
****
Pagi itu adalah pagi yang menyegarkan untuk Rubiana, dia tidur di kasur yang empuk tanpa Hyacinth. Pria yang sudah menjadi suaminya. Rubiana bangun dengan kondisi yang sangat fit, bahkan dia tersenyum menyambut mentari pagi.
"Oh...pagi yang indah. Terimakasih kepada Lucas, karena pria itu bisa membuatku melawati malam pertama dengan indah haha..." gadis itu tertawa mengingat bagaimana Hyacinth semalam. Pria itu ketakutan setengah mati saat melihat dirinya. "Tapi--bubuk apa yang dia berikan padaku sampai-sampai Hyacinth ketakutan saat melihatku. Atau jangan-jangan dia bukan takut melihatku, tapi melihat sesuatu?" gumam Rubiana bingung. "Ah--apapun yang terjadi semalam, yang penting aku tidak melalui malam intim dengannya. Dan yang harus aku pikirkan sekarang, adalah bagaimana menyingkirkan si burung gagak dan tangan kanan Hyacinth."
Rubiana sudah mengatur strategi untuk menyingkirkan Ron dan Barack, lihat saja nanti. Untuk sekarang, dia akan membersihkan dirinya di kamar mandi bersama dengan Magenta. Dayang pribadi, sekaligus teman baiknya yang ia percayai.
Magenta membantu Rubiana untuk memakai pakaian yang paling indah, di hari pertama gadis itu menjabat sebagai permaisuri negeri Gallahan. Jika dulu dia seorang putri di istana itu, Sekarang dia seorang permaisuri dari pria yang membunuhnya juga keluarganya.
"Hah...takdir memang lucu sekali bukan, Magenta?" tanya Rubiana saat ia melihat dirinya di cermin dan Magenta menyisir rambut perak panjangnya itu.
"Apa maksud anda Yang Mulia?" tanya Magenta dengan kening berkerut bingung.
"Dulu aku seorang putri di istana ini, sekarang aku adalah seorang permaisuri. Bukankah ini lucu? Ataukah aku sangat jahat, sehingga aku menikah dengan orang yang sudah membunuhku dan membunuh keluargaku?"
Magenta langsung menggelengkan kepalanya, ia tau Rubiana menikah dengan Hyacinth bukan karena ada perasaan seperti itu. Melainkan balas dendam dan rasa benci. Magenta mencoba menepis pikiran bahwa Rubiana bukan orang jahat.
__ADS_1
"Yang Mulia, Anda bukanlah orang jahat. Anda melakukan semua ini demi menegakkan keadilan! Anda kan tidak mencintainya, jadi jangan menganggap bahwa apa yang anda lakukan saat ini salah! Anda, berbuat ini semua demi mereka." jelas Magenta pada gadis itu. Rubiana tersenyum haru mendengarnya.
"Aku bukan orang jahat kan?"
"Bukan Yang Mulia, anda orang baik." Magenta tersenyum, ia mengenggam tangan Rubiana dengan lembut.
Ceklet!
Tiba-tiba saja terdengar suara pintu kamar yang terbuka. Rubiana dan Magenta lantas menoleh ke arah pintu. Terlihat Hyacinth datang menghampirinya.
Magenta dan Rubiana menundukkan kepala dihadapan sang raja, seraya memberi hormat. Raut wajah Rubiana menjadi dingin pada Hyacinth.
Kini didalam kamar itu hanya ada Hyacinth dan Rubiana saja. Hyacinth memegang tangan istrinya, lalu ia mengajak istrinya untuk duduk diatas ranjang. "Yang Mulia, kita harus segera pergi keluar. Orang-orang pasti ingin melihatku, jika aku terlambat keluar. Mereka akan berpikir bahwa Permaisuri mereka lamban!"
"Ruby sayang, tidak akan ada yang berani berkomentar buruk tentangmu. Kalaupun ada, aku pasti akan membunuh mereka," ucap Hyacinth lembut.
"Itu tidak benar, seorang Raja tidak seharusnya diktator seperti itu. Sekarang, aku adalah permaisuri dan aku harus belajar seperti itu. Apalagi, aku adalah permaisuri yang diabaikan!"
__ADS_1
Hyacinth merasa bersalah dengan apa yang diucapkan oleh Rubiana. Ia menebak, gadis itu marah karena semalam ia tidak tidur dengannya. Harga dirinya sebagai wanita terluka.
"Sepertinya benar apa katanya, bahwa kau masih mencintai mantan tunanganmu. Makanya kau meninggalkanku di malam pertama kita," ucap gadis itu dramatis dan berurai air mata.
"Omong kosong! Siapa yang mengatakan hal itu? Itu tidak benar! Aku hanya mencintaimu dan aku pernah mencintai mantan tunanganku itu!" ujar Hyacinth seraya membelai pipi Rubiana, meyakinkan bahwa gadis itu adalah satu-satunya wanita yang ia cintai.
"Hiks...aku tidak percaya pada anda Yang Mulia, kau masih mencintainya. Sepertinya benar!" Rubiana semakin menangis terisak dan membuat Hyacinth tak tega.
"Siapa yang mengatakannya? Katakan padaku! Siapa yang berani bicara omong kosong ini padamu?"
"Memangnya kau akan percaya bila aku mengatakannya? Sudahlah, ini tidak penting! Lebih baik kita pergi keluar dari sini, sebelum orang mulai bicara yang tidak-tidak kepadaku!" gadis itu menepis tangan Hyacinth, namun pria itu kembali memegang erat tangannya. Dia menatap Rubiana yang menangis saat ini.
"Aku akan percaya apa yang kau katakan sayang. Jadi katakan padaku, siapa yang sudah mengatakan bahwa aku masih mencintai mantan tunanganku hem?" tanya Hyacinth pada Rubiana, dia mendudukkan Rubiana di pangkuannya.
"Barack, dia yang mengatakannya. Tapi, jangan kau--"
"BARACK?!" sentak Hyacinth. Wajah Hyacinth berubah marah saat Rubiana mengatakan nama Barack. Dia langsung beranjak dari ranjang itu dan mengepalkan tangannya dengan erat. Diam-diam Rubiana tersenyum menyeringai melihat raut wajah Hyacinth.
__ADS_1
...****...