
Banyak orang yang percaya jikalau kecemburuan adalah tanda cinta. karena tidak mungkin seseorang merasa cemburu tanpa ada secuil rasa dalam hatinya.
Hartono mencintai Mia, pria itu mengakuinya tanpa ragu. namun apakah perasaan cintanya pada Mia sama besarnya dengan cinta yang ia miliki untuk Sharon, Hartono tidak tahu.
Dirinya sering melihat Sharon bersama rekan-rekan bisnisnya yang tidak semua bergender perempuan. Adakalanya wanita itu bertemu dengan rekan bisnis yang merupakan seorang pria rupawan. Tapi anehnya tidak pernah timbul rasa cemburu dalam diri Hartono saat istrinya dekat dengan lawan jenis.
Namun hal yang dirasakan tidak serupa pada Mia. Hartono merasa darahnya seakan mendidih saat melihat wanita itu berdekatan dengan pria lain, termasuk putranya sendiri.
Belakangan ini Mia dan Fabian memang semakin akrab satu sama lain. terkadang hal itu memancing kegelisahan dalam diri Hartono, apalagi kalau ia teringat dengan perkataan Sharon yang mengatakan kalau Mia dan Fabian nampak cocok.
Ini tidak bisa dibiarkan.
“Mia!”
Suara berat namun lantang milik Hartono mengejutkan obrolan Mia dan Fabian perihal makanan. Wanita itu sontak menoleh pada Hartono yang baru saja pulang dari kantornya.
“Ya, Ayah?” respon Mia terdengar manis di telinga. Hartono menggila karena terngiang-ngiang suara manis wanita itu saat berada di bawah kungkungannya.
“Tolong buatkan aku kopi, lalu antar ke ruang kerjaku.” titah pria itu lalu pergi dari sana.
Mia terdiam sejenak, kemudian menoleh pada Fabian yang masih berada di dekatnya.
“Maaf, Fabian. Kurasa kita bisa membahasnya lagi nanti. Aku harus membuatkan kopi untuk Ayahmu.” ucap Mia dengan sopan dan lembut.
“Ya, tidak masalah.” jawab Fabian.
Lelaki itu kemudian pergi meninggalkan Mia. Dan membiarkan wanita itu pergi ke dapur untuk membuat kopi sesuai perintah ayahnya. Mia tersenyum tipis setelah kepergian Fabian, jika melihat raut muka Hartono tadi, sepertinya pria itu sedang dilanda kecemburuan.
Jika perkiraannya benar, maka Mia akan sangat senang sekali.
“Mungkin aku harus sering-sering cari perhatian pada Fabian agar kekasihku cemburu.” gumam Mia.
Karena tidak ingin Hartono menunggu kehadirannya lebih lama. Mia pun bergegas membuat kopi untuk pria itu. Namun saat dirinya baru sampai di dapur, ternyata di sana ada seorang maid perempuan.
“Nana, kau sedang apa?” tanya Mia pada maid yang usianya mungkin sepantaran dengannya.
Nana memperlihatkan reaksi yang terkejut saat Mia tiba-tiba menyapanya. Wanita muda itu kemudian membalikkan badan dan menatap Mia.
Dari tatapan matanya Nana terlihat tidak menyukai Mia, dan hal tersebut membuat selingkuhan Hartono itu tidak mengerti.
“Bukan urusanmu!” ketus Nana lalu pergi meninggalkan Mia.
Mia terkejut dengan respon yang diberikan Nana, “Ha! Berani sekali dia?!” tutur Mia kesal.
__ADS_1
Mia benar-benar kesal pada Nana, padahal dirinya tidak memiliki kesalahan apapun pada wanita itu.
“Memangnya apa yang telah kulakukan padanya? Dia seperti marah padaku..” Mia bertanya-tanya.
..
Hartono sudah berniat untuk mengabaikan Mia gara-gara cemburu. Tapi kini malah dirinya yang diabaikan oleh wanita itu sejak kedatangannya membawa kopi.
Wanita itu berwajah masam, dan terlihat sedang tidak mood. Pria itu tidak tahu apa yang membuat wanita kesayangannya terlihat kesal seperti itu.
“Kau kenapa?” tanya Hartono penasaran.
Pria itu menarik tangan Mia dengan pelan dan membawa wanita itu agar duduk dalam pangkuannya. Kedua telapak tangan besarnya menangkup kedua sisi wajah Mia dan membawa fokus wanita itu hanya kepadanya.
“Ada apa? Apa ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman?” tanya pria itu dengan sorot mata yang teduh.
Mia merasakan jantungnya bergetar ringan karena tatapan pria itu padanya. Ia tidak bisa mengelak, dirinya benar-benar jatuh sedalam-dalamnya pada pria itu.
Hanya dengan ditatap seperti itu saja hatinya telah meleleh. Belum lagi dengan semua perlakuan Hartono padanya.
“Tadi aku bertemu dengan Nana saat hendak membuat kopi.” Hartono mendengarkan dengan seksama saat Mia mulai berbicara.
“Terus aku bertanya padanya apa yang sedang ia lakukan, tapi Nana malah menjawab pertanyaanku dengan respon yang ketus.” ungkap Mia sambil memperlihatkan raut muka sedih miliknya.
Setelah menceritakan itu pada Hartono, Mia kemudian memeluk pria itu dan membuat kepalanya bersandar pada dada bidang sang pria. Hartono kemudian membelai punggung wanitanya, mencoba memberikan kenyamanan untuk Mia.
“Tidak perlu diambil hati, abaikan saja dia.” ucap Hartono pelan.
Mendengar itu Mia hanya bisa mengangguk singkat. Ia kira Hartono akan memberikan reaksi yang memperlihatkan kalau pria itu akan marah. tapi ternyata tidak.
Mia terlalu berekspetasi tinggi tentang itu.
**
Fabian datang ke rumah Laura untuk menginap, namun wanita itu tidak ada di sana. Ia pun mencoba menghubungi Laura namun tidak ada juga jawaban.
“Kau tidak melihat dia pergi kemana?” Fabian bertanya pada Lucy, seorang asisten rumah tangga yang bekerja untuk Laura.
Gadis itu menggeleng cepat, “Nona Laura bahkan tidak berpamitan padaku, Tuan.” jawabnya dengan muka tertekan.
Fabian menghela nafas pelan, ia memijit keningnya yang tiba-tiba saja terasa pening. Laura tidak boleh pergi tanpa memberitahunya, Fabian akan gelisah jika wanita itu pergi tanpa kabar.
“Dia bahkan tidak membawa mobil. Kemana dia sebenarnya?” tanya Fabian pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Tepat setelah kalimat tersebut terucap, tiba-tiba Laura muncul dengan keadaan kaki yang terluka.
“Sayang!”
Fabian berlari menghampiri Laura, “Apa yang terjadi padamu?!” tanyanya panik.
Laura meringis kesakitan sambil memegangi lututnya, sementara itu Lucy berlari ke belakang untuk mengambil kotak P3K.
“Aku terjatuh tadi saat mencoba mengambil kucing di atas pohon.” jawabnya sambil mencoba untuk tersenyum. Wanita itu tidak ingin kekasihnya khawatir karena luka di kakinya yang tidak seberapa ini.
Fabian berdecak pelan dan kemudian menggendong tubuh Laura tanpa permisi. Ia membawa wanita itu untuk duduk di sofa.
“Tuan, ini.” Lucy datang dengan apa yang dibutuhkan Fabian, dan pria itu menerimanya dengan cepat.
Fabian mulai membersihkan luka pada lutut kekasihnya dengan hati-hati, meski sudah sangat pelan tapi tetap saja Laura masih merasakan perih.
Laura memperhatikan wajah serius kekasihnya yang saat ini sedang meniup bekas luka pada lututnya. Ia tersenyum kecil karena merasa terharu dengan perhatian lelaki itu.
“Memangnya kucing siapa yang kamu tolong itu?” tanya Fabian.
“Kucing milik anak kecil yang tinggal di depan rumah ini.” jawab Laura.
“Ngomong-ngomong kenapa kamu kesini?” Laura bertanya hal yang membuat Fabian heran.
“Aku kemari untuk menginap di rumah kekasihku yang bernama Laura.” jawabnya terdengar jengkel.
Laura yang mendengar itu kemudian tertawa pelan. Fabian terpesona mendengar tawa wanita itu. Apalagi melihat wajah Laura yang sedang tertawa seperti itu membuat hatinya sejuk dan damai.
“Kamu cantik sekali kalau sedang tertawa seperti itu.” celetuknya membuat Laura sontak menghentikan tawanya.
Wanita itu menutup wajahnya yang sudah memerah karena merasa malu, namun Fabian dengan segera menarik kedua tangan wanita itu.
“Kenapa ditutup? Aku suka melihatnya.” ujar Fabian.
“Aku malu,” ungkap Laura.
Fabian merasa dirinya tidak salah mencintai Laura. Wanita itu benar-benar memiliki semua yang ia suka. Dirinya tidak sabar untuk mengenalkan kekasihnya itu pada kedua orang tuanya. Dan ia berharap mereka mau menerima Laura sebagai istrinya kelak.
“Sayang, apa kamu sudah siap?” tanya Fabian tiba-tiba.
Laura mengerutkan keningnya bingung, “Siap? Siap kemana?” tanya Laura.
“Siap untuk bertemu dengan kedua orang tuaku.”
__ADS_1