
“Kau pintar memilih seorang istri.” Nana berbisik pada Haru atas kekagumannya terhadap Mia.
Sekali lagi Mia dengan mudahnya mengambil hati orang lain dengan semua keahliannya terutama di bidang memasak. Wanita itu menyajikan berbagai macam lauk khas Negaranya yang sepertinya sesuai dengan lidah Nana.
Haru tersenyum tipis menanggapi perkataan ibunya. Ia juga tidak menyangka kalau Mia merupakan wanita yang pandai memasak.
“Ya, aku cukup beruntung bisa mendapatkannya.” balas Haru.
“Hei, kata cukup rasanya terdengar seperti kau tidak puas. bukankah seharusnya kau sangat beruntung?” wanita itu menimpali perkataan putranya dengan niat bercanda.
Haru yang mendengar itu kemudian tertawa pelan. Ia membuka mulutnya untuk membalas perkataan sang ibu, namun kedatangan Mia ke meja makan membuatnya menahan diri.
“Kau sudah selesai, sayang?” Nana bertanya.
Mia tersenyum tipis lalu mengangguk singkat, “Sudah, Bu.”
Mendengar itu Haru mulai memimpin doa sebelum mereka menyantap hidangan dan menikmati berkah yang diberikan Tuhan kepadanya.
Setelah selesai berdoa, mereka semua langsung menyantap makanan yang dimasak oleh Mia.
Ibu dan anak itu terlihat menikmati masakan Mia yang ternyata memang sangat cocok di lidah keduanya. Berbeda dengan Mia sendiri yang justru melamun sambil menatap hasil masakannya.
Wanita itu kembali teringat pada Hartono, di mana pria itu selalu lahap menyantap makanan yang ia buat.
Keduanya matanya terpejam sesaat untuk menyingkirkan segala ingatannya tentang pria itu. Tidak ada gunanya perasaan rindu ini karena hubungan mereka benar-benar telah usai.
“Kenapa kau diam saja?” Haru mengintrupsi lamunan Mia. Lelaki itu merasa heran karena istri pura-puranya itu terlihat tidak menyentuh makanannya.
Nana yang mendengar itu kemudian ikut memperhatikan menantunya. Ia juga bertanya-tanya sama halnya dengan Haru.
“Aku merasa kurang bernafsu untuk makan.” jawab Mia mencoba jujur.
Karena sejak beberapa hari yang lalu dirinya memang merasa tidak fit seperti biasanya.
Haru yang mendengar itu tentu saja cemas. Walau pernikahan keduanya tidak benar-benar terjadi, tapi dirinya tetap harus bertanggung jawab pada Mia.
“Mungkin Mia masih belum beradaptasi sepenuhnya dengan suasana di sini, dan Ibu rasa itu hal yang wajar.”
Nana mencoba untuk berpendapat. Bagaimana pun dirinya pernah mengalami hal serupa seperti Mia saat ia menikah dengan ayahnya Haru dulu.
“Mungkin Ibu benar.” balas Mia.
__ADS_1
“Kau tidak perlu terlalu cemas, Haru.” lanjutnya sambil menatap Haru.
“Meski begitu kau harus tetap makan, aku tidak ingin istriku sakit.” ucap Haru membuat Mia terdiam.
..
Mia memperhatikan pantulan tubuhnya yang setengah telanjang di depan cermin. Ia meraba area dadanya dan merasakan ada sedikit perubahan di bagian tersebut.
Kemudian tangannya menyentuh bagian tulang selangka miliknya. Area tersebut adalah kesukaan Hartono. Pria itu sering meninggalkan tanda kepemilikan di bagian itu.
Mia menghela nafas lelah. rasa-rasanya ia menjadi lebih sering mengingat pria itu. apapun yang sedang ia lakukan, pikirannya selalu tertuju pada pria yang merampas semua cinta miliknya.
Memang benar kata sebagian orang, semakin dirimu berusaha melupakan seseorang yang telah menorehkan banyak rasa dan luka di hatimu, maka hasilnya justru semakin sulit.
“Aku tidak bisa terus-terusan seperti ini.” ujar Mia lalu bergegas memakai branya.
Namun saat dirinya melakukan itu, tiba-tiba Haru membuka pintu kamar mereka dan tidak sengaja melihat bagian belakang tubuh Mia yang tidak terlindungi apapun.
Baik Haru maupun Mia, keduanya sama-sama terkejut. Haru langsung saja memalingkan wajahnya ke belakang sementara Mia dengan santainya melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda tadi.
“Maaf, seharusnya aku mengetuk pintu terlebih dahulu.” Haru merasa malu dan tidak enak pada Mia. Ia sangat takut kalau wanita itu beranggapan yang tidak-tidak tentang dirinya.
Wanita itu kemudian berjalan mengitari ranjang dan duduk di atas sofa. Sementara Haru masih berdiri di dekat pintu dengan tubuh yang masih kaku.
“Sampai kapan kau akan berdiri di sana?” Mia berujar datar, Haru yang mendengar itu kemudian mulai bergerak untuk melanjutkan langkah kakinya yang tadi terhenti.
Lelaki itu mendekati lemari untuk mengambil baju, ia kemudian menoleh pada Mia dengan perasaan canggung serta ragu.
“Mia, malam ini aku akan pergi menemui seseorang. Kau tidak masalah kan?”
Meski hubungan pernikahan mereka hanya sandiwara semata, tapi Haru tetap meminta pendapat Mia ataupun izin dari wanita itu semata-mata untuk menghargainya.
“Pergilah, aku tidak masalah.” jawab Mia sambil menatap Haru.
“Lagi pula kita tidak berhak mencampuri urusan pribadi masing-masing. bukankah begitu, Haru?”
Haru tersenyum tipis mendengarnya, “Ya, kau benar.”
“Urusan pribadi kita tidak ada hubungannya dengan pernikahan ini.”
**
__ADS_1
Sharon sudah mulai bisa berdamai dengan keadaan. Meski sikapnya pada Laura masih terlampau dingin dan ketus, tapi wanita itu sudah menerima Laura sebagai anggota baru di keluarganya.
Dan malam ini adalah perayaan ulang tahun pernikahannya dengan Hartono yang sekaligus mengumumkan bahwa putra semata wayangnya telah menikah.
“Kenapa wajahmu seperti itu?” Hartono berbisik pelan pada istrinya di sela-sela kegiatan mereka dalam menyambut tamu.
“Harusnya kau bahagia bukan? Ini perayaan ulang tahun pernikahan kita yang ke-30.” meski sempat tertunda gara-gara semua permasalahan yang menimpa keduanya secara bersamaan, pada akhirnya ia dan Sharon dapat menggelar acara perayaan ini.
“Aku bahagia, dan juga kesal.” Sharon membalas pelan sementara bibirnya sedari tadi tidak henti-hentinya menebar senyum pada kerabat dan rekan bisnisnya.
“Kau tidak dengar? Banyak tamu yang memuji kecantikan Laura.” tutur Sharon sontak saja membuat Hartono tertawa pelan.
Pria itu kemudian menarik pinggang istrinya dan tanpa ragu mengecup sisi wajah wanita itu di depan banyak orang.
“Itu artinya kau harus bangga karena memiliki menantu yang sangat cantik.” ujarnya berniat menggoda Sharon.
Sharon semakin kesal mendengar ucapan Hartono, ia pun mencubit pinggang pria itu demi menyalurkan rasa kesalnya.
Kemesraan yang ditunjukkan oleh pasangan itu membuat banyak tamu undangan merasa iri sekaligus kagum. Sangat jarang sekali melihat pasangan yang telah menikah puluhan tahun masih bisa menunjukkan besarnya cinta masing-masing.
Moment kebersamaan Hartono dan Sharon harus rela terusik oleh kedatangan seseorang yang cukup membuat Hartono tidak nyaman.
Karena orang itu adalah Bramantyo, seseorang yang memberinya jalan untuk melakukan perselingkuhan dengan Mia.
“Selamat untuk pernikahan kalian berdua. Aku tidak menyangka hubungan kalian masih baik-baik saja sampai sekarang.” Bramantyo menjabat tangan Hartono seraya mengeluarkan kalimat yang justru membuat Sharon seketika meliriknya tajam.
“Ucapanmu barusan sangat tidak nyaman untuk didengar.” Sharon membalas perkataan Bramantyo dengan nada tajam.
“Kau terdengar seperti mengharapkan pernikahan kami tidak baik-baik saja.” lanjut Sharon membuat pria yang dipenuhi uban itu tertawa.
Hartono terdiam sambil menatap tajam pada Bramantyo. Kentara sekali rekan bisnisnya itu mengetahui kalau Hartono menjalani hubungan perselingkuhan dengan Mia.
“Maaf jika perkataanku barusan membuat kalian tersinggung.” tutur Bramantyo pura-pura menyesal.
Pria itu kemudian melirik Hartono penuh arti, “Oh ya, kau sudah menemukan alamat wanita itu?”
“Karena terakhir kali kita bertemu kau sangat frustrasi lantaran tidak bisa menemukan keberadaannya.”
Sharon yang mendengar itu langsung saja menoleh pada suaminya. Ia melayangkan tatapan mata yang sangat tajam, dan berhasil membuat Hartono terdiam membeku di tempatnya.
“Jelaskan padaku, apa maksud perkataannya?!”
__ADS_1