
Benar saja, negeri Gallahan kini sedang kacau karena Hyacinth tidak datang sendiri. Dia membawa pasukan iblis dan monsternya untuk datang kesana. Apalagi tujuannya? Tentu untuk bertemu Rubiana. Sebab Hyacinth yakin, Aiden yang membawa calon istrinya pergi.
Meski Barack merasa cara ini berlebihan, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Tau sendiri kan, Hyacinth itu keras kepala dan tidak bisa dikendalikan dengan mudah, sejak pria itu mengenal Rubiana. Seperti kena guna-guna saja. Jika cara ini bisa membuat Hyacinth cepat menemukan Rubiana dan kembali ke Istvan, baiklah! Maka Barack tidak akan berkomentar apapun.
Terlihat rakyat Gallahan yang kelimpungan saat mereka menjadi santapan monster yang dibawa oleh Hyacinth.
"Ahhh! Tidak, jangan makan aku! Jangan... aarghh..."
Teriakan demi teriakan terdengar keras ditelinga Hyacinth, namun baginya teriakan kesakitan itu bagaikan alunan musik yang indah di telinganya. Dia suka mendengar suara orang yang kesakitan dan dia jadi ingat saat penaklukan Istvan dulu.
Serangan mendadak ini, tentu saja membuat rakyat Gallahan yang tidak bersalah jadi korban. Mereka yang selamat berusaha untuk melarikan diri dari monster dan iblis yang menyerang disiang bolong itu. Siang bolong, namun langit terlihat begitu gelap seperti malam.
"Matilah kalian! MATI SAJA!! Hahahaha..." Hyacinth tertawa seperti orang gila. Sementara Barack hanya diam saja dengan wajah datarnya, dia berharap agar raja Gallahan bisa menyerahkan Rubiana sebelum kerajaan ini hancur.
"Kyaakkk!!"
"TIDAK!!"
__ADS_1
Suara rakyat Gallahan yang panik dan kelimpungan itu menjadi kebahagiaan tersendiri untuk Hyacinth. Bahkan ia sendiri ikut membunuh beberapa warga Gallahan. Tak lama kemudian, Aiden datang kesana dengan beberapa prajurit terbaiknya. Raja Gallahan itu membawa pedang keramat yang diberikan oleh mendiang ayahnya. Pedang itu bukanlah pedang biasa, melainkan pedang yang disebut sword master. Hanya orang terpilihlah yang bisa memiliki pedang tersebut.
"Kau sudah datang, Raja Gallahan. Atau harus kusebut mantan calon kakak iparku?" Hyacinth tersenyum menyeringai, dia menatap Aiden tanpa rasa takut.
"Sepertinya kau mau mati sekarang, Hyacinth." ucap Aiden begitu dingin pada Hyacinth.
"Beraninya kau menyebut nama Yang Mulia dengan mulut kotormu! Dasar tidak punya rasa hormat!" ujar Barack tanpa rasa takut pada Aiden. Padahal Aiden juga raja dari sebuah negeri yang besar, akan tetapi Barack tidak menghormatinya layaknya seorang Raja.
"Aku akan membunuhmu! Tunggu saja giliranmu." ucap Aiden dengan tatapan tajamnya pada Barack.
"Tidak usah banyak berbasa-basi, aku datang kemari ingin mengambil sesuatu milikku! Kembalikan wanitaku!" ujar Hyacinth berteriak.
"Aku bisa merasakannya, bahwa dia tidak jauh dari sini. Kalau kau tidak mau mengaku, ataupun menyerahkannya...maka aku tidak akan segan-segan membuat rakyatmu mati." ancam Hyacinth pada raja Gallahan itu.
Aiden kelihatan bingung, dia ingin menyerang Hyacinth namun ragu karena melihat beberapa rakyatnya sudah menjadi korban oleh Hyacinth. Para iblis itu tidak hanya satu dua, tapi ratusan. Hyacinth benar-benar totalitas menghancurkan negerinya demi Rubiana.
"Serahkan wanita itu! Atau nyawa rakyatmu yang akan jadi tumbalnya!" ujar Hyacinth pada Aiden mengancam.
__ADS_1
Aiden terdiam sesaat, Edward pengawal setia Aiden membisikkan sesuatu padanya. Edward berpendapat bahwa mereka harus menyerahkan Rubiana daripada rakyat menjadi korban.
"Ed, kau bantu evakuasi mereka ke tempat yang aman! Obati mereka yang terluka dan kosongkan semua lingkungan yang padat penduduk. Aku akan melawannya!"
"Yang Mulia, dia bersama iblis... bagaimana bisa anda--" Bukan maksud Edward untuk merendahkan atau menilai rendah kemampuan Aiden. Ia tau bahwa rajanya itu kuat, akan tetapi Hyacinth juga kuat dan memiliki sekutu iblis.
"Memangnya kenapa? Dia dengan iblis, tapi aku bersama Tuhan." ucap Aiden dengan nafas yang memburu dan tekad menggebu untuk membunuh Hyacinth.
Edward tidak punya pilihan lain, dia patuh para perintah sang Raja. Ia memimpin pasukan prajurit untuk menolong orang yang terluka dan mengevakuasi warga ke tempat yang aman dari iblis.
"Mari kita, satu lawan satu!" Serka Aiden seraya menunjukkan pedangnya yang kini sudah bersinar terang.
"Baik, kalau itu maumu!" dengan senang hati Hyacinth akan melawan tantangan bertarung dari Aiden. Kalau perlu dia akan membunuhnya sama seperti keluarga Aiden yang lain.
HYAAA!!!
Keduanya pun beradu kekuatan ditengah-tengah negeri Gallahan. Mata Aiden berubah menjadi biru seperti aliran listrik, sedangkan mata Hyacinth berubah menjadi hitam semua, tampak menakutkan.
__ADS_1
...****...