
Mia pikir Hartono adalah pria paling kaku yang ia kenal, namun ternyata anak pria itu jauh lebih kaku dan dingin. Setidaknya Hartono sudah mulai berubah sejak berhubungan dengannya. Pria itu bisa bersikap manis dan hangat saat bersama dirinya.
Tapi Mia tidak yakin dengan Fabian, lelaki itu sepertinya tetap bersikap dingin walau pada pasangannya.
“Mau kubuatkan sesuatu?” Mia bertanya pada sosok Fabian yang duduk lesu di atas kursi bar. sepertinya lelaki itu sedang mengalami masalah jika dilihat dari penampilannya yang nampak acak.
Fabian mendongak dan menatap Mia dingin. sungguh, Mia sangat benci dengan tatapan lelaki itu. karena tatapan tersebut membuat Mia merasa kalau Fabian mengetahui semua kesalahannya.
“Cokelat panas, kalau kau tidak keberatan.” jawab Fabian datar.
Mia mengulas senyumnya, kalau cuma sekedar membuat cokelat panas Mia pikir itu bukan hal yang sulit. maka setelah mendengar permintaan lelaki itu, Mia segera membuatkan cokelat panas sesuai keinginan Fabian.
Tadinya ia masih berada di dapur karena dirinya sedang menunggu kepulangan Hartono dari kantor. Tapi tidak menyangka kalau Fabian akan berkunjung ke dapur di saat dirinya sedang duduk santai sambil menikmati minumannya.
Fabian sendiri memang sedang ada masalah dengan kekasihnya. Wanita yang dicintainya sepenuh hati itu tengah merajuk karena suatu alasan. Fabian paling tidak bisa kalau Laura, kekasihnya sedang marah seperti itu.
“Ini minumannya.” ujar Mia seraya menyodorkan mug besar berisi cokelat panas.
Fabian menerimanya dengan pelan, “Terima kasih.” ucapnya singkat.
Mia tersenyum tipis, ia kemudian kembali duduk di kursinya tadi. Dan kembali melanjutkan minum yogurt kemasan yang tadi sempat tertunda karena kehadiran Fabian.
Fabian memperhatikan Mia dalam diam, wanita itu baru tinggal selama satu minggu di mansion ini. Tapi Fabian salut karena wanita itu mau beradaptasi dengan tempat tinggal barunya.
Wanita itu bahkan dengan cepat mengambil hati Ibunya karena pandai dalam segala hal. Terutama tentang memasak, wanita itu benar-benar pintar membuat makanan enak.
“Kau mudah sekali mengambil hati Ibuku.” Fabian berkata pelan.
Mia yang mendengar itu hanya bisa tersenyum simpul, “Tante Sharon sangat baik hati, beliau mengajariku banyak hal.” balas Mia.
Wanita itu berkata jujur. Sharon memang mengajari banyak hal terutama yang berhubungan dengan dunia fashion dan kecantikan. tidak heran Istri dari kekasihnya itu masih sangat cantik dan modis di usianya yang sudah mencapai 40 an.
“Ibuku tidak mudah memberikan hatinya pada orang lain. Dan kuharap kau tidak pernah mengecewakan dirinya.” tutur Fabian membuat Mia seketika terdiam.
__ADS_1
Tanpa Fabian sadari kalau Mia memang telah menyakiti dan mengecewakan Sharon dengan menjadi wanita simpanan dari Hartono. Andai lelaki itu tahu kalau Mia memiliki hubungan terlarang dengan sang ayah yang selama ini dihormatinya. Entah akan bagaimana Fabian menyikapi skandal tersebut.
“Kau masih mau di sini?” tanya Fabian pada Mia.
Lelaki itu telah berdiri dengan membawa mug nya, hendak pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
“Ya, aku masih mau di sini.” jawab Mia.
Fabian lantas mengangguk singkat, dan kemudian pergi meninggalkan Mia yang tengah merenung karena perkataan Fabian tadi.
Sharon sangat baik padanya, wanita itu benar-benar tulus terhadap dirinya. Tapi Mia dengan teganya mengkhianati wanita itu. Ia begitu jahat karena mencoba untuk merebut suami Sharon.
Mia tidak bisa mengelak semua hasratnya pada Hartono. Pria itu benar-benar telah mengurung jiwa dan kewarasannya dalam hubungan gelap mereka.
**
Semenjak Mia tinggal bersamanya, Hartono merasa dirinya justru kesulitan untuk berduaan dengan wanita itu. Apalagi istrinya selalu bisa menguasai Mia untuk dirinya sendiri, dengan membawa kekasihnya itu pergi berbelanja maupun ke salon untuk memanjakan diri.
“Maafkan aku, sayang.” bisik Hartono pada istrinya yang tertidur.
Pria itu mengecup kening Sharon, dan setelah memastikan wanita itu tidak akan terbangun sebelum pagi, barulah dia keluar dari kamarnya untuk menemui sang pujaan hati.
Kamar Mia berada di bawah, dan ia turun ke sana menggunakan elevator. mengingat ini sudah hampir tengah malam, Hartono sangat yakin kalau semua maidnya telah masuk ke kamar mereka masing-masing. sehingga dirinya begitu percaya diri memasuki kamar Mia yang memang tidak dikunci.
Dari dalam kamar, Mia sudah menunggu kedatangan Hartono. Wanita cantik itu duduk di atas meja riasnya sambil menyilangkan kakinya. Penampilan wanita itu juga sangat menggoda karena Mia memakai Lingerie super seksi berwarna merah darah.
Hartono menyeringai seksi saat melihat kesiapan Mia dalam menyambut dirinya. Setelah mengunci pintu kamar wanita, ia melangkahkan keduanya kakinya guna mendekati sang pujaan hati.
“Hai, sweetheart.” pria itu menyapa kekasihnya dengan suara seksinya yang membuat Mia merasa ingin cepat-cepat digagahi.
Tangan pria itu memeleuk pinggang sang wanita, sementara bibirnya mulai mengecup leher wanita itu.
Mia dengan sengaja mendongakkan kepalanya agar Hartono lebih leluasa menjamah lehernya dengan mulut pria itu.
__ADS_1
“Kau wangi sekali.” bisiknya mesra.
Mia tersenyum nakal, merasa bangga akan pujian pria itu. “Aku harus selalu wangi saat bersamamu.” jawabnya seduktif.
Hartono tersenyum culas ketika mendengarnya, lalu tanpa basa-basi dirinya pun segera melorotkan tali Lingerie yang dikenakan Mia. Dan kemudian dirinya mulai menciumi bahu hingga lengan wanita itu.
“Aku sangat merindukan kesayanganku ini.” ungkap Hartono jujur.
Kedua obsidian hitamnya menatap Mia dan membawa fokus wanita itu agar bisa memahami kerinduannya yang menggunung lewat tatapan matanya.
Mia mengangguk paham, ia menjawab kerinduan sang pria dengan cara mengajak pria itu berciuman.
“Malam ini aku adalah milikmu, sweetheart.” bisik Hartono mesra setelah pagutan manisnya terlepas.
Pria itu kemudian mengangkat tubuh Mia dan membawanya dalam gendongan pengantin. Lalu dirinya menjatuhkan tubuh Mia ke atas ranjang.
Mia tersenyum penuh kepuasan, ia tidak sabar menantikan pria itu membawanya pada puncak pelepasan yang tidak tertandingi rasanya.
“Aku sudah tidak sabar.” ucap Mia membuat Hartono tersenyum tipis.
Dengan cekatan pria itu melepas tiap helai kain yang tadi menutupi tubuh indah Mia. Lalu setelah itu tangannya membelai bagian bawah tubuh wanita itu dengan gerak sensual.
“Mia, kamar ini kedap suara. Kau bebas berteriak sesuka hatimu.” ungkap Hartono yang disambut sorak gembira yang menggaung dalam relung hati milik Mia
Dan pada akhirnya keduanya benar-benar menumpahkan segala hasrat dan kerinduan mereka. Setelah selama seminggu ini tertahan karena tidak adanya kesempatan.
Hartono menyentuh Mia dengan segala keahliannya di atas ranjang. Membawa wanita itu terbang untuk mengarungi angan tinggi penuh kenikmatan.
Ia menumpahkan semuanya, mulai dari cinta, kerinduan, dan terlebih lagi nafsunya.
“Aku ingin dengar pengakuan cintamu lagi!” Mia berteriak frustasi di sela-sela kegiatan mereka dalam berpacu di atas tempat tidur.
“Aku mencintaimu. Aku mencintaimu.” ujar Hartono bersamaan dengan tumpahnya ****** ***** miliknya.
__ADS_1