
Selalu timbul perasaan takut dalam diri Mia setelah dirinya mendapatkan Hartono.
Seperti ketakutan akan dikhianati, atau takut akan ditinggalkan.
Hartono pernah berpaling dari istrinya dan menjalin hubungan terlarang dengannya. Dan sekarang Mia takut jika pria itu akan melakukan hal yang serupa seperti dulu. mengingat orang yang pernah melakukan perselingkuhan memiliki kemungkinan untuk berselingkuh lagi.
“Aku hanya mencoba mempertahankan apa yang telah menjadi milikku.” Mia merasa jika tindakannya ini bukanlah kesalahan.
Ia tidak bisa lengah lagi, cukup kemarin saja Hartono membohonginya gara-gara Sharon dan membuat dirinya menunggu lama di parkiran. Dirinya tidak akan memberi kesempatan pria itu untuk melakukan hal yang sama.
“Sayang?!”
Mia menghapus air matanya dengan segera saat mendengar suara Hartono mencari keberadaannya. Ia menangis tadi gara-gara teringat kejadian kemarin di mana Hartono membohonginya dan membuat dirinya menunggu lama di parkiran. rupanya pria itu sedang menemani Sharon yang dirawat di rumah sakit.
Ternyata dibohongi itu rasanya benar-benar menyakitkan.
Mia kemudian membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan berpura-pura tertidur.
agar pria itu percaya kalau kepalanya memang sedang pusing.
Hartono yang baru memasuki kamar lantas melihat bagaimana Mia yang saat ini sedang berbaring. Ia kemudian mengayunkan langkahnya guna mendekati wanita itu.
Diusapnya sisi wajah Mia dengan lembut namun berhasil membuat wanita itu terusik akan ulahnya.
“Kenapa tiba-tiba pusing?” tanya Hartono cemas, namun Mia hanya menggeleng pelan.
“Tidak tahu.” jawabnya pelan.
“Tapi aku sudah tidak apa-apa sekarang. Mungkin hanya kurang istirahat saja.” ujarnya beralasan.
Hartono menatap wanita itu dengan sorot mata yang menenangkan, Mia selalu suka saat kedua obsidian hitam pria itu menatapnya seperti itu.
“Jangan terlalu melakukan pekerjaan yang dapat membuatmu cepat lelah,” Hartono memberi masukan.
Mia hanya tersenyum kecil mendengarnya, dan kemudian mengangguk mengiyakan perkataan Hartono.
“Kamu menginginkan sesuatu?” tanya Hartono lagi.
Telapak tangan besar milik pria itu senantiasa membelai kepalanya dengan lembut. Mia dapat merasakan kasih sayang tulus milik pria itu lewat sentuhan tersebut. Dan tiba-tiba saja dirinya menangis.
Hartono sontak terkejut melihat lelehan air mata keluar dari mata indah milik Mia. Pria itu lantas mengangkat tubuh wanita itu hingga membuat Mia terduduk.
“Kenapa?”
__ADS_1
“Apa ada yang menyakitimu?” tanya Hartono sarat akan kecemasan.
Mia terdiam sambil beruraian air mata, “Aku takut.” jawabnya terdengar seperti bisikan, namun Hartono masih bisa menangkap suara wanita itu dengan jelas.
“Aku takut kehilanganmu. Aku takut kau meninggalkanku, dan aku takut kau berhenti mencintaiku.” ungkapnya dalam satu kali tarikan nafas.
Hartono membeku karenanya, ia tidak mengerti kenapa Mia tiba-tiba saja berkata tentang sesuatu yang menurutnya tidak mungkin terjadi. Setelah semua yang telah terlewati, tidak mungkin dirinya meninggalkan wanita itu terlebih lagi berhenti mencintainya.
“Aku telah memberikan segalanya padamu tanpa menyisakan apapun. Dan aku bisa gila kalau kamu pergi meninggalkanku.”
Hartono merasakan sesak di dadanya kembali menghampiri dirinya. Perkataan Mia barusan terdengar serupa seperti yang pernah diucapkan Sharon dulu.
Ia memang tidak meninggalkan Sharon, tapi dirinya menyerah untuk mempertahankan wanita itu karena lebih memilih mengejar cinta keduanya.
Hartono menggeleng pelan, ia tidak akan melakukan itu pada Mia. Sudah cukup dirinya dulu menyakiti Sharon, ia tidak akan mengulangi kejahatan yang sama pada Mia.
Wanita itu segalanya, cintanya, sisa hidupnya. Keduanya pernah berpisah, dan rasanya sangat menyakitkan melebihi sakitnya ketika dirinya bercerai dengan Sharon.
“Jangan pernah berbicara hal seperti itu lagi. Kamu tahu aku tidak akan pernah melakukannya.” Hartono membalas perkataan Mia dengan sorot mata yang sendu.
Hartono memegang kedua sisi wajah Mia dan membawa kedua mata wanita itu agar menatap tepat pada kedua obsidian hitamnya.
“Kenapa tiba-tiba memikirkan semua itu?” tanya Hartono penasaran.
**
Hartono pikir dirinya harus lebih peka dengan keadaan Mia saat ini. Wanita itu sedang hamil muda di mana emosinya menjadi tidak stabil. Dirinya harus pandai-pandai menjaga perasaan Mia mulai dari sekarang.
Karena ia tidak ingin Mia maupun anak yang sedang dikandungnya sampai kenapa-kenapa.
Hartono menghela nafas pelan, ia melirik arloji yang melingkar apik di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang, dan ia baru saja selesai bertemu klien di restoran.
“Apa aku pulang dulu dan membawakan makanan untuk Mia?” Hartono bertanya pada dirinya sendiri.
Ia berpikir keras tentang makanan apa yang akan ia bawa untuk Mia. Dan ditengah-tengah momen tersebut, tiba-tiba saja matanya menangkap keberadaan Sharon yang baru memasuki restoran bersama Laura.
Tanpa berpikir panjang Hartono beranjak dari tempat duduknya untuk menghampiri Sharon dan Laura.
“Sharon,” Hartono menyapa wanita itu secara tiba-tiba dengan berdiri di hadapan Sharon maupun Laura.
Sharon terkejut melihat Hartono, begitu pula dengan Laura.
“Bagaimana keadaanmu? Kau sudah sembuh?” Hartono bertanya dengan maksud yang baik.
__ADS_1
“Kau melihatku berdiri di sini dalam keadaan baik, kenapa masih bertanya seperti itu?” respon Sharon terdengar ketus.
Meski respon Sharon begitu ketus seperti itu, Hartono sama sekali tidak merasa tersinggung.
“Syukurlah, aku senang mendengarnya.” ujar pria itu membuat Sharon tertegun.
Hartono kemudian menatap menantunya yang sejak tadi diam saja, ia tersenyum tipis pada Laura.
“Laura, Ayah titip Ibumu ya. Tolong perhatikan dia.” ucapnya lagi-lagi membuat Sharon keheranan.
Laura mengangguk dengan gerakan kaku, ia juga terlihat memaksakan bibirnya untuk tersenyum tipis.
“Iya, Ayah. Aku pasti menjaga ibu dengan baik.” ucap Laura.
Mendengar itu Hartono tersenyum lega, ia kemudian berpamitan pada mantan istrinya dan juga menantunya. Kepergian Hartono hanya bisa membuat Sharon terdiam sambil menatap pada punggung pria itu.
“Hartono, kenapa kau masih memperlihatkan kepedulianmu setelah kau menyakitiku habis-habisan?”
Batin Sharon.
..
Sharon tidak menyangka dapat bertemu dengan Dokter Mahendra lagi setelah dirinya keluar dari rumah sakit.
Tadi tepat setelah kepergian Hartono dari restoran, secara kebetulan Mahendra masuk ke restoran dan bertemu dengan Sharon beserta Laura.
Dokter tampan itu mengajak Sharon dan Laura untuk makan bersama, dan karena tidak sampai hati untuk menolak, kedua wanita itu menerima ajakan Mahendra.
Kini ketiganya berada dalam satu meja yang sama dan sedang menikmati hidangan bersama-sama.
“Anda sudah benar-benar sehat, saya senang melihatnya.” Mahendra berkata setelah dirinya selesai menyantap makanannya.
Pria itu menatap Sharon yang terlihat lebih cerah dibandingkan ketika masih berada di dalam rumah sakit. Wanita itu benar-benar cantik dan anggun.
Sharon mengulas senyum tipisnya, dan semua itu tidak luput dari pengawasan mata Mahendra.
“Karena saya beristirahat dengan cukup, jadi tentu saja dapat pulih dengan cepat.” Sharon menjawab dengan nada yang kurang bergairah. Sejujurnya wanita itu masih kesal gara-gara kehadiran Hartono tadi.
Laura memperhatikan keduanya dalam diam, dan ia merasa aneh dengan Mahendra yang sejak tadi menatap ke arah Ibu mertuanya.
Masalahnya pandangan Mahendra terhadap ibu mertuanya terlihat berlebihan.
“Dokter, kenapa menatap ibu saya seperti itu?”
__ADS_1