Belenggu Cinta Kedua

Belenggu Cinta Kedua
16


__ADS_3

Mia senang bukan main saat mendengar kabar kalau Sharon memecat Nana. Kini tidak akan ada lagi menjengkelkan yang bisa memojokkan dirinya. Mia tidak tahu apa yang diucapkan Hartono kepada istrinya sehingga Sharon lebih mempercayai pria itu dibandingkan omongan Nana.


Sekarang rasa senangnya semakin bertambah ketika Sharon mengatakan kalau wanita itu akan pergi untuk perjalanan bisnisnya selama beberapa hari.


“Kau pasti senang kan?”


Hartono memeluk tubuh Mia yang saat ini duduk di atas meja kerjanya. Pria itu membenamkan wajahnya di antara ceruk leher Mia dan menghirup aroma tubuh wanita itu dengan rakus.


“Sekarang hanya ada kita berdua di sini. Meski begitu kita tidak bisa bersikap bebas, karena masih ada beberapa maid yang tinggal.” Mia membalas setelah Hartono menghentikan aksinya yang sempat membuat tubuhnya merasa panas dingin.


Pria itu membenarkan perkataan Mia. Mungkin ada baiknya jika mereka harus lebih berhati-hati saat berada di mansion.


“Bagaimana kalau kita pergi ke apartemen milikmu?” Hartono bertanya sambil menatap wajah kekasihnya dengan jenis tatapan yang menggoda.


Mia mengerti arti dari tatapan pria itu. Karena hal tersebut membuat wanita itu dengan cepat menganggukkan kepalanya.


“Aku rindu bercinta denganmu di sana.” bisik Mia lalu menjilat daun telinga milik Hartono secara sengaja.


Pria itu menggeram frustrasi, ia kini benar-benar tidak tahan ingin segera menancapkan miliknya ke liang senggama wanita itu.


“Keluarlah lebih dulu, dan aku akan menyusulmu.” balas Hartono lalu memagut bibir wanita itu dengan mesra.


..


Kenapa yang namanya perzinahan itu selalu terasa nikmat, bergairah dan berapi-api? Itu adalah yang dapat dirasakan oleh Hartono ketika bercinta dengan Mia. Semua terasa indah dan memabukkan, bahkan rasanya begitu membekas dalam ingatan.


Terkadang selalu ada rasa hambar ketika dirinya melakukan percintaan bersama sang istri, membuatnya tidak pernah bisa bertahan lama dan cenderung ingin lebih cepat menyudahinya.


Berbanding terbalik saat Hartono melakukannya dengan Mia. Selain stamina yang dirasa bertambah, durasi yang tercipta juga terasa lebih lama.


Pada awalnya Hartono mengira bahwa dirinya akan bosan dengan segera dalam menjalin hubungan bersama Mia. Tapi rupanya setelah berbulan-bulan terlewati, rasa bosan itu tidak kunjung hadir. Yang ada dirinya semakin dibuat terlena hingga enggan untuk melepaskan.


“Ini gila! Milikmu menjepit dengan kuat, Mia!”


Mia tersenyum tipis mendengar racauan penuh kenikmatan yang keluar dari mulut kekasihnya itu. Ia semakin bangga saat pria itu dibuat candu oleh tubuhnya.


Karena dirinya pernah mendengar, laki-laki akan takluk ketika perut dan bagian bawah tubuhnya terpuaskan.

__ADS_1


“Sayang, di mana aku harus mengeluarkannya?” Hartono bertanya dengan suara rendah dan beratnya.


Gerakannya semakin cepat dan menusuk, membuat Mia tidak fokus pada suara pria itu karena dirinya pun baru selesai mencapai pelepasannya untuk kesekian. Hingga Hartono yang tidak bisa menahan lebih lama lagi memutuskan untuk menumpahkannya di luar.


Pria itu ambruk di samping tubuh Mia yang sedang tengkurap, nafasnya tersenggal-senggal dengan peluh yang membanjiri tubuhnya.


Mia membalikkan tubuhnya hingga kini dirinya dan Hartono saling berhadapan. Pria itu tersenyum pada Mia, dan kemudian menghadiahi wanita itu berupa kecupan hangat di kening.


“Aku sangat mencintaimu.” ucap Hartono menciptakan semburat merah merona di kedua pipi Mia.


“Bukan hanya tubuhmu yang membuatku menggila, tapi semua yang ada di dalam dirimu membuatku jatuh cinta.” ungkapan penuh kejujuran itu sukses membuat Mia tersanjung hingga ke tempat tertinggi.


Sama seperti Hartono, Mia juga mencintai setiap bagian dari diri pria itu.


“Mana yang lebih kamu cintai, aku atau istrimu?”


**


Laura benar-benar merasa tidak nyaman berada di tengah-tengah keluarga Fabian. Terutama pada ibu kekasihnya itu yang sejak tadi menatapnya dengan pandangan tidak suka.


Sebenarnya apa ada yang salah dengan dirinya ini sehingga Sharon memperlihatkan ekspresi muka seperti itu?


“Makananmu belum tersentuh, Makanlah.” itu adalah suara Hartono yang berada di depannya.


Laura tersenyum kikuk, “Baik, Om.” ucap Laura pelan.


Wanita itu kemudian mulai memfokuskan diri pada steak di depannya. Meski rasanya enak, tapi Laura tidak merasa berselera. Ia malah ingin sekali acara makan malam ini cepat selesai.


“Laura, apa pekerjaanmu saat ini?” Hartono kembali melayangkan pertanyaan yang membuat Laura bingung.


Ia saat ini tidak bekerja di manapun karena Fabian yang melarangnya sendiri.


“Untuk saat ini saya mengelola satu toko bunga bersama teman saya.” jawab Laura jujur, namun kejujurannya itu justru mendapatkan lirikan sinis dari Sharon.


“Kukira kau menggeluti passion yang sama dengan putraku.” Sharon ikut nimbrung ke dalam percakapan.


Laura terdiam kaku mendengar penuturan wanita itu, sementara Fabian kini mulai merasa tidak nyaman dengan suasananya.

__ADS_1


“Tidak semua orang harus terjun ke dunia bisnis kan, Bu?” ucap Fabian menimpali perkataan Sharon.


“Lagi pula aku juga tidak mempermasalahkan hal tersebut.” lanjut Fabian membuat Sharon jengkel.


Wanita itu hendak mengeluarkan perkataannya lagi, namun Hartono lebih dulu mencegahnya. Pria itu juga mulai tidak nyaman dengan sikap istrinya yang secara terang-terangan memperlihatkan rasa tidak sukanya pada Laura.


..


“Jadi wanita seperti itu yang menjadi pilihanmu, Fabian?” Sharon menodong putranya dengan pertanyaan menohok ketika mereka sudah sampai di mansion.


Hartono memijit keningnya yang ikut merasa pusing dengan tingkah istrinya itu.


“Wanita seperti itu? Memangnya Ibu mengharapkan aku dengan wanita seperti apa?” balas Fabian tanpa sengaja meninggikan suaranya.


Hartono terkejut dan langsung menatap tajam putranya, “Fabian, Ayah tidak suka kau meninggikan suara saat berbicara dengan Ibumu!” bentak pria itu tegas.


Kemudian pandangannya beralih pada Sharon, “Kau juga, aku sudah pernah bilang padamu untuk tidak mempermasalahkan apapun akan pilihan putra kita. Apa semua itu begitu sulit?”


Sharon yang tadinya duduk di sofa lantas beranjak dari sana dan berjalan mendekati suaminya.


“Bagaimana pun kita harus seleksi terhadap calon istri putra kita. Kau mau dia menikah dengan wanita yang tidak jelas seperti itu?!” Sharon membalas perkataan suaminya.


“Bu, kau sudah keterlaluan.” Fabian berujar lirih.


Kekecewaan nampak jelas lewat kedua matanya. Ia tidak menyangka ibunya akan mengeluarkan kata-kata seperti itu.


“Laura hanya berasal dari kalangan bawah, tapi dia memiliki orang tua meski keduanya telah meninggal. Ibu tidak berhak mengatakan hal seperti itu pada kekasihku.” tutur Fabian mencoba menahan diri agar tidak membentak wanita yang telah melahirkannya.


Sharon tidak mau mendengar penuturan dari putranya. Ia sudah terlanjur tidak menyukai Laura.


“Terserah! Yang jelas Ibu tidak menyukai wanita itu sebagai calon menantu Ibu.” tukasnya lalu pergi meninggalkan ruang keluarga.


Fabian menghembuskan nafasnya dengan frustrasi, dan Hartono yang melihat itu lantas mendekati putranya.


Pria itu menepuk pundak Fabian dengan lembut, mencoba menenangkan amarah lelaki itu.


“Jangan terlalu dipikirkan.” ucap Hartono.

__ADS_1


“Ayah akan mencoba berbicara lagi pada Ibumu. Dia hanya perlu diberi pengertian dengan pelan-pelan.” tuturnya yang kemudian hanya dibalas anggukan oleh Fabian.


Lelaki itu sangat berharap kalau ayahnya bisa membuat hati ibunya melunak dan mau menerima Laura.


__ADS_2