
Hartono telah mengatur pertemuan antara Mia dan keluarganya. Pria itu benar-benar yakin akan keputusannya untuk melanjutkan kebohongan yang ia ciptakan.
“Kau gugup, sayang?” Hartono bertanya seraya meremas pelan tangan Mia yang berada di bawah meja.
Saat ini keduanya sedang menunggu kedatangan Sharon dan Fabian. Karena hal tersebut lah Mia merasa gugup luar biasa.
“Aku takut..” bisik Mia.
Tepat setelah wanita itu berucap, dari arah depan Sharon dan Fabian muncul. kedua orang itu berjalan untuk menghampiri meja di mana Hartono dan Mia berada. Pria itu dengan cepat melepas tangan Mia yang tadi digenggamnya.
Mia semakin dibuat gugup karena kedatangan istri dan anak kekasihnya. Namun meski begitu, ia berusaha mengatur ekspresi wajahnya menjadi suram dan penuh kesedihan.
“Kalian sudah menunggu lama?” Sharon bertanya tanpa melepaskan pengawasannya dari sosok Mia.
Sharon meneliti penampilan Mia yang terkesan biasa dan malah cenderung norak. Membuatnya sangat mudah menilai kalau Mia memang berasal dari keluarga biasa saja seperti yang dituturkan oleh suaminya.
“Kami juga baru sampai.” Hartono menjawab pertanyaan Sharon dengan tenang.
Mia mendongak dan menatap Sharon canggung, “Salam, Tante.” wanita itu menyapa dengan suaranya yang lemah lembut.
Sharon tersenyum tipis membalasnya, wajah Mia nampaknya seperti gadis baik-baik. Dia juga sopan dan sangat menjaga pandangannya. beberapa nilai plus yang disukai Sharon.
“Berapa usiamu Mia?” tanya Sharon yang merasa mulai tertarik dengan gadis itu.
"Saya 26 Tahun, tante.” jawab Mia sopan.
Ternyata dugaan Sharon benar kalau Mia hanya selisih sedikit dengan Fabian, putranya.
Sejujurnya untuk wanita seusai Mia, akan terdengar berlebihan jika ayah wanita itu menitipkan putrinya pada Hartono. Jelas, Mia sudah sangat dewas untuk bisa merawat dirinya sendiri meski tanpa bantuan orang lain.
Tapi bukan berarti Sharon juga keberatan mengajak Mia ikut tinggal di mansionnya. Hanya saja ia tidak setuju dengan penggunaan kata 'menitipkan' yang ayah wanita itu gunakan.
“Kau sudah sangat dewasa, kurasa tidak masalah kalau kau merawat dirimu sendiri.” ujar Sharon membuat Hartono terkejut. Pria itu sama sekali tidak menduga kalau istrinya akan berkata demikian.
“Sayang, kurasa kita tidak perlu merawat gadis ini. Dia bisa merawat dirinya sendiri.” ungkap Sharon lagi.
Mia yang mendengar itu hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Mencoba sebisa mungkin untuk tidak menimpali perkataan Istri dari kekasihnya.
Sepertinya rencana Hartono untuk membawa Mia masuk ke dalam mansionnya tidak bisa terealisasikan. Melihat respon yang diberikan Sharon seperti itu.
Fabian sedari diam saja. Karena jujur lelaki itu tidak merasa jika dirinya perlu ikut campur dalam permasalahan ini.
__ADS_1
“Aku mengerti, istriku.”
“Hanya saja kupikir dia akan merasa kesepian setelah kepergian ayahnya.” ucap Hartono sambil menatap lembut pada Sharon.
Mia merasakan gejolak api cemburu saat mendengar kekasihnya memanggil Sharon dengan sebutan istri. Panggilan tersebut seakan-akan menegaskan tentang hubungan keduanya.
“Saya baik-baik saja, Om.” Mia tiba-tiba berkata.
“Seperti yang dikatakan Tante Sharon barusan. Saya sudah sangat dewasa dan bisa mengurus diri sendiri.” ujar Mia lagi sambil mengulas senyum tipisnya.
“Maaf kalau permintaan ayahku membebani pikiran Om Hartono.” ucap Mia penuh sesal.
Hebat, wanita itu pandai berakting. Hartono tidak mengira kalau Mia dapat memperlihatkan raut muka seperti itu. Dan bisa-bisanya ia ikut terhipnotis oleh akting Mia sehingga membuatnya semakin ingin melindungi wanita itu.
Sharon tersenyum tipis mendengar penuturan Mia yang nampak lapang terhadap keputusannya itu.
“Fabian, kau tidak masalah kan kalau mansion kita menambah satu anggota baru?” tanya Sharon pada putranya.
Pertanyaan wanita itu sukse memberikan kejutan pada Mia dan juga Hartono. Mereka kira Sharon tidak mau menampung keberadaan Mia di mansionnya.
“Aku tidak masalah.” ujar Fabian acuh.
Bukan tanpa alasan Sharon menerima kehadiran Mia di mansionnya. Selain karena kasihan, ia juga merasa kalau kehadiran gadis itu bisa mengobati rasa sepi dalam diri Sharon.
Sudah sejak lama Sharon merasakan kesepian. Suami dan anaknya sama-sama sibuk bekerja, ditambah keduanya juga sama-sama kaku.
Sehingga ketika dirinya melihat Mia yang nampak manis dan lugu, Sharon merasa tertarik untuk menjadikan gadis itu teman sekaligus anak perempuannya.
“Kamarmu di sini.” Sharon menunjukkan kamar tidur yang akan ditempati oleh Mia dari sekarang.
Mia menatap takjub kamar tersebut, meski tidak jauh berbeda dengan miliknya yang ada di apartemen, tapi tetap saja suasananya berbeda jauh.
Mia berbalik menatap pada Sharon, “Tante, ini terlalu bagus. Saya jadi tidak enak.” tuturnya pelan.
Sharon memegang tangan Mia dan mengelusnya, “Jangan bicara seperti itu. Sekarang kamu adalah keluarga Tante.”
“Jadi, tidak perlu lagi merasa sungkan.” ujarnya membuat Mia hanya bisa tersenyum canggung.
“Sekarang kamu masuk dan istirahat. Kalau perlu apa-apa kamu bisa hubungi tante atau om kamu.” ujar Sharon.
Mia mengangguk mengiyakan perkataan Sharon, "Baik, Tante.”
__ADS_1
Setelah itu Sharon pergi meninggalkan Mia agar gadis itu bisa segera beristirahat dan menyamankan diri di kamar barunya.
Tepat setelah kepergian Sharon Mia langsung menutup pintu kamarnya lalu menjatuhkan diri di atas tempat tidurnya yang besar. Ia tersenyum senang sambil menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan mata yang cerah.
Sekarang ia akan tinggal satu atap dengan kekasihnya. Hal tersebut mempermudah dirinya agar bisa terus berdekatan dengan pria itu.
“Aku harus bisa mengambil hati wanita itu.” gumam Mia.
Saat di depan Sharon, Mia harus bisa bersikap lagu dan polos. Ia juga akan tetap memakai pakaian yang tertutup dan ketinggalan jaman. agar dirinya tidak memberi kesan mengancam atas posisi Sharon.
..
“Aku benar-benar bangga pada istriku.” Hartono memeluk tubuh Sharon dari belakang dan mengecup belakang telinga wanita itu dengan mesra.
“Bukan hanya parasnya saja yang cantik, tapi hatinya juga tidak kalah cantik.” pujinya lagi berhasil membuat Sharon tersipu menahan malu.
“Kau terlalu berlebihan, sayang.” respon Sharon.
Wanita itu kemudian memutar tubuhnya hingga saat ini berhadap-hadapan dengan suaminya. Dielusnya dada pria itu yang masih berbalut kemeja mahal.
“Aku hanya merasa kesepian saja. Dan berharap dengan kehadiran Mia dapat mengurangi rasa sepiku.” ungkap Sharon jujur.
Hartono menatap wanitanya dengan perasaan bersalah, ia memang suami yang payah dan tidak peka. Dirinya berpikir jika Sharon selama ini baik-baik saja, tapi ternyata istrinya itu sama kesepiannya seperti dirinya.
“Kau juga tahu kalau aku memang ingin punya anak perempuan.” ujar wanita itu dengan suara manja.
Hartono mengulas senyum tipisnya yang membuat pria itu semakin menawan di mata sang istri.
“Kita bisa membuatnya sekarang, Istriku.” ujarnya mencoba menggoda Sharon.
Dan berhasil, wanita itu sontak tertawa karena mendengar perkataan suaminya.
“Jangan konyol!” Sharon memukul pelan dada Hartono.
“Kita sudah tua sekarang. Dibandingkan memiliki anak, kita lebih cocok memiliki seorang cucu.” ujar wanita itu.
“Tapi aku merasa bahwa kita masih sama seperti dua puluh tahun yang lalu.” bisiknya seduktif sambil sesekali mengendus perpotongan leher wanita itu.
Dan tentu saja berhasil membuat darah Sharon berdesir hebat.
“Kau masih sangat menggairahkan bagiku, Sharon.”
__ADS_1