
Sara sempat berpikir kalau Hartono adalah pria yang begitu setia, tapi ternyata ia salah besar. Dirinya baru mengetahui kalau Hartono telah bercerai dengan Istrinya, dan sekarang pria itu menjalin hubungan dengan wanita yang lebih muda.
“Menggoda pria yang pernah berselingkuh itu harusnya tidak sulit.” ucap Sara.
“Kau bicara apa?” Haram bertanya pada putrinya.
Sara menggeleng pelan dengan wajah Innocent nya seperti biasa, “Tidak, Bu.”
“Aku barusan bilang kalau Istrinya Pak Fabian sangat cantik.” ucap Sara berbohong.
Saat ini Sara memang sedang menyaksikan Fabian yang tengah memberi kata sambutan pada para tamu didampingi oleh Laura. Tapi sejujurnya fokus Sara masih sama, yaitu menatap Hartono yang duduk berdekatan dengan Sharon.
Terlihat begitu jelas kalau Sharon memendam kebencian pada mantan suaminya itu. Sara tersenyum melihatnya, ini benar-benar tontonan yang menarik.
“Bu, aku dengar paman Hartono berselingkuh.” Sara berbisik di telinga ibunya.
Haram yang mendengar itu kemudian mencubit lengan Sara dengan keras, “Tidak perlu ikut campur urusan orang lain, Sara!”
“Kita datang kesini semata-mata untuk pekerjaan, bukan untuk mengomentari kisah hidup orang lain.” Haram berujar tegas pada putrinya.
Haram tidak mengerti kenapa putrinya itu tiba-tiba saja membahas masalah pribadi kolega bisnisnya. Itu bukan sesuatu yang pantas dibicarakan. dan lagi pula permasalahan tersebut tidak ada hubungannya dengan mereka, tidak seharusnya Sara ikut membahas ini.
Sara tidak peduli dengan peringatan ibunya, ia jauh-jauh ke sini untuk memuaskan rasa penasarannya pada pria tua itu. Dirinya tidak akan mau kembali ke Korea Selatan, kalau keinginannya belum terlaksana.
..
Hartono merasa ada yang aneh dengan dirinya ketika acara peresmian hotel telah selesai. Pria itu terlihat kebingungan dan hal tersebut menarik perhatian Sharon yang memang duduk di sampingnya.
“Kau kenapa?” tanya Sharon.
Meski Hartono sudah menyakitinya, tapi sejujurnya Sharon masih menyimpan perhatian pada pria itu. karena bagaimana pun keduanya pernah hidup bersama selama puluhan tahun.
Hartono menoleh pada Sharon yang entah kenapa kali ini terlihat lebih cantik dari tadi.
“Aku tidak tahu. Tubuhku terasa tidak nyaman.” jawab Hartono.
Jawaban dari pria itu membuat Sharon semakin cemas, apalagi setelah melihat keningnya yang mulai mengeluarkan keringat.
“Kau sakit?” tanya Sharon tanpa menyembunyikan raut muka cemasnya. Bahkan sekarang tangan Sharon telah menempel di dahi Hartono dan mengusap keringat pria itu.
Wajah cantik mantan istrinya terlalu dekat saat ini, dan entah kenapa Hartono jadi ingin mencium Sharon.
__ADS_1
“Sharon, kau cantik sekali.” ucapnya tanpa sadar.
“Kau ini bicara apa?!” Sharon kesal dan langsung memukul lengan Hartono.
Hartono merasakan tubuhnya semakin panas, dan jantungnya berdebar-debar dengan ritme yang tidak normal. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya sedang menimpa dirinya.
Namun satu yang jelas, dorongan untuk menyentuh mantan istrinya itu terasa semakin besar.
Melihat Hartono yang gelisah seperti itu, kembali membuat Sharon tidak tega. maka dengan niat baiknya, Sharon membawa Hartono untuk pergi meninggalkan aula tersebut.
“Kau itu mabuk atau bagaimana?” tanya Sharon sambil menuntun tangan Hartono di sepanjang jalan.
“Aku tidak minum apapun selain air mineral yang disediakan staf hotel.” Hartono menjawab dengan yakin.
Sementara itu di belakang Hartono dan Sharon terdapat Sara yang mengikuti keduanya. Gadis itu mengumpat kesal karena rencananya berubah tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya.
“Aku harus bisa mengambil alih,” ucap Sara sambil mempercepat langkah kakinya.
“Sia-sia saja aku memberikannya obat perangsang kalau bukan aku yang menikmatinya.”
**
Sara adalah gadis cerdik dan juga licik. Ia manifulatif dan pandai memerankan peran.
Sharon membawa Hartono ke kamarnya dan mengunci mantan suaminya itu di kamar mandi. Ia terpaksa melakukannya karena Hartono terus berusaha untuk menyentuh tubuhnya.
Meski perasaan cinta itu masih ada, namun bukan berarti Sharon mau tubuhnya disentuh oleh pria itu.
“Apa seseorang memberikan obat pada Hartono?” tanya Sharon yang masih tidak mengerti dengan perilaku pria itu tadi.
Ia masih duduk di atas ranjang sambil menunggu Hartono menenangkan diri. tiba-tiba ponsel milik Hartono berdering dan memperlihatkan nama Mia sebagai si pemanggil.
Sharon mendiamkan saja ponsel itu karena memang bukan ranahnya. Tapi ponsel itu terus saja berbunyi hingga membuatnya kesal.
“Kalau aku angkat nanti timbul masalah baru.” gumam Sharon sambil menatap layar ponsel milik Hartono dengan datar.
Ia tidak ingin terlibat drama memuakkan lagi dengan Mia, jadi dirinya memutuskan untuk mendiamkan saja panggilan dari wanita itu.
“Sharon!”
Hartono mengedor-gedor pintu kamar mandi dari dalam sambil memanggil nama mantan istrinya. Mendengar itu Sharon berdiri dan mendekati pintu tersebut.
__ADS_1
“Kau sudah mulai waras?” tanya Sharon.
“Ya, dan aku kedinginan sekarang.” Hartono menyahut dari dalam.
Sharon terdiam sejenak, ia masih ragu untuk membuka pintu karena takut Hartono kembali menyerangnya. Tapi kalau dirinya tidak segera membukakan pintu, Hartono bisa sakit.
“Sharon!” Hartono kembali memanggil wanita itu.
Sharon menghembuskan nafasnya dan kemudian ia membuka pintu kamar mandi untuk mengeluarkan Hartono dari sana.
Pria itu sudah basah kuyup, mungkin selama di dalam kamar mandi Hartono terus mengguyur diri dengan air dingin.
“Kau—”
Perkataan Sharon terhenti saat Hartono tiba-tiba memeluk wanita itu dengan erat.
“Aku benar-benar berterima kasih padamu, Sharon.”
..
Hartono pulang ke Jakarta lebih dulu dibandingkan Sharon dan Fabian. Ia sudah sangat merindukan Mia yang dari tadi terus-terusan menelepon dirinya.
Ketika malam tiba, Hartono juga telah sampai di penthousenya. Ia langsung mencari keberadaan wanita itu yang ternyata belum tidur.
“Sayang, kenapa belum tidur?” Hartono bertanya pada Mia yang sedang duduk di atas tempat tidur.
Hartono mendekati Mia dan langsung memeluk tubuh wanita itu tanpa memperhatikan ekspresi Mia yang terlihat murung.
“Aku sangat merindukanmu dan juga baby kita.” bisik pria itu seraya menghujami wajah Mia dengan kecupannya.
Mia terdiam tanpa berniat untuk membalas perkataan dari Hartono. Wanita itu sedang dalam keadaan kalut gara-gara melihat foto Hartono dengan Sharon yang dikirimkan oleh seseorang padanya.
Foto hasil jepretan kamera ponsel itu memperlihatkan kondisi Hartono yang sedang dipeluk oleh Sharon. Keduanya bahkan terlihat memasuki kamar hotel secara bersamaan.
Mia menangisi foto-foto itu sejak tadi, dan kini rasa sakit di dadanya semakin parah tatkala melihat sikap Hartono yang seolah-olah tidak melakukan kesalahan apapun.
Hartono mulai menyadari kalau Mia bungkam sejak kedatangannya, ia lantas meneliti wajah cantik kekasihnya dengan seksama.
“Kamu kenapa?” tanya Hartono ketika menyadari kalau Mia sedang menangis tanpa suara.
Rasa takut dan cemas itu mulai merayap ke dalam rongga dada Hartono. Ia tidak tahu apa yang membuat Mia seperti itu.
__ADS_1
Mia menatap Hartono dengan tajam, “Apa kau tidur dengan mantan istrimu?” tanya Mia sontak membuat Hartono terkejut.