Belenggu Cinta Kedua

Belenggu Cinta Kedua
23


__ADS_3

Sejak dulu Laura tidak pernah memiliki gambaran tentang pernikahan impiannya. Ia bahkan pernah berpikir untuk tidak menikah.


Laura merasa yang terpenting kala itu adalah bekerja untuk mempertahankan hidup. Ia tidak memiliki waktu untuk memikirkan bagaimana indahnya dunia percintaan yang penuh gairah dan cinta.


Jadi ketika Fabian mengajaknya menikah secara sederhana, Laura merasa tidak masalah dengan itu. Meski di palung hatinya yang paling dalam ia menyimpan kesedihan lantaran kekasihnya itu memilih jalan seperti ini.


Di mana lelaki itu meninggalkan keluarga dan semua aset-aset yang dimilikinya hanya untuk menikahi dirinya.


“Maaf, aku tidak bisa menggelar resepsi pernikahan sesuai mimpi kita dulu.” Fabian mengutarakan rasa bersalahnya pada Laura setelah keduanya selesai melaksanakan pemberkatan di gereja.


Upacara pemberkatan yang hanya dihadiri oleh beberapa teman dekat Fabian dan juga Luna.


“Dan maaf untuk beberapa waktu ke depan mungkin keadaan akan memaksa kita harus hidup sederhana.”


Laura tersenyum tipis, ia kemudian meraih kedua tangan Fabian.


“Tidak masalah, jika hanya seperti itu aku sudah sangat terbiasa.”


“Aku justru merasa sangat bersalah padamu. Kamu harus kehilangan segalanya hanya demi wanita sepertiku.” ujar Laura dengan segenap rasa bersalah yang bercokol di hatinya.


Fabian menggeleng pelan, “Aku sudah pernah berjanji padamu, kita akan menikah apapun resikonya.” balas lelaki itu membuat Laura tak kuasa menahan harunya.


Keduanya kini telah resmi menjadi sepasang suami-istri. Namun mereka sadar jika perjalan kisah mereka baru dimulai. karena pernikahan jelas berbeda dengan ketika mereka masih menjadi sepasang kekasih.


Fabian tidak menyesal telah mengambil langkah ini. Ia meninggalkan semua kemewahan yang telah tersedia sejak awal, dan mencoba merangkak dari bawah lagi.


Beruntung dirinya masih memiliki beberapa teman yang sudi mengulurkan tangannya untuk membantu. Sehingga untuk saat ini dirinya akan bekerja di perusahaan milik temannya.


Dan untuk Laura, wanita itu jelas akan tetap bersama Luna menjalankan usaha toko bunga milik wanita itu.


..


Cinta pada dasarnya memang membutuhkan pengorbanan. namun kita juga harus pandai memilah seseorang seperti apa yang pantas mendapatkan pengorbanan besar tersebut.


Karena akan sangat menyakitkan jika kita memberikan pengorbanan besar terhadap seseorang yang salah.


Fabian merasa sangat yakin kalau


Laura adalah wanita yang pantas ia perjuangkan juga tepat mendapatkan semua pengorbanannya.


“Kamu cantik sekali.”

__ADS_1


Laura tersipu malu mendengar pujian itu. Meski bukan pertama kalinya Fabian memuji kecantikannya, tapi setelah lelaki itu menjadi suaminya semua terasa berbeda.


Pujian itu terdengar jauh lebih manis dan mendebarkan.


“Aku harus menjawab apa jika dipuji seperti itu?” tanya Laura membuat Fabian tergelak tawa.


Lelaki itu menatap istrinya dengan sorot mata yang teduh, membuat Laura tidak bisa memalingkan pandangannya sedetik pun.


“Tinggal ucapkan 'Terima kasih, Suamiku.” jawab lelaki itu.


“Terima kasih, suamiku.” ucap Laura mengikuti perkataan Fabian.


Lidahnya terasa sangat aneh saat memanggil Fabian dengan sebutan suami, ada gelenyar asing nan menyenangkan menyusup ke dalam relung hatinya.


Laura menyukai itu.


Fabian tersenyum tipis mendengarnya, lalu setelahnya ia membawa tubuh istrinya dalam dekapan.


“Laura, ini adalah malam pertama kita sebagai suami dan istri. Meski kita telah melewati banyak malam sebelum ini, tapi aku tetap ingin melaksanakan ritual malam pengantin denganmu.”


Laura yang mendengarnya langsung gugup. Meski ini bukan pertama kali bagi mereka melakukan hubungan badan, tapi malam ini adalah malam pertama bagi keduanya sebagai pasangan suami-istri.


Ia penasaran apakah rasanya akan sama menggairahkannya seperti malam-malam sebelumnya atau justru malah sebaliknya.


“Kamu mau melakukannya denganku malam ini, Istriku?” tanya Fabian lembut dan Laura pun menganggukkan kepalanya tanpa keraguan.


**


Sharon terlihat murung sejak wanita itu mendengar kabar kalau Fabian resmi menikahi Laura. Hatinya bagai tercabik-cabik karena rasa sakit, ia merasa tidak dihargai sebagai seorang ibu oleh putranya itu.


Padahal Sharon sudah membayangkan jauh-jauh hari akan seperti apa pernikahan putranya nanti. Ia akan menggelar resepsi besar-besaran dan melihat putranya berjalan ke altar dengan perasaan haru luar biasa.


Tapi sayang semuanya berjalan tidak sesuai apa yang diimpikannya selama ini. Sharon menyalahkan Laura atas pilihan putranya, dan ia tidak akan sudi menganggap wanita itu sebagai menantunya sampai kapan pun.


Selain Sharon yang murung, ada Hartono yang juga tengah merasakan hal sama.


Ia merasakan hampa dengan rasa sakit yang menusuk jantung hatinya berkali-kali lipat gara-gara kepergian Mia.


Ia pikir dirinya akan baik-baik saja setelah kepergian wanita itu. namun rupanya Hartono jauh lebih hancur karena ditinggal oleh belahan jiwanya.


Pria itu saat ini berada di apartemen yang dulu ia belikan untuk Mia. mencoba merasakan jejak-jejak peninggalan wanita itu dengan cara menyentuh barang-barang yang sering Mia sentuh.

__ADS_1


Seperti saat ini Hartono berbaring di atas ranjang yang biasa menjadi tempat peraduan mereka saat menjalin kasih.


Betapa ia sangat tersiksa karena terlalu merindukan wanita itu.


“Aku pernah berpikir mungkin kisah kita akan sedikit berbeda dari kebanyakan hubungan yang dimulai lewat perselingkuhan. Tapi ternyata sama saja.” Hartono berujar dengan nada yang rendah seraya membayangkan jika saat ini Mia berada di sampingnya.


Pada akhirnya seorang suami akan kembali pada istri sahnya, dan pergi meninggalkan selingkuhannya. Karena suami tersebut merasa dirinya berselingkuh karena perasaan bosan semata. Tapi Hartono merasa ia benar-benar mencintai Mia bukan hanya sekedar menjadikan wanita itu sebagai selingan dan budak nafsu semata.


Perasaan cintanya benar-benar tulus dan juga besar. Hanya saja rasa bersalahnya pada sang istri jauh lebih besar.


..


“Kau boleh tinggal di sini untuk sementara waktu. Atau terserah kau saja.”


Mia memperhatikan lelaki yang waktu itu menabrak dirinya dengan tatapan bingung. Keduanya kembali dipertemukan saat Mia terlunta-lunta di jalanan tanpa tujuan yang pasti ketika dirinya memutuskan untuk pergi dari Hartono.


“Anggap saja ini sebagai permintaan maafku karena telah menabrakmu waktu itu.” ujar lelaki yang memperkenalkan diri sebagai Haru.


Lelaki itu memiliki paras yang tampan dengan lesung pipit di kedua pipinya yang membuat ketampanannya semakin menarik.


“Kau tidak perlu meminta naaf, lagi pula waktu itu memang murni kesalahanku.” Mia membalas perkataan lelaki itu dengan suara yang nyaris tidak terdengar.


Wanita itu telah berubah menjadi sangat pendiam setelah perpisahannya dengan Hartono. Mia merasa jika kebahagiaan dirinya telah habis tanpa tersisa gara-gara kandasnya hubungan mereka.


Kini niat Mia hanya untuk sekedar melanjutkan hidup, karena dirinya sadar kalau mengakhiri hidup bukanlah hal yang tepat.


Haru tersenyum cerah, karena Mia sudah mengatakan hal itu ia tidak perlu lagi merasa bersalah atau ketakutan seperti waktu itu.


“Kalau begitu apa kau membutuhkan sesuatu selain tempat tinggal?” tanya Haru.


Mia terdiam sesaat sebelum memutuskan untuk menatap wajah lelaki itu tanpa menghindari kontak mata dengannya.


“Pekerjaan.” jawab Mia jujur.


“Tolong beri aku pekerjaan, apapun itu. Aku bisa melakukan apa saja, termasuk mengurus rumahmu.” ungkap Mia datar.


Haru merasa seperti baru dibelai oleh angin segar ketika mendengar permintaan Mia yang terdengar seperti orang putus asa. Ia kemudian memikirkan sebuah pekerjaan yang memang telah terlintas di kepalanya ketika dirinya melihat Mia.


Wanita itu cantik dan terlihat seperti wanita baik-baik. Dan yang terpenting Mia juga tipe wanita yang minim berbicara.


“Bagaimana kalau aku menawarkan sebuah pekerjaan kontak?” tanya Haru membuat Mia menatapnya dengan sebuah harapan baru.

__ADS_1


“Pekerjaan seperti apa?” respon Mia.


Haru kemudian tersenyum tipis sebelum menjawab pertanyaan wanita itu, “Menjadi Istriku.”


__ADS_2