
“Kita akan menikah, namun tidak benar-benar menikah.” Haru mengungkapkan maksud dari ajakannya tadi pada Mia.
“Maksudnya?” Mia masih tidak mengerti.
“Kita akan menikah pura-pura.” ujar Haru di mana kali ini perkataan lelaki itu dapat dimengerti oleh Mia.
“Aku memiliki seseorang yang kusukai,”
“Lalu kenapa tidak menikah dengannya?” tanya Mia memotong pembicaraan Haru.
Lelaki itu terdiam beberapa saat, ia sedikit ragu untuk mengatakan masalahnya pada Mia. bagaimana pun Haru belum mengenal wanita itu lebih dalam, takutnya bercerita pada Mia justru akan menjadi boomerang baginya.
“Aku memiliki alasan yang tidak bisa kuutarakan padamu.” balas Haru menjawab pertanyaan Mia.
Mia mengangguk singkat, ia memang tidak perlu mencari tahu sesuatu yang bukan urusannya.
“Jadi apa saja yang harus kulakukan saat menjadi istri pura-puramu?” bagaimana pun Mia harus tahu apa pekerjaannya saat menjalani pernikahan pura-pura bersama Haru.
Mendengar itu Haru sontak tersenyum. Ia senang dengan sikap Mia yang mudah diajak kerja sama itu.
“Kau hanya perlu berperan sebagai istriku saat nanti kita bertemu dengan Ibuku, di Jepang.”
Haru masih memiliki seorang Ibu yang menetap di Jepang karena memang di sana lah tempat ibunya berasal. Dan wanita paruh baya yang sering sakit-sakitan itu selalu menyuruhnya untuk cepat menikah.
Mia terdiam mendengarkannya. Ia mungkin dapat menyimpulkan kalau Haru hanya ingin membuat dirinya seperti istri lelaki itu saat di depan khalayak umum. Mia tidak masalah dengan itu, ia berpikir kalau pekerjaan tersebut tidak terlalu sulit.
“Meski kau hanya berpura-pura menjadi istriku, aku tetap akan memenuhi semua kebutuhanmu selama kau menjalankan tugas tersebut. Bahkan aku akan memberikan uang tambahan tiap bulannya untukmu.” ujar Haru.
Mia menggeleng pelan, “Tidak perlu membayarku. Kau mau memenuhi tiap kebutuhan hidupku sehari-hari saja itu sudah cukup.” balas Mia.
Haru menatap Mia dalam diam, ia kini benar-benar merasa kalau wanita itu sangat tepat untuk menjadi istri pura-puranya.
“Dan satu lagi permintaan dariku,”
“Apa Itu?” tanya Mia penasaran.
“Aku tidak ingin kau melibatkan perasaanmu saat menjadi istriku. Dan sebagai gantinya kau bebas menjalin hubungan dengan siapapun.” tutur Haru membuat Mia terdiam.
Wanita itu memalingkan wajahnya ke samping, “Kau tenang saja. Aku sudah tidak bisa mencintai siapapun lagi.” jawab Mia.
__ADS_1
Karena semua perasaan cintanya telah habis diberikan pada Hartono, pria yang telah mematahkan hatinya.
..
Mia memasuki apartemen pemberian Hartono dengan perasaan yang tidak karuan. Setiap dirinya melangkah semakin jauh ke dalam, maka tiap kenangan manis antara dirinya dengan pria itu kembali terlihat.
Ia baru sadar kalau dirinya terlalu dalam mencintai Hartono hingga rasanya ketika ia jatuh karena harapan yang terputus, dirinya tidak sanggup untuk berdiri lagi.
Esok hari dirinya akan pergi bersama Haru ke Jepang. Mengunjungi Ibu lelaki itu sekaligus mengenalkan dirinya sebagai istrinya Haru pada wanita itu.
Maka dari itu sebelum dirinya benar-benar pergi meninggalkan negara ini, Mia memutuskan untuk mengunjungi apartemen penuh kenangannya dengan Hartono.
Ia perlu mengingat dan merekam setiap kejadian yang pernah terlewati oleh keduanya di apartemen tersebut untuk ia ingat di kemudian hari.
“Rasanya sulit untuk tidak merindukannya.” ucap Mia sambil menatap sofa hitam panjang yang teronggok di ruang tamu.
Ia masih dapat mengingat dengan jelas kilasan balik dirinya saat melakukan percintaan di atas sofa itu.
Setelah puas memandangi sofa tersebut, Mia kembali mengayunkan langkahnya untuk memasuki kamar. Ia berniat untuk mengambil satu pakaian milik Hartono yang tertinggal di lemari kamarnya.
Namun ketika dirinya berhasil membuka daun pintu kamarnya, ia terkejut mendapati keberadaan pria itu yang tertidur di atas ranjangnya.
Pria itu tertidur dengan tangan kiri yang menutupi dahinya. bukan posisi tidur pria itu yang membuat fokusnya tercuri, tapi apa yang pria itu pegang di tangannya lah yang membuat Mia sontak terpukul saat melihatnya.
Hartono menggenggam liontin miliknya yang memang tertinggal di apartemen.
“Apa kamu juga merindukanku?” Mia berbisik pelan sambil beruraian air mata.
“Apa kamu juga tersiksa dengan perpisahan kita?”
Mia benar-benar tidak bisa menarik kembali air matanya yang telah jatuh menetes. Padahal ia sudah berjanji untuk tidak menangis karena memikirkan Hartono maupun kandasnya hubungan mereka.
Tapi pertahanannya runtuh seketika tatkala ia melihat pria itu yang juga sama rapuhnya seperti dirinya.
Wanita itu bergerak semakin dekat dengan Hartono, kemudian dirinya memandangi wajah tegas milik pria itu. Muncul dorongan dari hati untuk Mia mencium Hartono, namun akal sehatnya jelas menentang itu. Mia tidak ingin Hartono terbangun dan menyadari keberadaannya di sini.
“Ini adalah pertemuan kita yang terakhir. Aku harap kita tidak akan pernah dipertemukan lagi di masa depan.” tutur Mia terdengar lirih.
“Selamat tinggal, dan terima kasih untuk semuanya.” ujarnya lalu pergi meninggalkan kamar tersebut sebelum Hartono benar-benar terbangun.
__ADS_1
Kemudian tepat setelah kepergian Mia, Hartono terbangun dari tidur lelapnya.
Pria itu menatap sekeliling kamar mencari keberadaan wanita yang dicintainya. Ia barusan bermimpi jika Mia datang mengunjungi dirinya.
“Mia, kau ada di sini?” ia berteriak mencari keberadaan wanita itu sambil menggenggam kalung liontin milik Mia.
“Aku tahu kau datang untuk menemuiku. Aroma tubuhmu masih tertinggal di kamar ini.”
Hartono mulai mencari keberadaan wanita itu mulai dari memeriksa kamar mandi, hingga ke ruangan lainnya. Namun ia tidak menemukan keberadaan wanita itu.
“Setidaknya biarkan aku melihatmu, dan meminta maaf padamu.”
“Mia, aku benar-benar minta maaf.” lirihnya terdengar pilu.
Hatinya hancur ikut tergerus rasa bersalah serta penyesalan yang selalu muncul di akhir. Andai waktu bisa terulang kembali, mungkin dirinya lebih baik memendam perasaan cinta terlarangnya pada Mia. Agar tidak ada yang tersakiti, baik Sharon maupun Mia.
Dan kini dirinya justru menghancurkan hati kedua wanita itu secara sadar.
**
Haru tidak tahu apa yang sebenarnya menimpa Mia. Wanita itu baru saja pulang setelah berpamitan padanya untuk mengambil sesuatu.
Tapi Mia pulang dalam keadaan mata yang telah sembab layaknya habis menangis. Ia ingin bertanya namun canggung dan segan yang dirasakannya membuat dirinya kehilangan keberanian.
“Kau tidak perlu memikirkan apapun untuk persiapan keberangkatan kita besok.” Haru berkata memecah keheningan antara dirinya dan Mia.
“Aku sudah mengurusnya.” lanjut Haru.
“Seberapa lama aku akan tinggal di sana?” tiba-tiba Mia melontarkan pertanyaan pada Haru.
Wanita itu menatapnya dengan tajam namun pandangannya terasa kosong.
“Mungkin akan cukup lama.” Haru sendiri tidak yakin tentang jawabannya.
Karena dirinya memang belum bisa memastikan akan seberapa lama mereka tinggal di Jepang.
Mia memejamkan matanya menahan rasa sesak yang kembali menyerang dadanya.
“Aku harap kita cukup lama berada di sana.” ujar wanita itu membuat Haru kebingungan.
__ADS_1
“Karena aku benar-benar ingin pergi dari sini dan tidak ingin kembali lagi ke sini.” lanjutnya.