Belenggu Cinta Kedua

Belenggu Cinta Kedua
Bab 08


__ADS_3

“Ayah kemana saja?” Fabian menghampiri Hartono setelah rapat yang dipimpin pria itu telah selesai.


“Ibu bilang Ayah tiba-tiba menghilang tengah malam tadi.” ungkap lelaki itu sambil menatap penuh selidik pada ayahnya.


Ditatap seperti itu oleh putranya membuat Hartono sedikit terintimidasi. Fabian mewarisi mata hitam yang tajam seperti miliknya, dan terkadang hal itu membuatnya terguncang rasa takut.


Hartono memaksa otaknya berputar dengan keras guna mencari alasan yang masuk akal untuk diberikan pada putranya. Meski rasa panik menyelimuti dirinya, namun pria itu berusaha untuk tetap bersikap tenang agar tidak menambah kecurigaan Fabian.


“Semalam Ayah pergi menjemput anak dari almarhum teman Ayah.” Hartono menjawab pertanyaan Fabian setelah berpikir keras.


Fabian terkejut mendengarnya, “Anak teman ayah yang mana?” tanya lelaki itu penasaran.


Fabian mengenal beberapa anak dari teman ayahnya, dan mungkin saja kali ini ia juga tahu siapa orang itu.


“Kau belum pernah bertemu dengannya, Nak.” ucap Hartono dengan tenang.


“Sebenarnya Ayah juga baru bertemu dengannya semalam. Teman masa muda ayah menghubungi beberapa hari yang lalu sebelum beliau meninggal.”


Fabian mendengarkan penjelasan Ayahnya dengan seksama, sambil menatap pria itu serius.


“Dan beliau menitipkan putrinya pada ayah.” ucap Hartono selanjutnya.


Hartono benar-benar terpaksa memberikan alasan seperti itu. Karena dirinya tidak tahu harus memberi alasan seperti apa pada Fabian.


“Dia perempuan?” tanya Fabian terkejut. Dan Hartono tidak memiliki jawaban lain selain mengangguk singkat.


“Lalu sekarang dia di mana?” tanya Fabian lagi.


Lelaki itu sejujurnya sulit untuk mempercayai apa yang dikatakan ayahnya. Namun untuk saat ini dirinya memilih mempercayai perkataan pria itu.


“Dia masih di hotel. Ayah belum bisa membawanya ke rumah karena Ibumu belum mengetahui ini.” jelas pria itu membuat Fabian menghela nafas.


..


“Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?”


Sharon tidak habis pikir saat mendengar cerita suaminya perihal anak dari teman pria itu. Bisa-bisanya Hartono meminta izin padanya untuk merawat seorang wanita muda.


“Sayang, aku baru mendapatkan kabarnya juga beberapa hari yang lalu.” ujar Hartono dengan semua kebohongannya.


“Sore kemarin teman masa mudaku itu meninggal dunia. Maka dari itu semalam aku pergi untuk menjemput Mia langsung ke Yogyakarta.”


Hartono merasa dirinya semakin gila karena menciptakan drama baru penuh kebohongan guna menutupi perselingkuhannya.

__ADS_1


Sharon memijit keningnya yang terasa sakit gara-gara mendengar kabar tersebut. Ia tidak tahu harus menyikapinya seperti apa karena situasi seperti ini sama sekali tidak terduga.


“Sekarang aku harus bagaimana, Suamiku?” tanya Sharon terdengar frustrasi.


Hartono terdiam tanpa melepas pandangannya dari Sharon, ia ragu untuk mengungkapkan maksud tujuannya. Tapi semua sudah terlanjur menjadi seperti ini.


“Izinkan Mia tinggal bersama kita.” jawab Hartono dengan sorot mata memohon.


“Aku pernah memiliki hutang budi pada Julian, dan sekarang aku ingin membalas budi dengan merawat putrinya.” ujarnya lagi.


Sharon menghela nafas, sebenarnya ia tidak masalah jika harus menampung satu orang lagi di mansion besarnya ini. Hanya saja Mia adalah seorang wanita muda, ia takut kehadiran wanita akan membawa masalah bagi rumah tangganya di masa depan.


“Dia sudah tidak memiliki siapapun di dunia ini, sayang. Aku benar-benar kasihan padanya.” Hartono kembali berbicara demi meyakinkan istrinya.


Sharon, walau wanita itu terlihat angkuh dari penampilannya. Namun istrinya itu sebenarnya orang yang mudah iba pada orang lain.


“Aku tidak bisa memberikan keputusan saat ini. Setidaknya pertemukan aku dengannya terlebih dahulu.”


**


Sesuai janjinya pada Mia, Hartono kembali ke apartemen setelah pertemuannya dengan Sharon selesai. Saat ia sampai di sana, dirinya di sambut oleh wanita itu yang kebetulan sekali baru selesai mandi.


Hartono menghampiri Mia dalam balutan bathrobe nya, lalu memeluk wanita itu untuk mengendus aroma segar yang menguar dari tubuh Mia.


“Aku mandi air hangat, jadi tidak apa-apa.” jawab Mia bersusah payah karena ucapannya yang keluar hampir bercampur dengan ******* kecil gara-gara tindakan Hartono.


“Keadaan tubuhku sudah jauh lebih baik karena mendapat perawatan intensif darimu.” ujar Mia lagi.


Hartono tersenyum kecil mendengarnya. Padahal niatnya selain untuk mengetahui bagaimana keadaan Mia, ia juga memiliki niatan lain yaitu membicarakan perihal drama yang dibuatnya pada Mia.


Tapi karena Mia menyambutnya dengan pemandangan indah seperti ini, ia jadi tergoda untuk bermanja-manja sebentar.


“Cepat kenakan pakaianmu sebelum aku memakan tubuhmu yang seksi ini.” ujar pria itu mengundang gelak tawa Mia.


Mia kemudian pergi menuju walk in closet dan meninggalkan Hartono yang memilih duduk di atas sofa kamar wanita itu.


Gara-gara drama yang ia buat tadi, dirinya harus segera mempersiapkan segala hal baru tentang identitas Mia. Hartono menyuruh orang kepercayaannya untuk melakukan pekerjaan tersebut. Sedangkan dirinya hanya perlu duduk santai dan menunggu hasil.


Memang benar kata sebagian banyak orang, semua akan terasa mudah jika memiliki uang banyak.


Beberapa saat kemudian Mia keluar dari ruang penyimpanan pakaian dan aksesoris. Wanita itu lantas bergerak menghampiri sugar Daddy nya, dan tanpa ragu duduk di atas pangkuan pria itu.


Hartono melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Mia, sesekali dirinya meremas bokong wanita itu dengan lembut.

__ADS_1


“Kau sudah makan, sayang?” tanya Hartono sambil menatap teduh pada Mia.


Wanita itu mengangguk cepat, “Aku juga sudah meminum obatnya.” balasnya terdengar manis.


“Bagus. Kau harus cepat sembuh, aku benar-benar khawatir melihatmu tidak berdaya seperti semalam.” ucap Hartono membuat Mia terharu.


Wanita itu lantas memeluk tubuh prianya dan menjatuhkan kepalanya di atas bahu pria itu.


“Aku merasa beruntung karena memilikimu.” ujar Mia.


“Aku tidak menyesal meski hubungan kita terjalin seperti ini.” ungkap wanita itu lagi.


Hartono menyetujui pernyataan dari Mia barusan. Dirinya pun tidak menyesal Pertemuannya dengan Mia, maupun hubungan gelapnya dengan wanita itu.


“Aku juga merasakan hal yang sama sepertimu, sayang.” bisik Hartono membalas perkataan Mia.


Wanita itu bahagia atas balasan yang keluar dari mulut Hartono. Itu artinya bukan hanya dirinya saja yang merasa bahagia atas pertemuan mereka.


Hartono melepaskan tubuh Mia secara perlahan dari pelukannya. Kemudian dirinya memagut bibir wanita itu dan membawanya ke dalam ciuman manis nan memabukkan.


Selain itu tangannya mulai bergeriliya menyusuri lekuk tubuh wanita itu. Ia memberinya remasan-remasan pelan yang membuat Mia melenguh nikmat.


“Aku tidak akan menyentuhmu saat ini.” ucap Hartono setelah berhasil mengakhiri ciumannya dengan Mia.


“Kenapa?” tanya wanita itu seduktif.


Hartono tidak menjawab, pria itu malah asyik mengusap lembut surai halus milik Mia.


“Karena kamu belum sembuh benar, sayang.” jawabnya.


Mia senang atas kepedulian Hartono padanya. Pria itu tidak egois dalam memaksakan hasratnya, meski Mia sendiri sadar kalau milik pria itu sudah sangat siap untuk menghujam bagian bawah tubuhnya. Hartono lebih memilih menahan diri karena kekhawatiran akan kondisinya saat ini.


“Aku punya sesuatu yang ingin kubicarakan padamu.” ucap Hartono dengan raut wajah yang serius.


“Apa itu?” entah kenapa Mia merasa tidak nyaman dengan tatapan mata pria itu yang tiba-tiba serius seperti ini.


“Aku ingin kau mempersiapkan diri.” Mia mengernyitkan keningnya tidak mengerti.


“Mempersiapkan diri untuk apa?” tanyanya.


Hartono terdiam sejenak dan sukses membuat Mia waspada karenanya.


“Untuk bertemu dengan Istri dan anakku.”

__ADS_1


__ADS_2