
Hotel dan Resort yang akan dikelola oleh Fabian telah resmi di buka. Maka dari itu Hartono beserta Sharon pergi untuk menghadiri pembukaan tempat tersebut.
Sebenarnya tempat itu Hartono bangun untuk ia kelola. karena perusahaan utama rencananya akan ia serahkan pada putranya. Tapi Fabian menolak untuk menerima perusahaan utama, dan memilih mengelola hotel baru tersebut.
Setelah resmi bercerai, aset dan kekayaan Hartono hanya tinggal perusahaan tersebut beserta pabrik produksinya. dan juga sebuah penthouse mewah yang ia tempati saat ini dengan Mia.
Mansion, Tanah, Butik, beserta perkebunan yang ada di Lampung, semuanya telah ia bagi pada Sharon dan Fabian.
“Hartono, kenapa kau tidak membawa wanita itu?” Sharon bertanya ketika keduanya sama-sama duduk untuk menikmati makan siang bersama.
“Aku tidak mau dia berpikiran aneh-aneh tentang kita. Dan berakhir menuduhku macam-macam.” ucapnya lagi.
Hartono terdiam mendengar pertanyaan mantan istrinya itu, ia tidak membawa Mia ke Lombok karena kebetulan wanita itu sedang tidak enak badan.
“Aku tidak ingin dia kelelahan dengan perjalanan ini, apalagi sekarang dia sedang mengandung.” ungkap Hartono.
Pria itu berkata tanpa dirasa bahwa perkataannya membuat Sharon terkejut bukan main. Wanita itu benar-benar tidak tahu kalau Mia sedang mengandung.
Tangannya yang sedang memegang pisau itu kemudian bergetar. Rasa sakit itu kembali menyerang Sharon.
Bagaimana bisa Hartono menceritakan kehamilan Mia di depannya tanpa perasaan bersalah?
Kedua belah bibir Sharon langsung terkatup, Ia kehilangan nafsu makannya.
Kabar kehamilan Mia merupakan bukti cinta terlarang mantan suaminya itu terjalan dengan begitu mulus hingga menghasilkan sebuah benih di luar pernikahan.
“Berapa usia kandungannya?” tiba-tiba Sharon bertanya sambil menahan perih di dadanya.
Hartono terdiam seolah baru sadar kalau dirinya salah dalam berucap. Sharon pasti akan merasa lebih sakit kalau tahu usia kandungan Mia melebihi usia perceraiannya dengan Sharon.
Sharon melepaskan alat makannya dengan segera, lalu mulai menatap wajah mantan suaminya itu dengan sorot mata penuh kebencian.
“Aku telah selesai.” ucap Sharon lalu berdiri dari tempat duduknya.
“Makananmu belum habis, Sharon. Fabian dan Laura juga sedang dalam perjalanan kemari.” tutur Hartono berharap Sharon mau mengurungkan niatnya untuk segera pergi meninggalkan restoran.
Wanita itu tidak menjawab, Sharon benar-benar mengayunkan langkahnya untuk meninggalkan tempat itu.
..
Mia tidak bisa menyembunyikan perasaan gelisahnya saat ini. Hartono pergi bersama Anak dan Mantan istrinya ke Lombok. Mereka akan menghabiskan waktu selama dua hari di sana.
__ADS_1
Tidak akan ada yang tahu apa yang mereka lakukan di sana. Keduanya akan menjadi sering bertemu dan bercengkrama satu sama lain.
Ia takut kalau perasaan Hartono pada Sharon kembali tumbuh karena sering bertemu.
Apalagi pria itu masih menyimpan kepedulian yang besar terhadap Sharon. Maka tidak menutup kemungkinan kalau perasaan cinta yang sempat layu kembali bermekaran.
Kegelisahan Mia semakin menjadi-jadi tatkala Hartono tidak kunjung mengangkat panggilan telepon darinya.
“Kemana ayahmu itu?” Mia bertanya sambil mengelus perutnya yang terlihat besar karena sudah memasuki bulan ke empat.
Pikirannya jadi berkecamuk dan memikirkan hal yang tidak-tidak tentang Hartono juga Sharon.
“Aku tidak bisa terus-terusan seperti ini.” gumam Mia dengan segala resah di hatinya.
Mia jadi punya pikiran untuk pergi menyusul Hartono, tapi ia juga takut pria itu akan memarahinya.
“Mungkin lebih baik aku menunggu dulu. Jika nanti malam dia tidak menelepon balik, maka aku akan benar-benar pergi menyusul ke sana.”
**
Karena acara peresmian hotel diadakan besok pagi, maka para investor yang berhubungan erat dengan Hartono beserta hotel tersebut mulai berdatangan malam ini.
Setelah menyelesaikan urusannya, Hartono kembali ke tempat di mana dirinya mengadakan makan malam bersama dengan para kolega bisnisnya.
“Maaf, karena telah membuat kalian menunggu.” ujar Hartono menggunakan bahasa Inggris.
“Tidak masalah, Pak.” jawab keempat orang itu secara serempak.
Beberapa dari mereka berasal dari negara Asia Timur, salah satunya ada yang dari Korea Selatan. Wanita bernama Haram itu datang bersama putrinya yang bernama Sara.
Gadis itu terus-terusan menatap ke arah Hartono, dan dapat disadari oleh pria tersebut. Hartono tidak mengerti kenapa Sara terus memandang ke arahnya.
“Paman habis dari mana?” tanya Sara tanpa rasa canggung.
Hartono tertawa kecil mendengarnya, sementara Haram langsung menyuruh putrinya untuk diam.
Haram malu karena Sara bertanya tentang sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan pertemuan ini.
“Saya habis menelepon Istri.” jawab Hartono membuat Sara menghela nafas kecewa.
Padahal ia mendengar kabar kalau Hartono telah bercerai dengan istrinya, jadi rumor yang ia dapat itu tidak benar.
__ADS_1
Setelah itu suasana kembali kondusif. Hartono memulai pembahasannya dengan orang-orang asing ini. Ia menjelaskan meski hotel ini bukan dirinya yang mengelola, tapi Hartono masih akan terus mengawasi perkembangannya.
Hartono terus mencoba meyakinkan para koleganya agar tidak ada keraguan dalam diri mereka setelah menanam saham di hotel milik Fabian ini.
..
Hartono tidak mengerti kenapa Sara terus mengikutinya bahkan hingga dirinya sampai di depan pintu kamarnya.
Sebenarnya apa yang diinginkan gadis ini?
“Kenapa kau mengikutiku?” tanya Hartono ketika Sara bahkan tidak menyembunyikan kehadirannya.
Gadis itu tersenyum manis dan menatap Hartono dengan sorot mata yang berani.
“Aku ingin mengobrol dengan paman.” jawabnya tanpa memudarkan senyum manisnya.
Hartono mengernyitkan keningnya, “Untuk apa?”
“Aku tidak memiliki urusan denganmu. Aku hanya punya kepentingan dengan ibumu.” jelas Hartono membuat Sara kembali menyunggingkan senyumannya.
Gadis itu kini semakin berani melangkah mendekati Hartono, bahkan Sara begitu berani menatap wajah pria itu dari dekat.
Hartono mulai waspada terhadap gadis yang ada di hadapannya saat ini.
“Aku memaksa ikut pada Ibuku demi bertemu dengan Paman. Tidakkah Paman mau menghargai usahaku?” ujar Sara sambil menatap penuh arti pada pria di depannya.
“Aku tidak peduli. Sekarang kau kembali pada ibumu.” respon Hartono dingin.
Pria itu kemudian bergegas masuk ke kamar dan langsung mengunci pintunya dengan cepat.
Hartono benar-benar bingung kenapa gadis itu bersikap berani seperti barusan. Padanya.
“Aku tidak suka berhadapan dengan wanita seperti itu.” ucapnya.
Sementara itu Sara masih berdiri di luar kamar tempat Hartono berada. Gadis berambut merah darah itu tersenyum tipis.
Meski respon yang diperlihatkan Hartono begitu dingin padanya, tapi hal itu justru membuat Sara semakin tergila-gila pada pria itu.
Dia pernah bertemu dengan Hartono lima tahun lalu, tapi saat itu dirinya baru kelas tiga SMP. Dan Hartono sepertinya tidak mengingat dirinya yang datang bersama Haram ke Jakarta.
“Paman itu tipe Daddy yang aku mau.” ucapnya lalu pergi meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1