
Hartono melirik Mia yang dari tadi masih diam semenjak keduanya pulang dari Mall. Sepertinya Mia masih kesal gara-gara masalah tadi, di mana dirinya membiarkan Sharon pergi tanpa meminta maaf terlebih dahulu karena sudah menabrak Mia.
Hartono merasa bimbang dengan posisinya, jika ia membela Mia terlalu berlebihan di depan Sharon, takutnya Sharon semakin sakit hati. Namun jika ia melakukan sebaliknya, justru Mia yang mungkin akan beranggapan jika dirinya tidak lagi memperdulikan wanita itu.
“Kenapa belum dimakan?” Hartono bertanya pada Mia yang mengabaikan makanan yang tadi ia beli.
“Aku tidak lapar.” jawab Mia pelan.
Pria itu menghela nafas pelan, ia kemudian menarik piring milik Mia dan menyendok makanannya lalu menyodorkan satu suapan pada wanita itu.
“Kamu harus makan, kasihan nanti anak kita.” ujarnya mencoba membujuk Mia agar mau membuka mulutnya.
Bukannya luluh, Mia justru melemparkan tatapan tajam pada Hartono.
“Ketika aku jatuh tadi kamu bahkan tidak memperdulikannya. Kamu tidak berpikir bahwa kejadian tadi bisa saja menyakiti bayi dalam kandunganku.” ungkap Mia dengan kedua mata yang telah berkaca-kaca.
“Sayang, tapi Sharon tidak sengaja tadi. Dan kamu juga baik-baik saja kan?” respon Hartono membuat Mia semakin kesal.
“Jadi harus menunggu sesuatu yang buruk terjadi dulu, baru kamu akan mempermasalahkannya?” tanya Mia sarat akan kekesalan yang memuncak.
Hartono mencoba menggapai Mia, namun wanita itu menepisnya dengan cepat.
“Bukan seperti itu maksudku—” Hartono mencoba untuk menjelaskan maksud perkataannya namun Mia tetap tidak mau mendengar.
Wanita itu malah pergi meninggalkan ruang tamu dan masuk ke kamarnya tanpa lupa mengunci pintunya.
Hartono mengumpat dalam hati, ia menjambak surainya karena frustrasi menghadapi sikap Mia barusan. Jika saja dirinya tidak ingat kalau wanita itu sedang hamil, mungkin dirinya bisa memperlihatkan ketegasannya pada wanita itu.
Ia memang tidak lagi bisa marah pada Mia, tapi bukan berarti ia tidak bisa bersikap tegas pada wanita itu.
..
Mia terbangun setelah tertidur kurang lebih dua jam, dan sekarang sudah sore tapi dirinya belum membuka kunci pintu kamarnya.
Terbersit rasa bersalah menyeruak dari dalam diri Mia, ia terlalu bertingkah kekanakan hingga mengurung diri dan tidak membiarkan Hartono masuk.
“Apa dia kembali ke kantornya?” Mia bertanya pelan.
Ia tidak akan mendapatkan jawaban kalau tidak mencari tahu secara langsung. Maka dari itu dirinya memaksakan diri untuk bangun dan beranjak dari tempat tidurnya untuk keluar kamar.
Mia membuka kunci pintu kamarnya, ia mendapati ruangan yang menghubungkan pantry dan ruang tamu hanya disinari cahaya yang temaram.
Padahal masih sore, tapi gorden di sekitaran ruangan tersebut telah ditutup.
Mia menepis segala pemikirannya saat ini, ia harus fokus pada tujuannya untuk memastikan keberadaan Hartono. Wanita itu lantas kembali melanjutkan perjalanannya hingga saat ini ia telah berada di ruang tamu.
Di sana Hartono sedang membaringkan tubuhnya di atas sofa dengan kedua mata yang terpejam.
Mia mendekati tubuh pria itu, kemudian dikecupnya kening sang pria dengan lembut.
__ADS_1
“Aku minta maaf.” bisik Mia merasa bersalah atas sikapnya tadi.
Tanpa disangka kedua kelopak mata pria itu terbuka dan memperlihatkan dua bola mata hitam pekat layaknya kegelapan malam.
Mia terpaku menatap kedua obsidian hitam milik Hartono, ketika ia menatapnya seperti itu debaran jantungnya kembali menggila.
Hal itu mengingatkan Mia pada pertemuan pertama mereka yang membawa dirinya jatuh ke dalam pelukan seorang pria beristri.
“Kenapa kedua matamu ini begitu memikat?” tanya Mia seraya tersenyum tipis.
Hartono terkekeh pelan, rupanya Mia sudah tidak kesal lagi terhadapnya. Maka dari itu Hartono memberanikan diri untuk bangun dan menarik Mia agar mau duduk di atas pangkuannya.
“Itu hanya berlaku ketika aku menatapmu.” balas Hartono.
Mia mengulas senyum manisnya, ia mendongak ke atas saat pria itu mulai mencumbu lehernya dengan mesra.
“Kenapa?” tanya Mia tanpa merubah arah pandangannya.
Hartono menghentikan kesenangannya saat mendengar pertanyaan itu, “Karena aku selalu menatapmu dengan penuh cinta.”
“Makanya kedua mataku terlihat memikat di pandanganmu.”
**
Mahendra merasa dirinya mulai gila gara-gara tidak bisa mengenyahkan wajah cantik yang penuh ketegasan milik Sharon dari pikirannya. Bagaimana cara wanita itu menatapnya tajam atau saat wanita itu berbicara dengan nada tegas, semua berputar-putar di dalam kepalanya.
Padahal Sharon berusia lebih tua delapan tahun darinya, tapi Mahendra merasa jika ia mulai terpikat akan pesona wanita itu.
Pria berumur 40 tahunan itu kemudian memasuki sebuah bangunan berukuran sedang yang merupakan toko bunga. Dirinya merupakan seseorang yang menyukai keindahan bunga, ia datang kemari untuk membeli bibit bunga matahari.
“Selamat datang—! Ada yang bisa saya bantu?”
“Lho?! Laura?”
“Pak Dokter?!”
Mahendra benar-benar terkejut saat bertemu Laura di toko bunga yang ia kunjungi saat ini.
“Kau bekerja di sini?” tanya Mahendra sedikit tidak percaya.
Laura adalah seorang istri calon pewaris, jadi rasanya tidak masuk akal kalau wanita itu merupakan karyawan di toko bunga yang besarnya tidak seberapa ini.
Laura tertawa kecil mendengar pertanyaan Mahendra, kemudian Laura menggelengkan kepalanya pelan.
“Ini toko bunga milik temanku. Terkadang aku datang untuk membantunya.” jawab Laura yang langsung dimengerti oleh Mahendra.
“Oh— begitu..”
“Pak Dokter sedang mencari bunga apa?” tanya Laura berniat membantu.
__ADS_1
Mahendra tersenyum tipis kemudian menjawab pertanyaan Laura dan mengatakan kalau dirinya sedang mencari bibit bunga Matahari. Laura lantas pergi ke bagian belakang toko untuk mengambil apa yang diinginkan Mahendra.
Sambil menunggu Laura kembali, Mahendra melihat-lihat bunga yang ada di dalam ruangan. Sampai telinganya mendengar suara lonceng yang berasal dari pintu masuk, membuat fokusnya teralihkan.
Ternyata yang baru masuk ke toko bunga adalah Sharon dengan seorang pria yang tidak dikenal oleh Mahendra.
Sharon nampak terkejut melihat keberadaan Mahendra di toko bunga milik teman Laura. Kira-kira ada keperluan apa pria itu di sini?
“Aku sudah sampai, kau boleh pergi dari sini.” Sharon berkata pada Hartono yang barusan memberinya tumpangan gara-gara ban mobilnya bocor di perjalanan.
“Baiklah, aku pergi, sampai nanti.” Hartono pergi meninggalkan Sharon sesuai perintah wanita itu.
Setelah kepergian Hartono barulah Sharon memfokuskan penglihatannya pada Mahendra yang sejak tadi memperhatikan dirinya dengan Hartono.
Mahendra tersenyum tipis, “Bu Sharon mau bertemu dengan Laura?” tanya pria itu dengan ramah.
“Ya, di mana dia?” tanya Sharon menanyakan keberadaan menantunya.
“Dia,...”
“Maaf membuat Pak dokter menunggu lama.”
Laura kembali muncul dengan membawa bibit bunga yang diinginkan Mahendra. Dan wanita itu terkejut melihat Ibu mertuanya juga ada di sana.
“Kapan Ibu sampai?” tanya Laura.
Dirinya memang ada janji untuk pergi dengan ibu mertuanya, tapi Laura tidak menduga kalau Sharon datang lebih awal.
“Barusan.” jawab Sharon singkat.
Mendengar itu Laura kemudian menyuruh ibunya untuk duduk menunggu di ruang kerja Luna, dan Sharon menurut. Hingga kini Laura dapat fokus sepenuhnya pada pelanggannya yang tidak lain adalah Mahendra.
“Pak Dokter hanya membeli ini kan?” tanya Laura seraya mengemas bibit bunga sebelum diserahkan pada pelanggan.
“Ya, itu saja.” jawab pria itu.
“Ngomong-ngomong, siapa pria yang tadi mengantar Bu Sharon?” Mahendra tidak tahan untuk bertanya tentang pria tadi.
“Memangnya Ibuku di antar oleh seseorang?” tanya Laura bingung dan Mahendra pun mengangguk mengiyakan.
“Mungkin itu sopir Ibu,” Laura hanya menebak, karena dirinya jelas tidak melihat siapa yang mengantar Ibu mertuanya itu.
“Tapi pakaiannya terlalu rapi jika hanya sebagai sopir.” ujar Mahendra merasa tebakan Laura tidaklah tepat.
Mendengar itu Laura jadi ikut penasaran, memangnya siapa yang mengantar ibunya tadi? Tidak mungkin juga kan Fabian? Kalau yang mengantarnya adalah Fabian, Mahendra jelas sudah mengenalnya.
Melihat Laura yang sepertinya ikut berpikir keras, Mahendra lantas tersenyum tipis.
“Tidak usah dipikirkan. Aku hanya penasaran saja.” tutur Mahendra merasa tidak enak hati pada Laura.
__ADS_1
Ia akan mencari tahu sendiri siapa pria tadi. Karena dirinya harus benar-benar memastikan siapa saja yang bisa ia sebut sebagai saingan untuk mendekati Sharon.