Belenggu Cinta Kedua

Belenggu Cinta Kedua
38


__ADS_3

Nafsu makan Fabian seketika hilang tatkala dirinya mendengar kabar kalau Mia mengunjungi ayahnya di kantor.


Ia tidak akan terima wanita itu menunjukkan eksistensinya di perusahaan milik ayahnya sebagai wanita baru pengganti ibunya.


“Mau kemana kamu?” Laura menahan tangan Fabian saat melihat lelaki itu hendak pergi.


“Aku mau mengusir wanita itu.” jawab Fabian dengan wajah yang terlihat menahan amarah.


Laura sontak saja terkejut, wanita itu ikut berdiri dan mencoba untuk menghentikan niat suaminya.


“Sayang, aku pikir itu bukan keputusan yang tepat.” ungkap Laura.


“Kamu bisa memicu keributan nantinya,” Laura sangat berharap jika Fabian mau mendengarkan dirinya.


Tapi sepertinya amarah Fabian saat ini sulit untuk diredam, sehingga lelaki itu mengabaikan perkataan istrinya. Dan tetap pergi untuk menghampiri Ayahnya dan wanita selingkuhannya.


Laura tidak ingin Fabian bersikap gegabah dan membuat keributan di sana, ia lantas menyusul suaminya yang sedang dalam perjalanan menuju ruangan Hartono.


Di sepanjang perjalanannya, Fabian terus mengepalkan kedua tangannya karena amarahnya yang tidak mampu ia bendung lagi.


“Pak, anda tidak bisa masuk.” Jelita, sekretaris Hartono menahan Fabian yang hendak membuka pintu ruangan Hartono.


“Siapa dirimu bisa melarangku?!” tanya Fabian membuat nyali Jelita seketika menciut.


Padahal Jelita telah diperintahkan oleh Hartono untuk tidak membiarkan siapapun masuk untuk saat ini.


“Tapi, Pak— ini perintah presdir...”


Sebelum Jelita selesai berbicara Fabian lebih dulu membuka pintu ruangan ayahnya dan lelaki itu menemukan Mia yang tengah menyuapi ayahnya.


Fabian mendengkus melihat adegan yang berhasil membuatnya semakin meradang itu. Sementara Hartono yang menyadari kedatangan putranya lekas saja berdiri.


“Siapa yang mengizinkan masuk tanpa perintah?” tanya Hartono murka.


Fabian mengabaikan pertanyaan tajam ayahnya, lelaki itu berjalan mendekati keduanya dengan tatapan matanya yang nampak bengis menatap Mia.


PLAKK!


Fabian menampar pipi Mia dengan punggung tangannya, “Wanita sialan!”


“FABIAN!” Hartono membentak putranya tanpa ragu, kedua obsidian hitam pria itu memperlihatkan betapa ia marah atas sikap Fabian terhadap wanita kesayangannya.

__ADS_1


“Siapa yang mengajarimu menyakiti seorang wanita?!”


“Ayah! Tentu saja ayah yang mengajariku!” Fabian membalas perkataan Hartono dan berhasil membuat ayahnya bungkam.


Mia memejamkan matanya menahan perih di pipinya akibat tamparan Fabian. Ia sama sekali tidak menyangka kalau lelaki itu berani menamparnya.


“Apa ayah lupa? Ayah juga telah menyakiti seorang wanita, Yaitu Ibu!”


“Apa ayah pikir menyakiti seseorang hanya berupa tentang serangan fisik saja?!” Fabian bertanya namun Hartono masih bergeming.


Melihat ayahnya yang nampak bungkam, Fabian kemudian menggulirkan matanya untuk kembali mengintimidasi Mia.


Wanita itu berlindung di balik punggung ayahnya, hingga Fabian memutuskan untuk menarik lengan wanita itu agar dirinya bisa melihat wajah pecundang wanita itu dengan jelas.


“JALANG!” Fabian membentak Mia.


“BERANI-BERANINYA KAU MENGINJAKKAN KAKI DI PERUSAHAAN INI!”


“KAU MAU MEMPERLIHATKAN PADA SEMUA ORANG KALAU KAU TELAH BERHASIL MENYINGKIRKAN IBUKU? BETUL BEGITU, ******?!”


Mia menangis tersedu-sedu dibentak habis-habisan oleh Fabian, ia malu dan juga terhina. di tambah lagi bungkamnya Hartono menambah kesakitan dalam hati Mia.


Kenapa Hartono tidak membelanya? Kenapa pria itu membiarkan dirinya dibentak-bentak seperti ini oleh anaknya?


“Bagaimana perasaanmu jika suamimu meninggalkan dirimu demi wanita lain?!” tanya Fabian tanpa menurunkan nada tingginya.


Selama ini Fabian diam bukan karena dirinya ikhlas tentang apa yang menimpa ibunya. Ia hanya mencoba menahan diri karena pada saat itu wanita yang telah merusak rumah tangga kedua orang tuanya telah pergi.


Namun kali ini ia jelas tidak bisa menahan diri untuk meluapkan segala amarah yang selama ini ia pendam pada Ayahnya juga Mia.


Tidak setelah kedua orang itu bertingkah layaknya pelaku tanpa rasa malu dalam rasa sakit yang ibunya terima.


“Kau belum bersuami, jadi kau tidak merasakan apa yang dirasakan oleh ibuku gara-gara perbuatan hina kalian!”


Mia rasa perkataan Fabian jauh lebih menyakitkan daripada tamparan lelaki itu. Perkataan Fabian begitu menusuk tepat ke jantung hatinya.


Hartono sejak tadi hanya terdiam dan membiarkan Mia dimaki-maki oleh putranya, karena sejujurnya ia juga tengah merenungkan setiap perkataan yang keluar dari mulut Fabian.


“Nak, berhenti menyalahkannya. Ini semua salah ayah.” Hartono mencoba menghentikan Fabian dengan nada memohon.


“Ini semua memang salah ayah! Ayah memang tidak pantas mengelak!” sahut Fabian sambil menahan air matanya tumpah.

__ADS_1


“Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkan kalian dan kalian harus ingat kalau Tuhan itu tidak pernah tidur!


Jika kalian tidak sempat merasakan akibat dari perselingkuhan kalian, maka siap-siap saja keturunan kalian yang akan merasakannya!”


**


“Mia—”


Hartono mencoba mendekati Mia yang masih saja menangis sejak kepulangan mereka dari kantor. Wanita itu mendiamkan Hartono sejak tadi, dan itu membuat pria itu merasa bersalah.


“Aku minta maaf.” ucap pria itu terdengar sangat menyesal.


Mia terisak pelan ketika mendengarnya. Mungkin Mia cukup paham dengan sikap Hartono tadi, pria itu juga pasti dilema. Tapi Mia sangat berharap kalau Hartono mau memperlihatkan secuil sikap dalam melindungi dirinya dari cercaan Fabian.


Tapi Hartono justru diam saja seolah-olah perbuatan serta perkataan Fabian memang benar adanya.


“Kenapa kamu diam saja tadi?” tanya Mia dengan pandangan yang menyorot tajam.


“Kamu juga berpikir kalau semua perkataan Fabian memang benar? Iya kan?” tanyanya lagi.


“Kita berdua ini jahat, terima saja faktanya!” ungkap Mia setengah membentak.


Hartono dengan sigap menarik Mia dalam pelukannya, ia berusaha menenangkan wanita itu agar tidak menyakiti dirinya sendiri.


“Aku yang salah, kau tidak salah sama sekali.” tutur Hartono.


“Aku salah karena telah menyakiti Sharon dan juga dirimu.” bisiknya membuat tangisan Mia semakin menjadi-jadi.


Mia tidak menyangka jika jatuh dalam kubangan cinta dapat menyakitkan seperti ini. Ia juga tidak sangka kalau terjerat cinta, akan membuatnya berdosan seperti ini.


Kenapa perasaan seperti ini harus hadir?


Kenapa perasaan cintanya harus jatuh pada orang yang tidak seharusnya.


“Haruskah kita akhiri semua ini?” Mia bertanya dengan putus asa.


Hartono menggeleng pelan, ia membungkam mulut Mia dengan bibirnya. Hartono benci mendengar kalimat itu keluar dari mulut wanita kesayangannya.


Ia tidak bisa membiarkan wanita itu pergi dari hidupnya, tidak setelah dirinya telah kehilangan segalanya untuk mempertaruhkan perasaannya pada Mia.


“Tidak ada satupun di antara kita yang boleh mengakhiri hubungan ini.” tutur Hartono.

__ADS_1


“Kita baru saja memulai, dan kita hanya perlu melangkah ke depan untuk menata kehidupan cinta kita yang baru.”


Hartono sudah meminta maaf pada Sharon, dan ia rasa itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya terbebas dari setiap kesalahannya.


__ADS_2