
"Tuan Geordo, Magenta, sebenarnya ada yang ingin aku beritahu pada kalian tentang kebenaran. Aku...adalah putri Selena." jelas Rubiana yang sontak membuat Magenta dan Geordo tercengang tak percaya.
Beruntung saat itu pintu dan jendela ditutup, Karina, Guesta dan Lucas juga berada di luar rumah dan Rubiana tidak mengizinkan mereka untuk masuk. Namun tanpa Rubiana sadari, Lucas yang memiliki indera pendengaran lebih, mendengar semua itu.
Lucas kaget karena Rubiana mengakui bahwa dirinya adalah Selena kepada Geordo dan Magenta. Lucas hanya khawatir kalau suatu saat nanti Geordo dan Magenta berkhianat padanya dengan memberitahukan identitas aslinya.
Selena apa yang kau lakukan? Kenapa kau memberitahukan ini pada mereka? Bagaimana jika mereka berdua suatu saat nanti akan menghianatimu? Ataukah mereka memang orang kepercayaanmu? Batin Lucas bertanya-tanya.
"Kira-kira apa ya yang sedang dibicarakan nona di dalam sana?" tanya Karina kepada Lucas dan Guesta.
"Aku juga tidak tahu, tapi bukankah ini mencurigakan? Kenapa nona meminta kita untuk menunggu di luar, sementara nona berada di dalam sana dan berbicara dengan mereka. Seolah dia tidak mau kalau kita mendengar pembicaraan mereka. Apa jangan-jangan nona memiliki rahasia?" Guesta menebak alasan kenapa Rubiana tidak mengizinkan mereka bertiga masuk ke dalam rumah.
"Jangan berpikir berlebihan, nona hanya bicara dengan kenalannya. Menurutku nona tidak mencurigakan." ujar Lucas dengan datar.
"Tapi--"
"Sudahlah, lebih baik kita diam saja." tukas Lucas seraya melirik tajam pada Karina dan Guesta. Sehingga kedua orang itu pun terdiam.
Sementara di dalam sana Geordo dan Magenta masih membeku setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Rubiana. Mereka berusaha mencerna dan mencari kebohongan di wajah gadis itu, namun mereka tidak menemukannya.
"Jangan berani-berani kau mengaku sebagai mendiang putri Selena! Kau dan raja laknat itu, sama-sama jahat!" maki Geordo pada Rubiana. Pria tua itu marah karena Rubiana mengaku sebagai Selena. Magenta juga terkejut, sebab dia tidak tahu apapun tentang Rubiana. Tapi sedikitnya dia tau tentang Selena yang merupakan putri dari kerajaan Istvan dan putri itu sudah tiada karena jantung dan hatinya diambil oleh Hyacinth.
Mata Rubiana berkaca-kaca, dia pun mulai berkata. "Di taman sakesfir, di danau itu kau menaburkan bunga lavender disana. Ibu yang bilang, bahwa mendiang istrimu menyukai bunga lavender dan kau selalu datang setiap bulan kesana. Lalu selalu bermain dengan Garhan disini, Garhan adalah buaya peliharaan ayahku Raja Maximilian yang dititipkan secara diam-diam kepadamu. Apa aku benar kakek Geordo? Aku ingat bahwa waktu kecil aku selalu ingin memakan mie buatanmu, mie tanpa seledri dan kacang. Dan aku selalu bilang, kakek...jangan pakai seledri, jangan pakai kacang," tutur Rubiana.
Geordo membeku, bibirnya menjadi kelu. Dia menatap dalam pada Rubiana, lalu berjalan mendekatinya. "Apakah anda benar-benar...putri?" serka Geordo tidak percaya. Namun setelah mendengar cerita dari Rubiana yang hanya diketahui oleh Selena, dirinya dan juga Lizzy.
Rubiana menganggukkan kepalanya, air matanya tak tertahan lagi. Mereka pun berpelukan seraya melepaskan rindu. Geordo dan Magenta tidak percaya bahwa Rubiana adalah Selena.
Setelah itu mereka mengobrol bersama, tentunya Geordo dan Magenta menanyakan kepada Selena bisa berada didalam tubuh Rubiana.
"Pantas saja aku merasa kau seperti wanita bangsawan, kau cerdik, kau kuat dan tangguh. Ternyata kau memang seorang putri," Magenta tersenyum pada Rubiana.
"Lalu bagaimana ceritanya Yang Mulia bisa berada di dalam tubuh wanita ini?" tanya Geordo. Obrolan mereka bertiga tak luput dari pendengaran Lucas di luar sana.
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu bagaimana caranya, tapi aku tau bahwa ada seseorang yang sangat peduli padaku dan juga keluargaku. Siapapun dia, jika aku bertemu dengannya, aku akan berterima kasih padanya, memberikannya hadiah dan melakukan apapun yang dia inginkan." ucap Rubiana seraya melihat gelang yang dipakainya saat ini. Dia berterima kasih pada orang yang sudah memberikannya gelang.
Di luar sana, Lucas tersenyum mendengar ucapan Rubiana. Dia pun berkata dalam hati, suatu saat nanti dia akan menagih hadiah yang akan diberikan Rubiana padanya.
Setelah itu Rubiana mengatakan rencana balas dendamnya kepada dua orang itu, terhadap Hyacinth dan juga merebut kerajaan Istvan. Geordo dan Magenta berlutut didepan Rubiana.
"Tuan putri, tidak peduli pada apapun yang terjadi. Saya akan membantu tuan Putri!" seru Geordo dengan penuh hormat pada putri Selena. Dia akan membalaskan dendamnya pada Hyacinth yang sudah membunuh putrinya juga.
"Saya juga, Yang Mulia! Saya akan membantu anda." kata Magenta berjanji sumpah setia pada Rubiana.
"Terimakasih karena kalian sudah berani berjalan disisiku. Sekarang dengarkan aku baik-baik, aku memiliki rencana." ucap Rubiana seraya meminta kedua orang itu untuk berdiri. Dia mengatakan rencananya pada Magenta dan Geordo.
****
Lama mengobrol di dalam, akhirnya Rubiana pergi keluar rumah sambil membawakan sebuah nampan berisi 3 mangkuk mie. Sontak saja Karina, Guesta dan Lucas terkejut melihatnya. Karina lantas membantu Rubiana membawakan mie diatas nampan.
"Nona, kenapa anda repot-repot seperti ini?" tanya Karina tak enak hati karena Rubiana membawakan nampan itu seorang diri.
"Tidak apa-apa, aku membawakan ini untuk kalian. Tuan Geordo yang memberikannya, dia mengucapkan maaf. Terutama padamu Sir Lucas." kata Rubiana seraya melirik pada pria tampan berambut hitam itu, rambut hitam dengan mode manusianya.
"Makanlah mienya, tuan Geordo memasakannya untuk kalian bertiga." kata Rubiana ramah.
"Nona, kami tidak perlu semua ini. Kita langsung pulang saja nona." kata Guesta menolak.
"Tolong jangan menolak niat baik saya, tuan. Saya mohon terimalah permintaan maaf yang kecil dari pria tua ini." ucap Geordo dengan wajah memelas. Pria itu baru saja keluar dari rumahnya bersama dengan Magenta.
"Ayolah, kalian coba!" ujar Rubiana pada ketiga orang yang ikut dengannya ke rumah Geordo itu.
Mereka tidak punya pilihan lain, karena apa yang kan oleh gadis itu adalah titah dan tidak boleh diganggu gugat. Mereka selalu ingat pesan Hyacinth, bahwa mereka juga harus patuh kepada Rubiana calon permaisuri dari kerajaan Istvan.
Setelah memakan mie itu, Rubiana pamit pulang kepada Magenta dan juga Geordo. Mereka bertiga lalu pergi menaiki kereta. Di dalam kereta, Rubiana terlihat murung dan Karina pun bertanya.
"Ada apa nona? Kenapa nona terlihat sedih? Bukankah nona baru saja bertemu dengan nona Magenta?" tanya Karina cemas.
__ADS_1
"Aku...aku hanya sedih, aku tidak punya keluarga dan aku tidak punya teman. Hanya kau dan Magenta, temanku." gumam Rubiana dengan meneteskan air matanya.
"Nona...anda tinggal mengatakan pada Yang Mulia Raja untuk membawa nona Magenta ke istana. Saya yakin Yang Mulia pasti akan mengabulkan keinginan nona." cetus Karina memberi ide.
"Sudahlah, aku tidak mau membahasnya lagi. Tolong jangan beritahukan hal ini pada baginda ya?" pinta Rubiana seraya menyeka air matanya. Karina terdiam, dia mengangguk pelan dan ragu.
Laporkan saja, laporkan apa yang kau lihat dan apa yang terjadi hari ini. Batin Rubiana.
****
Sesampainya di istana, Rubiana turun dari kereta. Gadis itu hampir saja terjatuh jika bukan karena Lucas yang menolongnya.
"Kyaakk!!"
Kedua tangan kekar Lucas memegang pinggang Rubiana, terlihat jelas bahwa pria itu memiliki kekuatan besar. Seakan-akan tubuh Rubiana adalah kapas yang ringan.
"Te-terimakasih."
Tatapan mereka bertemu, Lucas menatap Rubiana dengan datar seperti biasanya. Sedangkan Rubiana merasakan hal aneh saat melihat netra pria tampan itu.
Lucas menurunkan Rubiana, tanpa bicara apapun. Rubiana mendesis kesal sebab Lucas sangat dingin dan tidak banyak bicara, padahal sebelumnya mereka sempat mengobrol dan minum bersama.
"Tuan pengawal, kau sangat menyebalkan!" ketus Rubiana lalu berjalan pergi mendahului Lucas. Karina dan Guesta menyusulnya lebih dulu. Dan Lucas tersenyum melihat Rubiana yang marah padanya. Dia berusaha berada di garis aman, tidak terlihat terlalu dekat dengan Rubiana tapi sebenarnya dia dekat dan akan selalu melindunginya.
****
Malam itu Rubiana berada didekat jendela kamarnya sambil menatap bulan dan bintang yang bersinar terang malam ini. Kala itu dia melihat Hyacinth dan Barack yang tengah berjalan melewati jendela kamarnya. Lantas Rubiana menyunggingkan senyuman tipis dibibirnya.
"Hiks...hiks..." Dalam sekejap mata, air mata Rubiana luruh. Gadis itu terisak, seperti sedang terluka.
Sontak saja Hyacinth dan Barack yang mendengar suara itu, menoleh ke asal suara. Mereka melihat Rubiana tengah duduk di dekat jendela sambil menangis.
"Ruby?"
__ADS_1
...****...