
“Aku tidak menyukai wanita itu!” Sharon berujar tegas pada suaminya yang baru saja menghampirinya di kamar mereka.
“Berikan alasannya kenapa kau tidak menyukai Laura?” Hartono melemparkan pertanyaan yang membuat Sharon terdiam.
“Dia sopan, cantik dan yang terpenting adalah Fabian mencintainya. Apakah itu tidak cukup untuk menawan hatimu?” tanya pria itu lagi.
Sorot matanya menatap lembut pada Sharon, berharap kalau istrinya itu dapat luluh hatinya.
“Aku hanya ingin Mia yang menjadi menantuku, itu saja.” pada akhirnya Sharon mengungkapkan alasan yang sebenarnya kenapa ia tidak menyukai Laura. Karena dirinya memiliki calon menantu idaman sendiri.
Hartono semakin dibuat pusing setelah mendengar alasan istrinya. Bagaimana bisa wanita itu menginginkan Mia menjadi istri dari Fabian, sementara wanita itu sendiri adalah miliknya.
“Mereka tidak saling mencintai, Sharon.” Hartono menimpali dengan sedikit emosi.
“Cinta bisa datang seiring berjalannya waktu.” wanita itu jelas tidak mau kalah.
“Omong kosong!”
“Tidak semua orang dapat mencintai dengan mudah, apalagi di dalam hatinya telah tertanam sebuah cinta untuk orang lain.”
Setelah mengucapkan kalimat tersebut Hartono kemudian pergi meninggalkan Sharon yang justru merasa heran dengan sikap suaminya.
“Dia kenapa?” tanya wanita itu bingung.
Sharon tidak mengerti kenapa suaminya itu justru terlihat lebih kesal. Padahal kan dirinya hanya ingin putranya mendapatkan wanita yang sudah jelas-jelas terlihat baik oleh kedua matanya.
Setelah ditinggal Hartono, Sharon ikut keluar kamar untuk pergi menemui Mia.
Wanita itu hendak membicarakan perihal keinginannya tadi.
Saat dirinya sudah berada di bawah, Sharon melihat Mia sedang bersama Fabian di ruang makan. Meski keduanya tidak sedang melakukan perbincangan apapun, namun Sharon merasa senang melihatnya. Sehingga wanita itu pun memutuskan mengurungkan niatnya untuk menemui Mia.
..
“Apa kau sedang ada masalah?” Mia memberanikan diri bertanya setelah menahannya beberapa menit.
Ia sangat tidak terbiasa dengan suasana hening tanpa pembicaraan apapun. rasanya begitu canggung dan membuatnya tidak nyaman.
“Aku perhatikan sejak tadi wajahmu murung.” lanjut Mia.
Fabian menghela nafas pelan, kemudian menatap datar pada sosok wanita yang ada di depannya.
“Ibuku tidak menyukai kekasihku.” ungkap Fabian membuat Mia memberikan tatapan kaget.
__ADS_1
Jelas wanita itu terkejut, karena tidak menyangka kalau pria sedingin es seperti Fabian nyatanya sudah memiliki seorang kekasih.
Fabian menatap sinis pada Mia karena ekspresi wanita itu, “Kenapa dengan raut mukamu itu? Apa ada yang salah dengan perkataanku?” tanyanya tajam.
Mia merasa Fabian jauh lebih sensitif saat ini, dan sepertinya itu gara-gara permasalahan yang sedang menimpa lelaki itu.
Wanita itu lantas menggelengkan kepalanya dengan cepat, “Bukan apa-apa. Aku hanya terkejut saat mendengar kau sudah memiliki kekasih.” jawab Mia jujur.
Fabian hanya mendengkus saat mendengar jawaban dari Mia. Memangnya kenapa kalau dirinya sudah memiliki kekasih? Itu kan bukan hal yang aneh, mengingat dirinya juga seorang pria yang lurus dan sehat.
Melihat respon Fabian yang sepertinya masih sedang jengkel membuat Mia jadi berpikir keras. Ia mencoba mencari solusi untuk permasalahan lelaki itu.
Meski sebenarnya Mia bukan tipe wanita yang suka ikut campur dalam urusan orang lain, tapi karena Fabian adalah anak dari kekasihnya, ia akan berusaha semampunya untuk membantu lelaki itu.
“Kira-kira apa yang membuat Ibumu tidak menyukai kekasihmu?” tanya Mia pada Fabian.
Fabian terdiam merenung, ia juga tidak tahu alasan yang pasti kenapa ibunya tidak menyukai Laura. Karena setahunya sang Ibu tidak pernah memandang rendah tingkatan perekonomian orang lain.
“Atau mungkin Ibu memiliki calon menantu idamannya sendiri?!” Dan ucapan Mia barusan benar-benar mengganggu pikiran Fabian.
Semisal dugaan Mia benar, maka akan sangat sulit bagi Laura untuk merebut hati ibunya.
**
Sudah beberapa hari ini Hartono masih memikirkan jawaban atas pertanyaan dari Mia. Pria itu belum menjawabnya karena dirinya memang belum bisa memastikan apakah ia lebih mencintai Sharon atau Mia.
Namun jika ia merujuk pada perbandingan reaksi ketika dirinya sedang bersama Mia maupun Sharon, sejujurnya Hartono sudah tahu jawabannya.
Ia lebih mencintai Mia, wanita yang merupakan cinta keduanya.
Hartono sendiri tidak tahu kapan perasaan cintanya pada Sharon kian menipis seiring berjalannya waktu. Dan ia juga tidak tahu sejak kapan cintanya pada Mia semakin membesar.
Dan Hartono sadar jika hal tersebut buruk bagi dirinya.
“Maaf, aku datang terlambat.”
Hartono segera mengusap wajahnya saat Mia baru datang ke apartemen setelah dirinya meminta wanita itu datang setengah jam lalu.
Wanita itu melepas tas dan coat miliknya, lalu mulai berjalan mendekati Hartono yang sejak tadi berdiri di dekat jendela kamarnya. Mia langsung memeluk Hartono dari belakang dan menghirup aroma tubuh pria itu dengan rakus.
“Kau rindu padaku?” tanya Mia yang tidak langsung dijawab oleh Hartono.
Pria itu masih setia memandang pada rentetan gedung yang menjulang tinggi di depan matanya. Namun bukan berarti ia tidak mendengar pertanyaan Mia barusan.
__ADS_1
“Kau masih ingin mendengar jawaban tentang pertanyaanmu beberapa hari yang lalu?” alih-alih menjawab pertanyaan Mia barusan, Hartono malah membalas wanita itu dengan pertanyaan lainnya.
Namun pertanyaan Hartono yang ini membuat Mia ragu untuk mengatakan iya. Dirinya terlalu takut akan mendengar Jawaban yang tidak sesuai dengan ekspetasinya.
Hartono membalikkan posisi tubuhnya yang kemudian kini dirinya yang merengkuh tubuh wanita itu. Mia tersenyum tipis pada pria tercintanya itu, yang kemudian dibalas dengan sebuah ciuman lembut.
“Kamu tidak perlu menjawabnya—”
“Aku lebih mencintaimu dibandingkan istriku.”
Kedua mata Mia terbelalak sempurna, pupil mata wanita itu mulai membesar dan terakhir membuatnya berkaca-kaca.
Kini Mia merasa jadi wanita paling bahagia di dunia ini. Ia saat ini telah mendapatkan cinta pria itu seutuhnya.
Mia menangis karena terlalu bahagia, dan Hartono dengan sigap menghapus air mata wanita itu.
“Jangan menangis, sayang.” bisik pria itu lembut.
Mia tertawa kecil mendengarnya, “Aku terlalu senang mendengar itu.” balas wanita itu.
Hartono kemudian memeluk tubuh wanitanya dan menghujami puncak kepalanya dengan kecupan. Malam ini ia bisa pastikan akan dapat tidur nyenyak karena telah merasa lega dengan perasaannya.
..
“Aku tidak suka kau terlalu dekat dengan putraku.” Hartono berkata sambil menatap Mia tajam.
Wanita itu mendongak dengan raut muka kebingungan, “Memangnya kenapa?” tanya Mia pura-pura tidak paham. Padahal saat ini ia tengah merasakan Kupu-kupu bertebangan di dalam perutnya. Ia senang karena Hartono mulai jujur tentang rasa cemburunya.
“Aku cemburu.” jawab pria itu jujur.
Mia yang baru selesai menelan makanannya lantas mengulum senyum. Lirikan matanya terlihat menggoda Hartono.
“Ditambah lagi kedekatanmu dengan Fabian bisa menciptakan kesalahpahaman yang cukup rumit.” ungkap Hartono lagi.
Mia mengernyitkan keningnya, “Kali ini aku benar-benar tidak mengerti.” ujar Mia.
“Kenapa kedekatan kami akan menciptakan kerumitan seperti itu?”
Hartono meminum tehnya terlebih dahulu sebelum kembali menjawab pertanyaan dari Mia. Dan karena itu pula Mia harus mau menunggu dengan sabar.
“Istriku berniat menjodohkanmu dengan Fabian.” jelas Hartono sontak membuat Mia ditimpa keterkejutan yang luar biasa.
“Dia menginginkan kau untuk jadi menantunya.”
__ADS_1