
30 Tahun yang lalu Hartono menikahi Sharon yang baru saja memulai statusnya sebagai mahasiswa baru. Sedangkan dirinya baru lulus strata satu.
Keduanya memutuskan menikah karena memang telah cukup lama menjalani hubungan, ditambah kedua orang tua mereka juga sama-sama mendukung keduanya. Dari pada menghabiskan waktu untuk hubungan yang belum pasti, membuat Hartono dan Sharon bertekad melanjutkan hubungan dalam ikatan pernikahan yang suci.
Menikah muda bagi mereka bukan masalah besar, apalagi keduanya juga bukan berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja. Hartono tidak perlu merasa pusing memikirkan biaya hidup setelah menikah sementara istrinya masih menjadi seorang mahasiswi kala itu. Ia ikut bekerja bersama ayahnya, dan keduanya masih sering mendapatkan bantuan dari orang tua masing-masing.
Jika mengingat ke masa itu, Hartono merasa saat ini ia menjadi manusia yang tidak bersyukur.
Ia telah sepenuhnya berpaling dari wanita yang selama bertahun-tahun menemani hidupnya. Wanita yang mendukung Hartono ketika tiba masanya kedua orang tua mereka melepaskan sayap yang tadinya digunakan untuk membantu dirinya terbang.
Sharon mendorongnya untuk lebih maju dengan mengorbankan semua masa mudanya, hingga kini dirinya sudah seperti ini. Besar dan juga kokoh. Tapi ia justru mengkhianati wanita itu, mengkhianati rasa cintanya juga pengorbanan Sharon untuk dirinya.
Sekarang rasa penyesalan itu datang menghantamnya. Membuat dirinya merasakan sakit di bagian jantung hingga rasanya sulit untuk bernafas.
“Sharon, aku benar-benar merasa berdosa padamu.”
Perkataan Hartono sukses membuat Sharon terdiam. Wanita itu tidak mengerti kenapa tiba-tiba suaminya mengucapkan kalimat tersebut.
“Apa maksudmu?” tanya Sharon dengan kedua mata hitamnya yang berkilat tajam.
Seketika pikirannya diserang oleh dugaan yang mengarah pada hal yang mungkin bisa membuat hatinya hancur.
“Sebenarnya aku tadi hampir tidak mengingat tanggal ulang tahun pernikahan kita.” jawab Hartono dengan senyum tipisnya.
Sharon merasakan sesuatu yang tadi seakan menyumbat sistem pernapasannya terlepas hingga dirinya kembali merasa lega.
Wanita itu tertawa canggung karena tadi sempat berpikir yang tidak-tidak.
“Kau ini!”
“Aku pikir kau telah melakukan kesalahan besar yang tidak termaafkan.” ujar Sharon sambil menatap suaminya.
“Seperti apa?” tanya pria itu terdengar tenang, “Kesalahan yang tidak termaafkan itu?”
Sharon terdiam beberapa saat hingga dirinya pun menjawab pertanyaan dari Hartono.
“Perselingkuhan, karena itu sesuatu yang tidak bisa kumaafkan.”
..
Hartono menatap foto pernikahannya dengan Sharon tiga puluh tahun yang lalu. Wanita itu tersenyum manis menatap kamera, sementara dirinya justru terpaku menatap wajah cantik istrinya.
“Kecantikannya tidak berubah.” ucap pria itu sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
“Hanya sikapnya yang perlahan berubah...”
Hartono sadar alasan kenapa dirinya sampai bisa berpaling dari Sharon. mungkin faktor utamanya adalah rasa jenuh dari dirinya sendiri, juga sikap hangat wanita itu yang perlahan menghilang sejak beberapa tahun lalu.
Sejak dulu dirinya memang kaku dan dingin, tapi semua tidak berarti ketika Sharon mampu mengimbangi atau bahkan menutupi dirinya yang kaku itu.
Wanita itu selalu bisa membuat dirinya perlahan memecah lapisan es yang seakan menyelimutinya. Sharon pandai mencairkan suasana dengan tingkahnya, wanita itu ramah dan hangat.
“Aku masih mencintaimu, tapi sayangnya rasa cintaku jauh lebih besar pada wanita simpananku.” ucap Hartono dengan penuh rasa sesal.
“Maafkan aku, Istriku. Aku akan mengakhirinya.”
**
“Kamu mau kemana?”
Fabian tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat dirinya melihat Laura tengah memasukkan pakaiannya ke dalam koper.
Wanita itu tidak menjawab pertanyaan dari kekasihnya, ia tetap fokus mengemas pakaian beserta peralatan make upnya.
“Laura, aku bertanya padamu. Kamu mau kemana?” tanya Fabian lagi.
Kali ini lelaki itu menghentikan pergerakan tangan Laura dan berhasil menarik perhatian wanita itu.
“Pergi.” jawab wanita itu dingin.
“Pergi kemana?”
“Kamu mau meninggalkan aku?” tanya lelaki itu mulai gelisah.
Laura menghela nafas pelan, “Aku mau pergi liburan.” jawabnya.
Fabian yang mendengar itu lantas melirik barang-barang yang telah dikemas oleh kekasihnya itu. Wanita itu memang tidak mengemas terlalu banyak barang, namun tetap saja ia kurang mempercayai ucapan kekasihnya.
“Aku benar-benar frustrasi dengan permasalahan kita akhir-akhir ini. Dan aku butuh liburan untuk menenangkan diri.” ungkap Laura lebih jelas lagi yang kemudian dapat dipahami oleh Fabian.
Fabian sangat mengerti tentang alasan Laura, tapi tetap saja ia tidak akan membiarkan wanitanya pergi seorang diri. karena dirinya takut Laura tidak kembali lagi padanya.
“Kalau begitu aku akan ikut.” ujar Fabian membuat Laura sontak menatap lelaki itu.
“Aku butuh pergi sendirian, Fabian.” tegas Laura.
“Pergi denganku, atau tidak sama sekali?” Fabian mulai mengancam.
__ADS_1
Kedua mata hitam itu menyorot dengan tajam, dan Laura sangat mengerti jikalau Fabian serius dengan ancamannya. Satu hal yang dibenci Laura dari lelaki itu adalah sikapnya yang suka memaksa dan penuh ancaman.
Melihat kekasihnya yang terdiam, Fabian pun kembali mendekat dan meraih tangan Laura.
“Kita bisa liburan bersama, bukankah terdengar sangat menyenangkan?” ucapnya sambil tersenyum tipis.
Meski ekspresi wajah Fabian mulai melunak, tapi hal itu tidak serta-merta membuat Laura tersenyum.
“Laura—” Fabian kembali memanggil kekasihnya dengan lembut.
“Mau kan berlibur bersamaku?” tanya lelaki itu lagi.
Laura menghela nafas kesal, lalu menatap tajam pada kekasihnya yang suka memaksa itu.
“Apa aku memiliki pilihan untuk menolakmu?” tanya Laura sinis.
Fabian tersenyum tipis, “Tentu saja tidak.” jawabnya lalu mencium bibir wanita itu sebagai akhir dari keputusannya.
“Baiklah, kamu mau kita berlibur kemana?” tanya Fabian.
“Ke Bali.” jawab Laura.
Fabian kira Laura ingin pergi berlibur ke luar Indonesia, tapi ternyata wanitanya itu hanya menginginkan liburan ke Bali.
Ia senang mendengarnya, karena sejujurnya mereka memiliki kenangan bersama di pulau dewata itu.
“Aku ingin kembali ke tempat di mana kita pertama kali mengukuhkan hubungan kita.” ujar Laura membuat Fabian terdiam.
Ia jelas masih ingat tempatnya. Mereka pernah menghabiskan waktu tiga malam di sana. dan selama itu juga waktu mereka banyak diisi oleh kegiatan penuh gairah di atas ranjang.
Fabian kembali mengulas senyumnya, ia kemudian menarik tubuh Laura ke dalam pelukannya.
“Kita akan ke sana, seperti keinginanmu.” bisik Fabian.
Laura memilih diam seraya mendengarkan degup jantung kekasihnya yang terdengar cukup berisik. Ia suka saat-saat kebersamaannya dengan Fabian yang penuh keintiman seperti ini.
“Fabian, apakah kita akan benar-benar menikah?” tanya Laura terdengar lirih.
“Dan semisal kita tidak jadi menikah, maka apa yang harus aku lakukan setelahnya?”
Fabian memejamkan matanya, ia benci mendengar pertanyaan Laura yang seakan-akan tidak yakin akan kelangsungan hubungan mereka.
“Kita akan menikah, Laura.” jawab Fabian.
__ADS_1
“Jangan memikirkan hal-hal yang bisa membuatmu terluka. Kita akan menikah dan tetap bersama, itu adalah janjiku sebagai pria yang mencintaimu.”