
...🍀🍀🍀...
Gadis itu masih berpura-pura tidur saat dia pria yang membawanya masih terjaga. Rubiana tidak tahu kapan dia sadar, yang jelas langit saat itu masih gelap. Rupanya perjalanan cukup panjang, Rubiana dimasukkan ke dalam kabur dibawa ke sebuah kapal laut. Rubiana dapat merasakan itu karena ada goncangan dan suara air gemericik disana.
'Apakah aku mau dibawa ke luar kerajaan ini?' batin Rubiana berpikir. Hingga tak lama kemudian dia menemukan jawabannya.
"Jadi ada 3 barang yang akan dibawa ke kerajaan Istvan?" terdengar suara seorang pria disana, bertanya pada pria yang membopong tubuh Rubiana.
'Kerajaan Istvan? Jadi aku akan dibawa kesana. Ini bagus' batin Rubiana merasa beruntung, namun ia mulai merasa pengap didalam karung itu. Dan ternyata tidak hanya ada dia saja yang dibawa kesana, tapi ada dua wanita lainnya yang Rubiana tidak tau siapa.
"Benar, ada satu gadis berambut perak...dia sangat cantik. Aku yakin harganya akan sangat mahal sebab dia adalah barang langka." kata si pria berkumis tebal pada temannya itu.
"Baik, jangan lupa bagian ku juga! Aku sudah membantumu masuk ke kapal ini dengan membawa mereka." kata si pria bertopi.
"Kau tenang saja, kami bukan kacang yang lupa pada kulitnya!" seru si pria botak yang menjadi pimpinan para penculik wanita itu lelah dijual ke rumah bordil.
Kedua pria yang mendengarnya terkekeh, mereka akan mengingat dan menagih janji si botak tentang uang persenan yang akan diterima nanti begitu sampai di kerajaan Istvan.
Rubiana bisa merasakan bahwa pria itu membawanya ke salah dek kapal yang ada di paling bawah kapal tersebut. Salah seorang pria itu mengobati luka di kepala Rubiana, sebab dia takut Rubiana tidak akan laku dijual bila gadis itu terlihat cacat.
"Haiih...untung luka si cantik itu tidak parah." desis pria itu setelah selesai mengobati luka yang ada di kepala Rubiana. "Tapi kenapa dia belum sadar juga?" gumam pria itu bingung. "Ah...ya sudahlah! Bukankah ini bagus? Jadi aku tidak susah untuk membiusnya." imbuhnya lagi, lalu pergi meninggalkan dek kapal itu dan dia berjaga di luar pintu. Dia tidak khawatir Rubiana dan kedua wanita itu akan kabur, sebab dek bagian bawah kapal ini di desain untuk para tahanan dan terbuat dari besi.
Setelah pria itu pergi, Rubiana segera membuka matanya dan bangkit untuk duduk di ranjang keras bagaikan batu itu. "Sepertinya aku masih harus berpura-pura tidur lebih lama lagi. Setelah sampai di Istvan, barulah aku akan memulai rencanaku." Rubiana melihat disana ada dua wanita tergelatak tak sadarkan diri. "Kalian tenang saja, nanti aku akan menolong kalian." gadis itu tersenyum.
Tak terasa waktu pun berlalu dengan cepat, sore itu mereka sampai di Istvan. Meski pada umumnya seharusnya kapal itu sudah berlayar siang tadi, namun karena ada sedikit masalah dengan cuaca. Maka sampai di Istvan mereka pun jadi terlambat. Dan lagi kapal yang mereka tumpangi adalah kapal kelas ekonomi.
Para penculik itu pun memasukkan Rubiana bersama dua wanita lainnya ke dalam peti yang masih diberi ventilasi disana. Jadi mereka masih bisa bernafas.
"Pria-pria ini...kalian sangat keterlaluan. Lihat saja, aku pasti akan membalas kalian semua." gerutu Rubiana dengan suara pelan. Dia berhimpitan dengan dua wanita yang ada di peti itu. Hingga dia tak sengaja menyentuh seorang wanita disana, tubuhnya sangat dingin dan wajahnya pucat.
"A-apa dia baik-baik saja?" tanya Rubiana, lalu dia mengulurkan tangannya untuk memeriksa kondisi tubuh wanita berambut coklat itu. "ASTAGA!" pekik gadis itu saat menyadari denyut jantung di wanita itu tidak terdeteksi olehnya.
Teriakan Rubiana berhasil membuat salah seorang wanita satunya yang ada didalam peti itu terbangun. "Aku dimana? Tol--"
Rubiana langsung membungkam mulut wanita itu dengan tangannya. Dia meminta agar wanita itu diam. "Kumohon diamlah, agar mereka tidak tahu bahwa kita sudah sadar. Kita akan bebas dari sini kalau kita sabar." bisik Rubiana pada gadis yang tampak gemetar ketakutan itu.
"Ta-tapi...itu mayat..." ucap si wanita saat melihat mayat si wanita berambut coklat di sampingnya.
"Ya, aku tau. Tapi liat akan baik-baik saja, tenanglah. Kita tidak akan mati!" kata Rubiana menenangkan wanita itu. Wajahnya berkeringat dingin karena ketakutan yang luar biasa.
Tak lama kemudian peti yang mereka tumpangi berhenti, Rubiana dan wanita yang ada didalamnya tampak waspada. Mereka pun pura-pura tidur saat seseorang membuka peti itu.
"Wow...kau mempunyai barang yang bagus. Mereka sangat cantik, terutama yang berambut perak." suara seorang wanita terdengar oleh Rubiana.
"Iya madam, cantik bukan? Kami mendapatkannya dengan susah payah." cetus pria botak itu sambil tersenyum.
"Ya dia sangat cantik." puji wanita tua itu saat melihat Rubiana di dalam peti. "Dia akan menjadi primadona di tempat ini," wanita itu melihat Rubiana seperti berlian.
"Maka kau harus memberiku 50 keping emas untuknya, ah tidak--untuknya seratus keping emas." ucap pria botak itu mencoba bernegosiasi dengan si wanita tua dengan dandanan menornya. Madam itu adalah madam Morena.
__ADS_1
"Oh dear, itu sangat mahal. Bisakah kau memberiku harga yang sedikit lebih murah?" tanya madam Morena.
"Jika kau tidak mau, ya sudah. Aku akan membawanya ke tempat lain." kata pria botak itu. Lalu si madam Morena pun setuju untuk memberikan 100 keping emas pada si botak, khusus untuk si cantik rambut perak.
Setelah proses negoisasi selesai, para pria tua pun diberi bonus untuk bersenang-senang dengan wanita di rumah bordil itu. Sementara Rubiana dan si wanita yang masih hidup, dibawa ke sebuah kamar. Tepat setelah mereka sadarkan diri, mereka langsung dipaksa berdandan dan memakai pakaian seksi.
"Kenapa kau sangat tenang? Kita akan melayani para pria hidung belang itu, Ruby!" seru Magenta pada Ruby, ya wanita yang tadi di peti bersama Ruby bernama Magenta.
"Kita harus tenang agar musuh lengah." ucap Rubiana dengan tenangnya bercermin. Entah Kenapa yang ada di kepala gadis itu, yang jelas Magenta merasa bahwa Rubiana memiliki kemarahan di dalam dirinya, entah pada siapa.
Jika dia masih Selena yang dulu, dia pasti memiliki sifat cerita dan ceroboh. Namun sekarang dia adalah Rubiana, dia akan merubah semua sikapnya dulu dan menjadi pribadi yang baru.
"Kau percaya saja padaku, kita semua akan selamat." ujar Rubiana dengan senyuman dibibirnya.
"Tapi--"
Ceklet!
Tiba-tiba saja pintu itu terbuka dan memperlihatkan seorang wanita berambut ikal dengan dandanan menor dan baju seksinya.
"Apa kalian sudah siap?" tanya wanita menor itu.
"Ya." jawab Rubiana santai, sementara Magenta terlihat ketakutan.
"Kalian harus mengikuti arahanku, jangan membuat ulah." ujar wanita itu dengan sarkas. Dia iri melihat kecantikan Magenta dan Rubiana, barang baru di rumah bordil itu.
'Dulu ibu pernah bercerita bahwa ibu sudah memusnahkan tempat madam Morena. Tapi ternyata dia membuat tempat baru yang terselubung seperti ini' batin Rubiana.
"Cepat kalian layani tamu itu!" seru Madam Morena kepada dua anak barunya ini. Si wanita tua menor itu mendorong Magenta dan Rubiana pada dua pria hidung belang dengan tubuh gemuk yang tengah duduk di meja. Mata mereka melotot dan air liur mereka menetes saat melihat Rubiana juga Magenta.
"Ruby..." Magenta memegang tangan Rubiana.
"Ketika hitungan ke 3, kau harus lari..."
"A-apa?"
"Dalam hitungan ketiga kau harus lari ke jendela, satu..."
"Tu-tunggu Ruby! Apa yang kau katakan?" sentak Magenta bingung dengan apa yang diintruksikan oleh Rubiana.
"Dua..." Rubiana terus melanjutkan menghitung, tangannya terkepal seperti memegang sesuatu.
"Ruby, aku...aku." Magenta bingung.
"Tiga!" seru Rubiana, lalu gadis itu menaburkan bubuk yang ada ditangannya dan menyebarkan bubuk itu disana.
~Wush~
Dalam hitungan detik, ruangan itu sudah dipenuhi kabut putih dan membuat mata siapapun yang melihatnya jadi kabur. Rubiana dan Magenta memanfaatkan kesempatan ini untuk melarikan diri.
__ADS_1
"Kau sangat hebat Ruby!" Magenta tersenyum memuji Rubiana.
"Ini bukan waktunya memuji, tapi waktunya lari." ucap Rubiana dengan nafas terengah-engah karena berlari.
Semua orang jadi kalang kabut karena kabur putih itu. Setelah kabur putih menghilang, Madam Morena menyadari bahwa dua anak barunya kabur. "Cepat temukan mereka berdua! Wanita berambut perak dan pirang!" ujar madam Morena kepada para anak buahnya.
"Baik Madam!" seru para anak buah madam Morena yang berbadan kekar dan bertubuh tinggi itu.
Ternyata bukan hanya dua wanita itu saja yang memanfaatkan kesempatan untuk kabur. Namun beberapa pelacur disana juga ada yang melarikan diri.
Rubiana berlari menuntun Magenta ke dalam sebuah hutan, gadis itu seperti tau jalan keluar. Ya, dia memang tau. Saat menjadi Selena, ia dan ibunya Liliana pernah datang kemari.
"Ruby, apa kau tau jalan ini?"
"Iya--err tidak! Aku berasal dari Lostier." jawab Rubiana
"Tapi kau--"
"Bisakah kau tidak banyak tanya? Kita hampir sampai!" seru Rubiana pada Magenta dengan terburu-buru.
Hingga saat mereka tiba ditengah hutan, mereka melihat siluet beberapa orang bertubuh tinggi berada tak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini. Seketika Rubiana dan Magenta menghentikan langkah mereka.
"Ruby, mereka--mereka siapa?"
"Lari Magenta!" Rubiana meminta teman barunya itu untuk berlari.
"Kenapa kau selalu menyuruhku untuk berlari? Aku tidak akan meninggalkanmu!" seru Magenta pada Rubiana.
"Pergilah dan temui seseorang bernama Geordo Tan dan Lizzy Tan. Mereka berada di rumah tepat di ujung hutan ini."
Geordo dan Lizzy adalah kenalan Liliana, mereka adalah orang baik yang sudah menolong Liliana di masa lalu. Selena masih ingat dengan kedua orang itu.
"Tapi..."
"Aku akan menyusulmu!" seru Rubiana pada Magenta. Awalnya Magenta tidak percaya dengan janji Rubiana, namun karena waktu yang mendesak. Magenta terpaksa pergi meninggalkan Rubiana di tengah hutan seorang diri.
Rubiana bersiap menyerang dengan berbekal senjata kayu dari ranting-ranting pohon yang mungkin sama sekali tidak kuat. Mereka pun mendekat pada Rubiana dan tepat saat itu, ada seseorang yang melepaskan panah tepat ke arahnya.
"ARGH!!"
Siluet orang-orang bertubuh tinggi dan tegap itu menghampiri Rubiana, yang kini sudah roboh karena serangan dari panah itu menancap tepat di tangannya.
Rubiana terkejut mana kalah dia melihat sosok pria yang ada di hadapannya. Dia yakin mungkin ini adalah cara yang diberikan Tuhan agar dia bisa membalas kematian keluarganya.
"Nona...apa kau baik-baik saja?" tanya pria tampan itu pada Rubiana.
"Tolong saya tuan...tolong..." lirih Rubiana lalu tubuhnya terhuyung dan limbung dan jatuh ke dalam dekapan pria itu.
...****...
__ADS_1