Belenggu Cinta Kedua

Belenggu Cinta Kedua
30


__ADS_3

Hartono kini telah kehilangan segalanya. Ia kehilangan keluarga, harga diri, kepercayaan serta orang yang dicintainya.


Semua tidak lain karena keserakahannya sendiri, serta kurangnya rasa syukur yang tertanam di palung hatinya yang terdalam. Kini hanya ada sepi yang menemani dirinya bersama setumpuk rasa sesal yang membuat batinnya menjerit karena tersiksa.


Ia telah membuang wanita yang dicintainya dengan harapan sang istri akan tetap bersamanya. Namun sekali lagi realita tidak seindah angan yang melambung tinggi. karena setelah kebusukannya terbongkar, ia tetap kehilangan sang istri.


Karena seperti apa yang pernah Sharon ucapkan, wanita itu tidak akan pernah bisa memaafkan suaminya yang telah berselingkuh.


Saat ini yang sedang dilakukan Hartono adalah mencari keberadaan belahan jiwanya yang entah pergi ke mana dengan membawa semua perasaan cintanya. Ia perlu mendapatkan pengampunan dari wanita itu, atau hidupnya akan terus dibayang-bayang perasaan bersalah.


“Bagaimana? Kau menemukannya?”


Hartono tidak mau membuang waktunya hanya untuk sekedar basa-basi. Ia membayar mahal Adrian untuk mencari tahu keberadaan Mia, bukan untuk mengobrol santai dengan lelaki itu.


“Aku tidak tahu apa yang kutemukan ini Mia yang anda maksud atau bukan.” Adrian mulai berkata dengan tenang, berbeda dengan Hartono yang justru sangat serius mendengarkannya.


“Anda bilang wanita itu belum menikah, tapi Mia yang kutemukan ini sudah menikah.” penuturan Adrian membuat Hartono diserang keterkejutan yang luar biasa.


Ia tidak akan bisa terima jika wanita yang dicintainya menikah dengan lelaki lain yang bukan dirinya.


“Apa maksudnya itu?” tanya Hartono menuntut penjelasan lebih dari Adrian.


Adrian kemudian menyerahkan berkas-berkas tentang Mia yang telah menikah bersama lelaki bernama Haru. Pernikahan keduanya telah terdaftar di kantor catatan sipil.


“Saat ini mereka berdua berada di Jepang, atau lebih tepatnya di Sapporo, Hokkaido. Keduanya tinggal dengan seorang wanita bernama Nana Katsumi, yang merupakan ibu dari Haru.” Adrian menjelaskan serinci mungkin agara klien nya ini dapat menyerap informasi yang ia berikan.


Sementara itu Hartono masih terdiam sambil menatap foto-foto Mia yang didapatkan oleh informannya. Hanya dengan menatap foto wanita itu saja perasaan rindu di dadanya menyeruak keluar dan minta disalurkan.


Padahal perpisahan mereka belum terlalu lama, tapi Mia rupanya begitu cepat membuka hatinya untuk lelaki lain.


Jika boleh jujur, Hartono merasa sakit hati dengan kenyataan itu.


“Jadi, bagaimana Pak?”


“Wanita ini benar-benar orang yang anda cari?”


Adrian kembali memastikan. Dan Hartono pun mengangguk singkat sebagai jawaban atas pertanyaan lelaki itu.


..

__ADS_1


Hartono menatap surat panggilan dari pengadilan agama untuk sidang perceraiannya dengan Sharon. Kedua matanya terpejam beberapa saat untuk menikmati rasa sakit yang menghujam ulu hatinya.


Rupanya wanita itu benar-benar mantap untuk berpisah dengannya.


“Sharon—”


Pernikahan yang telah terjalin selama 30 Tahun ini pada akhirnya runtuh akibat ulahnya sendiri.


Hartono tidak punya muka untuk pulang dan meminta pertimbangan dari Sharon untuk mempertahankan rumah tangga mereka. Dan ia juga tidak sanggup untuk mendapatkan tatapan kebencian dari istri dan anaknya itu.


"Sejujurnya aku merasa berat hati jika kita harus berpisah." bisik Hartono.


"Tapi aku bisa apa? Semua telah terjadi seperti ini."


Setelah itu dirinya menyimpan amplop dari pengadilan itu di dalam laci. Dan ia mengayunkan langkahnya menuju kamar apartemen yang dulu merupakan milik Mia.


Hartono berusaha mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. Meski kenyataannya itu cukup sulit, dikarenakan isi pikirannya saat ini telah bercabang gara-gara permasalahan yang menimpa dirinya.


"Mia, haruskah aku menyusulmu ke Jepang?"


**


Lelaki itu menjaganya layaknya seorang suami yang benar-benar mencintai istrinya. Dan Mia menjadi sangat terkesan dengan semua bentuk perhatian yang lelaki itu limpahkan padanya.


"Lakukan pekerjaan rumah yang ringan-ringan saja, jangan biarkan tubuhmu terlalu lelah. Ingat! Kau sedang mengandung sekarang."


Haru memberi wejangan pada Mia layaknya seorang suami pada umumnya. Lelaki itu benar-benar tulus memperdulikan Mia, meski dirinya sendiri tahu kalau tidak ada cinta di antara keduanya.


"Iya, aku mengerti. Kau sudah mengatakan itu lebih dari tiga kali, Haru." ucap Mia sambil menatap lelaki itu dengan datar.


"Benarkah?" tanya Haru tidak percaya.


"Tidak kusangka kau menghitungnya." ucap Haru kemudian tertawa pelan.


Mia terpaku melihat Haru tertawa. Lelaki itu termasuk orang yang ceria dan ekspresif. namun entah kenapa dirinya merasa kalau kedua mata lelaki itu tidak benar-benar tersenyum.


Haru seperti menyembunyikan semua kesedihannya lewat tawa dan senyum ramahnya yang sering lelaki itu umbar.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Haru saat menangkap Mia yang terang-terangan sedang menatap wajahnya tanpa berkedip.

__ADS_1


Wanita itu menggeleng pelan. Meski dirinya menyimpan rasa penasaran tentang Haru, ia tetap menahan diri untuk tidak menanyakan langsung pada lelaki itu.


"Aku sangat berterima kasih padamu." ucap Mia tulus.


"Entah apa jadinya kalau aku tidak bertemu denganmu." ujarnya lagi.


Mia tidak berbohong soal itu, pertemuannya dengan Haru benar-benar menyelamatkan dirinya dari rasa putus asa karena perpisahannya dengan Hartono.


Jika dirinya tidak bertemu dengan lelaki itu, mungkin saat ini ia tengah kebingungan mencari pekerjaan baru sementara dirinya sedang mengandung.


Haru kembali tersenyum menanggapi perkataan Mia, ia kemudian memeluk wanita itu tanpa rasa canggung.


"Aku senang dapat bertemu denganmu, berkatmu aku jadi tidak kesepian lagi."


..


Beberapa menit yang lalu, Haru telah pergi bekerja. Kini Mia sedang bersama ibu mertuanya di perpustakaan, membantu wanita itu untuk membersihkan perpustakaan yang sudah cukup berdebu.


"Perpustakaan ini menjadi terbengkalai semenjak Haru pindah ke Indonesia bersama ayahnya." Jelas Nana.


"Memangnya sejak umur berapa Haru pindah ke Indonesia?" Mia rupanya mulai penasaran dengan masa lalu Haru.


Apalagi setelah dirinya melihat album foto saat Haru masih kecil hingga remaja tanggung.


"Selepas dia lulus sekolah menengah atas. Haru melanjutkan kuliah di sana hingga sekarang dia berusia 26 Tahun." jawab Nana.


"Ibu, siapa lelaki ini?"


Mia cukup penasaran dengan sosok lelaki yang hampir selalu bersama Haru dalam setiap kesempatan. Wanita itu berjalan mendekati Ibu mertuanya yang sedang merapikan buku-buku. Lalu Mia menunjukkan foto Haru dengan seorang lelaki tampan pada wanita itu.


Nana tersenyum melihat foto kelulusan SMA putranya bersama Ryuken, teman baik Haru.


"Oh itu, dia Ryuken. Teman Haru sejak kecil." jawab Nana.


Mendengar itu Mia hanya bisa terdiam tanpa melepaskan pandangannya dari foto-foto Haru bersama Ryuken. Keduanya benar-benar terlihat dekat satu sama lain, semua tergambar secara jelas lewat tatapan mata Haru yang berbinar cerah saat menatap Ryuken.


"Mereka terlihat dekat." tanpa sadar kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Mia.


Dan pertanyaan itu sukses menarik perhatian Nana. Wanita itu tertawa kecil, ia kembali mengingat beberapa rumor di masa lalu yang mengatakan kalau putranya menyukai Ryuken.

__ADS_1


"Mereka memang terlampau dekat, sampai-sampai banyak orang mengira kalau keduanya menjalin hubungan." ungkap Nana membuat Mia shock.


__ADS_2