
Seharusnya Hartono mengerti bahwasanya tidak ada rahasia yang akan tersimpan selamanya. adakalanya rahasia yang coba ia tutup rapat-rapat pada akhirnya akan terbuka secara perlahan.
Hanya tinggal menunggu waktu saja semua kebusukannya terbongkar. Dan jika hal tersebut terjadi, Hartono hanya bisa menanti bagaimana kelanjutan hidupnya bersama Sharon.
Selepas acara, Sharon langsung memaksa Hartono untuk menjelaskan maksud perkataan Bramantyo tadi. Dan pria itu hanya terdiam tanpa berniat untuk menjelaskan apapun.
“Kau akan terus diam?” tanya Sharon tajam.
“Apa yang mau kau dengar dariku, Sharon?” Hartono membalas pertanyaan Sharon dengan pertanyaan baru.
Wanita itu terdiam tanpa mengendurkan pandangannya yang tajam dari Hartono. Suaminya itu terlampau tenang, dan membuat Sharon ragu kalau Hartono memang sedang menyembunyikan sesuatu di belakangnya.
“Kau cukup mengenal bagaimana perangai Bramantyo sendiri. Orang itu memang suka berbicara hal yang aneh-aneh.” tutur Hartono masih mencoba untuk mengelabui istrinya.
“Dia memang seperti itu, tidak jelas dan menyebalkan.” lanjutnya lagi.
Sharon menatap kedua mata hitam suaminya dalam diam. Ia sedang mencoba mencari pancaran kebohongan lewat kedua iris hitam sekelam jelaga milik suaminya.
“Kau meragukanku, Sharon?” tanya Hartono dengan suara yang lemah.
Sharon merasakan hatinya bergetar, ia sudah lama tidak mendengar Hartono berbicara dengan nada seperti itu. Perlahan gemuruh di dadanya menghilang, dan kecurigaannya pada Hartono mulai terkikis.
Melihat istrinya mulai luluh, Hartono mengambil kesempatan untuk kembali meyakinkan Sharon. Pria itu kemudian menarik tubuh istrinya dan mencium bibir wanita itu.
Sharon hanya diam dan membiarkan pria itu melakukan apa yang diinginkannya. Meski untuk saat ini Hartono telah berhasil meyakinkan dirinya, tapi bukan berarti ia tidak akan mencari tahu lebih dalam.
Sharon yakin ucapan Bramantyo tadi bukan hanya candaan semata. Karena dirinya merasa bahwa perkataan pria itu disisipi isyarat untuknya.
..
“Fabian, kenapa Ibu terlihat marah tadi?” tanya Laura pada suaminya yang sedang mengemudi.
Laura tadi melihat kedua mertuanya meninggalkan hotel tepat setelah acara selesai. Dan jika mengamati wajah Ibu mertuanya, wanita itu terlihat seperti sedang menahan amarah.
“Aku kurang tahu, sayang.” jawab Fabian yang memang tidak tahu permasalahan yang menimpa kedua orang tuanya.
Sebenarnya ia juga memikirkan hal yang sama dengan Laura. Tapi Fabian memilih untuk mengabaikannya karena ia tidak mau ikut campur permasalahan kedua orang tuanya.
__ADS_1
“Suami-istri memang terkadang suka bertengkar, tapi nanti juga mereka akan berbaikan lagi.
Jadi kamu tidak perlu mencemaskan mereka.” Fabian berujar sambil tersenyum pada Laura.
“Lebih baik kamu fokus pada rumah tangga kita saja. Dan fokus pada tujuan kita untuk membuat bayi-bayi yang lucu.”
Fabian berkata dengan nada tenang seolah-olah perkataannya tidak berdampak pada Laura. Lihatlah, wanita itu sekarang telah bersemu merah mendengar suaminya mulai menyinggung soal anak.
“Memangnya kamu sudah siap menjadi orang tua?” tanya Laura.
Ia bukannya meremehkan kesanggupan Fabian untuk menjadi orang tua. Namun menjadi orang tua memang tidak lah mudah.
Mereka harus siap dalam segala hal, termasuk mental.
“Aku? Tentu saja sudah sangat siap.” jawab Fabian dengan keyakinan yang luar biasa.
Laura tersenyum tipis mendengarnya, “Kalau seperti itu, maka mulai malam ini aku akan berhenti meminum pil seperti biasanya.” ujar Laura sontak membuat Fabian tersenyum lebar.
Ia senang mendengarnya, karena sejujurnya ia sudah lama ingin memiliki seorang anak dari wanita yang dicintainya.
**
Lelaki tampan itu telah sepenuhnya terhanyut ke dalam lamunan penuh khayalan indahnya bersama sang pujaan hati. Sampai-sampai dirinya tidak menyadari kedatangan Mia yang saat ini berdiri tidak jauh di depannya.
“Aku baru pertama kali menyentuh daun maple.” Mia berujar pelan namun berhasil menarik kembali Haru dari angannya tentang sang kekasih.
Lelaki itu tersenyum tipis, ia cukup terberkati melihat penampilan Mia saat ini. Di mana wanita itu memotong rambut panjangnya hingga sebahu, serta membiarkan sang angin menerbangkan tiap helai surai halusnya.
“Apakah momiji di sini sama dengan yang ada di Kanada?” tanya Mia pada Haru.
Lelaki itu mengangkat kedua bahunya acuh, “Aku belum pernah ke Kanada, jadi aku tidak tahu apa perbedaannya.” jawab Haru.
“Ngomong-ngomong aku suka tampilan rambutmu yang sekarang. Itu terlihat cocok denganmu.” Haru mencoba jujur tentang penampilan Mia.
Wanita itu terdiam. ia memiliki alasan tersendiri atas keputusannya memotong rambut yang selama ini ia rawat sepenuh hati, mengingat seseorang sangat menyukai rambut panjangnya. Namun karena orang yang menyukainya itu tidak mungkin lagi membelai rambutnya, maka Mia memutuskan untuk memotongnya.
“Terima kasih.” balas Mia datar.
__ADS_1
Haru tersenyum tipis menanggapinya, lelaki itu kemudian menyuruh Mia untuk duduk di sampingnya. Dan Mia menurut, wanita itu mulai mengayunkan langkahnya guna mendekati Haru, lalu duduk tepat di samping lelaki itu.
“Mia, boleh aku bertanya sesuatu padamu?”
“Apa itu?”
“Apakah kau pernah jatuh cinta pada seseorang yang seharusnya tidak boleh kau cintai?”
Pertanyaan Haru barusan membuat Mia terdiam. Ia kembali mengingat kisah cinta terlarangnya dengan Hartono, di mana seharusnya ia tidak menjatuhkan hatinya pada pria itu.
Karena bagaimana pun Hartono adalah suami wanita lain.
“Aku pernah mengalaminya, dan sampai saat ini perasaan cinta itu masih ada.” Mia menjawab pertanyaan Haru tanpa keraguan. Padahal ia termasuk orang yang tertutup dan tidak mudah baginya untuk berbagi cerita dengan orang lain.
Tapi Haru cukup berbeda, lelaki itu berhasil membuatnya merasa aman untuk bercerita.
“Dan rasanya sakit saat aku tidak bisa memilikinya.” ungkap Mia terdengar pilu.
Haru memberanikan diri untuk menyentuh lengan Mia dan menarik wanita itu dalam pelukannya. Ia memang tidak bisa mencintai Mia, tapi dirinya akan berusaha untuk menjaga wanita itu sebagai mana mestinya.
Mia cukup terkejut dengan tindakan Haru barusan. Meski rasanya kurang nyaman, ia memilih untuk membiarkannya.
“Kurasa kita berdua memiliki kesamaan dalam masalah percintaan.” Haru berkata lalu terkekeh pelan setelahnya.
“Aku juga mencintai seseorang yang tidak seharusnya kucintai.” ucap Haru membuat Mia terdiam mendengarkan.
“Dan sepertinya kami juga tidak mungkin bisa bersama.”
“Kenapa kau begitu yakin?” Mia mengajukan pertanyaan yang membuatnya cukup penasaran.
“Karena dia sudah menjadi milik orang lain, Mia.” jawaban Haru jelas membuat Mia termenung.
Lagi-lagi mereka memiliki kesamaan satu sama lain. itu terdengar lucu, namun juga cukup mengkhawatirkan.
Takutnya kebetulan-kebetulan seperti itu berkaitan dengan takdir yang mengikat mereka secara tidak sadar.
Sementara itu di belakang Haru dan Mia, Nana memperhatikan keduanya dengan tatapan mata yang teduh. Wanita itu senang putranya terlihat bahagia bersama Mia.
__ADS_1
Itu artinya rumor yang berhembus padanya beberapa tahun lalu tidak lah benar.
“Jika seperti ini, aku tidak akan mati dalam penyesalan. Karena Haru sudah menemukan belahan jiwanya.”