Belenggu Cinta Kedua

Belenggu Cinta Kedua
34


__ADS_3

“Untuk apa kamu kesini?” Mia bertanya pada Hartono, sosok pria yang berdiri di depan pagar rumah Haru.


Dari sorot matanya Mia bisa menyimpulkan kalau pria itu merasakan kerinduan yang sama dengannya. ada segumpal kebahagiaan yang mendiami hatinya tatkala dirinya tahu kalau Hartono menyimpan rindu terhadapnya.


Pria itu tidak menjawab, namun justru mengayunkan langkahnya untuk mendekati Mia. Harusnya ketika melihat Hartono mendekat ke arahnya, Mia segera bergerak untuk mundur dan mencegah Hartono menggapai dirinya. namun entah kenapa wanita itu justru terdiam kaku dengan wajah yang seolah-olah menyambut kedatangan pria itu.


Hingga pada akhirnya Hartono benar-benar bisa menggapai Mia dan kembali menarik wanita itu dalam pelukannya.


“Aku merindukanmu.” bisik pria itu membuat dada Mia mulai terasa sesak.


“Aku datang kemari karena aku merindukanmu.”


Hartono tidak peduli jika setelah ini Mia akan memaki dirinya atau justru lebih parah dari itu. Yang terpenting dirinya sudah mengatakan hal sejujurnya pada wanita itu, betapa gilanya dia dalam merindukan Mia.


Mia mendorong tubuh Hartono dengan kuat. saat ini dirinya telah menjadi seorang istri, dan tidak sepantasnya ia menerima pelukan dari pria lain meski sejujurnya hatinya menjerit ingin membalas pelukan Hartono.


“Aku tidak peduli dengan perasaan rindumu. Kita telah selesai seperti yang kamu katakan dulu. Dan sebaiknya tidak ada lagi pertemuan di antara kita.” Mia berujar tegas sambil menatap Hartono.


Perih dirasakan jantung hati Hartono saat wanita itu berbicara seperti barusan. meski begitu ia paham dan memaklumi respon Mia terhadapnya.


Karena tidak ada wanita yang akan baik-baik saja setelah hatinya dipatahkan.


“Aku juga telah bersuami, dan tidak seharusnya kamu memelukku tadi.” tutur Mia dengan terpaksa.


Ia sejujurnya sedang berusaha keras terhadap dirinya sendiri. Mia tidak ingin kembali terjebak hubungan terlarang dengan pria itu.


Pernyataan tegas Mia barusan tentang status wanita itu membuat Hartono sakit. Ia masih enggan menerima kenyataan kalau wanita yang ia cintai telah dimiliki lelaki lain.


“Maaf, tapi aku harus segera masuk ke rumah.” ungkap Mia lalu mengayunkan langkahnya meninggalkan Hartono.


Ia meneteskan air matanya tatkala melewati tubuh pria itu. ingin rasanya Mia memeluk Hartono dan menghirup aroma tubuh pria itu seperti dulu.


“Aku telah bercerai dengan Istriku.”


Perkataan Hartono sukses menghentikan langkah kaki Mia. tangan wanita itu bergetar seraya memegang kunci pagar rumah Haru. Kalimat itu, seharusnya Mia dengar sejak dulu, bukan saat ini ketika dirinya sendiri telah bersuami.


Sekarang terasa percuma karena dirinya jelas tidak akan bisa kembali pada pria itu.


“Aku tidak bertanya.” hanya itulah yang bisa Mia ucapkan sebagai respon dinginnya terhadap pernyataan Hartono.


Pria itu terkekeh pelan. ini benar-benar menyakitkan. Ia telah gagal mempertahankan rumah tangganya, juga gagal mendapatkan Mia kembali.


Mungkin ini hukuman buatnya yang serakah dan tidak tahu bersyukur. Ia kini sendirian dan tidak diinginkan oleh siapapun.

__ADS_1


“Benar, tidak seharusnya aku memberitahu kabar itu padamu.” ucap Hartono lagi.


Pria itu melirik Mia, wanita itu masih bergeming di dekat pagar rumah Haru. namun yang menarik perhatian Hartono adalah bagaimana punggung wanita itu yang nampak bergetar.


Apakah dia menangis?


“Mia—”


“Ini sudah malam. kembalilah ke tempatmu.”


Setelah mengucapkan kalimat itu, Mia langsung masuk ke dalam rumahnya. wanita itu sudah tidak bisa lagi menahan air matanya. Dan ketika dirinya berhasil masuk ke rumah, tangisnya seketika pecah.


Mia menangis di balik pintu rumahnya sambil memukul kepalanya bertubi-tubi. tidak peduli dengan sakit yang dirasakan kepalanya, Mia terus melampiaskan rasa sakitnya dengan cara seperti itu.


“A-aku, Aku juga merindukanmu...”


“Sangat merindukanmu.”


Mia menangis karena rasa rindu yang sudah tidak terbendung itu. Kerinduan bercampur rasa sakit karena keadaan membuat dirinya tidak bisa mengutarakan semua itu pada Hartono.


**


Hari ini merupakan hari yang suram bagi Haru, dikarenakan sang Ibu tercinta telah menghembuskan nafas terakhirnya pagi tadi.


Mia menangis didera penyesalan. Ia tidak bisa melihat wajah mertuanya untuk terakhir kali. dirinya juga belum sempat meminta maaf atas semua kebohongannya selama ini.


Andai semalam dirinya tidak pulang, dan andai saja Haru tidak melarangnya untuk menginap di rumah sakit. Mungkin Mia masih sempat berbagi pelukan hangat dengan wanita itu.


“Haru—” Mia terisak menghampiri Haru yang duduk termenung setelah pemakaman Ibunya selesai.


Lelaki itu menarik tubuh Mia dan memeluk istrinya dengan penuh ketenangan. Haru memang sedang dalam kondisi terpukul hebat karena kepergian ibunya, namun bukan berarti ia acuh terhadap Mia yang sedang membutuhkan tempat untuk wanita bersandar.


Mia memejamkan kedua matanya saat usapan seringan bulu itu mendarat di belakang punggungnya.


“Ibu sekarang tidak perlu lagi merasakan sakit karena penyakitnya.” Haru berujar pelan dan terdengar rapuh.


Di satu sisi ia memang tidak ikhlas saat ibunya pergi meninggalkan dirinya begitu cepat. namun jika melihat bagaimana ibunya menderita karena penyakitnya, Haru memilih untuk ikhlas.


“Dia akan bahagia di sisi Tuhan.” ucapnya.


Mia tidak merespon, ia masih tidak menyangka akan ditinggalkan lebih cepat seperti ini.


“Aku kembali kehilangan seorang Ibu.” bisik Mia samar namun Haru masih bisa menangkapnya dengan jelas.

__ADS_1


Kini ia dan Mia memiliki persamaan. keduanya tidak lagi memiliki orang tua.


“Tidak apa, Mia. Kau masih memiliki aku sebagai suami dan juga temanmu.” balas Haru membuat Mia bungkam.


Meski tidak saling mencintai, setidaknya mereka masih bisa berbagi kasih sayang dan perlindungan.


..


Kabar kematian Nana juga sampai di telinga Ryuken dan Alice. sepasang suami-istri itu kemudian datang untuk melakukan penghormatan terakhir, serta mencoba menguatkan Haru dalam menghadapi kesedihannya.


Kedatangan Ryuken dan Alice membuat Mia kebingungan untuk berinteraksi. Ia belum bisa berbahasa Jepang, sementara kemampuan bahasa Inggrisnya juga tidak terlalu bagus.


Haru yang mengerti tentang kegelisahan istrinya kemudian menyuruh Mia untuk tetap berada di kamarnya saja. Lagi pula Mia pasti juga sudah kelelahan karena dari tadi menyambut orang-orang yang hendak melakukan penghormatan terakhir pada Ibunya.


“Aku akan membuatkan teh untuk kalian.” kata Alice sambil melirik Haru yang masih terdiam di atas teras belakang rumahnya.


Lelaki itu menoleh pada Alice dan kemudian tersenyum tipis pada wanita itu, “Tolong ya, Alice.” ucap Haru.


Alice mengangguk singkat, lalu pergi meninggalkan Ryuken dan Haru di sana.


Kedua lelaki yang telah bersahabat lama itu duduk berdampingan, sementara kedua mata mereka menatap pada pohon yang sama.


“Aku turut berduka cita, Haru.” Ryuken menatap Haru yang masih belum memberikan respon.


Haru mengangguk singkat, “Terima kasih.” jawabnya pelan.


Haru tidak bisa menahan gejolak perasaannya saat di dekat Ryuken, itu sebabnya lelaki itu terkesan dingin pada sahabatnya.


“Padahal sudah lama sekali kita tidak bertemu, tapi sepertinya kau tidak senang dengan setiap pertemuan kita.” Ryuken kembali menyuarakan isi pikirannya.


Ia telah lama merasa kalau sikap Haru mulai berubah terhadapnya. Dan membuatnya bertanya-tanya apa kesalahan yang telah ia perbuat hingga lelaki itu bersikap kaku dan dingin.


Haru mengulas senyum tipisnya, ia tidak mungkin mengatakan pada Ryuken kalau dirinya sedang membatasi diri saat berdekatan dengan lelaki itu.


“Kau juga telah berubah, Ryuken.”


"Sekarang kau menjadi sangat cerewet.” Haru membalasnya.


Mendengar balasan dari Haru tanpa sadar membuat Ryuken tertawa pelan. Sudah lama sekali dia tidak mendengar Haru mengejek dirinya.


Sementara itu Haru justru dibuat terpesona melihat tawa Ryuken. Hal tersebut membuatnya dapat melupakan dengan sejenak perasaan sedihnya karena kehilangan ibu.


Namun itu tidak berlangsung lama saat Haru kembali menyadari perasaannya pada Ryuken yang terlarang.

__ADS_1


Sebuah perasaan yang mati-matian ia coba tekan hingga tanpa sadar menyakiti dirinya sendiri.


__ADS_2