Belenggu Cinta Kedua

Belenggu Cinta Kedua
25


__ADS_3

Hari demi hari Sharon makin tidak bersemangat menjalani harinya. Wanita itu terus memikirkan nasib putranya. belum lagi rasa sepi yang kian hari menggerogoti jiwanya membuat Sharon semakin tersiksa.


Ia kini jadi lebih sering tinggal di kamar dan mengurangi banyak aktivitas di luar. bahkan untuk mengurus bisnis fashionnya pun ia sudah jarang.


“Kau sudah makan?”


Sharon bergeming di tempatnya tanpa menghiraukan pertanyaan dari Hartono. Wanita itu masih menatap sendu ke luar jendela kamar mereka.


Hartono menghela nafas pelan. Ia tidak tahan melihat istrinya murung seperti itu.


Setelah melepaskan jasnya, perlahan kedua kakinya bergerak mendekati wanita itu.


Hartono memeluk tubuh Sharon di mana hal itu tidak lagi menimbulkan getaran hangat pada hatinya.


“Aku kesepian.” ucap wanita itu.


“Bisakah kau membawa kembali putraku?” pinta Sharon tanpa menatap wajah prianya.


Hartono menahan diri untuk tidak langsung menjawab. Ia masih setia memeluk tubuh wanita itu tanpa perasaan.


“Aku akan mencoba untuk membujuknya. Asalkan kau juga bersedia untuk menerima istri putra kita.” Hartono memberi respon.


Namun rupanya jawaban pria itu kurang disenangi oleh Sharon.


“Istriku, kau belum mencoba untuk mengenal Laura lebih dalam. mungkin setelah kau mengenalnya, perasaan nyaman itu bisa hadir.”


Inginnya Sharon tidak mengindahkan perkataan Hartono. Tapi sungguh sial baginya, karena apa yang terucap dari bibir pria itu justru menembus jantung hatinya hingga membekas pada akal sehatnya.


“Kau berbicara seolah-olah kau telah mengenalnya.” Sharon menimpali perkataan Hartono dengan nada ketus.


Pria itu tersenyum tipis, kemudian mengecup pipi istrinya sebagai ungkapan rasa peduli dan sayang.


Perasaan cintanya mungkin telah hilang tergerus waktu, namun Hartono tetap akan berusaha memperlihatkan cintanya pada Sharon seolah-olah tidak lekang oleh waktu. Karena itu merupakan bentuk dari rasa bersalahnya pada sang istri.


“Aku juga sama sepertimu, belum mengenal bagaimana perangai menantu kita. tapi kurasa pilihan Fabian adalah yang terbaik baginya.”


“Kau mau aku membawa mereka ke sini?” tanya Hartono memastikan.


Sharon terdiam untuk beberapa saat sebelum wanita itu benar-benar menjawab kalau dirinya tidak masalah jika Hartono membawa Fabian dan Laura ke kediaman mereka.


..


Banyak orang yang bilang jika cinta dan nafsu tidaklah berkaitan. Karena banyak di antara mereka yang masih bisa merasakan sensasi nikmat saat bercinta meski dengan orang yang tidak dicintai.


Namun kenapa hal itu bagaikan tidak berarti bagi Hartono?


Seharusnya ia masih bisa menikmati pergulatan panasnya bersama Sharon meski tanpa cinta sekalipun.

__ADS_1


Ia tidak bisa, tubuhnya menolak untuk mengeluarkan gairah seperti biasanya. Pikirannya kalut sementara wajah dan tubuh milik Mia senantiasa menari-nari indah dalam benaknya.


Hartono frustrasi, istrinya masih merasakan hal sama seperti dulu. tapi dirinya justru sebaliknya. bahkan untuk mencapai pelepasannya pun ia harus berusaha lebih keras lagi.


“Sayang, masih adakah rasa cinta di hatimu untukku?” tiba-tiba Sharon mempertanyakan sesuatu yang mungkin akan sulit dijawab Hartono secara jujur.


Pria itu tersenyum tipis, menyamarkan rasa takutnya.


“Kenapa bertanya seperti itu?” seperti biasa, dirinya akan menimpali pertanyaan dengan pertanyaan baru.


Sharon terdiam sementara kedua matanya menatap lekat pada obsidian hitam milik Hartono. Wajah pria itu masih tegas dengan ketampanannya yang tidak memudar.


Hanya satu perbedaan yang dirasakan Sharon saat ini, Yaitu,“Tatapan matamu nampak berubah saat melihatku.” ucap Sharon.


Hartono tidak ingin istrinya menyadari perubahan itu. Ia lantas membungkam mulut Sharon dengan bibirnya. ciuman manis yang berlangsung cukup lama itu mampu membuat Sharon lupa akan keresahannya barusan.


Batin Hartono menjerit pilu, ia meminta maaf pada Sharon hingga puluhan kali.


Sharon, istriku.


Kau masih cantik dan menarik seperti dulu ketika aku jatuh hati padamu untuk pertama kalinya. Hanya saja untuk saat ini semua sisa cintaku habis kuberikan pada cinta keduaku.


Sharon, itulah salah satu dosa terbesarku padamu selain dari pengkhianatan.


**


Wanita bernama Nana Katsumi itu menyambut kedatangan Haru beserta Mia dengan penuh suka cita. Semua tergambar jelas dari raut muka wanita itu yang berseri-seri.


Melihat Ibunya Haru membuat Mia mengingat Sharon, kedua wanita itu masih terlihat cantik di usianya yang hampir menginjak kepala lima.


Nana tersenyum ramah pada Mia, membuat wanita itu ikut menarik kedua sudut bibirnya untuk membalas senyum Ibunya Haru.


“Jadi, ini menantuku?”


Mia terkejut mendengar Ibunya Haru dapat berbicara menggunakan bahasa Indonesia dengan lancar.


Haru yang melihat ekspresi wajah Mia langsung saja terkekeh pelan. Raut muka terkejut wanita itu terlihat lucu.


Mia memberi salam pada Ibunya Haru dengan sedikit gugup. Dan wanita itu membalasnya dengan pelukan hangat layaknya seorang ibu.


“Ibuku bisa berbahasa Indonesia karena dulu dia pernah tinggal di Jakarta selama 10 tahun.” Haru menjelaskan pada Mia tanpa disuruh.


“Pantas saja.” gumam Mia terdengar tidak jelas.


Kemudian Nana mengajak putranya dan juga Mia untuk memasuki lebih dalam area rumahnya. Mia terkagum-kagum melihat bagian dalam rumah Nana yang benar-benar mempertahankan sentuhan tradisionalnya yang kental.


“Sejak aku kecil, rumah ini masih sama.” ucap Haru seraya kembali mengenang kenangan masa kecilnya.

__ADS_1


“Itu karena Ibu sangat menghargai sebuah kenangan.” tutur Nana membalas ucapan Haru.


Mia yang mendengar itu hanya bisa terdiam. Ia yang berniat mengubur dalam-dalam tiap detail kenangannya bersama Hartono merasa tersentil.


“Menantuku, bagaimana pendapatmu tentang rumah ini?” tanya Nana setelah keduanya duduk di ruang keluarga.


Mia yang dilempar pertanyaan seperti itu lantas berpikir keras, ia bingung harus mengatakan apa karena takut jika jawabannya tidak sesuai harapan Ibunya Haru.


“Aku suka gaya rumah yang seperti ini, terasa damai dan sejuk.” jawab Mia berusaha jujur.


“Ibu senang mendengarnya. Semoga kau betah selama tinggal di sini.” ucap Nana yang kemudian dibalas senyum tipis oleh Mia.


“Haru, terima kasih banyak karena telah mengabulkan keinginan Ibu. Dengan kehadiran Mia Ibu tidak akan lagi kesepian selama menunggu ajal menjemput.” tutur Nana sambil tersenyum. Senyum wanita itu manis, namun anehnya terlihat menyedihkan di waktu yang bersamaan.


Belum lagi kalimat terakhir yang diucapkannya, membuat Mia merasakan kesedihan yang mendalam dari nada bicaranya.


“Jangan bicara seperti itu lagi!” Haru menegur ibunya dengan pelan namun tegas.


“Lebih baik pikirkan saja hal-hal yang membuat Ibu bahagia.”


..


“Tidurlah, kau pasti lelah.” ujar Haru saat keduanya memasuki kamar.


Mia berdiri canggung di dekat kasur, ia menoleh pada Haru dengan wajah cemas yang kentara.


“Apa kita akan tidur satu kamar?” tanya Mia memastikan.


Haru mengangguk singkat, “Tentu saja. Tapi kau tenang saja, kita akan tidur secara terpisah.”


“Aku di sofa, dan kau bisa tidur di kasurku.” jelas Haru membuat Mia merasa tidak enak hati.


Namun meski dirinya merasa tidak enak pada Haru, tapi Mia tetap mengikuti perkataan lelaki itu untuk mengambil alih kepemilikan atas kasur empuk Haru.


Wanita itu membaringkan tubuhnya di sana dan mencoba untuk memejamkan kedua matanya. Namun setelah beberapa kali mencoba, nyatanya Mia tidak kunjung dapat tertidur.


“Haru, boleh aku bertanya sesuatu?” Mia tidak tahan untuk tidak menanyakan rasa penasarannya tentang Nana pada Haru.


Lelaki itu memandangi wajah Mia dari kejauhan, dan ia pun tersenyum melihat raut muka penasaran tersirat begitu jelas pada wajah cantik wanita itu.


“Kau mau bertanya tentang Ibuku?” Haru mencoba menebak dan ternyata memang benar.


“Ibuku sakit kanker otak, Mia. Karena itulah aku menikahimu dan mengajakmu kemari. Aku melakukan itu semata-mata demi mewujudkan keinginan Ibuku.”


Setelah mendengar itu, Mia justru diliputi perasaan bersalah karena telah melakukan sandiwara ini. Ibunya Haru pasti akan terpukul hebat saat tahu bahwa dirinya bukan istri Haru yang sesungguhnya.


“Maka dari itu aku memohon padamu, lakukanlah peranmu sebaik mungkin sebagai istri dan menantu idaman untuk Ibuku.”

__ADS_1


__ADS_2