
Tidak ada sedikit pun kecemburuan dalam diri Hartono ketika melihat kebersamaan Mahendra bersama mantan istrinya. Ia justru merasa senang melihat Sharon yang sepertinya cukup nyaman berdekatan dengan Mahendra.
Karena hal itu dapat menandakan kalau perasaan Sharon padanya perlahan memudar, sama seperti dirinya.
“Kamu menyuruhku untuk menjaga pandangan, dan hanya boleh menatap dirimu saja. tapi apa yang kamu lakukan saat ini?” Mia berujar dengan nada ketus tatkala menyadari kalau tatapan mata Hartono masih tertuju pada Sharon.
“Kamu bahkan tidak berkedip sama sekali saat memandangnya.” kata Mia.
Hartono tidak bisa untuk tidak tersenyum saat mendengar ucapan Mia yang dibalut dengan nada kecemburuan itu. Kemudian diliriknya wanita yang menjadi satu-satunya yang ia cintai dengan penuh kelembutan.
“Aku menatapnya bukan karena terpesona.”
“Bohong.” Mia merespon dengan cepat.
Jelas-jelas pria itu menatap Sharon dengan binar mata penuh kekaguman. Hartono pikir Mia tidak bisa melihat semua itu?
“Aku tidak berbohong,” Hartono menyangkal.
“Aku hanya terlalu senang melihat Sharon yang dekat dengan Mahendra.” ungkapnya membuat Mia terdiam.
“Terkadang perasaan bersalah itu selalu menghantuiku. ketika aku telah menemukan cinta sejatiku, sementara Sharon masih hidup dalam kepedihan yang aku torehkan.”
“Aku benar-benar merasa bersalah padanya.” tuturnya.
Mia mengepalkan kedua tangannya menahan perih yang dirasakannya. setelah semua kejahatannya di masa lalu, baru kali ini ia mulai merasa apa itu perasaan bersalah.
Dirinya telah merebut kebahagiaan orang lain, namun sekarang dengan tidak tahu diri ia merasakan cemburu pada wanita yang telah ia rebut kebahagiaannya itu.
“Apa sekarang kamu menyesal?” tanya Mia dengan perasaan waspada.
“Menyesal karena telah melepaskannya dan memilih aku?”
Hartono menggeleng, “Tidak ada yang perlu disesali untuk semua yang telah terjadi.”
“Aku dan Sharon memang ditakdirkan berakhir dengan cara seperti ini.” jawab Hartono masih sama seperti dulu.
Hanya satu yang membuat Hartono menyesal, yaitu dirinya yang memilih berselingkuh.
Andai saja ia memutuskan Sharon terlebih dahulu sebelum ia memulai kisah cintanya yang baru dengan Mia, mungkin perasaan bersalah itu tidak akan sebesar ini.
..
__ADS_1
Malam ini bulan bersinar terang di mana cahayanya menerpa sosok Mia yang sedang berdiri di dekat balkon kamarnya. Wanita itu memakai gaun tidurnya yang super tipis dan terbuka di bagian dadanya. pakaian yang sangat berani ia kenakan di luar ruangan.
“Malam ini terasa panas, dan aku kegerahan.” Mia berujar ketika telinganya mendengar derap langkah kaki milik Hartono mendekat ke arahnya.
“Aku juga merasakan panas sekarang.” respon pria itu setelah berhasil mengurung tubuh indah wanita kesayangannya.
Mia menampilkan senyum manisnya dengan penuh kepercayaan diri. Ia tahu kalau penampilannya yang menggoda ini berhasil menarik atensi sang pujaan hati.
“Rasanya tidak akan cukup jika hanya kupandangi saja.” Hartono berbisik mesra sementara tangannya mulai merayap menggerayangi lekuk tubuh milik Mia.
“Aku ingin menyentuhnya,” Mia memejamkan matanya ketika tangan pria itu menyelinap masuk dan meraba-raba perutnya yang mulai tumbuh.
“Dan mengecap rasanya.” bisiknya lagi sebelum mendaratkan mulutnya meraup bibir ranum milik Mia.
Pria itu mengecap rasa yang berasal dari mulut Mia, menghisap lidah wanita itu dan mengajak lidahnya untuk ikut menari-nari di dalam sana.
Mia melenguh tertahan dan menyalurkan sinyal pada Hartono yang menandakan kalau wanita itu menikmati pagutannya.
“Mia, aku sudah lama tidak merasakan berada di dalam tubuhmu.” Hartono berujar resah, bagian bawah tubuhnya telah mengeras sejak tadi. namun dirinya masih ragu untuk menyerang dan menyalurkan perasaan cintanya pada Mia.
Mia menundukkan wajahnya yang memerah, ia juga telah lama menanti sentuhan pria itu.
“Dokter bilang tidak apa-apa, asal kamu tidak terlalu kasar.” ujar wanita itu terdengar pelan dan dapat Hartono tangkap sebagai sebuah izin baginya untuk memasuki wanita itu.
Sharon tidak tahu apa yang mendasari dirinya mengizinkan Mahendra untuk mengantarnya pulang. Dan ia juga tidak mengerti kenapa dirinya tidak juga keberatan saat Mahendra memasangkan jas pria itu untuk melindungi bahunya yang terbuka bebas.
“Terima kasih sudah repot-repot mau mengantarkan aku pulang.” Sharon berujar datar saat dirinya sampai di halaman depan mansionnya.
Mahendra tersenyum tipis sambil menatap mansion milik Sharon yang hampir sama besarnya dengan milik ayahnya.
“Kamu tinggal sendirian?” tanya Mahendra penasaran.
Sharon terdiam sesaat, wanita itu nampak berpikir untuk menjawab pertanyaan Mahendra.
“Aku tinggal dengan anak dan menantuku.” jawab Sharon jujur.
“Begitu rupanya,” Mahendra merespon.
“Kalau begitu aku permisi dulu.” pria itu berpamitan pada Sharon karena wanita itu juga tidak mengeluarkan basa-basi untuk menawarkan dirinya masuk atau sekedar membuatkan minuman.
Sharon masih mempertahankan sikap dinginnya pada seorang pria.
__ADS_1
Tapi Mahendra tidak merasa tersinggung, ia cukup mengerti perasaan wanita itu. tidak ada wanita yang baik-baik saja setelah dikhianati oleh suami tercintanya.
“Tunggu!” Sharon menahan Mahendra yang sudah siap menarik pedal gasnya.
Wanita itu menatap wajah tampan Mahendra dengan penuh keraguan, dan hal tersebut membuat Mahendra penasaran.
Kenapa Sharon menatapnya hingga seperti itu?
“Jas milikmu akan kucuci, dan nanti aku akan mengembalikannya padamu.” ujar Sharon.
“Jadi, kemana aku harus mengembalikannya?” tanya Sharon membuat Mahendra tersenyum kecil.
“Boleh aku meminta nomor ponselmu?” tanya Mahendra mencuri kesempatan yang datang padanya.
Sharon nampak kebingungan, meski begitu wanita itu tetap memberikan nomor ponselnya pada Mahendra.
“Nanti saya akan menghubungimu dan memberitahu kemana kamu harus mengembalikan jasnya.” jelas pria itu dapat menjawab kebingungan Sharon.
“Sampai nanti.”
Sharon masih merenung di tempatnya bahkan setelah Mahendra telah lenyap dari pandangan matanya.
“Kenapa aku memberinya nomor ponselku?” tanya Sharon bingung.
..
Sementara itu di balkon kamar Fabian, Laura beserta lelaki itu memperhatikan Sharon dari atas. Keduanya penasaran tentang kedekatan Ibunya dengan dokter Mahendra.
“Menurutmu bagaimana?” tanya Fabian pada istrinya.
“Mereka berdua cocok tidak?” tanyanya kembali.
“Aku tidak tahu.” Laura menjawab tanpa mengalihkan perhatiannya dari wajah Fabian.
“Pak Dokter sepertinya memiliki ketertarikan pada Ibu. Tapi Ibu terlihat biasa saja.” Laura mencoba mengungkapkan pendapatnya tentang apa yang ia perhatikan barusan.
Fabian mengangguk setuju. Pasti berat bagi ibunya untuk membuka hati atau memberikan kepercayaan pada pria yang mendekatinya.
Sharon juga pernah bilang bahwa dirinya tidak akan membiarkan pria manapun mengambil hatinya. Sharon terlalu takut akan disakiti lagi.
“Ibu juga tidak berniat menjalin hubungan percintaan lagi. Ibu hanya ingin hidup seperti ini.” ungkap Laura dengan sorot mata yang sendu.
__ADS_1
Fabian yang mendengar itu hanya bisa terdiam. Ia harap trauma yang dirasakan ibunya gara-gara ayahnya sendiri segera hilang.
“Laura, mungkin ada baiknya kalau kita segera memberikan cucu untuk Ibu.” ucap Fabian sambil menatap penuh arti pada Laura.