
Dokter mengungkapkan kalau Mia telah melewati masa kritisnya dan kini wanita itu telah sadar sepenuhnya. Hartono sangat lega ketika mendengar itu, namun di sisi lain dirinya juga takut kalau Mia akan mengatakan semuanya pada Sharon.
“Kau mau kemana?” Sharon bertanya pada Hartono yang kini mulai menjauh dari ruang rawat inap di mana Mia berada.
Pria itu terdiam seraya menatap istrinya dengan pandangan rapuh. Sharon benar-benar tidak mengenali suaminya yang terlihat lemah seperti itu.
“Aku pulang dulu untuk berganti pakaian. Kau bisa jaga dia sebentar, kan?” kata Hartono yang kemudian disanggupi oleh Sharon.
Setelah kepergian Hartono, Sharon masuk untuk menemui Mia. Ia ingin bertanya lebih jelas tentang bagaimana wanita itu bisa kecelakaan.
Saat Sharon masuk, ia melihat Mia sudah bangun dan wanita itu tengah menangis. Dirinya tidak tahu apa yang menimpa putri angkatnya itu. Mia yang menyadari kedatangan Sharon lantas menghapus air matanya dengan segera.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Sharon setelah duduk di dekat wanita itu.
Mia terdiam sejenak, ia ingin membenci Sharon sebagai penyebab kandasnya hubungan dirinya dan Hartono, tapi tidak bisa. karena wanita itu tidak pernah salah apapun sejak awal. yang salah di sini adalah dirinya, dan juga suami wanita itu.
Dengan terpaksa Mia menarik kedua sudut bibirnya untuk tersenyum, “Sudah lebih membaik, Bu.” jawab Mia tanpa berani menatap wajah Sharon.
“Syukurlah, Ibu lega mendengarnya.” ucap Sharon sambil mengulas senyumnya.
“Sebenarnya apa yang telah terjadi? Kenapa kamu bisa mengalami hal ini, sayang?” tanya Sharon penasaran.
“Aku korban tabrak lari, Bu. Aku tertabrak saat menghindari kejaran dari seseorang.” Mia menjawab dengan suara yang datar.
Sharon terpekur saat mendengar jawaban Mia. Pemikirannya yang sempat ia tepis kini kembali terbayang di benaknya.
Apakah suaminya yang mengejar Mia? Itu adalah pertanyaan yang ingin Sharon utarakan, tapi dirinya tidak mungkin menanyakan itu secara langsung pada Mia.
Mia memperhatikan raut muka Sharon saat ini, ia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan wanita itu.
“Siapa yang mengejarmu?” tanya Sharon semakin dihantui rasa penasaran.
“Kekasihku.” jawab Mia membuat perasaan Sharon semakin tidak karuan.
“Atau lebih tepatnya adalah mantan kekasihku.” lanjut Mia.
Mia menyunggingkan senyum tipisnya, “Aku baru tahu kalau pria yang yang berhubungan denganku ternyata suami wanita lain. Di situ kami bertengkar hebat karena aku ingin berpisah darinya, sementara dia menolak untuk berpisah.” Mia mulai bercerita sebuah kebohongan pada Sharon. Ia senang melihat raut muka wanita itu yang nampak tertekan mendengar ceritanya.
__ADS_1
Sepertinya Sharon mulai meragukan kesetiaan Hartono, dan itu bagus untuk Mia. meski pada akhirnya ia dan Hartono tidak bisa bersama, tapi Mia juga berharap kalau Sharon tidak juga memiliki Hartono.
Meski rasanya cukup mustahil, karena bagaimana pun keduanya telah menjadi suami-istri yang sah.
“Ibu, siapa orang yang membawaku kemari?” Mia pura-pura tidak tahu siapa yang membawanya ke rumah sakit. Padahal sebelum dirinya tidak sadarkan diri, ia masih mendengar suara Hartono yang memohon-mohon agar dirinya tetap hidup.
Sharon yang tadinya memiliki pemikiran kalau suaminya berselingkuh dengan Mia lantas mengernyitkan keningnya saat mendengar pertanyaan wanita itu.
“Suamiku yang membawamu ke rumah sakit, kamu tidak mengingatnya?” ujar Sharon terheran-heran.
Mia memperlihatkan ekspresi orang bingung, dan tentu saja itu hanya akting semata.
“Aku tidak ingat telah bertemu Ayah.”
“Maksudku, saat aku bertengkar dengan mantan kekasihku, aku sama sekali tidak melihat Ayah di sana.” jelas Mia.
Sharon memejamkan kedua matanya, ia merasa lega mendengar penjelasan Mia. Itu artinya tidak ada hubungan berarti di antara Mia dan suaminya.
Dan perihal bagaimana Hartono menemukan Mia, mungkin pria itu secara kebetulan melewati lokasi kecelakaan itu terjadi.
Benar, tidak mungkin juga keduanya menjalin hubungan. Sharon terlalu berlebihan dalam berpikir.
Hartono ingin sekali menarik Mia ke dalam pelukannya, lalu memberi wanita itu kecupan-kecupan di seluruh permukaan wajahnya. Namun semua itu hanyalah sekedar keinginan dalam angan liarnya.
Dan ia sebisa mungkin menekan keinginan itu agar deklarasi berakhirnya hubungan mereka kemarin bukan sekedar omong kosong belaka.
“Jangan pernah lakukan hal bodoh seperti kemarin lagi, Mia.” Hartono berujar setelah memastikan jika di ruangan itu hanya ada dirinya dan Mia.
Istrinya baru saja pergi untuk pulang, dia butuh istirahat setelah menghabiskan malam untuk menjaga Mia. Dan kini giliran dirinya yang bergantian menjaga wanita itu.
Mia tidak mengindahkan perkataan Hartono sama sekali. Bukannya tidak peduli, namun untuk saat ini diamnya sangat diperlukan guna menekan kepedihan yang dirasakannya ketika mengingat hubungan mereka kini telah kandas.
“Kau hampir membuatku tidak bisa bernafas.” ucap Hartono membuat Mia gagal mempertahankan keacuhannya.
Wanita itu kini menoleh dan menatap pria yang dicintainya. kedua matanya saat ini bahkan mulai berkaca-kaca dan siap menumpahkan air matanya.
“Aku takut kehilanganmu, Mia.” ungkap Hartono dengan sorot mata yang sendu.
__ADS_1
“Bisa-bisanya kamu mengatakan hal itu setelah mencampakkan aku?!” emosi Mia mulai tersulut, dan wanita itu tidak tahan untuk mengeluarkan semuanya tepat di depan wajah Hartono.
“Aku tidak mencampakkanmu.”
“Tapi kamu membuangku! Kamu menyuruhku untuk pergi!” teriak Mia membuat Hartono terkejut.
Wanita itu kembali menangis dan membuat Hartono terpaksa memeluknya agar Mia dapat ditenangkan. Dan benar saja, wanita itu mulai bisa tenang juga tidak lagi berteriak histeris.
“Kita hanya mengakhiri hubungan kita, Mia.” ujar pria itu.
“Bukan berarti aku tidak lagi menyimpan kepedulian terhadapmu.” lanjutnya lirih.
“Aku masih peduli padamu, masih sangat mencintaimu. Dan aku tidak ingin kehilanganmu.”
“Tapi kita tidak bisa bersama, dan semua pengakuanmu barusan tidak berarti apa-apa lagi.” Mia dengan cepat menimpali perkataan Hartono hingga membuat pria itu bungkam dibuatnya.
Rasa cintanya terhadap Mia benar-benar membelenggu Hartono. Pria itu tidak menginginkan hubungannya berlanjut, namun dirinya juga tidak bisa membiarkan wanita itu hilang dari hidupnya.
Mia harus tetap terlihat oleh kedua matanya, dan wanita itu harus tetap hidup agar Hartono punya alasan untuk bertahan hidup.
“Mau kah kau menikah dengan putraku?”
Kedua mata Mia terbelalak sempurna saat mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut pria yang dicintainya.
“Apa kamu gila?!”
“Untuk apa aku menikah dengan Fabian?!” Mia bertanya sambil menatap pria itu tajam.
Hartono benar-benar tidak waras, bukannya pria itu menikahi dirinya, malah menyuruh putranya untuk menikah dengan Mia.
“Aku memang telah kehilangan kewarasanku, Mia." Balas pria itu.
“Aku menginginkanmu menikah dengan Fabian agar kau bisa bahagia. Dan juga agar aku tetap bisa melihatmu.” ungkap Hartono terdengar sangat egois di telinga Mia.
“Itu terdengar egois! Kamu bahkan tidak memikirkan bagaimana perasaan putramu.” tutur Mia ikut terbakar emosi.
Hartono kembali dibuat bungkam oleh penuturan Mia. Wanita itu benar, dirinya terlalu jahat dan egois.
__ADS_1
Tapi semua dilakukannya hanya karena dirinya tidak sanggup kehilangan Mia. Ia tidak ingin wanita itu pergi dengan semua luka yang telah ia beri.
“Kamu tidak perlu cemas. Aku akan tetap pergi dari hidupmu, agar kamu bisa melanjutkan hidup dengan istrimu.”