Belenggu Cinta Kedua

Belenggu Cinta Kedua
Bab 07


__ADS_3

Perkataan Sharon kemarin masih terngiang-ngiang di kepala Hartono. Tentang bagaimana pendapat wanita itu terhadap perselingkuhan, yang membuat dirinya kembali merenung.


Di saat-saat seperti ini dirinya memang merenungi setiap dosa-dosanya terhadap Sharon dan pernikahannya. Namun ketika ia kembali bersama Mia, menghabiskan waktu dengan wanita itu, tiba-tiba semua perasaan bersalah dan berdosa itu terasa bukan apa-apa baginya.


Dirinya terlalu melibatkan hati untuk sekedar hubungan gelap dengan Mia. Sehingga membuatnya sulit melepas wanita itu karena merasa berat dan tidak rela.


Tengah malam tadi, ketika dirinya tertidur. Mia mengirimkan sebuah pesan yang isinya kalau wanita itu sedang tidak enak badan.


Hartono dengan segenap rasa cemas untuk wanita itu lantas meninggalkan Sharon yang masih asyik terbuai dalam mimpi, lalu pergi menuju apartemen di mana kekasih gelapnya itu tinggal.


“Kau sakit apa sayang?” Hartono bertanya sarat akan cemas seraya mengusap sisi kepala Mia.


Wanita itu lantas membuka matanya perlahan, kemudian tersenyum lemah saat mendapati kehadirannya sugar daddy nya.


“Badanmu panas.” gumam pria itu setelah merasakan suhu badan Mia yang tinggi di punggung tangannya.


“Kepalaku terasa berat.” ujar Mia dengan susah payah.


Suaranya yang terdengar serak dan lemah itu membuat kekhawatiran dalam diri Hartono semakin meningkat.


Tanpa banyak bicara, Hartono segera mengangkat tubuh Mia dalam gendongannya. Ia berniat membawa wanita itu ke klinik kesehatan yang buka 24 jam.


“Mau membawaku kemana?” Mia bertanya saat sebelum tangan pria itu menyentuh gagang pintu kamarnya.


Hartono berhenti dan hanya menatap wanitanya dengan teduh, “Ke klinik.” ucapnya.


Mia menggeleng pelan, “Tidak perlu.” wanita itu menolak.


“Ini cuma demam biasa, kamu hanya perlu membeli obat demam saja di apotek.” ujarnya memberitahu pria itu.


Hartono mengangguk singkat, kemudian dirinya membawa Mia kembali ke ranjangnya dan membaringkan tubuh wanita itu dengan nyaman.


“Aku akan pergi untuk membeli obat.” ucapnya yang kemudian diangguki oleh Mia.


Setelah itu Hartono mengecup kening Mia, dan kemudian pergi meninggalkan wanita itu untuk membeli obat.


..


Tidak butuh waktu yang terlalu lama untuk membeli obat di waktu tengah malam seperti ini. Karena masih ada apotek yang buka hingga 24 jam.


Setelah mendapatkan apa yang dibutuhkan. Hartono kembali ke apartemen agar kekasihnya itu bisa segera meminum obatnya.


“Sayang, aku sudah dapatkan obatnya.” Hartono berbisik pelan seraya mencoba membangunkan wanita itu.

__ADS_1


Dan tidak lama kemudian, Mia kembali membuka kedua matanya.


“Obat ini harus diminum setelah makan. Aku membelikanmu bubur, kau makan dulu.” jelas Hartono.


Mia hanya bisa mengangguk lemah, dan kemudian mencoba untuk mendudukkan dirinya dibantu oleh Hartono. Setelah itu, Hartono menyuapi Mia bubur dengan telaten dan penuh perhatian.


Hati kecil wanita itu begitu tersentuh dengan semua perhatian yang diberikan Hartono padanya. mungkin jika tidak ada pria itu, Mia hanya bisa merawat dirinya seorang diri seperti tahun-tahun sebelumnya.


Tanpa sadar hal itu membuat air matanya luruh begitu saja. Ia merasa bersyukur karena dipertemukan dengan Hartono meski dalam keadaan yang tidak tepat. hingga membuat keduanya terlibat ke dalam hubungan terlarang.


“Kenapa menangis?” tanya pria itu lembut sambil berusaha menghapus air mata Mia menggunakan ibu jarinya.


Mia tersenyum pelan dan kemudian menggelengkan kepalanya, “Kalau sedang demam tinggi memang suka seperti ini. Tiba-tiba air mata keluar karena kedua mataku perih.” ucap Mia berbohong.


**


Mia terbangun setelah pendengarannya terusik oleh suara dering panggilan yang masuk ke dalam ponsel Hartono. Wanita itu terdiam sejenak guna mengumpulkan seluruh kesadarannya yang tercerai berai saat mengarungi alam mimpi.


Lalu setelah itu Mia berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan posesif Hartono sejak dini hari tadi. Ia tersenyum kecil saat mendengar dengkuran halus keluar dari mulut pria itu. sepertinya Hartono benar-benar kelelahan gara-gara terjaga karena mengawasi kondisinya.


Mia menghadiahi pria itu sebuah kecupan di pipinya, lalu bergerak untuk mengambil ponsel pria itu yang tergeletak di atas nakas.


Ternyata tadi itu panggilan telepon dari istri Hartono, dan ada juga beberapa panggilan serta pesan dari Fabian. Mia hanya mengintip lewat tampilan notifikasi, ia sama sekali tidak berani untuk membukanya karena menyangkut privasi.


Katanya metode itu cukup bagus diterapkan saat tubuh terkena demam tinggi.


“Sayang—” Mia mengguncang tubuh Hartono dengan pelan berniat untuk membangunkan pria itu.


Dan pria itu benar-benar terbangun karenanya.


“Ada apa?”


“Apa kau merasakan sakit lagi?” tanya pria itu dengan nada cemas.


Mia tersenyum tipis dan kemudian menggeleng cepat.


“Aku sudah jauh lebih baik.” jawabnya.


Hartono kemudian bangkit dan duduk di depan Mia. Ia menempelkan keningnya pada kening wanita itu agar bisa memastikan apakah demamnya turun atau belum.


Mia terkekeh pelan dengan perilaku pria itu yang mengingatkan dirinya pada salah satu scene yang sering ada dalam anime bergenre romansa.


“Syukurlah, panasnya telah turun.” ucap pria itu lega.

__ADS_1


“Tadi istri dan anakmu menelepon. Aku membangunkanmu karena takutnya itu merupakan panggilan penting.” Mia menjelaskan maksudnya membangunkan Hartono dari tidur lelapnya.


Pria itu terdiam beberapa saat. Fabian pasti meneleponnya karena masalah rapat yang akan diadakan hari ini.


“Jam berapa sekarang?” tanya Hartono sementara kedua matanya mulai fokus menatap dada Mia yang tidak terlindungi apapun.


“Jam 8.” jawab wanita itu.


Masih ada waktu setengah jam lagi untuk rapat diadakan. Pria itu kemudian mengambil ponselnya dari tangan Mia dan mencoba menghubungi putranya.


Hartono mengabari Fabian kalau dirinya akan datang memimpin rapat nanti dan sekaligus menyuruh putranya untuk tidak terlalu khawatir.


Mia mendengarkan pembicaraan sugar Daddy dan anaknya dengan seksama. Dari sana dirinya bisa menyimpulkan kalau Hartono akan pergi ke kantor dan meninggalkannya.


Setelah menutup panggilan teleponnya, Hartono kembali menatap Mia dengan raut sesal.


“Sayang, maafkan aku karena terpaksa harus meninggalkanmu di saat seperti ini.” pria itu berkata sementara kedua tangannya bersemayam di kedua sisi wajah milik Mia.


“Aku janji setelah rapat selesai, aku akan kembali kesini.” ujarnya.


Mia tersenyum tipis, lalu menurunkan sebelah telapak tangan Hartono yang tadi berada di sisi wajahnya. Ia mencium telapak tangan pria itu hingga beberapa kali.


“Jangan cemaskan aku. aku sudah baik-baik saja sekarang dan aku bisa menjaga diri dengan baik.” Mia membalas dengan senyum manis di wajahnya.


Jelas sekali wanita itu tidak ingin Hartono terlalu mengkhawatirkan dirinya.


Hartono merasa lega saat mendengarnya. Ia merasa bersyukur karena Mia bukan tipe wanita yang manja dan hobi merengek. wanita itu benar-benar pengertian dan sangat mengerti situasi yang dialaminya saat ini.


“Aku mencintaimu.” bisik Hartono tanpa sadar membuat Mia membeku seketika.


Pria itu kemudian mencium bibir Mia dengan gerakan lembut dan penuh perasaan. ciuman yang seketika membuat Mia melupakan ucapan Hartono barusan.


“Jika saja tidak sedang terburu-buru, aku ingin sekali bermain sebentar dengan ini.” pria itu berucap setelah berhasil meremas pelan dada Mia.


Wanita itu lantas tertawa pelan dan kemudian mendorong tubuh Hartono menjauh.


“Sana mandi! Dasar cabul!” titah Mia yang hanya dibalas seringai tipis oleh pria itu.


Hartono kemudian bergegas memasuki kamar mandi dan barulah Mia kembali teringat akan perkataan pria itu barusan.


“Dia bilang dia mencintaiku?”


Mia tidak bisa menahan rasa bahagia yang membuncah dari dalam hatinya karena pengakuan pria itu. Entah Hartono sadar atau tidak saat mengucapkannya, Mia tidak peduli. Yang penting dirinya sudah mendengar pengakuan pria itu secara langsung.

__ADS_1


__ADS_2