
Mia mencoba meyakinkan pendengarannya saat Fabian datang menemuinya dan meminta dirinya untuk membuatkan bekal lagi. Lelaki itu menatap dirinya datar, tapi meski begitu Mia masih bisa melihat sorot penuh harap lewat kedua iris hitam milik lelaki itu.
“Kenapa? Kau tidak mau?” pertanyaan Fabian barusan sontak membuat Mia lantas menggelengkan kepalanya.
Wanita itu tersenyum canggung, “Aku mau, hanya saja tadi aku cukup terkejut.” ungkap Mia mengutarakan kejujurannya.
Fabian terdiam, sebenarnya jika bukan karena keinginan Laura, ia juga enggan menyuruh Mia untuk membuatkan bekal lagi.
“Masakanmu enak, dan aku menyukainya.” ucap Fabian lagi sukses membuat Mia tersenyum senang.
Wanita mana sih yang tidak merasa senang juga tersanjung saat hasil masakannya dipuji? Mia juga merasakan hal serupa. Dirinya bahagia bukan main ketika seseorang memuji rasa masakannya.
“Aku akan buatkan lagi besok.” kata Mia membuat Fabian memperlihatkan senyum tipisnya.
Setelah itu Fabian mengucapkan rasa terima kasihnya pada Mia sebelum benar-benar pergi menuju kamarnya.
“Aku tidak salah lihat kan?” Mia bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
“Dia tersenyum padaku.” ucapnya shock saat melihat Fabian tersenyum tipis padanya. Mia lantas menggelengkan kepalanya dan meyakinkan diri kalau ia tadi salah melihat.
Mia hanya takut kalau Fabian menaruh rasa padanya, karena Mia jelas tidak akan bisa membalas perasaan lelaki itu dikarenakan dirinya sudah jatuh sedalam-dalamnya pada Hartono.
Mia bukannya terlalu percaya diri karena mengira seperti itu. Soalnya Fabian adalah pria dingin dan jutek, jadi Mia merasa aneh saja saat lelaki itu tiba-tiba menyunggingkan senyum padanya.
“Apa yang kupikirkan barusan itu?” tanya Mia terperangah atas pemikirannya sendiri. Karena tidak ingin larut dalam dunianya, Mia pun memutuskan untuk segera menyelesaikan pekerjaannya dalam membuat teh untuk Hartono dan istrinya.
Saat ini Hartono dan Sharon sedang berada di ruang televisi. Keduanya tengah menikmati waktu berdua dan sebenarnya itu membuat Mia iri bukan main.
Tapi dirinya ini bisa apa? Mia tidak mungkin mengutarakan atau memperlihatkan kecemburuannya secara gamblang di depan kedua orang itu. Sehingga langkah terbaik baginya saat ini adalah ikut bergabung dengan Hartono dan Sharon agar sepasang suami-istri tersebut tidak bermesraan lagi.
“Ayah, Ibu..” Mia datang menghampiri Sharon dan Hartono yang sedang menonton berita.
Serius, kenapa tontonan mereka itu sangat tidak seru sekali? Mia bertanya dalam hati.
Semenjak Sharon meminta Mia untuk memanggilnya Ibu, mau tidak mau dirinya pun harus memanggil Hartono dengan sebutan Ayah. Tapi Mia tidak masalah dengan itu, karena Ayah yang dimaksud Mia sangat berbeda dengan sangkaan Sharon.
__ADS_1
“Kau membawa apa itu?” tanya Sharon penasaran, sementara Hartono justru memperlihatkan reaksi yang biasa saja.
Pria itu memang seperti itu, berubah acuh dan tidak banyak bicara pada Mia saat ada Sharon di dekatnya. Hal tersebut dilakukannya agar tidak menimbulkan kecurigaan dalam diri Sharon.
“Aku membawa teh herbal dan beberapa kudapan untuk menemani kalian menonton.” jelas Mia sambil mengurai senyum manisnya.
Wanita itu melirik Hartono sekilas, lalu mulai menyajikan teh dan kudapan yang ia bawa di atas meja. Mia sengaja mengambil jalur yang membuatnya bisa melewati Hartono yang duduk di ujung sofa. sehingga tanpa Sharon sadari, pria itu menyempatkan diri untuk mengusap bagian dalam paha Mia.
Mudah bagi Hartono melakukan tindakan nakal tersebut karena Mia memang sedang memakai dress selutut.
“Terima kasih, sayang.” Sharon mengucapkan kalimat tersebut dengan tulus.
Mia yang mendengarnya kemudian tersenyum tipis, “Sama-sama, Bu.” jawabnya.
“Kalau begitu, aku permisi.” ujar Mia lalu pergi meninggalkan kedua orang tersebut. Wanita itu merasa kesal karena tidak ada satupun di antara keduanya yang mencoba menahan Mia agar tetap berada di sana.
Setelah kepergian Mia, Sharon mulai memusatkan perhatiannya pada Hartono yang masih sibuk menatap layar televisi.
“Sayang, tadi aku melihat Mia dan Fabian mengobrol.” ucap Sharon memberitahu suaminya tentang penglihatannya tadi.
Wanita itu tersenyum cerah, “Kalau diperhatikan lagi, mereka berdua sangat cocok.” ungkapnya membuat Hartono sontak menoleh pada Sharon.
“Mereka hanya mengobrol biasa. Jangan berlebihan seperti itu, Istriku.” respon Hartono.
Sharon mendesah pelan, “Aku hanya mengutarakan pendapatku saja, berlebihan apanya?” tanya Sharon tidak habis pikir.
Hartono tidak lagi menggubris pertanyaan istrinya itu. Walau Sharon mengeluarkan pendapat yang terdengar seperti omong kosong, tapi tetap saja perkataan wanita itu sedikit mempengaruhi pikirannya.
Dan membuat Hartono cemburu.
**
Hartono baru selesai berhubungan badan dengan istrinya, dan setelah itu dirinya kembali memberikan obat tidur pada wanita itu. tujuannya melakukan itu tidak lain untuk memudahkan Hartono menyelinap ke luar kamar lalu melipir ke kamarnya Mia.
Pria itu turun ke bawah dan langsung masuk ke kamar Mia. berbeda dengan malam sebelumnya di mana Mia sudah siap menyambut kedatangan Hartono, kali ini wanita itu tidak mengetahui kedatangan pria itu.
__ADS_1
Sehingga saat Hartono masuk ke kamar Mia, wanita itu sudah dalam keadaan terlelap di atas tempat tidur.
Hartono menyunggingkan senyum tipisnya melihat itu, kemudian ia mengayunkan langkahnya yang lebar guna mengikis jarak antara dirinya dengan wanita kesayangannya.
Tanpa ragu pria itu merangkak ke atas ranjang dan memposisikan dirinya tertidur di samping Mia. Hartono menatap wajah damai wanita itu sambil tersenyum.
“Cantik sekali, kesayanganku ini.” ujar pria itu sambil jari-jemarinya mempermainkan helaian rambut halus milik Mia.
Apa yang diperbuat Hartono rupanya mampu mengusik tidur Mia, hingga beberapa detik kemudian kedua kelopak mata wanita itu terbuka sempurna dan memperlihatkan sepasang retina wanita itu yang cantik nan indah.
Mia terkejut dengan keberadaan pria itu yang tiba-tiba saja berada di depan matanya. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama, karena detik berikutnya Mia menyambut sang pria dengan cara memagut bibir pria itu.
“Kenapa kemari lagi? Kamu tidak takut ketahuan istrimu?” tanya Mia setelah selesai berciuman mesra dengan Hartono.
Wanita itu beranjak dari tidurnya dan kemudian memposisikan dirinya duduk di atas tubuh Hartono.
Mia tersenyum seduktif, apalagi saat tangan milik Hartono mulai menggerayangi tubuh bagian atasnya.
“Istriku sudah tidur.” jawab Hartono membuat wajah Mia seketika memberengut kesal.
“Lalu kamu datang padaku untuk menggangguku tidur, begitu?” tanya Mia memastikan dugaannya itu benar.
Pria itu tertawa pelan, “Kau memang pintar.” responnya.
“Tapi sejujurnya kedatanganku kesini karena aku sangat merindukan kesayanganku.” ungkap sang pria mampu membuat Mia tersipu akan gombalannya.
Mia menjatuhkan kepalanya di atas dada Hartono, mencoba mencuri dengar detak jantung pria itu yang berisik karena ulahnya.
“Suara detakannya sangat berisik.” ucap Mia setengah bangga.
“Dan bagian ini juga berdenyut-denyut.” ungkap wanita itu tanpa ragu sambil meremas bagian bawah tubuh Hartono yang sudah mengeras.
Pria itu lantas memeluk tubuh Mia dan dengan segenap tenaga membalikan keadaan, di mana saat ini wanita itu berada di bawah kungkungannya.
Mia tersenyum nakal, ia suka saat pria itu menatapnya dengan lapar dengan kedua obsidian hitamnya yang tajam.
__ADS_1
“Kau mau menelan punyaku, Mia?” tanya Hartono penuh maksud. Mia yang memang sudah mengerti maksud perkataan pria itu lantas mengangguk cepat.
“Aku mau.” bisik wanita itu tanpa memudarkan senyum manisnya.