
“Ibumu tidak menyukai aku, sepertinya hubungan kita tidak akan pernah berhasil.”
Laura cukup terluka ketika mengatakan hal tersebut. hatinya yang memang cukup rapuh perlahan kehilangan perekatnya.
Ia ingin meyakinkan diri, serta mencoba menguatkan harapan dalam jiwanya. Berharap hubungannya dengan Fabian tidak berakhir seperti ini, namun sepertinya harapan tersebut akan sirna karena Ibu dari kekasihnya tidak sudi memberi restu.
“Aku yang menentukan bagaimana kelanjutan hubungan kita, bukan ibuku.” balas Fabian tegas.
Laura yang tadi berdiri di dekat balkon lantas berbalik untuk menghadap Fabian.
“Jangan keras kepala, Fabian!”
“Bukankah restu seorang Ibu adalah segalanya?”
Kedua mata Laura nampak putus asa, seperti itulah yang dapat Fabian lihat. Kedua mata yang biasanya terlihat indah dengan sorot matanya yang penuh keyakinan, kini mulai pudar karena pupusnya harapan yang wanita itu genggam.
“Seharusnya aku sudah menduga ini, Fabian.” Laura kembali berbicara sebelum kekasihnya membuka mulut.
“Aku dan dirimu berbeda.”
“Omong kosong!”
Fabian mengelak, pria itu meraih tangan Laura dan menggenggamnya dengan lembut.
“Manusia akan tetap sama di mata Tuhan. Apa yang membuatmu sampai berpikir kalau kita berbeda?” tanya pria itu.
Laura menjatuhkan air matanya dan itu membuat perasaan Fabian ikut terluka.
“Status kita.” jawab Laura terdengar lirih.
“Aku bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan dirimu, Fabian. Sebesar apapun kamu mengelak, tapi memang seperti itulah kenyataannya.”
Fabian tidak ingin mendengar semua omong kosong Laura lagi. meski bagian lain dari hatinya mengakui itu, tapi bagian terbesarnya akan menepis semua pernyataan Laura.
Memanglah di dunia nyata tidak bisa disamakan seperti novel-novel romansa yang banyak bertebaran sekarang ini. Di mana selalu ada kebahagiaan atau akhir yang indah bagi si miskin dan si kaya dalam merajut kasih.
Namun bukan berarti sesuatu yang seperti itu tidak dapat terjadi di kehidupan nyata. Pasti ada yang bisa mendapatkan akhir yang indah, meski hanya secuil dari banyaknya kasus.
Dan Fabian akan memastikan kalau kisah cintanya dengan Laura adalah bagian kecil dari yang berhasil.
..
Seperti yang sudah-sudah, sekuat apapun Laura mendorong Fabian dari hidupnya, maka semakin besar pula kekuatan pria itu guna menekannya.
Laura tidak bisa menghindar terlebih lagi menolak, karena pria itu selalu punya cara untuk membuatnya kembali melebarkan kedua lengannya menyambut cinta yang diberikan untuk dirinya.
Melalui untaian kata yang membentuk suatu kalimat berisi pengakuan cinta, hatinya yang rapuh dan tidak pernah kuat sejak dulu kembali luluh.
“Sudah berapa kali aku mengatakannya padamu—” suara Fabian menggeram di telinga Laura, seiring pergerakannya yang kian liar di atas sana.
__ADS_1
Laura tidak bisa membuka mulutnya, sementara kedua matanya yang lelah tidak diizinkan untuk terpejam. Pria itu memaksanya tetap sadar untuk menikmati semua sentuhan kasar namun penuh cinta yang memang ditujukan untuk dirinya.
“Kamu tidak bisa lari dariku, walaupun hanya sejengkal saja.”
Laura sadar dirinya tidak pernah cukup kuat untuk mengakhiri semua hubungan menyedihkan ini. Selain ia yang tidak sanggup lari, hatinya pun enggan untuk melepaskan cintanya yang terlanjur besar pada pria itu.
“Laura, tubuhmu jauh lebih jujur.” ujar Fabian seolah-olah mentertawakan keputusan Laura beberapa waktu lalu yang menginginkan akhir untuk hubungan mereka.
“Aku mencintaimu, bukankah itu yang terpenting?!”
Fabian menumpahkan semua rasa frustrasinya melalui lelehan protein di bawah sana. Rasa hangat dari tembakan yang dilakukan pria itu membuat Laura ikut merasakan betapa besarnya perasaan sang kekasih terhadapnya.
“Jangan membuatku berpikir kalau hanya aku saja yang tergila-gila di sini, Laura!”
**
Mia menenggelamkan dirinya pada kubangan air di dalam bath up. Ia menahan nafas untuk beberapa saat, sementara isi kepalanya mulai berebut untuk mengambil alih kesadarannya.
Wanita itu jatuh perlahan pada gejolak batin yang memperlihatkan kedua sisi saling berhadapan.
Pernyataan yang diungkapkan Hartono beberapa waktu lalu sama sekali bukan hal yang ingin Mia dengar. Bahkan ia tidak pernah membayangkan sama sekali akan mendengar sesuatu yang menggelikan seperti itu.
Bagaimana bisa Sharon menginginkan dirinya untuk menjadi menantu wanita itu. Meski ia akan diberikan imbalan setengah kekayaan milik wanita itu pun, Mia tetap tidak akan mau menerimanya.
Ia mencintai Hartono, suami wanita itu. Maka yang diinginkan Mia adalah pria itu, bukan Fabian yang merupakan calon anak tirinya.
“Kenapa semuanya jadi seperti ini?” tanya wanita itu pada dirinya sendiri.
Dibandingkan dengan kondisi hatinya, Mia justru lebih mengkhawatirkan bagaimana perasaan Fabian dan kekasihnya. Kedua orang itu pasti dalam keadaan tidak baik-baik saja mengingat hubungan mereka terhalang restu dari Sharon.
Karena bagaimana pun restu orang tua merupakan salah satu dari yang terpenting dalam kelangsungan suatu hubungan.
“Mia!”
Mia yang sedang melamun memikirkan hubungan Fabian lantas tersentak kaget saat tiba-tiba mendengar Hartono memanggilnya dari luar kamar mandi.
“Apa yang kau lakukan di dalam? Kenapa lama sekali?”
Sepertinya pria itu mengkhawatirkan Mia yang cukup lama menghabiskan waktu untuk berendam.
“Masuk saja! Pintunya tidak terkunci!” Mia menyahut dengan keras dari dalam, dan kemudian pria itu datang menghampirinya tidak lama setelah dirinya mengatakan itu.
Mia menebar senyum manisnya pada Hartono, berbeda dengan pria itu yang justru memandangnya dengan cemas.
“Kenapa lama sekali?” tanya Hartono setelah berdiri di dekat Mia.
“Mandinya seorang wanita itu memang lama, sayang.” jawab Mia.
Hartono kemudian berjongkok di dekat Mia, kedua mata hitamnya memandangi tubuh wanita itu yang telah basah termasuk rambutnya.
__ADS_1
“Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Mia sambil tersenyum.
“Aku tergoda untuk ikut bergabung bersamamu.” ujar pria itu membuat senyum Mia semakin lebar.
“Tapi sayangnya aku benar-benar harus pergi.” ungkap Hartono penuh sesal.
Mia menghela nafas pelan, jika sudah seperti itu dirinya tidak bisa berbuat apa-apa untuk menahan kepergian pria tercintanya.
Hartono mencium kening Mia cukup lama, kemudian beralih mengecup bibir Mia yang basah.
“Aku pergi dulu, sampai nanti.”
..
“Aku menghubungi Mia beberapa kali dan tidak ada jawaban. Kau tahu dimana dia?” Sharon langsung menodong Hartono dengan pertanyaan perihal Mia ketika pria itu baru masuk ke kamar mereka.
“Aku tidak tahu. Memangnya dia tidak ada di sini?” tanya Hartono pura-pura.
Sharon merotasikan kedua bola matanya, wanita itu sebal dengan jawaban sekaligus pertanyaan dari suaminya.
“Kalau dia ada di sini, buat apa aku menanyakannya padamu?” balas Sharon dengan nada terdengar kesal.
“Terus tujuanmu bertanya padaku untuk apa? Sementara kau sendiri tahu aku berada di mana seharian ini.”
Balasan dari Hartono membuat Sharon terdiam sekaligus tersadar. Memang benar perkataan pria itu. Suatu hal yang sia-sia jika dirinya menanyakan Mia pada Hartono.
“Jadi kau menyuruhku pulang hanya untuk menanyakan keberadaan anak itu?” tanya Hartono membuyarkan lamunan Sharon.
Wanita itu menggeleng pelan, “Itu mungkin salah satunya. Tapi bukan yang terpenting.” jawaban Sharon menciptakan kernyitan kebingungan di kening Hartono.
Apalagi saat Sharon menarik tangannya untuk duduk di dekat wanita itu. Hartono jadi merasa waspada karenanya.
“Suamiku, kau tidak melupakan sesuatu kan?” tatapan mata Sharon yang tajam membuat Hartono terdiam dan mencoba berpikir keras.
Apa ada sesuatu yang telah dilupakannya?
“Apa?”
“Dua minggu lagi—” Sharon memberi clue dan membuat Hartono kembali berpikir cepat.
Ia mengingat tanggal berapa saat ini dan mencoba menghitung tanggal berapa dua minggu ke depan. Dan setelah dirinya berhasil mendapatkan hasilnya, barulah ia ingat.
Melihat raut muka suaminya membuat Sharon tersenyum tipis. Ia senang kalau Hartono tidak melupakan apapun tentang hubungan mereka.
“Aku tidak mungkin lupa tentang itu—”
“Hari di mana aku pernah berjanji di hadapan Tuhan untuk menjalani hidup bersamamu.”
Kalimat terakhir yang diucapkan Hartono membuat pria itu merasakan sakit luar biasa di hatinya. Karena kenyataannya ia telah mengingkari janjinya di depan Tuhan.
__ADS_1