
“Aku sedang hamil.”
Hening dirasakan Mia saat dirinya mengatakan tentang kehamilannya pada Hartono. Pria itu bergeming dengan raut mukanya yang terlihat kebingungan.
Hartono memejamkan matanya sejenak sebelum memutuskan untuk menyingkir di atas tubuh Mia.
Pria itu berdiri sambil memijit keningnya, dan Mia tidak mengerti kenapa Hartono memperlihatkan reaksi seperti itu. Mia merasa kalau Hartono tidak senang dengan kabar kehamilannya.
“Aku hamil, dan ini milikmu.” ucap Mia mempertegas perkataannya tadi.
Hartono yang mendengar itu sontak menoleh pada Mia dengan sorot mata yang telah berkaca-kaca. Mia tersenyum sambil menangis.
“Dia milikku?” tanya Hartono sambil menggenggam tangan Mia dan wanita itu lantas mengangguk.
“Dua minggu setelah aku pindah ke Jepang, aku baru mengetahui kalau ternyata aku sedang hamil.” ungkapnya dengan lelehan air mata yang menuruni pipinya.
“Aku tidak pernah tidur dengan Haru, karena sejak awal pernikahan kami memang pura-pura.” jelas Mia lagi.
Hartono sontak saja memeluk tubuh wanitanya tanpa membuat Mia merasa sesak. Ia amat bahagia mendengar kabar itu, meski pada awalnya dirinya sempat mengira kalau Mia hamil anak lelaki itu.
Mia meremas bagian belakang kemeja milik Hartono sebagai bentuk luapan rasa senangnya.
“Tadinya aku berniat merahasiakan ini Karena aku marah padamu, dan aku tidak ingin kamu tahu kalau aku sedang mengandung anakmu.” tutur Mia mengingat kembali niatnya beberapa waktu lalu.
Hartono melepaskan pelukannya dan kini pria itu menangkup kedua sisi wajah Mia menggunakan sepasang telapak tangannya.
Pria itu menghadiahi kecupan hampir di seluruh permukaan wajah Mia.
“Kita akan menikah. Aku tidak ingin anakku lahir tanpa kejelasan.” ujar Hartono penuh keyakinan.
Ini benar-benar kabar yang menggembirakan baginya. Karena dengan kehadiran buah cintanya dengan Mia, wanita itu tidak akan lagi memiliki alasan untuk meninggalkannya.
..
Haru pulang lebih awal karena Mia bilang kalau wanita itu sudah memasak untuk makan malam mereka. Haru tidak ingin menjadikan dirinya sebagai lelaki yang tidak menghargai tiap jerih payah seorang perempuan untuk menyenangkannya.
Saat ini Haru sudah berada di ruang makan dengan Mia yang sedang menyiapkan makanan untuk keduanya.
Haru memperhatikan raut wajah Mia yang terlihat jauh lebih cerah dari biasanya. Ia jadi penasaran kira-kira hal apa yang membuat wanita itu jadi lebih berbahaya.
“Kau terlihat senang.” celetuk Haru setelah Mia selesai menata meja makan dan duduk di kursinya.
Mia tersenyum simpul mendengar itu, ia meremas sumpitnya karena gugup.
__ADS_1
"Ya, suasana hatiku memang sedang baik saat ini.” Mia menjawab dengan pelan.
Haru mengulas senyum tipisnya, ia senang jika Mia dapat merasakan hal tersebut.
Keduanya kemudian larut dalam hening karena sedang menikmati makan malam mereka. Baik Haru maupun Mia, memang bukan tipe orang yang suka mengobrol saat makan. selain kurang sopan, mereka juga merasa tidak nyaman.
Di setiap suapan nasi dan lauk-pauk yang masuk ke dalam mulutnya, Haru dapat merasakan kalau Mia ikut menuangkan ketulusannya dalam masakan yang wanita itu buat. Mungkin itu juga karena suasana hati Mia yang sedang baik, jadi rasa masakannya benar-benar lezat.
“Terima kasih atas makanannya.” ucap Haru tulus.
Mia mengangguk pelan, ia kemudian membereskan peralatan makan yang telah digunakannya barusan. Sementara itu Haru berinisiatif untuk mencuci mangkuk dan piring kotor tadi.
Karena Mia sudah memasak, maka giliran Haru yang mencuci piring.
Meski tugas mencuci peralatan makan dikerjakan oleh Haru, tapi Mia tidak kunjung beranjak dari tempatnya. Ia masih setia menatap Haru yang tengah mencuci piring, sementara otaknya berputar-putar guna merangkai kata demi kata yang akan ia sampaikan pada Haru.
Saat selesai mencuci piring, Haru terkejut karena Mia masih berdiri di tempatnya.
“Ada apa?” tanya Haru penasaran.
Melihat bagaimana wajah Mia saat ini, Haru menduga kalau wanita itu ingin mengatakan sesuatu padanya.
“Haru ...”
Haru terdiam sambil menatap Mia, “Tentang kelanjutan pernikahan ini?” tanya Haru memastikan.
Wanita itu mengangguk dengan kedua tangan yang saling meremas satu sama lain, “Aku memutuskan untuk memaafkan kekasihku.” tutur Mia lalu menundukkan wajahnya karena malu.
“Dan kembali padanya?” tanya Haru seolah-olah sedang melanjutkan ungkapan Mia barusan.
Mia kembali mengangkat wajahnya untuk bertemu pandang dengan Haru, dan ia menjawab pertanyaan lelaki itu dengan jawaban singkat.
“Ya,”
Haru tersenyum senang mendengarnya, ia kemudian menarik tubuh Mia dan memeluk wanita itu.
“Aku ikut senang mendengar kabar itu.” ucap Haru.
“Kau tidak masalah jika seperti itu?” Mia bertanya dan Haru tentu saja menggeleng pelan.
Karena dari awal Haru memang sudah memiliki niat untuk melepaskan Mia, hanya saja niatnya itu terhenti karena dirinya merasa kasihan pada Mia.
Mia menatap Haru dengan lembut, Haru benar-benar lelaki yang baik hati. Lelaki itu tidak egois dan selalu memikirkan bagaimana kenyamanan Mia selama ini.
__ADS_1
“Haru, aku harap kau dapat menemukan kebahagiaanmu juga.” ucap Mia tulus.
Mia yakin seseorang yang baik hati seperti Haru jelas akan mendapatkan pasangan yang sama baiknya.
**
Satu minggu kemudian
Fabian mendengar kabar kalau ayahnya telah kembali dari Jepang bersama wanita itu. geram yang dirasakan Fabian saat mendengar kabar tersebut.
Lelaki itu tidak habis pikir dengan jalan pikiran ayahnya, bisa-bisanya pria itu membawa pulang wanita yang telah menghancurkan rumah tangga Ibunya dan membuat Ibunya hancur.
Fabian melabeli ayahnya sebagai pria tidak berperasaan.
“Aku harus memberi perhitungan pada wanita itu.” Semenjak dirinya tahu betapa busuknya Mia, Fabian tidak sudi lagi menyebut nama wanita itu.
“Sayang, kau bicara apa?” Laura tiba-tiba datang ke kantornya dengan membawa setumpuk kotak bekal di tangannya.
Fabian tersenyum manis pada istrinya yang cantik itu, kemudian dirinya beranjak dari tempat duduk untuk mendekati Laura.
Wanita cantik itu memeluk suaminya tanpa ragu, sementara Fabian menyambut pelukan sang istri dengan penuh kerinduan.
“Kebetulan sekali istriku yang jelita ini datang di saat hatiku sedang panas karena sesuatu.” Fabian berkata sambil membenamkan wajahnya di ceruk leher istrinya.
Memeluk Laura dan menghirup aroma tubuh wanita itu selalu bisa membuat pikirannya menjadi tenang.
“Memangnya ada apa?” Laura yang penasaran dengan maksud perkataan suaminya tentu saja bertanya.
Fabian menggeleng pelan, meski dirinya sangat ingin bercerita pada Laura, tapi Fabian memilih untuk tidak mengatakan apapun pada wanita itu. Fabian takut Laura merasa tidak nyaman dengan segala pembahasan tentang ayahnya.
“Hanya masalah pekerjaan.” ucap Fabian lalu menuntun istrinya untuk duduk di sofa.
Lelaki itu tersenyum cerah pada Laura, “Kamu bawa apa hari ini, sayang?” Fabian sangat antusias dengan bekal makan siang yang dibawa oleh istrinya itu.
Laura yang melihat tingkah laku Fabian kemudian tersenyum kecil, ia tidak menjawab pertanyaan tersebut. Laura memilih untuk segera membuka kotak bekal makan siangnya agar Fabian dapat melihatnya langsung.
“Sayang, aku tadi berpapasan dengan Mia.” perkataan Laura barusan berhasil membuat Fabian menghentikan aksinya dalam mengagumi masakan wanita itu.
Fabian lantas menatap istrinya, “Di mana?” tanya Fabian penasaran.
“Barusan di elevator. sepertinya dia juga hendak mengantar bekal makan siang untuk Ayah.” jelas Laura membuat Fabian kesal bukan main.
Berani-beraninya wanita itu menginjakkan kakinya di kantor ini. benar-benar tidak punya malu.
__ADS_1