
Selalu ada cara untuk Fabian memenangkan hati Laura. Dan selalu ada cara bagi lelaki itu untuk kembali meyakinkan Laura jika keduanya memang ditakdirkan untuk bersama.
Laura sejak awal memang tidak pernah meragukan bagaimana besarnya cinta lelaki itu terhadapnya. Namun Laura jelas meragukan bagaimana nasib hubungan mereka di masa depan, karena sampai saat ini Fabian masih belum bisa mengantongi restu dari ibunya.
“Kenapa wajahmu kusut sekali, Laura?”
“Bukankah kau habis pergi liburan dengan Fabian?”
Itu adalah pertanyaan yang dilontarkan Luna, wanita yang merupakan pemilik toko bunga ini merasa heran karena sahabatnya tidak terlihat cerah sama sekali.
Laura terdiam sementara kedua tangannya masih sibuk merangkai tangkai bunga untuk dijadikan buket.
“Aku merasa kalau hubunganku dengan Fabian tidak bisa berlanjut.” tutur Laura terdengar lirih.
Luna yang sedang merangkap alamat para pemesan bunga lantas menghentikan kegiatannya dan beralih menatap sahabatnya.
“Apa maksudmu? Bukankah hubungan kalian baik-baik saja selama ini?” tanya Luna tidak mengerti.
Laura menghela nafas pelan, “Aku dengan Fabian memang baik-baik saja. Tapi hubungan kami terhalang restu orang tuanya Fabian.” ungkap Laura tanpa menyembunyikan raut sedihnya.
Luna ikut prihatin mendengarnya, ia kira hubungan asmara Laura tidak memiliki kendala. Tapi ternyata ia salah mengira.
“Menurutmu bagaimana? Apa lebih baik aku tinggalkan saja dia?” tanya Laura meminta pendapat sahabatnya.
Laura pikir sesuatu yang terlalu dipaksakan tidaklah baik.
“Buang jauh-jauh niatmu itu, Laura!”
Kedua wanita itu terhenyak seketika saat mendengar suara Fabian menggelegar di tengah pembicaraan Laura dan Luna. Luna yang tidak ingin ikut terseret lebih jauh lagi menyuruh Laura untuk membawa kekasihnya keluar dari toko bunga miliknya. Takutnya di tengah perdebatan alot yang terjadi antara Fabian dan Laura, tokonya kedatangan pelanggan dan membuat mereka tidak nyaman.
Laura mengerti akan maksud dari Luna. Ia lantas mengajak Fabian untuk pergi dari toko bunga milik Luna. Dan kini keduanya telah berada di dalam mobil dengan tujuan entah kemana.
“Kupikir kita telah mencapai kesepakatan akhir saat kita memutuskan liburan kemarin. Tapi apa ini, Laura? Lagi-lagi kamu berniat pergi meninggalkanku!” Fabian tidak sanggup menahan rasa kesalnya terhadap wanita itu.
Laura terkesan tidak memiliki pendirian serta keyakinan yang kuat. Padahal jelas-jelas wanita itu setuju untuk tetap berada di sisinya sambil menunggu Fabian mendapatkan restu sang ibu.
“Kita tidak bisa mencapai kesepakatan tanpa kejelasan, Fabian.” balas Laura.
__ADS_1
“Kau menyuruhku untuk menunggu sementara diriku tidak pernah tahu akan hasil seperti apa yang kudapatkan di akhir.” lanjutnya membuat Fabian semakin kesal.
“Laura, kita bahkan baru mencoba sekali dan mendapatkan hasil yang tidak sesuai. Dan kamu begitu mudahnya untuk menyerah?” Fabian kembali berhasil memojokkan Laura hingga wanita itu bungkam.
“Selepas ini aku akan kembali berbicara pada ibuku, dan aku pastikan akan mendapatkan hasil yang kita mau.”
..
“Ibu bilang tidak berarti tidak!”
Tubuh Fabian lemas seketika tatkala Ibunya kembali menolak memberi restu padanya dan Laura. Fabian teringat janjinya pada sang kekasih beberapa menit yang lalu, dan dirinya untuk kesekian kai tidak bisa memenuhi itu.
Laura pasti hancur mendengar Ibunya kembali menolak hubungan mereka.
“Jika seperti itu, aku tidak akan memaksa Ibu.” Fabian berkata dan membuat Sharon menatap tidak percaya pada putranya tersebut.
Lelaki itu tersenyum tipis, “Terserah Ibu mau merestui hubunganku dengan Laura atau tidak. Itu tidak akan merubah keputusanku untuk tetap menikah dengan wanita yang kucintai.” tutur Fabian secara lugas.
Sharon tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Ia shock melihat putranya yang selama ini selalu menuruti apa perkataannya berubah jadi pembangkang karena seorang wanita tidak jelas seperti Laura.
Benar-benar luar biasa wanita itu mempengaruhi putranya hingga seperti ini.
“Putra yang telah kulahirkan berani membangkang demi seorang wanita?!” ujar Sharon dengan kekecewaan yang terlihat jelas di wajahnya.
Fabian terdiam, ia tidak bermaksud jadi anak durhaka demi Laura. Tapi dirinya juga seorang manusia merdeka yang berhak menentukan pilihan hidupnya termasuk memilih siapa wanita yang akan dinikahinya.
“Bu, aku minta maaf. Tapi Ibu sendiri yang membuatku tidak punya pilihan selain ini.” ujar Fabian lalu pergi meninggalkan Sharon yang sedang menangis.
Bagaimana pun dia adalah seorang Ibu yang akan merasakan sakit hati tatkala putranya lebih memilih orang lain dibandingkan dirinya. Ia yang telah mengandung dan melahirkan putranya, tapi putranya justru lebih memilih seseorang yang tidak memiliki kontribusi apapun di hidup putranya.
Hartono masih diam, pikirannya saat ini memang tidak sedang tertuju pada Istri dan anaknya. Namun bukan berarti ia tidak dapat menyimak dengan baik. Hartono sedang memikirkan bagaimana permasalahan antara Ibu dan anak itu bisa cepat selesai.
**
Sharon baru saja kehilangan putranya, dan haruskah ia juga kehilangan putri angkatnya?
Wanita itu kembali diserang rasa shock saat Mia datang menghampirinya untuk berpamitan. Dan untuk kasus Mia ini, bukan hanya Sharon saja yang terkejut melainkan Hartono juga tidak kalah terkejut.
__ADS_1
“Tuhan, apalagi ini?”
“Kenapa Mia? Apa ada yang salah dengan kami? Kenapa kamu memilih untuk pergi?” tanya Sharon dengan sorot matanya yang melembut.
Wanita itu menggenggam tangan Mia dan sebisa mungkin menahan putri angkatnya itu untuk tidak pergi.
Mia menggeleng pelan sambil berderai air mata, “Aku tidak bisa tinggal di sini lagi, Bu.” jawab Mia.
“Iya, tapi kenapa sayang?” tanya Sharon sambil memperlihatkan raut muka memohon.
Mia terdiam sambil menggigit bagian dalam pipinya. Ia kemudian melirik Hartono sekilas dan pria itu melakukan hal yang sama.
“Aku hanya merasa tidak pantas saja.” jawab Mia membuat Sharon mengendurkan genggamannya.
“Mia—”
“Sharon,”
Hartono menahan istrinya yang hendak memohon pada Mia untuk tidak pergi meninggalkannya.
“Kenapa? Kenapa kau dari tadi diam saja?” tanya Sharon yang merasa kesal pada suaminya.
Sejak tadi pria itu diam saja tanpa mengucapkan sepatah katapun. Bahkan ketika Fabian pergi pun suaminya itu tidak berusaha untuk mencegahnya. Dan sekarang, pria itu kembali melakukan hal yang sama pada Mia.
“Jangan pernah memohon pada seseorang yang ingin pergi darimu. Jika mereka ingin pergi, maka biarkan lah.” ujar Hartono dengan raut muka datarnya seperti biasa.
Perkataan Hartono benar-benar melukai perasaan Mia. Wanita itu pikir Hartono akan mencoba untuk menahan dirinya untuk pergi. Tapi ternyata Mia salah mengira.
Kini Mia semakin mantap untuk pergi meninggalkan Hartono. Ia merasa jika Hartono benar-benar tidak menginginkan dirinya lagi di hidup pria itu.
Lalu untuk apa ungkapan cinta itu?
Dan untuk apa pria itu sampai memohon pada Tuhan agar dirinya tetap hidup saat kecelakaan kemarin? Jika apa yang selama ini pria itu ucapkan hanya bualan semata.
Sebenarnya Hartono juga tidak ingin Mia pergi, ia ingin menahan wanita itu agar tetap berada di mansion ini. Namun karena dirinya tidak memiliki alasan yang cukup kuat, maka ia memilih untuk membiarkannya saja.
Lagi pula untuk apa semua ini kalau pada akhirnya kisah cinta mereka pun masih tergolong kisah terlarang. Hartono sudah bertekad untuk tidak mengulangi dosa-dosanya pada Sharon lagi.
__ADS_1
Mia memaksakan diri untuk tersenyum meski luka di hatinya terasa perih bukan main.
“Kalau begitu, selamat tinggal Ibu, Ayah—”