Belenggu Cinta Kedua

Belenggu Cinta Kedua
43


__ADS_3

Sharon dan Hartono telah mendapatkan akta cerai masing-masing. Dan sejak itu pula Sharon bertekad untuk melupakan mantan suaminya secara perlahan.


Selain itu, Sharon juga mulai membentengi dirinya dari semua jenis perhatian yang mulai datang padanya dari berbagai pihak. Seperti dari Bramantyo, dan juga Dokter Mahendra.


Ia tidak ingin terlibat dengan pria manapun yang mungkin dapat memberinya luka seperti yang dilakukan Hartono dulu.


Sharon trauma menjalin hubungan dengan siapapun, terlebih lagi jatuh cinta.


Lagi pula usianya sudah terlalu tua untuk kembali terjerat dalam hubungan percintaan. ia lebih memilih untuk mengobati luka batinnya yang tentu saja tidak bisa sembuh dalam beberapa bulan.


Saat ini Sharon sedang menunggu kedatangan seorang perancang busana yang akan bekerja sama dengan butik miliknya. Wanita itu bernama Aleena, perancang busana yang menjalani karirnya di Las Vegas.


Namun sudah lebih lima menit dari waktu yang dijanjikan, wanita itu tidak kunjung datang. Dan itu membuat Sharon mulai lelah menunggu.


“Kemana dia?” tanya Sharon pada udara yang ia hirup.


Ia paling benci menunggu seperti ini, dan karena sudah tidak tahan lagi, Sharon pun memutuskan untuk menghubungi Aleena.


Panggilan telepon darinya langsung diterima, namun kabar yang ia dapat dari wanita itu jelas bukan jenis kabar yang menyenangkan.


Aleena memberitahu Sharon bahwa wanita itu batal untuk menemuinya dikarenakan suatu alasan yang tidak Sharon ketahui.


Aleena terdengar meminta maaf dengan tulus, meski rasa kesalnya sudah mencapai ubun-ubun, Sharon tetap menerima permintaan maaf dari wanita itu.


“Seharusnya dia memberitahuku dari awal sehingga aku tidak perlu menunggu seperti ini.” Sharon menggerutu kesal karena sikap Aleena.


“Dia itu orang baru di dunia fashion, tapi gayanya seolah-olah sudah punya nama besar saja.” ujarnya masih dengan kekesalan yang menggunung.


Dengan kesal Sharon pun pergi meninggalkan ruang rapatnya dan pergi dari sana.


..


“Kenapa kau tampak kesal seperti itu, Sharon?”


Sharon melirik Bramantyo dengan tajam, suasana hatinya sedang buruk saat ini, ia malah harus bertemu dengan pria menyebalkan ini.


“Bukan urusanmu!” ketusnya.


Bramantyo tersenyum tipis melihat respon Sharon yang tidak ramah seperti itu.


“Mending sekarang kau ikut aku.” kata Bramantyo.


“Kemana?” Sharon bertanya.


“Makan siang bersama.” jawab Bramantyo sambil menatap Sharon dengan genit.


Wanita itu menatap Bramantyo dengan sinis, ia benci saat seorang pria menatapnya dengan tatapan menjijikan seperti itu.

__ADS_1


“Ayolah, Sharon. Kita sudah lama tidak pernah makan bersama.” pria itu terus memohon supaya Sharon mau ikut bersamanya.


Namun seperti biasa Sharon kembali menolaknya. Wanita itu melewati Bramantyo tanpa bicara sepatah kata pun, dan berjalan meninggalkan kantor miliknya.


Bramantyo menghela nafas pelan, meski sikap Sharon masih ketus dan dingin seperti itu tidak juga membuatnya menyerah untuk mendekati wanita itu.


“Sharon!”


Bramantyo mencoba menyusul Sharon dan berhasil menghentikan langkah wanita itu.


“Apa lagi?” tanya Sharon terdengar malas.


“Aku mengerti kau trauma dengan pria gara-gara ulah mantan suamimu. Tapi memukul rata semua pria dan menuduh mereka berkelakuan sama seperti Hartono, itu bukanlah hal bijak.” Bramantyo berujar dengan tenang namun sorot matanya menatap Sharon begitu dalam.


“Hanya karena mantan suamimu itu brengsek, bukan berarti pria lain juga brengsek.”


Sharon tertawa pelan mendengar ocehan Bramantyo, wanita itu kemudian mendekat untuk menekan dada pria itu.


“Kau dengan dia itu sama saja.” ucap Sharon terkesan dingin.


“Bukankah gara-gara kau dia bertemu dengan wanita itu?” tanyanya seraya menahan rasa sakit yang kembali menyerang jantung hatinya.


“Suka atau tidak, kau harus mau mengakui kalau kau lah yang memberi jalan bagi mereka untuk berselingkuh.”


**


Padahal Mia sudah menawarkan diri untuk mengurusnya sendiri, tapi Haru bersikeras untuk melakukannya tanpa Mia harus terjun langsung.


Haru hanya tidak ingin merepotkan Mia.


“Bagaimana keadaanmu?” tanya Haru dengan nada ramah seperti biasa.


“Aku baik, kau sendiri bagaimana?” Mia bertanya balik.


Haru mengulas senyum tipisnya, “Aku juga sama sepertimu.” jawabnya.


“Di mana kekasihmu?” Haru menanyakan keberadaan ayah dari bayi yang dikandung Mia.


Ia pikir dirinya dapat bertemu dengan pria itu, tapi sampai saat ini Haru sama sekali tidak pernah bertemu dengan orang itu.


“Kenapa dia tidak mengantarkanmu untuk bertemu aku?” tanyanya lagi.


Mia terdiam karena Haru bertanya disaat dirinya sedang meminum jus.


“Hari ini dia sedang sibuk. Jadi aku pergi sendiri.” jawab Mia setelah selesai menelan jusnya.


Lelaki itu lantas mengangguk paham, ia tidak akan bertanya lagi karena jawaban dari Mia sudah sangat jelas.

__ADS_1


Setelah itu keduanya kembali larut dalam obrolan seputar kehidupan Haru di Jepang. Mia juga bertanya apakah Haru benar-benar akan menetap di sana atau kembali ke Indonesia. Dan Haru menjawab kalau lelaki itu akan tetap berada di Jepang karena pekerjaannya.


..


Setelah pertemuannya dengan Haru selesai, Mia memutuskan untuk pergi ke Mall seraya menunggu Hartono menjemputnya.


Wanita itu kini berdiri di depan gerai yang menjual pakaian bayi dan anak-anak. Ia tergugah untuk masuk dan melihat-lihat, siapa tahu ada sesuatu yang membuatnya tertarik.


Namun baru juga kakinya berjalan satu langkah ke depan, secara mengejutkan Mia bertemu dengan Sharon yang baru saja keluar dari gerai tersebut.


Kedua wanita itu saling terpaku satu sama lain, dengan kedua pasang mata yang saling bersitatap.


Tatapan mata Sharon jelas memancarkan kebencian, sedangkan Mia sendiri mulai memperlihatkan kerapuhannya serta rasa takut yang menyelimutinya.


Ini mungkin pertemuan pertama keduanya setelah hubungan Mia dengan Hartono terbongkar.


Sharon memutuskan untuk mengakhiri kontak matanya dengan Mia, ia memalingkan wajahnya ke arah lain dibandingkan harus melihat wajah Mia yang terlihat polos namun mematikan itu.


“Sungguh kebetulan yang sangat menyebalkan.” Sharon berujar sinis yang dapat Mia dengar dengan sangat jelas.


Mia menundukkan wajahnya karena malu, ia kini tengah kebingungan harus mengambil langkah apa dalam mengatasi situasi ini.


“Minggir!”


“Kau menghalangi jalanku!” Sharon dengan sengaja menabrak bahu Mia dan berjalan melewati wanita itu dengan gerakan kasar.


Karena Mia berdiri sambil merenung, wanita itu kehilangan kendali untuk mempertahankan tubuhnya agar tetap berdiri kokoh, hingga membuatnya jatuh tersungkur di atas lantai.


“Mia!”


Sharon berhenti seketika ketika mendengar suara Hartono muncul dari arah kanannya. Wanita itu menoleh dan melihat pria itu sedang berlari menghampiri Mia yang masih bersimpuh di atas lantai.


Hartono dengan cepat membantu Mia untuk berdiri, wanita itu terdengar meringis kesakitan hingga membuat Sharon muak.


“Sharon, kenapa kau mendorongnya?” tanya Hartono pelan sambil menatap Sharon.


Sharon mengernyitkan keningnya, “Kau tidak salah bertanya itu padaku?”


“Aku tidak mendorongnya.” ungkap Sharon sedikit membentak Hartono.


Emosi yang dirasakan Sharon saat bertemu Mia tidak ada apa-apanya dibandingkan kekesalannya pada Hartono yang tiba-tiba saja menuduh dirinya mendorong wanita itu.


Sharon menatap tajam pada Mia yang sejak tadi diam saja tanpa mau meluruskan kesalahpahaman ini.


“Kau tanyakan saja pada wanita ini—” Sharon menunjuk wajah Mia, “Apa memang aku yang telah mendorongnya?!”


Mia mendongak dan menatap Sharon dengan tatapan yang jauh lebih berani dibanding sebelumnya.

__ADS_1


“Anda memang tidak mendorongku, tapi anda menabrak bahuku dengan sengaja hingga membuat aku terjatuh.”


__ADS_2