Belenggu Cinta Kedua

Belenggu Cinta Kedua
Bab 50 [END]


__ADS_3

Hartono menyeka air matanya yang mengalir melihat kondisi Mia saat ini. Wanita itu terlihat hancur, sorot matanya kosong, wajahnya pucat tanpa cahaya.


Ini semua salahnya, andai dirinya bisa bertindak dengan cepat untuk mengatasi semua masalah yang menimpa wanita itu. Mungkin Mia akan tetap baik-baik saja, begitu pula dengan anak mereka.


Setelah mengalami depresi berat gara-gara memikirkan hujatan yang dilontarkan orang-orang selama beberapa hari terakhir. Mia kehilangan kontrol akan dirinya, wanita itu jadi sering melamun dan tidak fokus saat melakukan sesuatu.


Hingga suatu ketika saat Mia hendak turun dari tangga, kaki wanita itu tidak tepat pada pijakannya sehingga membuatnya jatuh.


Mia pingsan dengan darah yang keluar melalui lubang kewanitaannya.


“Sayang, makan dulu ya—” Hartono membujuk Mia agar mau makan.


Wanita itu masih bergeming tanpa suara, meski begitu air matanya tidak henti-hentinya turun melewati pipi.


Hartono tidak tahan melihatnya, ia pun memeluk tubuh wanita itu dalam dekapan hangat miliknya.


“Maaf, maaf, ini salahku.” bisik Hartono yang membuat tangis Mia semakin pecah.


“Anakku,...” Mia berujar pilu sambil memegangi perutnya yang telah rata kembali.


Apa yang telah ia jaga selama ini pada akhirnya hilang, Mia menyalahkan dirinya sendiri karena hal ini.


“Anak kita—”


“Kenapa Tuhan mengambil dia dari kita?!” Mia menangis histeris hingga Hartono terpaksa memanggil perawat untuk menangani wanita itu.


Hartono hanya bisa berdiri menyaksikan wanitanya diberi suntikan obat penenang. Betapa sakitnya perasaan Mia saat ini, begitu pula dengan dirinya.


Seketika dirinya mengingat dosa-dosanya di masa lalu pada anak dan istrinya. Kini Tuhan seperti sedang memperlihatkan hukuman untuk dirinya.


Hartono harus mau menerima ini, ia tidak bisa mengelak atas karma yang telah mengintainya sejak lama.


..


Malam ini hujan turun, membuat Sharon enggan untuk beranjak dari tempatnya. Ia masih betah memandangi hujan melalui jendela kamarnya.


Ia telah mendengar kabar tentang Mia yang masuk ke rumah sakit gara-gara terjatuh dari tangga. Wanita itu juga kehilangan anak dalam kandungannya gara-gara benturan kuat pada bokongnya.


Sungguh, nasib wanita itu terdengar tragis dan menyedihkan. tapi Sharon sama sekali tidak memiliki empati atas apa yang menimpa pada wanita itu.


Kecuali fakta tentang keguguran wanita itu yang membuat Sharon cukup prihatin.


Sampai detik ini, Mia sama sekali tidak pernah meminta maaf atas semua kesalahan yang telah wanita itu perbuat kepadanya.


Entah kesalahan karena telah menipunya, atau mungkin kesalahan karena wanita itu telah merenggut kebahagiaannya.

__ADS_1


“Dan pada Akhirnya balasan Tuhan jauh lebih pedih dari yang dapat manusia bayangkan. Ini baru di Dunia, entah bagaimana jika di akhirat nanti.” ucap Sharon.


Sharon pernah mengira kalau dirinya mungkin tidak akan sempat melihat hancurnya orang-orang yang telah berbuat jahat padanya. Tapi rupanya Tuhan berkehendak lain, ia justru dapat menyaksikan kepedihan yang menimpa orang-orang itu.


Helaan nafas keluar dari mulut Sharon, ia memutuskan untuk menutup gorden jendela kamarnya. Namun dari kejauhan ia melihat sosok wanita berjalan di bawah guyuran hujan menuju pekarangan rumahnya.


Sharon mempertegas penglihatannya, dan ia langsung terkejut ketika menyadari kalau wanita itu adalah orang yang baru saja ia pikirkan.


“Mau apa dia kemari?” tanya Sharon bingung.


Sharon memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan menemui wanita itu. Ia tinggal seorang diri saat ini, karena Fabian dan Laura menetap di Lombok.


Wanita itu mempercepat langkah kakinya agar bisa segera sampai di depan pintu mansionnya. Dan ketika dirinya membuka pintu, Mia telah berdiri di sana dalam keadaan basah kuyup.


Mia menatap Sharon dengan sendu, wanita itu tersenyum tipis namun terlihat pahit.


“Kenapa kau kemari?” Sharon bertanya tegas.


Jika melihat pakaian pasien yang masih melekat pada di tubuh Mia, Sharon menduga kalau wanita itu kabur dari rumah sakit.


“A—aku mau minta maaf.” ucap Mia dengan bibir bergetar menahan rasa dingin yang menusuk hingga ke tulangnya.


“Aku jahat, aku menjijikkan, aku salah, dan aku sangat berosa.” Mia berkata tanpa berani menatap wajah Sharon.


“Selama ini aku berpura-pura hidup dengan baik, tapi ternyata hal itu membuatku jauh lebih tersiksa.” ungkapnya membuat Sharon bergeming.


“Kami saling mencintai, tapi cara kami salah. Itulah yang membuat kami sangat berdosa padamu.” tuturnya dengan keadaan nafas yang mulai tersenggal-senggal.


Mia menjatuhkan dirinya di dekat kaki Sharon, kedua kakinya sudah tidak mampu lagi menopang tubuhnya untuk tegak berdiri. Seketika rasa sakit di tubuhnya kembali ia rasakan. Dirinya belum sepenuhnya pulih pasca kuretasi, tapi ia malah kabur dari rumah sakit dan menerobos lebatnya hujan hanya untuk menemui Sharon.


Sharon menangis karena kembali mengingat semua pengkhianatan Hartono dan Mia terhadapnya. Tapi melihat bagaimana kondisi wanita itu sekarang, ia juga merasakan kasihan.


“Tolong, maafkan aku..” pinta Mia mengiba dengan wajahnya yang mulai pucat.


“Bangun, lukamu bisa tambah parah.” Sharon berusaha menggapai tubuh Mia dengan niat membawanya berdiri. Tapi wanita itu lebih dulu pingsan sebelum Sharon berhasil menyentuhnya.


**


Beberapa bulan kemudian


Mahendra tahu kalau dirinya tidak akan pernah bisa mendapatkan hati Sharon, ia juga sadar bahwa hubungannya dengan wanita itu hanya akan sampai di batas pertemanan saja.


Sharon memang memutuskan untuk tidak menikah lagi, meski Mahendra memperlihatkan keseriusannya, tapi itu tidak jua membuat Sharon goyah akan keputusannya.


“Kamu bisa mencari wanita yang lebih muda dariku. Wanita yang bisa memberimu keturunan, wanita yang benar-benar mencintaimu.”

__ADS_1


“Aku hanyalah wanita patah hati yang sedang melanjutkan hidup. Aku tidak berniat untuk memulai kisah yang baru meski kisah tersebut mungkin akan jauh lebih baik dari kisah sebelumnya.”


Seperti itulah jawaban Sharon saat Mahendra melamarnya beberapa bulan yang lalu.


Tapi Mahendra menghargai keputusan Sharon, meski dari palung hatinya yang terdalam ia masih menyimpan harapan.


“Jadi bagaimana, Bu?” tanya Mahendra pada Sharon yang membahas kejadian beberapa bulan lalu.


Kejadian yang memberikan duka mendalam bagi mantan suami Sharon.


“Semua itu ulah putri dari kolega bisnis Hartono.” ujar Sharon sambil menatap lurus pada wajah Mahendra.


“Dia sepertinya menyimpan ketertarikan yang tidak lazim pada Hartono.” ungkapnya.


Ternyata orang yang menyebarkan berita tentang Hartono dan Mia adalah Sara. Kebenarannya baru terungkap setelah Hartono kehilangan segalanya. Dan kini pria itu tidak memiliki tenaga lagi untuk sekedar memberi perhitungan pada Sara.


“Tapi semua telah terjadi seperti ini.” Sharon bergumam pelan, namun Mahendra masih dapat mendengarnya.


Pria itu tersenyum kecil, “Mungkin memang sudah takdir. Kita manusia bisa apa jika Tuhan telah berkehendak seperti itu.” ujarnya dengan sorot mata yang teduh menatap Sharon.


Sharon terdiam sambil membalas tatapan Mahendra, diam-diam wanita itu memanjatkan doa untuk Mahendra.


Pria itu baik hati, dan semoga saja mendapatkan pasangan yang serupa dengannya dalam hal kebaikan.


..


Hartono tidak akan menyebut dirinya sebagai manusia paling nelangsa di muka bumi ini. Kepedihan serta penderitaannya mungkin tidak seberapa, tapi rasa sepi yang menemani sisa hidupnya jelas membuatnya tersiksa.


Ia hanyalah pria bodoh yang kehilangan segalanya. rumah tangga yang ia bangun puluhan tahun telah runtuh, juga cinta keduanya yang ia pertaruhkan selama ini telah pergi.


Kini dirinya hidup seorang diri yang hanya ditemani rasa sepi dan sesal.


“Mia, aku merindukanmu,” Hartono berbisik di depan makam wanita tercintanya.


“Juga anak kita.” lanjutnya seraya menabur bunga di atas pusara milik Mia dan bayi mereka.


Hartono kembali terdiam tanpa berniat untuk beranjak dari tempatnya. Sorot matanya menyiratkan kerinduan yang mendalam pada sang terkasih.


Pria itu kembali mengenang beberapa momen bahagia dirinya bersama wanita itu, dan kini semua hanya tinggal kenangan yang menciptakan luka.


Cintanya pada Mia berselimut dosa, kebahagiaan dirinya dengan wanita itu mengorbankan kebahagiaan milik orang lain. maka beginilah akhir yang ia dapat dan pantas ia dapatkan.


“Sampai jumpa, sayang.”


“Tunggu aku datang menghampiri kalian.”

__ADS_1


...SELESAI...


__ADS_2