
Dengan mata kepalanya sendiri, Hyacinth melihat bagaimana sikap Barack pada Rubiana. Sikap yang tidak menunjukkan rasa hormat kepada permaisurinya, permaisuri negeri ini. Bahkan tak segan Barack memandangi dengan tatapan yang merendahkan.
Menyadari kehadiran sang Raja, Barack dan Rubiana lantas menundukkan kepala seraya memberi hormat kepadanya. Hyacinth menatap Barack dengan tatapan menghunus tajam. "Barack...aku tidak percaya bahwa kau..."
"Yang Mulia, anda salah paham. Tidak seperti ini kej--"
SRET!
Semua orang terkejut dan terperangah melihat sang raja mengeluarkan pedangnya, lalu menggores lengan Barack hingga lengannya mengeluarkan darah dan terlihat sobek.
"Yang Mulia, saya mohon hentikan ini! Ini salah paham, saya--" Rubiana akhirnya berbicara, melancarkan aksinya untuk bermain peran. Jujur, ia menertawakan Barack di dalam hatinya.
"Ratuku! Kau jangan bicara apapun untuk saat ini. Sebab sekarang, aku memiliki perasaan ingin membunuh seseorang!" murka Hyacinth dengan tatapan menghunus tajam kepada pria yang tengah duduk berlutut di hadapannya itu.
"Kau, sudah kubilang kepadamu untuk meminta maaf kepada Ratu! Kenapa kau malah membuat air mata menetes membasahi pipinya? Apa kau mau mati? Apa kau sudah gila? Kau punya sembilan nyawa, HAH?!" teriakan murka dan emosi yang meledak itu tidak bisa diredakan begitu saja. Kini Hyacinth sudah benar-benar kecewa dan marah kepada ajudannya itu.
Barack terdiam sambil memegangi lengannya yang bercucuran darah, sakit ditangannya bukan apa-apa. Tapi hatinya sakit dibentak dan tidak dipercayai oleh Hyacinth.
"Kau bilang apa? Ratu drama? Ratu sialan? Beraninya kau mengatakan itu!" dada Hyacinth naik turun karena emosi.
"Yang Mulia, aku mohon tenanglah! Jangan seperti ini, kasihan tuan Barack." Rubiana memegang tangan sang raja sambil menangis. Dia terlihat memohon pada pria itu untuk tidak menyerang Barack.
__ADS_1
Kau lihat kan Barack? Lihat, Hyacinth bodoh lebih percaya padaku. Batin Rubiana merasa menang.
"Yang Mulia, anda boleh memarahi saya...anda boleh menghukum saya. Tapi saya mohon jangan percaya pada wanita iblis ini!" teriak Barack seraya menatap Rubiana dengan tajam.
"BARACK!"
"Kalian, bawa dia ke penjara bawah tanah!" ujar Hyacinth seraya melirik sekilas pada dua orang pengawal yang ada disana.
Kedua pengawal itu menyeret Barack. Barack tercengang karena Hyacinth lebih percaya pada drama Rubiana, ketimbang dirinya. Hyacinth terpaksa membawa Barack ke penjara karena ia tidak suka dengan sikap pria itu yang tidak sopan pada Rubiana.
"Yang Mulia, aku mohon ampuni dia! Ini semua adalah salahku, aku yang berasal dari rakyat jelata ini...aku memang--"
"Hentikan itu wanita iblis! Wanita licik! Yang Mulia, anda jangan percaya padanya. Dia adalah putri Se--"
****
Di kamar Hyacinth dan Rubiana, istana Raja.
Hyacinth dan Rubiana terlihat duduk berdua diatas tanah. Rubiana masih dengan aktingnya yang meminta agar Barack dibebaskan, namun tentu saja dia tidak bersungguh-sungguh dengan permintaannya.
"Yang mulia...aku mohon..."
__ADS_1
"Ratu, sudah kukatakan berapa kali! Kau tidak bisa mentolerir lagi kesalahannya. Jika dia orang lain, mungkin aku sudah memotong lidahnya dan memenggal kepalanya. Namun, dia adalah orang terdekatku dan dia berada disaat-saat tersulitku dulu," jelas Hyacinth dengan raut wajah sendu.
Huh, ternyata iblis ini masih memiliki rasa kemanusiaan. Dia masih bisa peduli pada orang lain.
"Aku tau yang mulia, maka dari itu jangan hukum dia apalagi membunuhnya! Kau bisa memberikan hukuman yang lain, misal..." Rubiana menggantung ucapannya disana.
"Misal apa ratu?"
"Pengasingan." jawab Rubiana.
"Ya kau benar, aku akan memberikan hukuman pengasingan padanya.Jika kau merasa hukuman itu cocok untuknya." kata Hyacinth setuju.
"Saya rasa itu sudah cukup Yang Mulia," jawab Rubiana.
Kemudian Hyacinth memeluk Rubiana, dia memuji gadis itu karena kebesaran hatinya yang tidak membunuh Barack. Namun, Hyacinth salah besar. Ini bukan kebesaran hatinya, melainkan petaka untuk Hyacinth karena dia akan jauh dari Barack.
"Oh ya, malam ini...pakailah pakaian yang tipis,"
"Huh?" Rubiana terkejut saat mendengar ucapan Hyacinth yang tiba-tiba itu.
"Malam ini, kita akan melakukan malam pertama kita yang tertunda. Ratuku," bisik Hyacinth lalu mengecup bibir Rubiana sekilas. Rubiana terkejut bukan main karena Hyacinth menciumnya tanpa aba-aba.
__ADS_1
Sialan! Matilah aku! Malam pertama?
...****...