Belenggu Cinta Kedua

Belenggu Cinta Kedua
20


__ADS_3

Di Gereja ini hanya ada Hartono dan Mia, tidak ada jemaat lain yang menempati kursi. Mia tidak mengerti apa alasan yang mendasari pria itu mengajaknya ke sini. Tapi dirinya memikirkan satu dugaan yang sebenarnya tidak ingin ia pikirkan sama sekali.


Karena dugaan tersebut membuat dirinya takut bukan main.


“Ini adalah gereja di mana aku dan Sharon melakukan pemberkataan saat menikah dulu.”


Di antara banyaknya kalimat yang ingin didengar Mia dari Hartono, pria itu justru mengucapkan untaian kata yang membuat dirinya mulai tidak nyaman.


“Aku pernah mengucapkan janji suci di hadapan Tuhan dan para saksi. Janji untuk hidup bersama Sharon, janji untuk setia, dan janji untuk mencintai wanita itu hingga ajal menjemputku.” suara pria itu kembali mengudara dan sampai di telinga Mia hingga menembus ke relung hatinya yang kini mulai teriris.


Mia menundukkan wajahnya guna menatap kedua tangan yang saling meremas di atas paha. Ia sepertinya mengerti kenapa Hartono mengajaknya kemari.


“Tapi pada akhirnya aku melanggar janji tersebut.” ucap Hartono mengakhiri perkataan panjangnya.


“Mia, aku mencintaimu. Itu adalah kejujuran yang berasal dari palung hatiku yang terdalam.”


Mia terdiam mendengarkan, meski seharusnya ia merasa senang akan pengakuan itu, tapi entah kenapa pengakuan Hartono kali ini akan terasa menyakitinya.


“Tapi aku tidak bisa mengakhiri pernikahanku dengan Sharon.”


Ia sudah menduga sejak awal. sampai kapanpun dirinya tidak akan pernah mendapatkan apa yang diinginkannya. Harusnya Mia mengerti sejak awal untuk tidak menyimpan harapan besar pada hubungan terlarangnya dengan suami orang.


Ini terasa menyakitkan baginya. Ia tidak tahan dengan rasa sakit yang seakan-akan membuat jantungnya tertusuk ribuan jarum di dalamnya.


“Apakah...” Mia tidak bisa mempertanyakan keputusan Hartono dengan tenggorokannya yang mulai tercekat.


“Kita harus mengakhiri hubungan ini.”


ucap Hartono dengan berat hati.


Mia tidak bisa bergerak, bahkan hanya untuk mendongakkan kepalanya ke atas. Ia masih menundukkan wajahnya dengan butiran air mata yang jatuh menimpa punggung tangannya.


Hartono menatap wanita di sampingnya dengan perasaan bersalah. Tubuh wanita itu bergetar karena sedang menangis, dan dirinya ikut merasakan sakit hanya karena melihatnya.


Mungkin ini memang terlambat. Dosanya terhadap sang istri jelas bukan sesuatu yang bisa diampuni. Ia seorang pengkhianat dan juga pezinah.


Namun Hartono merasa ia perlu berhenti atau dirinya akan semakin sulit untuk kembali. Ia tidak ingin kehilangan Istrinya, tidak ingin kehilangan kepercayaan wanita itu. meski kenyataannya ia telah membakar habis kepercayaan istrinya tanpa tersisa.


“Mia—”


“Kamu boleh pergi meninggalkanku.” Mia memotong pembicaraan Hartono. Wanita itu tidak ingin lagi mendengar kalimat perpisahan yang terasa memilukan baginya.

__ADS_1


“Aku akan tetap di sini.” ucap Mia.


Hartono terdiam, ia ragu untuk meninggalkan wanita itu sendirian. Dirinya telah terang-terangan menyakiti Mia, dan ia takut wanita itu akan melakukan tindakan yang membahayakan dirinya sendiri.


“Aku akan mengantarmu pulang.” Hartono berujar pelan.


Mia kemudian menatap wajah pria yang dicintainya itu dengan berlinang air mata.


“Pulang kemana?” tanya Mia dengan sorot mata yang menajam.


Wanita itu menggelengkan kepalanya, “Aku tidak memiliki rumah.”


“Satu-satunya rumah yang selama ini menampungku telah menyuruhku untuk pergi. Kamu mau aku pulang kemana? Pulang ke pangkuan Tuhan?!” tanya Mia dengan suaranya yang mulai meninggi.


Wanita itu seketika menangis, tangisan yang terdengar menyayat hati itu benar-benar ikut melukai Hartono.


“Aku tidak memiliki siapapun selain kamu. Dan sekarang aku telah kehilanganmu, untuk apa aku harus bersikeras tetap hidup?!”


“MIA!” Hartono membentak wanita itu karena ia tidak suka mendengar perkataan wanita itu yang membuatnya mulai ketakutan.


Mia menghapus air matanya dengan kasar, ia kemudian berdiri lalu berlari ke luar gereja meninggalkan Hartono.


**


Inilah konsekuensinya saat melibatkan hati pada hubungan perselingkuhan. Atau bisa juga ini merupakan hukuman bagi dirinya yang telah bermain api.


Hartono hanya ingin mengakhiri semua kesalahan ini, namun rupanya niat tersebut justru membawa dirinya pada ketakutan terbesar yang pertama kali dirasakannya seumur hidup.


Yaitu, kehilangan orang yang dicintainya di depan matanya sendiri.


Ia melihat tubuh wanita yang dicintainya terlempar jauh dan ambruk di atas aspal, saat wanita itu dengan sengaja menabrakkan dirinya pada mobil yang sedang melaju kencang.


Jantungnya seakan berhenti berdetak, hingga membuat tubuhnya mulai kaku seketika. Ia hanya mampu berdiri sambil menatap tubuh Mia yang mulai diselimuti darah segar yang mengalir melalui luka yang didapatkan wanita itu.


“To-tolong!”


Hartono memaksakan kedua kakinya yang kaku untuk bergerak mendekati tubuh Mia. Dan bersamaan itu pula orang yang tadi menabrak Mia turun dan menghampiri tubuh wanita itu yang tergeletak tidak berdaya.


“Aku tidak bisa menyetir untuk saat ini, tolong bawa kami ke rumah sakit.” Hartono yang baru mendapatkan kesadarannya kembali lantas meminta tolong pada lelaki yang telah menabrak Mia.


“Aku janji tidak akan membawa ini ke jalur hukum. Tapi tolong bawa kami ke rumah sakit.” lelaki yang nampak frustrasi karena takut akan berurusan dengan hukum itu memilih untuk mengikuti permintaan dari Hartono.

__ADS_1


Lelaki itu membiarkan Hartono membawa Mia dan masuk ke dalam mobilnya.


Hartono memeluk tubuh Mia yang berselimut darah, ia memeluknya dengan erat tidak peduli kalau pakaiannya saat ini telah ikut ternodai darah wanita itu.


“Kumohon, bertahanlah..”


Ia memohon ampun pada Tuhan atas dosa-dosanya di masa lalu, dan dirinya juga dengan tidak tahu malunya meminta pada Tuhan untuk tetap memberi Mia kehidupan.


“Aku tidak ingin kehilangannya, Tuhan.”


“Aku mohon, biarkan wanita ini hidup.”


..


“Suamiku...”


Sharon menghentikan niatnya untuk bertanya pada pria itu tentang keadaan Mia, ketika melihat suaminya terduduk lesu di atas lantai dengan penampilan tidak karuan.


Ia baru pertama kali melihat suaminya seperti itu. Pria itu terlihat hancur seolah-olah baru saja kehilangan cahaya hidupnya.


Langkah kakinya yang lemah membawa Sharon ke tempat Hartono, pria itu kemudian mendongak dan menatap sendu pada wanita yang merupakan cinta pertamanya.


“Aku hampir—” Hartono hendak mengatakan jika dirinya hampir melenyapkan nyawa Mia tanpa sengaja. Namun perkataannya teredam oleh pelukan Sharon yang membuatnya sesak.


“Jangan bicara yang aneh-aneh. Mia pasti selamat.” ucap Sharon tanpa mengerti situasi yang sebenarnya.


Hartono kemudian membalas pelukan istrinya, “Aku gagal menjaga putri temanku, Sharon.” ungkapnya pelan.


Sharon paham bagaimana perasaan suaminya saat ini. pria itu pasti menyalahkan dirinya sendiri atas insiden yang menimpa Mia.


Ia tadi sedang berada di tempat arisan dan mendapat kabar dari Hartono kalau Mia menjadi korban tabrak lari. Sharon tidak mengerti kejadian yang sebenarnya kenapa Mia bisa sampai seperti itu.


Tapi wanita itu merasa kalau ada sesuatu yang terjadi di antara suami dan putri angkatnya itu.


Sharon benci membayangkannya, maka dari itu dirinya memilih untuk menepis segala pikiran negatifnya.


Hartono menatap Sharon dengan rasa sesal seperti biasa, dan hal itu membuat Sharon semakin gelisah.


“Aku minta maaf padamu.”


Minta maaf untuk apa? Sharon sama sekali tidak mengerti. Ia hendak bertanya tapi pintu ruang ICU lebih dulu terbuka dan mengeluarkan dokter dari sana.

__ADS_1


__ADS_2