Belenggu Cinta Kedua

Belenggu Cinta Kedua
39


__ADS_3

Kemarahan Fabian tempo hari lalu rupanya hanya sekedar angin lewat bagi Mia dan Hartono. Karena sampai saat ini keduanya masih baik-baik saja, bahkan menjadi jauh lebih mesra tanpa sedikit pun rasa sesal.


Mereka kini tidak perlu lagi berhubungan secara sembunyi-sembunyi, kini keduanya dapat secara puas memperlihatkan di depan khalayak umum betapa bahagianya mereka berdua.


Apalagi setelah Hartono menyelesaikan sidang perceraiannya yang terakhir bersama Sharon, Mia sudah merasa jika dirinya lah pemenang atas Hartono sepenuhnya.


Baik Hartono maupun Mia hanya perlu menunggu selesainya urusan perceraian dengan pasangan masing-masing, lalu setelah itu mereka akan menikah.


**


Hari ini Hartono tidak berangkat ke kantor dikarenakan dirinya pergi mengantar Mia untuk memeriksakan kandungannya. Pria itu begitu antusias saat melihat bentukan janin dalam kandungan Mia.


“Aku jadi tidak sabar.” Hartono berujar setelah ia dan Mia keluar dari ruang pemeriksaan.


Senyum cerah terbit di wajah Hartono, ia sudah terbayang-bayang bagaimana nanti dirinya menimang anak yang dilahirkan Mia.


Ia pasti akan bahagia. Meski kenyataannya hal itu mungkin masih cukup lama, mengingat usia kandungan Mia baru jalan 7 minggu.


Mia ikut tersenyum melihat raut muka Hartono yang terlihat gembira itu. Perasaannya membuncah seketika.


“Bagaimana kalau aku melahirkan seorang anak perempuan, apa kamu akan tetap menerimanya?” Mia bertanya dengan hati-hati.


Ia pernah mendengar jika seorang pengusaha biasanya menginginkan anak lelaki untuk dijadikan penerus mereka. Dan Mia takut kalau Hartono hanya akan menerima anaknya yang berjenis kelamin laki-laki.


Langkah kaki Hartono seketika terhenti saat mendengar pertanyaan itu. Ia kemudian menatap wajah Mia dengan sorot mata yang lembut.


“Kenapa bertanya seperti itu?”


“Aku akan tetap menerimanya, entah itu perempuan atau laki-laki.” jawabnya tegas.


Mia dapat tersenyum lega mendengar itu, ia semakin yakin kalau Hartono tidak akan membeda-bedakan kasih sayang pada anaknya nanti.


“Aku sudah memiliki Fabian, jadi kalau kamu memberikanku anak perempuan itu bukan masalah.” lanjutnya lagi.


Mia mengangguk singkat, lalu mengamit lengan Hartono dengan mesra. Dilihat dari sudut mana pun keduanya memang cukup serasi, meski perbedaan jarak usia membentang di antara keduanya. Tapi itu bukan masalah besar mengingat visual Hartono tergolong lebih muda dari usianya sendiri.


“Setelah ini kamu mau kita kemana?” Hartono bertanya di sela-sela perjalanan mereka melewati koridor rumah sakit.

__ADS_1


“Aku sepertinya sedang ingin makan bakso yang super pedas.” ungkap Mia dengan mata yang berbinar cerah.


Mulutnya mulai berair tatkala membayangkan lidahnya mengecap rasa gurih dan pedas dari kuah bakso.


“Boleh, tapi jangan terlalu pedas.”


“Kasihan anak kita nanti.” ucap Hartono memperingati Mia.


Mia memberengut ketika mendengarnya, “Tapi ini juga keinginan anak kita.” ucap Mia.


Hartono tertawa pelan, ia tiba-tiba teringat Sharon dulu saat mengandung Fabian. Wanita itu juga sangat suka memakan makanan pedas ketika hamil.


“Sayang, kamu ke parkiran duluan ya. Aku masih harus membeli vitamin untuk kandunganmu.”


Mia mengiyakan perkataan Hartono, wanita itu lantas keluar lebih dulu menuju parkiran. Sementara Hartono pergi untuk membeli vitamin sesuai yang diresepkan oleh dokter kandungan Mia.


Namun dalam perjalanannya menuju loket obat, Hartono melihat Sharon yang sedang duduk di depan poli umum. Tanpa ragu dirinya menghampiri mantan istrinya itu.


"Sharon,"


Wanita itu terhenyak seketika tatkala suara yang teramat dikenalnya menyapa gendang telinga miliknya. Ia lantas mendongak ke atas dan seketika matanya langsung beradu pandang dengan kedua obsidian hitam milik Hartono.


“Apa kau sedang sakit?” tanya Hartono tanpa menyembunyikan raut cemasnya.


Sharon bergeming di tempatnya, sebelum memutuskan untuk memalingkan wajahnya dari hadapan Hartono.


“Bukan urusanmu!” ketus Sharon.


Hartono terdiam seribu bahasa, ia harusnya menyadari kalau hubungannya dengan Sharon jelas tidak akan pernah bisa seperti dulu lagi.


Sharon jelas membencinya sebagai mana dirinya telah menyakiti hati wanita itu.


Harusnya Sharon mendapatkan giliran pemeriksaan setelah ini, tapi karena kehadiran Hartono membuat wanita itu memilih untuk pergi meninggalkan tempat tersebut.


“Sharon!” Hartono mengejar mantan istrinya yang tiba-tiba pergi dari hadapannya.


Sharon memejamkan matanya saat rasa pusing kembali dirasakannya. Karena hal tersebut membuat langkah kakinya sedikit gontai dan tepat setelah Hartono menangkap pergelangan tangan Sharon, wanita itu tiba-tiba pingsan.

__ADS_1


..


Hartono terlalu panik juga cemas pada keadaan mantan istrinya, sampai-sampai dirinya melupakan Mia yang saat ini masih menunggunya di parkiran.


Pria itu menatap wajah pucat Sharon, mantan istrinya baru selesai mendapatkan pemeriksaan dokter dan saat ini masih terbaring lemah di atas brankar.


Sharon diam membisu mengabaikan keberadaan pria yang telah menyakitinya hingga separah ini. Wanita itu hanya sedikit terkejut karena rupanya Hartono tidak meninggalkan dirinya saat pingsan tadi.


“Sharon, aku yang telah membuatmu seperti ini?” Hartono bertanya layaknya orang bodoh.


Tadi dokter menjelaskan kondisi Sharon yang melemah karena terlalu stres. Wanita itu juga tidak menjaga pola makan serta kurangnya tidur.


Sharon meneteskan air matanya, “Aku tidak bisa menahan rasa sakit ini, Hartono.” tutur Sharon dengan suaranya yang lemah.


“Aku terlalu mencintaimu.” ungkapnya lagi membuat Hartono dihantam rasa sakit yang luar biasa tepat di jantung hatinya.


Selama ini Hartono mengira kalau Sharon akan segera pulih dari sakit akibat pengkhianatannya pada wanita itu, dikarenakan Sharon merupakan wanita yang kuat.


Sharon seorang wanita kuat dan mandiri, mantan istrinya itu selalu bisa mengatasi masalah serta rasa sakitnya selama ini. Itulah kenapa Hartono berpikir jika Sharon akan baik-baik saja meski tidak ada dirinya di samping wanita itu.


Sharon berbeda dengan Mia yang memang rapuh dan butuh perlindungannya.


Tapi rupanya ia salah besar dengan mengira hal itu.


“Aku telah menyingkirkan barang-barang yang dapat mengingatkan aku padamu. Tapi ternyata hal itu tidak berdampak banyak.


Tetap saja aku selalu mengingatmu, mengingat tentang kita dulu. Dan itu sangat menyakitkan bagiku.”


Sharon kembali tergugu setelah mengungkapkan isi hatinya yang selama ini pendam. Memang tidak mudah bagi Sharon melupakan setiap kenangan yang telah tercipta selama 30 tahun ini bersama mantan suaminya itu.


Mungkin Hartono dapat dengan mudah melupakan semua itu, tapi tidak dengan Sharon.


Dengan tangan yang bergetar Hartono memberanikan diri menyentuh tangan Sharon, lalu menggenggamnya. Hartono kemudian mencium punggung tangan wanita itu sambil menitikan air matanya.


“Maaf, Maaf..” hanya itu yang bisa Hartono ucapkan atas semua rasa sakit yang diderita Sharon karena ulahnya.


Semua ini bukan kehendaknya, ia juga tidak berniat menyakiti Sharon. Tapi yang namanya hati memang tidak bisa disetir, ia juga tidak menyangka akan jatuh cinta pada wanita lain setelah menikah dengan Sharon.

__ADS_1


Dan perasaan cinta itulah yang membelenggunya hingga seperti ini.


__ADS_2