
Kehadiran Mia di mansionnya memberikan kebahagiaan tersendiri bagi Sharon. Wanita itu merasa seperti memiliki seorang anak perempuan yang bisa ia ajak bepergian dan bersenang-senang.
Mia yang merupakan pribadi penurut dan tidak neko-neko membuat Sharon semakin sayang pada gadis itu. Selain itu Mia juga tidak segan menunjukkan perhatiannya pada Sharon, hingga membuat wanita itu tercuri hatinya.
“Om Hartono bilang kalau Tante sedang tidak enak badan.” Mia datang menghampiri Istri dari kekasihnya sambil membawa nampan berisi makanan dan minuman.
Gadis itu tersenyum manis, lalu duduk di sisi ranjang. “Aku membawakan bubur paro untuk Tante dan juga teh jahe ini.” ungkapnya.
Sharon berusaha untuk bangun dan menyandarkan punggungnya ke belakang kepala ranjang. Wanita itu tersenyum lemah pada Mia, merasa tersentuh dengan perhatian gadis itu.
“Kau mengetahui bubur ini juga?” tanya Sharon tidak menyangka kalau Mia mengetahui bubur khas Las Vegas yang merupakan kesukaannya itu.
Mia mengangguk semangat, “Fabian yang memberitahu aku tadi saat aku di dapur. tadinya aku hendak membuat bubur ayam biasa, tapi kata Fabian Tante kurang suka bubur ayam.” Mia menjelaskan dengan lugas.
“Dan dia menyarankan aku untuk membuat bubur ini.” ujarnya lagi.
Sharon kembali mengulas senyumnya, ia kemudian memegang tangan Mia dan mengusapnya perlahan.
“Tante merasa beruntung dengan keberadaanmu di sini.” ucap Sharon dengan sorot mata penuh kesedihan.
Mia terdiam mendengarnya, entah kenapa ia merasa tidak karuan saat melihat Sharon menatapnya dengan sayang seperti itu.
“Minum ini dulu Tante, supaya badannya terasa hangat.” Mia menyerahkan gelas berisikan teh jahe pada Sharon, dan wanita itu tanpa ragu menerimanya bahkan langsung meminum teh tersebut.
Meski rasanya begitu sulit diterima lidahnya, tapi Sharon meminumnya hingga tandas.
“Terima kasih, sayang.” ucap Sharon dengan tulus.
Mia tersenyum senang, “Sama-sama tante.” balasnya.
“Dan sekarang tante makanlah bubur ini, lalu setelah itu tante bisa beristirahat lagi.” Mia menyuruh wanita itu untuk segera memakan bubur buatannya.
Dan lagi-lagi Sharon menurut.
Mia tersenyum lega saat melihat wanita itu memakan bubur buatannya hingga habis. Ia tahu rasanya tidak mengecewakan karena dirinya memang pandai mengolah makanan.
Setelah Sharon selesai menyantap sarapannya, Mia pun mulai merapikan peralatan makan yang tadi telah terpakai.
“Tante, aku permisi dulu. Tante jangan lupa beristirahat.” ujar Mia lalu bergerak untuk meninggalkan Sharon.
Wanita itu menahan pergelangan tangan Mia dan membuat Mia terdiam sambil menatap Sharon bingung.
__ADS_1
“Mia, bisakah kau memanggilku Ibu?” tanya Sharon membuat Mia terkejut bukan main.
Mia sama sekali tidak menduga hal itu, ia tidak mengharapkan akan mendapatkan hal istimewa seperti itu dari Sharon.
Mia merasa dirinya sangat tidak pantas memanggil Sharon dengan sebutan itu. Dirinya sudah berdosa pada wanita itu, bahkan dosanya mungkin tidak terampuni.
“Aku benar-benar senang kalau kau bisa memanggilku dengan sebutan itu.” ucap Sharon lagi sambil menatap harap pada Mia.
Mia tersenyum kaku, ia kemudian mengangguk mengiyakan, “Ya, Bu.” jawabnya lalu menangis.
Mia menangis bukan karena terharu, melainkan menangis karena merasa bersalah. Seharusnya Mia senang karena telah berhasil memenangkan hati Sharon, tapi dirinya justru tidak merasakan hal itu.
Karena semakin Sharon menaruh kepercayaan juga kasih sayang terhadapnya, maka semakin wanita itu akan terluka lebih parah jika tahu kebenaran tentang hubungan dirinya dengan Hartono.
**
Mia berusaha untuk tetap mempertahankan sisi jahatnya meski tadi dirinya cukup terguncang oleh Sharon. Dalam hubungan ini harus ada wanita yang mengalah dan merasakan sakit, dan itu bukan dirinya.
Ia tidak ingin mengalah hanya karena perasaan bersalahnya pada wanita itu. Mia akan tetap jadi wanita kesayangan Hartono, dan dirinya akan mempertahankan itu.
“Aku tidak salah, suaminya sendiri yang tergila-gila padaku. Aku hanyalah pihak yang menerima semua kegilaannya.” gumam Mia memantapkan hatinya.
Keduanya sama-sama terkejut, hingga Mia memutuskan untuk tersenyum pada lelaki jutek itu.
“Mau apa kau kemari?” tanya Fabian datar.
Mia tersenyum kaku, “Aku datang untuk mengantar bekal makan siang untukmu dan Om Hartono.” jawab Mia membuat Fabian terdiam.
Lelaki itu lantas menatap tas berisi makanan yang dibawa oleh Mia. Ia sebenarnya berniat untuk pergi makan siang dengan Laura, tapi tidak tega jika dirinya harus menolak pemberian Mia.
“Berikan padaku bagianku, aku akan makan di luar kantor.” pintanya pada Mia.
Mia mengangguk pasrah, lalu memberikan bekal makan siang bagian lelaki itu.
Setelah menerima dan mengucapkan terima kasih, Fabian pergi memasuki lift. Lelaki itu akan memakan bekal buatan Mia bersama Laura di toko bunga milik teman kekasihnya.
Mia mendengkus pelan setelah kepergian Fabian. Kedatangannya ke kantor ini adalah untuk menemani kekasihnya makan siang. jadi Mia tidak peduli apakah Fabian akan memakan masakan buatannya atau tidak.
“Lebih baik aku bergegas.” ucap Mia pelan lalu kembali melanjutkan perjalanannya menuju ruangan Hartono.
..
__ADS_1
Laura menunggu kedatangan Fabian dengan bosan. lelaki itu bilang ingin makan siang dengannya di restoran, tapi tiba-tiba saja rencana itu dibatalkannya.
Padahal dirinya sudah sangat lapar, tapi ia mencoba menahannya demi menunggu kedatangan sang kekasih.
“Sayang—” Fabian tersenyum manis pada wanita cantik yang sedang duduk menunggu kedatangannya di ruangan milik Luna.
Laura mengerucutkan bibirnya karena kesal, “Lama banget! Aku lapar!” ucap wanita terdengar manja.
Fabian tersenyum tipis melihat tingkah menggemaskan kekasihnya itu. Ia pun menghampiri Laura dan memeluk tubuh wanita itu.
“Maaf, tadi aku menunggu makanannya diantar.” ujar Fabian lembut.
Lelaki dingin dan kaku itu terlihat sangat berbeda jika sedang bersama Laura. Bukti kalau perkataan Mia tempo hari itu tidaklah benar.
Kata siapa Fabian tidak bisa bersikap hangat dan manis pada pasangannya? Buktinya lelaki itu bisa bersikap demikian pada Laura.
“Kita makan bekal milikku saja, bagaimana?” tanya Fabian membuat Laura menatap kotak bekal milik Fabian itu dengan penuh selidik.
“Siapa yang membuatnya?” tanya Laura penasaran. karena ini kali pertama bagi wanita itu melihat Fabian membawa kotak makan sianh tersebut.
Fabian tersenyum tipis, ia sudah menduga jika Laura akan mempertanyakan hal itu. Untung saja dirinya telah menyiapkan jawaban yang tepat untuk wanita itu.
“Juru masak baru di mansion ayahku.” jawab Fabian lalu mulai membuka kotak bekal itu di depan Laura.
Laura tidak lagi bertanya maupun merespon jawaban Fabian barusan. Fokus kedua matanya saat ini adalah makanan yang ada di dalam kotak bekal itu.
Jika melihat dari penampilannya, Laura sangat yakin kalau bekal itu buatan tangan seorang wanita.
“Buka mulutmu.” Fabian mengarahkan potongan pork katsu pada Laura, dan wanita itu lantas membuka mulutnya untuk menerima suapan dari kekasihnya.
Laura tersenyum simpul saat setelah merasakan masakan yang dibawa Fabian, benar-benar enak dan tidak mengecewakan.
“Enak, aku suka.” puji Laura membuat Fabian senang.
Pria itu kemudian mengecup kening Laura, “Aku senang kau menyukainya, sayang.” balasnya.
“Besok, bisakah kau membawakan makanan ini lagi?” pinta Laura membuat Fabian terdiam.
Haruskah dirinya meminta Mia untuk membuatkan bekal untuknya lagi? Tapi Fabian merasa tidak enak jika harus menyuruh wanita itu. tapi karena ini permintaan Laura, Fabian tidak punya daya untuk menolaknya.
“Apapun untuk kekasihku tercinta.” jawabnya.
__ADS_1