Belenggu Cinta Kedua

Belenggu Cinta Kedua
41


__ADS_3

“Ibu sarapan dulu ya...” ucap Laura pada Sharon.


Laura membantu ibu mertuanya untuk duduk tanpa perlu wanita itu beranjak dari tempat tidurnya. Sharon menurut, wanita itu membiarkan Laura membantu dirinya duduk.


Saat melihat wajah menantunya ini, Sharon kembali merasa bersalah atas sikapnya di masa lalu. Ia dengan bodohnya menolak Laura sebagai calon istri Fabian, dan malah berusaha untuk membuat Mia menjadi menantunya.


Dan sekarang ia sangat bersyukur wanita ular itu gagal menjadi menantunya. Sharon tidak bisa membayangkan jika hal itu sampai terjadi. Mia bukan hanya mengkhianati dirinya, wanita itu juga bisa saja mengkhianati putranya.


“Ini enak sekali.” Sharon memuji dengan tulus bubur yang baru saja masuk ke dalam mulutnya.


Laura tersenyum senang, “Itu aku yang membuatnya, Bu. Aku dapat resepnya dari internet.” balas Laura tanpa menyembunyikan rasa senangnya.


Sharon merasa tersentuh dengan bakti Laura sebagai seorang menantu. Wanita itu makin hari makin berkembang saja, padahal dirinya masih ingat kalau Laura tidak pernah memasak sebelumnya.


“Tapi ini beneran enak. Ibu sangat menyukainya.”


“Terima kasih ya, sayang.” ucap Sharon.


Laura mengangguk senang. Pada akhirnya ia benar-benar bisa mengambil hati ibu mertuanya, dan Laura berjanji tidak akan mengecewakan wanita itu.


Ibu mertuanya sudah sangat tersakiti gara-gara pengkhianatan ayah mertuanya juga Mia, dan Laura tidak akan membiarkan Ibu mertuanya kembali merasakan sakit.


Interaksi manis antara menantu dan Ibu mertua itu harus rela terganggu oleh kedatangan dokter dan asistennya.


Sharon menatap dokter yang berbeda dari yang memeriksanya kemarin itu dengan raut muka kebingungan.


“Selamat pagi, Bu.” dokter bernama Mahendra itu menyapa ramah pada pasien dan keluarga pasien.


“Pagi juga, dokter.” Laura menjawab pelan.


“Permisi, saya izin untuk memeriksa pasien.” ucap Mahendra sebelum benar-benar mendekati Sharon dan mulai memeriksa kondisinya.


Pria itu melirik pasiennya sekilas, lalu memeriksa data-data pasien melalu tabel yang dibawa oleh asistennya.


Mahendra cukup terkejut mengetahui usia Sharon yang ternyata lebih tua dari dugaannya. Ia mengira kalau wanita itu masih berusia 38 tahun, tapi siapa yang menyangka kalau ternyata wanita itu telah berusia 48 tahun.


“Kondisi Ibu sudah cukup stabil ya, Bu. Mungkin sore hari ini Ibu sudah bisa pulang.” Mahendra menjelaskan dengan ramah.


Sharon hanya diam mendengarkan, sama halnya dengan Laura. Meski setelah mendengar penjelasan dokter, Laura mengajukan beberapa pertanyaan seputar kondisi ibu mertuanya.


“Lekas sembuh ya, Bu Sharon.” ucap dokter itu sambil menatap pasiennya.

__ADS_1


“Terima kasih, Pak Dokter.” Laura berujar pelan yang kemudian dibalas senyuman tipis oleh Mahendra.


Pria itu beserta asistennya lalu pergi meninggalkan ruang inap yang ditempati oleh Sharon.


Laura tersenyum tipis setelah kepergian dokter tersebut, ia kemudian menatap Ibu mertuanya dengan penuh arti.


“Sepertinya Dokter barusan terkejut saat mengetahui usia ibu yang sebenarnya.” tutur Laura sambil cekikikan.


Sharon terkekeh pelan mendengarnya, “Dia pasti terkejut kalau muka Ibu jauh lebih tua dibandingkan umur Ibu. Iya kan?”


Laura menggeleng cepat, “Aku rasa justru sebaliknya.”


“Dulu waktu aku pertama kali bertemu dengan Ibu, aku sempat mengira usia Ibu belum ada 40 tahun.” ungkapnya jujur.


“Ibu benar-benar cantik dan awet muda.” tuturnya lagi membuat Sharon tertawa pelan.


“Kau ini ada-ada saja.” ujar Sharon.


“Tapi dokter barusan ganteng ya, Bu?” tanya Laura yang kemudian langsung mendapat cubitan kecil dari Sharon.


Sharon merasa keberadaan Laura saat ini mampu menghibur dirinya dari lara hati yang dirasakannya. Ia bahkan sudah bisa tersenyum dan tertawa kecil mendengar ocehan menantunya itu.


**


Fabian memberitahunya kalau wanita itu sudah boleh pulang sore nanti. Meski seharusnya itu termasuk kabar baik, tapi tetap saja ia masih cemas.


Sejujurnya Hartono ingin menjenguk Sharon, tapi wanita itu pasti tidak mau ditemui oleh dirinya lagi. seperti saat kemarin wanita itu mengusirnya tanpa ragu.


Pria itu menyugar rambutnya ke belakang, “Tapi aku penasaran jika tidak melihatnya secara langsung.” gumamnya sambil berpikir.


“Mungkin ada baiknya aku kembali menjenguk Sharon.” ucapnya.


Dan pada akhirnya Hartono memutuskan untuk kembali menemui Sharon di rumah sakit. Namun baru juga ia beranjak dari kursi kehormatannya, tiba-tiba ponselnya yang berada di dalam saku jasnya berdering.


Hartono mengambil ponselnya dengan segera, dan rupanya itu panggilan telepon dari Mia.


Tanpa berpikir panjang ia lantas mengangkatnya, takutnya wanita itu sedang menginginkan sesuatu mengingat Mia mulai merasakan apa itu ngidam.


“Ya, sayang?” sapanya dengan lembut.


“Kamu sedang sibuk tidak?” Mia bertanya dengan nada keraguan yang kentara.

__ADS_1


Hartono mengulas senyum tipisnya mendengar itu, “Tidak, kenapa memangnya? Kamu ingin sesuatu?” tanyanya.


“Bukan.” Mia menjawab pelan.


“Hanya saja kepalaku tiba-tiba pusing.” ungkap Mia lantas saja membuat Hartono cemas.


“Aku akan segera pulang.” ucapnya lalu menutup sambungan teleponnya.


Niatnya untuk menemui Sharon terhapuskan oleh kecemasannya akan kondisi Mia. Pria itu langsung saja meninggalkan kantornya dan bergegas pulang.


Sementara itu di apartemen, Mia menatap ponselnya dengan pandangan sedih.


“Maaf ya, aku membohongimu.” ujarnya pelan.


Mia hanya pura-pura pusing, sebenarnya semalam dirinya membaca riwayat obrolan teks antara Hartono dan Fabian. Dan Mia mendapatkan firasat kalau pria itu akan menjenguk mantan istrinya saat jam makan siang dimulai.


Mia terpaksa berbohong karena dirinya tidak ingin Hartono kembali dekat dengan mantan istri pria itu.


..


Fabian dan Laura sedang mempersiapkan segalanya untuk kepulangan Sharon dari rumah sakit. Sementara Fabian pergi mengurus pembayaran terakhir, Laura membantu ibu mertuanya untuk bersiap-siap.


“Ibu beneran mau pulang sekarang?” tanya Laura masih dilanda kecemasan.


Sharon mengangguk singkat sambil merapikan riasannya. Ia sedikit memoles wajahnya agar tidak terlalu kelihatan pucat.


“Dokter juga sudah menyatakan kalau kondisi Ibu baik-baik saja. Jadi untuk apa Ibu tetap di sini.” balas Sharon.


Mendengar itu jelas membuat Laura tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya berharap setelah ini ibu mertuanya tidak jatuh sakit lagi.


Setelah sepuluh menit menunggu, Fabian kembali ke ruang inap ibunya dan mengatakan bahwa dirinya telah menyelesaikan pembayaran. Kini ketiga orang itu sudah bisa meninggalkan ruangan dan pulang.


“Ibu tidak betah lama-lama di sini.” ucap Sharon saat dirinya berjalan di koridor bersama anak dan menantunya.


“Tidak ada orang yang betah di rumah sakit, Bu.” Fabian menyahut dengan jenaka.


Sharon mengangguk setuju, “Ya, kau benar.” balasnya.


“Ngomong-ngomong apa tadi ayah kesini?” tanya Fabian pada Laura secara berbisik.


Laura menjawab tidak dan hal itu membuat Fabian kesal. Untuk apa ayahnya tadi menanyakan kabar ibunya kalau pria itu bahkan tidak menjenguknya.

__ADS_1


Fabian kira saat ayahnya bertanya tentang kondisi sang ibu, pria itu benar-benar mencemaskan Ibunya. Tapi rupanya hal tersebut hanya formalitas semata.


__ADS_2