
...🍀🍀🍀...
Ruang kerja Raja, siang itu.
Barack dan Hyacinth berada disana. Hyacinth meminta Barack untuk duduk di sofa, tidak seperti pengawal lainnya. Barack diperlakukan spesial karena ia sudah mengenal Hyacinth dari kecil.
"Duduklah!" ujar Hyacinth pada pria itu.
"Baik Yang Mulia," jawab Barack sambil berjalan mendekati sofa dan bermaksud untuk duduk di sofa. Akan tetapi, sebelum bokongnya duduk disana. Hyacinth sudah lebih dulu berteriak marah hingga membuat Barack masih tetap dalam posisi berdiri.
"BERANINYA KAU!"
"Ya-yang Mulia?" Barack kaget bukan main saat mendengar suara keras Hyacinth dan tatapan pria itu kepadanya. Sungguh, Barack tidak pernah melihat hal ini sebelumnya.
"Hanya karena kau adalah orang terdekatku dan bersama denganku dari kecil, bukan berarti kau bisa berbuat seenaknya padaku! Berlutut, Barack!" sentak Hyacinth seraya menunjukkan jarinya pada pria itu.
Barack terdiam sejenak dalam bingung, hatinya penuh pertanyaan. Mengapa Hyacinth begitu marah padanya dan bersikap begini? Namun Barack akhirnya menurut dan berlutut didepan pria itu.
"Yang Mulia, apa salah saya sehingga Yang Mulia bersikap seperti ini kepada saya?" tanya Barack dengan tangan yang mengenal, hingga buku tangannya memutih karena kesal.
"Berani kau bicara padaku, sebelum aku yang memulai bicara padamu! Barack, sepertinya kau sudah benar-benar kurang ajar!"
"Yang Mulia maafkan saya. Tapi apa salah saya?" tanya Barack dengan suara pelan dan tidak terbawa emosi.
"Barack, aku paham kau adalah orang yang paling dekat denganku. Dari kecil kita bersama-sama, tapi itu bukan berarti kau bisa berbuat seenaknya. Aku juga tau kau tidak suka dengan Ratu, tapi aku tidak terima kau menyakitinya!"
Barack lantas mendongakkan kepalanya, ia tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Hyacinth. Dia berpikir Barack menyakiti Rubiana?
"Yang mulia, apa maksud anda?" tanya Barack dengan kening berkerut.
__ADS_1
"Kau mengatakan padanya bahwa aku meninggalkannya di malam pertama karena aku masih mencintai Selena. Itu sangat menyakitinya, Barack!" sentak Hyacinth emosi.
"Saya tidak pernah bicara begitu yang mulia!" sanggah Barack yang masih dengan keterkejutannya karena Rubiana berani memfitnahnya begini. Dia tidak pernah mengatakan hal itu pada Rubiana.
"Aku akan mengurangi hukumanmu, bila kau berkata jujur padaku Barack. Kau juga harus meminta maaf pada Ratu dan menjelaskan kesalahpahaman ini," jelas Hyacinth sambil menatap tajam pada Barack.
"Yang Mulia, apa anda tidak percaya pada saya? Apa anda lebih percaya pada Ratu daripada pada saya?" pria itu tidak percaya, ada tatapan kecewa di mata Barack untuk Hyacinth.
'Sial! Wanita itu, berani sekali dia meracuni Yang Mulia!' batin Barack.
"Aku bukannya tidak percaya padamu, atau lebih percaya pada Ratu. Akan tetapi, aku melihat fakta bahwa kau sejak awal tidak menyukainya. Jadi tidak menutup kemungkinan jika kau mengatakan semua ini padanya," tutur Hyacinth yang membuat Barack kecewa. Namun, sayangnya didalam pikiran Hyacinth saat ini adalah wajah istrinya yang menangis sedih dan dingin kepadanya. Hyacinth tidak mau didiamkan seperti ini.
"Yang Mulia, sungguh saya tidak mengatakan itu!"
"Pergilah bicara dengan Ratu! Minta maaf padanya...jika dia tidak bisa memaafkanmu, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Hukumanmu akan ditentukan setelah kau bicara dengannya. Maafkan aku Barack, kau memang orang terdekatku...tapi bukan berarti kau bisa seperti ini pada orang yang aku cintai!"
Deg!
"Baik Yang Mulia, saya akan bicara pada Baginda Ratu," ucap Barack dengan terpaksa. Dia menundukkan kepalanya dan raut wajahnya terlihat menyeramkan. 'Aku bersumpah akan membunuhmu, putri Selena sialan!' batin Barack penuh dendam.
****
Sore itu, Rubiana baru saja pulang dari perkumpulan nona bangsawan untuk pertama kalinya sebagai Permaisuri. Beberapa nona bangsawan disana, berusaha untuk membuat Rubiana malu karena statusnya yang adalah rakyat jelata dan juga salah satu pelacur yang ada di club Madam Morena dulu. Mereka beranggapan bahwa Rubiana menjadi Ratu hanya karena kasih sayang raja.
Namun, Rubiana berhasil membuat mereka semua bungkam dengan keterampilannya yang elegan. Bahkan ia juga mempermalukan salah seorang wanita bangsawan yang waktu itu menyiram tubuhnya dengan air.
"Yang Mulia, anda sangat keren!" puji Karina pada ratunya itu, begitu turun dari kereta istana. Tak hentinya, wanita itu menuju betapa kerennya Rubiana. Belajar sedikit saja, gadis itu sudah berubah menjadi bangsawan yang cerdas. Ya, siapa sangka bahwa dia hidup dua kali dan untuk kedua kalinya dia tidak boleh gagal.
"Yang Mulia, bagaimana bisa anda sekeren itu? Apa rahasianya Yang Mulia?" tanya Karina dengan tatapan mata takjub pada Rubiana.
__ADS_1
"Masa lalu dan pengalamanlah yang membuatku belajar untuk menjadi lebih kuat." begitulah jawaban dari Rubiana.
Hidup dua kali, membuatku banyak belajar. Batin Rubiana.
"Yang Mulia ratu memang sangat menakjubkan," ucap Magenta yang juga memuji kecerdikan Rubiana.
"Kalian jangan terlalu memujiku, nanti hidungku terbang!" canda Rubiana pada kedua dayang setianya itu.
Mereka bertiga pun tertawa lepas sambil berjalan menuju ke istana Ratu. Di dalam perjalanan menuju ke istana ratu. Rubiana dan kedua dayangnya berpapasan dengan Barack dan seorang pengawal lainnya yang tidak dikenal.
Barack memberi hormat pada Rubiana dengan menundukkan kepalanya, Rubiana hanya menanggapinya dengan biasa saja. Lalu ia pun berjalan pergi.
"Yang Mulia Ratu, mohon tunggu sebentar!" ujar Barack seraya melangkah mendekati Rubiana yang sedang berjalan. Sontak gadis itu menghentikan langkahnya.
"Ada apa?" tanya Rubiana dengan sedikit senyum dibibirnya.
'Kenapa dia terlihat sopan? Tidak menatapku dengan angkuh seperti biasanya. Hah!'
"Yang Mulia Ratu, saya perlu bicara dengan Yang Mulia...apakah yang mulia ratu ada waktu?" tanya Barack sopan.
Rubiana mendesahh saat mendengarnya, gadis itu tampak lelah. "Baiklah, ayo!"
"Tuan Barack, anda sangat tidak sopan! Yang mulia Ratu baru saja kembali, Baginda pasti lelah. Apa kau tidak bisa bicara nanti saja?" Karina marah-marah pada Barack. Dari dulu Karina kurang suka pada Barack karena pria itu selalu menjadi kesayangan Raja.
"Karina, tidak apa-apa! Kalian berdua pergilah lebih dulu, aku akan bicara dengan tuan Barack," titah Rubiana pada kedua dayangnya itu.
"Baik Yang Mulia,"
"Ah ya...dan tolong siapkan kue dan teh hangat untukku," ucapnya lagi pada kedua dayangnya.
__ADS_1
"Baik Yang mulia!" jawab Karina dan Magenta bersamaan. Lalu mereka berdua pun pergi meninggalkan Barack dan Rubiana berdua saja disana. Kedua orang itu bertatapan dengan sengit.
...****...