Balas Dendam Putri Bulan

Balas Dendam Putri Bulan
Bab 42. Hyacinth mulai curiga


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Rubiana bahagia saat melihat nama Aiden dan Rosela didalam surat undangan. Dia tidak menyangka bahwa kedua kakak yang ia sayangi akan menikah.


Tepat saat Rubiana sedang membaca surat itu, tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu ruangan kerja Ratu.


"Yang Mulia raja telah tiba!!" seseorang berseru dari pintu ruangan itu. Rubiana pun berdiri dari tempat duduknya. Seketika pintu ruangan itu terbuka lebar, terlihat Hyacinth datang bersama dengan Lucas.


Tunggu, dengan Lucas? Kenapa pria itu muncul disini? Bukankah dia sedang pergi entah kemana dan tanpa kabar pada Rubiana. Ya, pria itu memang pergi ke kerajaannya di hutan larangan karena ada sedikit masalah dengan bangsa serigala. Tapi sekarang dia sudah kembali.


"Yang Mulia, anda datang." kata Rubiana seraya menundukkan kepalanya dengan sopan. Namun, ekor matanya melirik Lucas yang saat ini berdiri tepat dibelakang Hyacinth.


Lucas sendiri masih menundukkan kepalanya, namun sesekali curi-curi pandang pada Rubiana.


"Iya Ratuku, aku sudah selesai mengantar kepergian Barack!" Hyacinth tersenyum tipis, ia melingkarkan tangannya pada tubuh mungil Rubiana. Hingga tubuh mereka saling menempel satu sama lain. Tidak peduli masih ada Lucas disana. Didalam hati Lucas panas melihat pemandangan itu, hatinya terbakar cemburu.


"Kenapa kau tidak memberitahuku Yang mulia? Kalau aku tau kau pergi mengantar kepergian Barack, harusnya aku juga ikut denganmu," kata Rubiana pada pria itu, ia berusaha menyingkirkan tangan Hyacinth yang melingkar di tubuhnya. Tapi pria itu memeluk dirinya dengan begitu posesif. Rubiana tidak nyaman, apalagi saat dia menyadari sepasang berwarna hitam mencuri-curi pandang padanya.


"Aku tidak ingin mengganggumu sayang. Magenta bilang kau sedang sibuk di ruanganmu, ternyata benar." pria itu mengecup bibir Rubiana sekilas dengan gemas. Sontak saja Lucas terkejut melihatnya, apalagi Rubiana yang merasakannya. Rubiana melihat tangan Lucas yang terkepal erat, rahangnya mengeras seperti menahan amarah.


Oh shitt! Sepertinya dia marah. Tapi kenapa juga aku tidak nyaman melihatnya marah? Aku ini kenapa? Aku kan bukan kekasihnya. Batin Rubiana bingung dengan hatinya pada Lucas.


Ciuman bibir pertamanya sudah di ambil oleh Hyacinth. Namun ia pun memutuskan untuk menganggap ini bukan ciuman, melainkan sebuah kecupan saja.

__ADS_1


"Yang mulia...masih ada orang disini." bisik Rubiana pada suaminya.


"Oh...jadi kalau tidak ada orang, kau mau bermesraan denganku?" tanya Hyacinth seraya menggoda Ratunya itu. Seketika mata Rubiana melebar mendengarnya.


"Yang Mulia...tolong jangan begini," ucap Rubiana yang risih saat merasakan tangan Hyacinth meraba-raba punggungnya.


"AHAHAHA...baiklah sayang. Kau jangan marah. Aku akan hentikan ini semua sekarang, tapi nanti saat malam pertama kita nanti...aku akan menikmati semuanya," jelas Hyacinth yang akhirnya mengurai pelukannya.


Deg!


Rubiana dan Lucas sama-sama melotot saat mendengar malam pertama dari mulut Hyacinth. Sial! Rubiana pikir Hyacinth sudah lupa, tapi ternyata dia masih ingat.


"I-iya..." sahut Rubiana gugup. Dia bisa melihat sosok pria dibelakang suaminya tengah menatapnya dengan marah.


Apa katanya? Iya? Apa dia benar-benar akan melakukan malam pertama dengan pria itu? Tanya Lucas dalam hatinya.


Aku ingin lihat, apakah kau benar-benar seperti apa yang dikatakan oleh Barack. Nanti malam semua akan menjadi penentuannya. Kau atau dia yang berbohong. Batin Hyacinth.


Sebelum Barack dibawa ke tempat pengasingan, dia sempat berbicara dengan Hyacinth. Raja Istvan itu tampak marah pada Barack, namun mana mungkin dia tega membunuh temannya sendiri. Teman seperjuangannya dari kecil. Jadi dia memberikan hukuman pengasingan untuk Barack.


"Yang Mulia, tolong percaya pada saya. Bahwa wanita itu adalah putri Selena." kata Barack yang saat ini diseret oleh para pengawal lainnya.


"Barack! Dia sudah mati dan kita melihatnya sendiri," ucap Hyacinth yang tidak mau membahas tentang Selena lagi.

__ADS_1


"Memang tubuhnya sudah mati, tapi bagaimana dengan jiwanya? Yang Mulia, jika anda tidak percaya...anda bisa membuktikan ucapan saya. Dia kembali untuk membalas dendam! Dia ingin menghancurkan Yang Mulia."


"Barack, ucapanmu sulit untuk dipercaya."


"Bawa tuan Abartia dan beliau akan menunjukkan apakah apa yang saya katakan benar atau tidak. Lalu, anda perhatikan saja...sikap permaisuri sama dengan putri Selena atau tidak,"


Seketika Hyacinth terdiam dan berpikir keras, memang dia menyadari adanya beberapa kemiripan antara Rubiana dan Selena. Itu juga salah satu penyebab Hyacinth memilih Rubiana sebagai permaisuri.


Hyacinth terdiam dan menatap Rubiana cukup lama, hingga akhirnya Rubiana menyadarkannya. "Yang Mulia, apa kau baik-baik saja?"


"Iya, aku baik-baik saja. Kalau begitu sampai jumpa nanti malam sayang, aku akan pergi rapat bersama para menteri terlebih dahulu."


"Baiklah, apa aku perlu ikut?"


"Tidak usah, kau kembali saja ke kamarmu bersama Lucas. Dia akan mengawalmu," ucap Hyacinth lalu ia pun pergi dari sana, meninggalkan Lucas dan Rubiana berdua saja disana.


Rubiana merasakan sikap Hyacinth yang agak berbeda, tatapan matanya begitu dalam dan rasanya aneh.


"Kenapa? Kau tidak rela dia pergi? Apa kau ingin dicium lagi?" pertanyaan Lucas sontak saja membuat Rubiana menatap sinis pada pria itu.


"Jangan bicara sembarangan!" Rubiana lantas mengusap bibirnya sendiri dengan satu tangan, ia merasa jijik.


"Aku pikir kau suka dicium olehnya. Tapi, tatapannya padamu. Apa kau merasakannya?"

__ADS_1


"Ya, tatapan curiga." jawab Rubiana yang mendapatkan anggukan kepala dari Lucas. Ya, mereka merasakan bahwa Hyacinth mulai curiga pada Rubiana.


...****...


__ADS_2