
Hai Readers, maaf cuma mau kasih tau dari sini alur di percepat ❤️❤️😅
...🍁🍁🍁...
"Apa kau serius dengan ucapanmu Abartia?" tanya Lucas seraya menatap tajam pada Abartia. Guna meyakinkan bahwa apa yang dikatakan pria tua itu benar atau tidak.
"Benar Yang Mulia, saya tidak berbohong! Maka dari itu, Yang Mulia harus bisa menghentikan niat jahat Raja Hyacinth!" jelas Abartia pada Lucas.
"Kenapa aku?" tanya Lucas heran.
"Karena Raja juga akan menghancurkan dunia anda, memusnahkan para bangsa serigala. Dan sasarannya adalah anda, Yang Mulia. Satu-satunya klan serigala putih yang masih hidup," ucap Abartia. Dia sama sekali tidak berbohong soal hal ini. Hyacinth sendiri yang mengatakan bahwa dia akan menghancurkan semua kerajaan dan menguasai dunia. Namun, sasaran utamanya adalah kristal yang ada di dalam tubuh Lucas dan potongannya ada di gelang Rubiana.
"Dia tidak akan bisa membunuhku!" ujar Lucas dengan senyuman percaya diri. Dia merasa Hyacinth lemah karena dia bukan iblis murni melainkan setengah iblis dan itu membuatnya tidak bisa menyentuh Lucas yang notabenenya adalah Raja serigala putih.
"Tapi, Yang Mulia...anda harus tetap berhati-hati. Sebagai tujuan Raja yang pertama, Raja akan menyerang kerajaan Gallahan sekali lagi dengan serangan yang lebih besar dari sebelumnya."
Kali ini Lucas sedikit terganggu dengan ucapan Abartia tentang Gallahan, dimana disana Aiden. Kakak dari Rubiana dan juga Rosela. Orang-orang yang dicintai oleh Rubiana berada disana.
Sepertinya, aku harus pikirkan cara agar mengalahkan manusia setengah iblis itu sebelum dia menyerang. Aku harus tau kelemahannya!
__ADS_1
Setelah itu, Abartia mengobrol dengan Hyacinth secara diam-diam. Dia mengatakan bahwa Rubiana tidak memiliki dua jiwa melainkan satu jiwa. Namun, entah kenapa Hyacinth tidak percaya begitu saja. Dia yakin Barack tak berbohong padanya.
Malam itu, di kamar Rubiana. Hyacinth dan Rubiana yang tadinya akan melakukan malam pertama, terpaksa mengurungkan lagi niat mereka sebab Rubiana sedang datang bulan.
"Yang mulia, maafkan aku...aku tidak tahu bahwa ini adalah masa periode ku!"
Datang bulan ini tiba disaat yang tepat. Lihatlah Hyacinth, bahkan tubuh Rubiana pun tidak mau dijamah olehmu. Batin Rubiana senang karena malam pertama mereka gagal lagi. Padahal tadinya Rubiana sudah punya rencana B untuk menggagalkannya.
"Kau tidak perlu minta maaf Ratuku, mari kita tidur saja sekarang!" ujar Hyacinth sambil mendesaah pelan. Dia menarik selimut hangat dan menyelimuti tubuh mungil Rubiana. Hasratnya terpaksa harus tertunda karena datang bulan sialan itu.
Ketika Hyacinth sudah berada di alam mimpi, Rubiana masih terjaga dan matanya menatap langit-langit. Ia memikirkan cara agar mengalahkan Hyacinth. "Aku ingat ayah pernah mengatakan sesuatu yang bisa memusnahkan manusia setengah iblis, bahkan menyegel iblis. Tapi benda apa itu?" gumam Rubiana dalam hatinya.
"Ayah! Ibu? Paman, bibi, Arsen?" gadis itu berteriak memanggil nama keluarganya. Mereka pun mendekat ke arah Selena.
"Kenapa kalian baru datang sekarang? Aku sangat merindukan kalian...maafkan aku...aku sudah membuat kalian meninggalkan dunia ini, maaf..." sesal Selena.
"Putriku Selena, jangan minta maaf lagi. Ini bukan salahmu, ini sudah takdir." Kata Liliana seraya memegang tangan Selena, dia tersenyum seolah bahagia berada ditempat ini.
"Ibu..."
__ADS_1
"Ibumu benar nak, kami tidak apa-apa. Kamu sudah bahagia disini, kau tidak usah khawatir. Jadi kau tidak USAH merasa bersalah. Sekarang yang paling penting adalah kau harus menumpas angkara murka," ucap Maximilian pada putrinya.
Selama melihat keluarganya tersenyum padanya, mereka sama sekali tidak menyalahkan. Seolah telah rela dengan apa yang mereka alami.
"Ayah...ibu, paman, bibi...Arsen... bagaimana caraku untuk mengalahkan angkara murka? Aku harus mengalahkan Hyacinth!!" seru Selena penuh tekad.
"Putriku, temukanlah pedang suci dan mutiara hitam di hutan larangan. Kedua benda itu bisa melenyapkannya,"
"Hutan larangan?" tanya Selena seraya menatap ayahnya sang Raja Istvan terdahulu.
"Benar, mintalah bantuan pada jodohmu. Dia pasti tau dimana jalannya," ucap Liliana.
"Jo-jodoh? Siapa maksud ibu?" tanya Selena tercengang dengan ucapan ibunya. Siapa jodohnya?
Raja dan Ratu Istvan terdahulu itu melihat kea arah seseorang yang memiliki rambut putih dengan wajah tampannya tengah berjalan menghampiri Selena dan mengulurkan tangannya.
Seketika mata Rubiana terbuka lebar, setelah mendapatkan mimpi itu. Dan ternyata hari sudah pagi. Disamping tempat tidurnya sudah kosong.
"Lucas...kenapa dia bisa ada dalam mimpiku? Semua itu tidak penting, yang penting aku sudah tau hal yang bisa membunuh Hyacinth! eh...Tapi bagaimana caraku membunuhnya, ketika aku sudah menemukan kedua benda itu?" gumam Rubiana bingung.
__ADS_1
****