Balas Dendam Putri Bulan

Balas Dendam Putri Bulan
Bab 16. Sama-sama terluka


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Lucas membeku mana kala dia memanggil gadis berambut perak itu dengan nama aslinya, tanpa dia sadari. Sontak saja Rubiana pun bertanya, mengapa Lucas memanggilnya dengan nama itu. Mata si cantik mengerjap selama beberapa kali, sembari mendoakan kepalanya dan menatap pria itu dengan tetapan curiga. Ya, dia memang mabuk tapi tidak semabuk itu sampai dia tuli dan tidak mendengar nama yang disebutkan oleh Lucas kepadanya.


"Kau memanggilku apa barusan?"


Lucas hening, bibirnya mendadak menjadi kelu. Dia tidak mungkin menjelaskan bahwa dirinya memang mengetahui tentang identitas asli dari Rubiana.


"Hey! Tuan pengawal, jawab aku! Kau--barusan memanggilku Selena bukan?" tebak gadis itu dengan sorot mata tajam. Jari telunjuknya menekan-nekan pipi Lucas beberapa kali. "Tuan pengawal, kenapa kau diam saja?" tanya Rubiana pada pria itu, masih dengan inti pertanyaan yang sama. Rubiana yakin pria itu memanggilnya Selena.


"Kau salah dengar, aku bilang kau pemabuk."


Rubiana lantas mendorong tubuh Lucas yang sempat mendekapnya itu."Jeng jeng...kau terlambat menjawab! Itu artinya kau berbohong haha."


Gadis itu mulai limbung, sepertinya efek dari minuman haram mulai bereaksi pada tubuhnya. Dia mulai meracau tidak jelas, lalu berjalan keluar dari penginapan itu dengan langkah terhuyung huyung. Lucas mengikutinya dari belakang, takut terjadi sesuatu pada wanita itu.


"Apa semua manusia kalau mabuk memang selalu seperti ini?" tanya Lucas pada dirinya sendiri saat ia melihat Rubiana sedang memandang langit sambil menunjuk-nunjuk ke arah langit penuh bintang itu. Rubiana juga melakukan gerakan-gerakan konyol, seperti memeluk sesuatu dengan tubuh sempoyongan.


"Woah...bulannya sangat dekat...dekat sekali...aku bisa memeluknya. Bintangnya juga, sangat indah. Bintang kecil di langit yang biru, amat banyak menghias angkasa..." gadis itu menyanyi dan cekikikan sendiri.


"Dia sedang menyanyi apa? Pfut..." Lucas menahan tawa melihat tingkah Rubiana dan mendengarnya menyanyi.


BRUGH!


Sedetik kemudian, tubuh Rubiana roboh dan belum sempat ditolong oleh Lucas. Sontak pria itu terkejut dan membantunya yang kini terduduk di rerumputan.


"Hey, kau baikan saja? Apa kau terluka?" tanya Lucas seraya mengulurkan tangannya pada Rubiana.

__ADS_1


Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya kesana kemari dengan gerakan cepat. Pusing melandanya, dia berusaha melihat Lucas. "Tuan pengawal, ngomong-ngomong siapa saudara kembarmu? Dia juga tampan sama sepertimu."


"ASTAGA...gadis ini. Ayo berdiri, aku akan mengantarmu ke penginapan!" ujar Lucas pada Rubiana yang sudah mulai linglung itu.


"Gendong...aku mau digendong..." tiba-tiba saja gadis itu merentangkan tangannya, dia minta digendong oleh Lucas dengan manjanya.


Lucas menghela nafas berat, kemudian dia pun jongkok didepan gadis itu. Memintanya untuk naik dengan gentleman ke punggungnya yang lebar itu. Dengan mudah Lucas menggendong tubuh Rubiana yang ringan.


"Ternyata kau sangat ringan, seringan kapas." gumam Lucas sambil berjalan menggendong Rubiana yang mabuk. Mereka menuju ke penginapan dan Lucas baru menyadari bahwa mereka berdua berjalan terlalu jauh dari sana.


"Tuan pengawal, aku ingin bertanya...apakah ayah, ibu dan adikku membenciku?" tanya Rubiana dengan tangan yang mengalung di leher Lucas.


"Kesalahan apa yang kau buat sehingga mereka akan membencimu?" tanya Lucas pada wanita itu.


"Aku...aku membangkang dan aku membunuh mereka." jawab Rubiana dengan senyum getir dibibirnya, namun Lucas tak dapat melihat itu karena posisi Lucas memunggunginya. Namun Lucas dapat merasakan rasa sakit didalam hati Rubiana karena setengah dari berlian merah miliknya ada didalam gelang milik gadis itu.


"Bukan kau yang membunuh mereka, ini sudah takdir." tukas Lucas berusaha menghibur Rubiana, walaupun dia sebenarnya tidak tahu bagaimana caranya menghibur.


Meskipun dalam keadaan mabuk, Rubiana masih bisa membayangkan betapa tragisnya kematian kedua orang tua, paman dan bibinya, juga adiknya Arsen ditangan pria yang bernama Hyacinth. Pria yang dia cintai, pria itu sudah menghancurkan segalanya. Namun salah siapa? Ya, Rubiana merasa ini adalah salahnya. Jika saja dia tidak memberi ruang kepada pria itu untuk masuk ke dalam hidupnya, membiarkan pria itu menempati ruang didalam hatinya, hal ini pasti bisa di cegah dan tidak akan terjadi.


"Ini bukan salahmu dan pastinya mereka sudah berada ditempat yang indah diatas sana." kata Lucas pada Rubiana.


"Benarkah? Mereka berada ditempat indah? Tapi apakah mereka bahagia? Apakah mereka memaafkanku?" tanya Rubiana dengan suara yang parau.


"Pasti." Lucas tidak tahu apa kata-katanya bisa menghibur Rubiana atau tidak, dia bukan orang yang suka banyak berkata. Dia hanya berharap kalau Rubiana tidak terlalu sedih dan menyesal dengan apa yang sudah terjadi.


"Sepertinya belum, mereka belum bisa memaafkanku sebelum aku mengambil kembali kerajaanku dan juga menghancurkan si bajingan itu!" kata Rubiana penuh kemarahan.

__ADS_1


Lucas terdiam dengan wajah kaget, dia jadi paham apa tujuan Rubiana berada di istana Istvan. Gadis itu ingin balas dendam dan menghancurkannya dari dalam.


"Terlalu berbahaya, jangan lakukan itu..." ucap Lucas tanpa sadar. Dia tidak mau Rubiana berada dalam bahaya. "Setidaknya kau bisa mengandalkan orang lain, kau pasti punya saudara atau teman kan? Mereka pasti bisa membantumu." saran Lucas.


"Aku punya sahabat, aku punya dua kakak lagi. Tapi aku tidak yakin mereka akan membantuku, mereka pasti membenciku! Semua ini terjadi karenaku! Karena AKU!" Rubiana menangis, dia merasa bersalah dan dadanya mulai sesak dengan penyesalan tentang keluarganya. Dia merasa Aiden, Theodore dan Rosela juga membencinya.


"Itu tidak mungkin, mereka sayang padamu." ucap Lucas yang memang tidak tahu apa-apa, yang dia ingin lakukan adalah membuat Rubiana tidak bersedih lagi.


Rubiana menggelengkan kepalanya dengan cepat, seolah menepis semua itu. "Mereka membenciku, maka dari itu aku akan mengembalikan keadaan seperti semula meski aku tak bisa memperbaiki apa yang sudah terjadi atau mengembalikan nyawa orang-orang yang kucintai." ucap gadis itu, dia menangis lalu tertidur di dalam gendongan Lucas.


Lucas bisa merasakan luka yang dialami oleh Rubiana alias Selena, rasa bersalah, rasa sayang, sakit hati bercampur aduk jadi satu didalam hati gadis itu dan membuatnya semakin terluka. Tekadnya balas dendam semakin kuat, karena amarah dan semua perasaan itu.


"Baik, jika kau mau balas dendam--aku akan membantumu." ucap Lucas pada Rubiana yang tertidur di punggungnya itu.


****


Malam itu di kerajaan Gallahan, Theodore berada disana berada disana dengan Aiden. Mereka berdua tengah minum-minum sambil menceritakan tentang kerajaan Istvan dan orang-orang yang terbunuh disana. Mereka merasakan sakit dan luka terdalam kehilangan orang yang paling mereka cintai. Tadinya Theodore ingin pergi ke Istvan, namun dia memutuskan untuk mengunjungi Aiden terlebih dahulu untuk mengatur strategi menjatuhkan Hyacinth.


"Kau jangan menyalahkan adikmu, dia tidak bersalah! Tidak!" Theodore kesal karena Aiden terus menyalahkan Selena sebagai penyebab dari semua ini.


"Tapi jika bukan karena si bodoh dan budak cinta itu, pasti ini semua tidak akan terjadi!" seru Aiden lalu meneguk kembali minuman yang ada di dalam botol sampai habis.


"Kau ini sayang adikmu atau tidak? Kenapa terus menyalahkan dia hah? Dia juga tiada bersama Arsen dan juga kedua orang tuamu...setidaknya kau masih punya seseorang yang kau cintai, tapi aku? Kau tau kan adikmu adalah segalanya bagiku!" Theodore memegang-megang dadanya. Setiap kali memikirkan Selena yang sudah tidak ada di dunia ini lagi, hatinya sakit dan jelas itu LUKA.


"Jika kau mencintainya...harusnya saat itu kau datang dan membawa adikku kabur di hari pertunangannya. Mencintai dalam diam tidak akan berhasil, tanpa action! Bodoh! Kau dan adikku sama-sama bodoh." Aiden meneteskan air mata, walaupun dia menyalahkan Selena memanggilnya bodoh, Aiden tetap menyayangi Selena dari dalam lubuk hatinya. Percayalah bahwa hatinya juga hancur kehilangan keluarga, meski masih ada Rosela.


"Kau benar Aiden...jika Selena masih ada, jika aku bisa memutar waktu...aku akan membawa adikmu langsung ke pelaminan!" seru Theodore yang selalu terbayang wajah Selena.

__ADS_1


Tak berselang lama kemudian, kedua pria itu menangis dan kepalanya bersandar ke atas meja.


...****...


__ADS_2