
...🍁🍁🍁...
Entah kenapa Hyacinth merasa akrab dengan Rubiana ,padahal ia yakin bahwa mereka baru saja bertemu. Hyacinth seperti melihat seseorang didalam diri Rubiana.
"Kalau kau butuh apa-apa, kau bisa beritahu pada Karina. Dia adalah pelayan yang akan melayanimu selama kau berada disini." ucap Hyacinth pada Rubiana yang sedang bersandar di headboard ranjang mewah itu. Kemudian Hyacinth melirik pada seorang wanita berpakaian pelayan istana dan mengisyaratkan kepada wanita itu untuk membantu Rubiana. Wanita muda itu menganggukkan kepalanya, dia adalah Karina salah satu pelayan di istana itu
Sementara tanpa Hyacinth sadari, sepasang mata berwarna merah milik Rubiana mendelik tajam ke arahnya. Dengan hati yang bertanya-tanya apakah Hyacinth menyukainya, alias menyukai Rubiana?
'Kau? Jatuh cinta pandangan pertama pada Rubiana? Pada seorang wanita? Mana mungkin' batin Rubiana tak percaya. Walau dia baru berasumsi saja.
"Tunggu--apa saya akan tinggal disini? Tapi--saya sepertinya harus pergi dari sini." lirih wanita itu berusaha bersikap sepolos mungkin didepan Hyacinth. Berbeda dengan dirinya yang dulu, ceria dan tomboi. Kali ini dia akan menampakan dirinya yang lain, feminim dan polos sebagai Rubiana.
"Apa kau mau kembali ke tempat laknat itu lagi?" tanya Hyacinth dengan nada bicara yang tegas. Dia terlihat tidak suka saat Rubiana mengatakan bahwa dia harus pergi dari istananya.
"Hiks...hiks..." gadis itu menangis terisak dengan kedua tangan yang menutupi wajahnya.
"Hey...kenapa kau menangis? Ada apa? Apa ada yang sakit?" tanya Hyacinth cemas, ia mendekati wanita itu. Karin dan Barack berada diambang pintu yang juga melihat itu semua.
"Saya...saya juga tidak tahu mau kemana tuan, saya diculik dan dibawa ke tempat itu. Sebelumnya...saya kabur dari negeri Lostier...hiks..."
Melihat air mata gadis itu luruh mengalir dengan derasnya, membuat Hyacinth terhenyak. Pria itu mengusap air mata Rubiana dengan tangannya sendiri, dengan lembut. Karina dan Barack tidak percaya melihat Raja mereka yang kejam itu bisa luluh dengan mudahnya pada Rubiana. Wanita yang belum lama ia temui.
__ADS_1
Wanita ini benar-benar berbahaya, apa dia sudah mengguna-guna Yang Mulia? Batin Barack sembari mengepalkan tangannya dengan erat.
"Tuan..." lirih Rubiana.
"Tidak apa, kau bisa tinggal disini." kata Hyacinth seraya tersenyum, lalu dia memeluk gadis itu. Rubiana membiarkannya sejenak, tapi lihat saja setelah ini dia akan bermain tarik ulur.
Hyacinth terdiam tanpa ekspresi saat memeluk Rubiana, namun matanya menyiratkan sesuatu yang dia tidak mengerti. Hingga ia menghirup wangi tubuh gadis itu yang familiar. 'Ini wangi Selena'
Ya, seketika Hyacinth yakin bahwa gadis didepannya ini mirip dengan Selena walau wajah dan sikap mereka berbeda. Perasaan memang tidak bisa dibohongi.
"Yang Mulia, mohon maaf menganggu...ada tuan Rudolf ingin bertemu dengan anda." Barack tiba-tiba mendekat menghampiri Sang Raja dan juga Rubiana.
Rubiana dan Hyacinth mengurai pelukan mereka, kemudian Rubiana melebarkan kedua matanya saat mendengar kata Yang Mulia disebut.
"Anda harus sopan nona, beliau adalah Baginda Raja Hyacinth Krestman Cyrano." kata Barack tegas dengan tatapan tajam pada Rubiana.
Sontak saja gadis itu langsung menjatuhkan dirinya dan berlutut didepan Hyacinth. Bahkan sampai menenggelamkan kepalanya ke lantai. "Ampuni nyawa saya Yang Mulia, saya tidak tahu bahwa anda adalah raja negeri ini! Ampuni saya..."
"Sudahlah, berdiri! Kau masih terluka." titah Hyacinth cemas karena Rubiana sedang terluka.
"Tidak Yang Mulia! Hamba tidak akan bangkit sebelum Yang Mulia mengampuni nyawa saya!" seru Rubiana dengan tubuh gemetar dan kepala yang menunduk hingga senyuman liciknya tidak terlihat oleh Hyacinth dan semua orang yang ada disana.
__ADS_1
Hyacinth melihat lengan Rubiana kembali mengeluarkan darah, dia pun segera membantu gadis itu bangkit. "Aku sudah mengampunimu, jadi hentikanlah! Kau terluka!"
"Yang Mulia... terimakasih." lirih Rubiana sambil menahan sakit ditangannya.
"Kalau kau berterima kasih, kau harus sembuh dan tinggallah disini. Paham?" pria itu menatapnya dengan lembut.
"Yang mulia, tapi saya tidak pantas ditinggal di istana ini. Saya hanya seorang rakyat jelata dan wanita dari tempat kotor!" percayalah, bahwa saat ini wanita itu merendah untuk meninggi.
"Aku tidak pernah mempermasalahkan soal statusmu, tinggallah disini nona--" Hyacinth ingin menyebutkan nama gadis itu tapi dia tidak tahu, karena belum bertanya.
"Namaku Rubiana, anda bisa memanggil saya Ruby." ucap wanita itu sambil tersenyum.
"Baiklah Ruby, aku harus pergi dulu. Silahkan kau tinggal di kamar ini. Nanti aku akan mengunjungimu lagi." ucap Hyacinth lirih dan gadis berambut perak itu mengangguk patuh.
'Kau harus menjadi permaisuriku Rubiana' batin Hyacinth.
"Karina, panggilkan tabib Wen untuk mengobati lukanya!" titah sang Raja pada pelayan muda itu.
"Ya, Yang Mulia."
Setelah itu Raja Istvan yang baru itu dan juga Barack pergi meninggalkan kamar Rubiana. Barack sempat melihat raut wajah Rubiana yang aneh, tidak sepolos didepan sang Raja. Pria itu jadi curiga dengan kehadiran Rubiana.
__ADS_1
'Hyacinth aku akan menghancurkanmu dari dalam, kematian keluargaku...kau akan membayarnya berlipat. Akan aku buat kau jatuh cinta, lalu aku akan menghempaskanmu sampai ke dasar, aku akan membuatmu MATI dengan mengenaskan. Kematian tidak akan mudah untukmu Hyacinth BRENGSEK'
...****...