selena. Namun kali ini dia mengenakan gaun itu untuk memulai langkah balas dendamnya.


"Uhh..." tiba-tiba saja gadis itu memegang dadanya yang terasa sesak, kala ia teringat saat Hyacinth membunuhnya mengambil jantung dan hatinya dalam keadaan dia yang masih sadar saat itu.


Hyacinth, kau akan merasakan sakit. Sakit yang tidak akan pernah kau bayangkan, hingga kau bahkan tak berani memohon untuk mati.


"Yang Mulia, apa anda baik-baik saja?" tanya Karina cemas melihat Rubiana memegang dadanya.


"Aku baik-baik saja, mari pergi. Yang Mulia Raja sudah menunggu." Gadis cantik itu beranjak dari tempat duduknya, lalu dia pun pergi keluar dari ruang riasnya bersama dengan Magenta dan Karina.


Di luar sana ada Lucas yang menatap tajam pada Rubiana. Dadanya bergemuruh melihat wanita yang ia cintai memakai pakaian pengantin untuk pria lain.


"Sepertinya Yang Mulia sangat bahagia dengan pernikahan ini." gumam Lucas yang berdiri tepat disamping Rubiana. Namun gumaman Lucas tidak dapat terdengar oleh Karina dan Magenta yang ada di belakangnya.


"Ya, aku sangat bahagia. Lalu apa urusannya denganmu? Tuan pengawal tidak sopan." tukas Rubiana karena selama ini ia melihat sikap yang Lucas tunjukkan bukan seperti seorang pengawal tapi teman yang akrab.


"Karena saya melihat ada keterpaksaan didalam mata Yang Mulia, kalau anda menikah hanya untuk membalas seseorang. Tidak perlu sampai seperti ini."


Deg!


Rubiana sontak menoleh ke arah Lucas saat mendengar ucapan yang ambigu. Dia kaget karena Lucas seperti tau isi hatinya.


Rubiana ingin bicara banyak dengan Lucas, namun dia harus melakukan pernikahan ini dan waktunya sekarang. Ya, kini gadis itu berjalan sendirian memasuki altar istana dimana ada Hyacinth dan pendeta menunggunya. Disana juga ada tamu-tamu penting kerajaan Istvan.

__ADS_1


****


__ADS_2