Belenggu Cinta Kedua

Belenggu Cinta Kedua
35


__ADS_3

Sudah lebih dari dua jam Haru berdiam diri di perpustakaan pribadi miliknya. merenungkan bagaimana nasib pernikahannya dengan Mia ke depannya.


Ia mengingat tujuan awal dirinya menawarkan pernikahan kontrak dengan Mia, yaitu untuk meyakinkan ibunya kalau dirinya merupakan lelaki lurus yang mencintai seorang perempuan.


Tapi kini Ibunya telah tiada, dan Haru tidak perlu lagi menjalankan sandiwara tentang semua itu.


Lalu bagaimana dengan Mia sendiri? Apalagi sekarang wanita itu sedang hamil, rasanya Haru tidak kerasan jika mengakhiri hubungan pernikahannya dengan Mia saat kondisi Mia seperti itu.


Mia masih membutuhkan dirinya.


“Lagi pula Ryuken juga tidak mungkin meninggalkan Alice, keduanya saling mencintai. Dan aku tidak ingin menghancurkan hubungan mereka.”


Ada alasan lain yang Haru sembunyikan dari semua orang, kenapa dirinya mau ikut ayahnya ke Indonesia. Dan itu tidak lain karena dirinya ingin mengubur perasaannya pada Ryuken. Haru berpikir jika dirinya berjauhan dengan lelaki itu, maka perasaannya terhadap Ryuken akan hilang.


Namun setelah bertahun-tahun nyatanya ia masih memendam rasa pada lelaki itu.


“Haru?”


Suara Mia memanggil namanya membuat Haru terhenyak. Lelaki itu segera merubah raut mukanya yang tadi terlihat keras menjadi lembut.


Ia tersenyum pada Mia yang saat ini sudah berada di dekatnya sambil membawa nampan.


“Aku buatkan kopi untukmu.” ucap Mia lalu meletakkan gelas berisi kopi panas di atas meja baca.


“Terima kasih.” kata Haru.


Mia menatap lelaki itu dengan pandangan ragu, sebenarnya ia ingin bercerita perihal kemunculan Hartono pada Haru.


Seperti biasan Haru selalu peka. Lelaki itu menyadari jika Mia ingin mengungkapkan suatu hal padanya. Dan karena itu Haru menyentuh tangan Mia, lalu mengajak wanita itu untuk duduk di sampingnya.


“Ada apa?” Haru bertanya dengan suaranya yang lembut seperti biasa, sementara kedua iris cokelatnya menatap teduh pada Mia.


“Ada yang ingin kau sampaikan?” tanyanya lagi dan kali ini Mia mengangguk mengiyakan.


“Ayah dari bayiku ada di Jepang.” ungkap Mia sontak membuat Haru terkejut.


“Malam hari di mana kau menyuruhku untuk pulang dari rumah sakit, dia datang kemari.” Mia mengungkapkannya dengan hati yang awas.


Haru terdiam untuk mencerna semua penuturan Mia barusan. Ia merasa jika kedatangan pria itu merupakan jawaban dari pertanyaannya barusan.


Jika pria itu datang dan mengambil alih atas kepemilikan Mia, itu artinya tugas Haru menjaga wanita itu telah usai. Dan dirinya juga tidak perlu merasa bersalah karena telah melepaskan Mia.

__ADS_1


“Jadi apa keputusanmu?” tanya Haru menciptakan kernyitan di dahi Mia.


Wanita itu sama sekali tidak mengerti dengan pertanyaannya, “Keputusan apa?” Mia balik bertanya.


“Aku tadi hanya bercerita padamu,” tutur Mia.


Kini giliran Haru yang bingung. bukankah seharusnya Mia senang jika pria yang dicintainya datang menemui dirinya lagi? Lalu kenapa wanita itu tidak sekalian saja meminta izin padanya untuk kembali ke pelukan pria itu.


“Memangnya kau tidak punya niat untuk kembali padanya?” tanya Haru yang kemudian dapat dimengerti oleh Mia.


Mia menggeleng pelan, “Walaupun pada akhirnya kita berpisah. Aku tidak akan mau kembali padanya.” jawabnya dengan kondisi hati yang kembali teriris.


“Aku tidak mungkin kembali ke pelukan orang yang telah membuangku.”


Mia kemudian menghembuskan nafasnya yang tadi terasa berat. Ia sejujurnya sadar kalau pernyataannya barusan mungkin akan memberatkan Haru. Karena sepertinya lelaki itu ingin segera mengakhiri pernikahan mereka, mengingat saat ini Ibunya telah tiada.


“Mia, sejujurnya aku ingin segera melepaskanmu dari pernikahan ini. Namun karena kau bilang seperti itu, mungkin ada baiknya kita tetap seperti ini dulu.” tutur Haru yang benar-benar sesuai dugaan Mia.


Mia merasa bersalah mendengarnya, tanpa sadar justru dirinya membuat lelaki itu tetap terikat hanya demi menghindari Hartono. Padahal Mia tahu kalau Haru menyukai orang lain.


Dan itu terdengar jahat.


Lelaki itu menggeleng pelan sambil mengulas senyum, “Aku tidak masalah. Lagi pula baik menikah maupun melajang, bagiku sama saja.


Karena orang yang kucintai tidak akan pernah bisa menjadi milikku.”


**


Hartono berpikir jika dirinya saat ini tidak ada ubahnya dengan seorang penguntit. Karena sejak malam itu dirinya tidak melepaskan pengawasannya dari Mia.


Ia terus mengamati rumah lelaki itu dan memperhatikan Mia dari kejauhan.


Dan Hartono menemukan satu kejanggalan dalam kehidupan rumah tangga Mia dengan Haru. Di mana kedua orang itu tidak terlihat seperti pasangan yang saling mencintai.


Hartono sangat berharap jika dugaannya benar. Karena kalau memang seperti itu, ia masih memiliki kesempatan besar untuk kembali mendapatkan Mia.


Wanita yang ia cintai.


Saat ini terlihat Haru yang keluar rumah untuk bekerja. Hartono cukup miris melihatnya, karena dua hari yang lalu ibu dari Haru baru saja meninggal. Namun lelaki itu sudah kembali bekerja tanpa menyimpan rasa sedih atas kepergian ibunya.


Tapi itu bukan urusan Hartono, saat ini yang menjadi fokus utamanya adalah Mia.

__ADS_1


Wanita itu sedang menyiram tanaman, dan Hartono berniat untuk kembali menemui wanita itu.


Ia kemudian keluar dari mobilnya dan mulai mengayunkan langkahnya mendekati rumah Haru. Mia yang sedang menyiram tanaman sontak terkejut melihat kedatangan Hartono.


Kedua mata wanita itu nampak membesar, Mia pikir Hartono sudah kembali ke Jakarta setelah ia usir. tapi rupanya ia salah besar.


“Mau apa lagi kamu kemari?!” Mia bertanya dengan nada yang tegas.


Melihat bagaimana reaksi Mia, Hartono kembali mengulas senyum tipisnya.


“Aku mau bertemu dengan wanita yang kucintai.” ucapnya santai.


Mia seketika memicingkan matanya, “Berhenti bicara omong kosong!”


“Pergi dari sini atau kusiram kamu dengan ini...” wanita itu mengancam sambil bersiap untuk menyemprotkan air ke muka Hartono.


Mia terkejut dengan dirinya sendiri yang memiliki keberanian untuk menggertak seorang Hartono. Padahal dulu untuk membantah perkataan pria itu saja Mia tidak pernah berani.


Bukannya takut, Hartono justru semakin tertantang untuk mendekati Mia. Ia dengan tingkat kepercayaan dirinya yang tinggi, kemudian membuka pagar halaman rumah Haru. Lalu setelah itu dirinya melanjutkan langkah kakinya hingga sampai di depan Mia.


“Kalau kau melakukannya nanti bajuku basah, sayang.” bisik Hartono menciptakan efek kejut pada tubuh Mia.


Mia kembali mengingat moment di mana Hartono pertama kalinya datang ke rumahnya. Di mana pria itu datang dalam keadaan basah kuyup dengan tubuh yang menggigil.


Wanita itu kemudian menggigit bagian dalam pipinya karena gugup. Ia merasakan keberanian yang tadi menyelimutinya tiba-tiba hilang.


Melihat keadaan wanita itu yang mulai terguncang masa lalu, membuat Hartono semakin berani menekan Mia dalam pengaruhnya. Ia terus-terusan memancing Mia agar kembali mengingat bagaimana gilanya mereka saat bersama dulu.


“Aku hanya ingin meminta pengampunanmu, tidak bisakah kau membuatku melakukannya dengan mudah?” Hartono kembali berujar dan berhasil membuat Mia goyah.


Pria itu kembali melanjutkan aksinya dengan memeluk tubuh Mia yang kaku, lalu dikecupnya sisi kepala wanita itu hingga membuat Mia perlahan hilang kesadarannya.


“Aku minta maaf, Mia.”


“Tolong, jangan buat aku semakin larut dalam penyesalan gara-gara melepaskanmu.”


Mia memejamkan matanya perlahan, hingga air mata yang menumpuk di pelupuk matanya mulai berjatuhan.


Hartono mengusap punggung Mia dengan lembut dan membuat wanita itu kembali terbuai. Ia merindukan prianya, merindukan kasih sayangnya, juga sentuhannya.


“Kau mau kita mengobrol di mana?” bisik Hartono dan kemudian Mia menjawab, “Di mana saja. Asal tidak di sini.”

__ADS_1


__ADS_2