Belenggu Cinta Kedua

Belenggu Cinta Kedua
Bab 15


__ADS_3

Nana sangat mengerti kecerobohannya kemarin. tidak seharusnya ia mengeluarkan tuduhan itu pada Mia tanpa bukti. Nana bersikap seperti itu karena dirinya merasa cemburu pada Mia, wanita itu sukses mendapatkan perhatian dari seluruh penghuni rumah.


Padahal Nana tahu kalau Mia bukan anggota asli keluarga Hartono. tapi Tuan dan Nyonyanya terlihat begitu menyayangi wanita itu.


“Mia bilang kau menuduhnya telah berselingkuh dengan suamiku.” Sharon berujar tenang meski kedua matanya berkilat tajam menatap Nana yang saat ini duduk bersimpuh di depannya.


Gadis itu menatap takut-takut pada Sharon dan juga Hartono yang sama-sama duduk dengan jumawa di atas sofa.


“Kau memiliki buktinya? Makanya kau berani mengatakan itu.” tanya Sharon tegas.


Nana menggeleng pelan, “Maaf nyonya, saya hanya pernah melihat Tuan memasuki kamar Mia di malam hari.” ungkap Nana dengan suara yang terdengar bergetar.


Sharon terdiam lalu menatap suaminya yang terlihat santai tanpa beban. Hartono terlalu tenang sehingga Sharon tidak menaruh kecurigaan sedikit pun pada pria itu.


“Kalau begitu, apa kau melihat mereka melakukan apa di dalam sana?” pertanyaan Sharon barusan tentu saja mendapat gelengan kepala dari Nana.


“Saya tidak bisa melihat apapun.” jawab gadis itu membuat Sharon tersenyum tipis.


Hartono menghela nafas pelan, ia sudah menyiapkan berbagai alasan sejak kemarin dan dirinya juga yakin kalau istrinya akan memihak dirinya.


“Aku memang masuk ke kamar Mia beberapa malam yang lalu. Tapi kami tidak melakukan apa pun seperti yang terlintas di kepalamu.” ujar Hartono tenang namun lugas.


“Beberapa hari sebelum itu, Mia mengeluh tidak bisa tidur. Makanya aku memberinya obat yang bisa membuat dia dapat tidur dengan nyenyak.” Hartono menjelaskan dengan seksama yang tentu saja didengarkan oleh Sharon dan juga Nana.


“Kau tahu kan sayang, dari pagi hingga sore aku tidak ada di rumah. Jadi aku hanya bisa memberikannya di malam hari.” Sharon mengangguk mengiyakan, ia sangat mempercayai suaminya. Wanita itu yakin kalau Hartono adalah pria yang setia, jika pria itu memang orang yang mudah berpaling, mungkin suaminya itu sudah lama melakukannya.


Nana meremas kedua telapak tangannya, sekarang ia mulai ketakutan sendiri karena sepertinya Sharon benar-benar mempercayai penjelasan dari Hartono.


“Lagi pula aku ini sudah tua, sedangkan Mia masih muda. Dia mana mau dengan pria tua sepertiku.” ucapan Hartono barusan berhasil memancing Sharon tersenyum.


Ia juga memiliki pemikiran yang sama, Mia adalah wanita cantik dan muda, seleranya jelas bukan pria super matang seperti suaminya. Mia pasti mencari pria yang seumuran dengan putranya.


Sharon kemudian mengalihkan perhatiannya lagi pada Nana yang sekarang berwajah pucat.

__ADS_1


“Nana, selama kau kerja di sini aku cukup puas dengan kinerjamu. Tapi kali ini kau melakukan kesalahan besar dengan menuduh suamiku berselingkuh tanpa bukti.” helaan nafas terdengar berat keluar dari mulut Sharon.


“Mulai sekarang kau berhenti dari pekerjaanmu.” putusnya dengan tegas.


Walau terasa berat hati, tapi Sharon tetap harus memecat Nana. Ia tidak menyukai tipe pekerja seperti gadis tersebut, yang tidak bisa menjaga pandangan mata maupun telinganya terhadap apa yang dilakukan tuan rumah.


Nana memohon-mohon pada Sharon untuk tidak memecatnya. Bahkan gadis itu sampai menangis tersedu-sedu dan berharap Sharon mau berbelas kasih.


Tapi keputusan wanita itu sudah bulat, dan ia tidak akan goyah karena rasa ibanya pada Nana.


Keputusan Sharon membuat Hartono merenungi segala kebohongannya. Istrinya itu begitu mempercayai dirinya, dan betapa jahatnya ia malah terus-terusan membohongi wanita itu juga mengkhianati kepercayaannya.


**


Hembusan angin malam menerbangkan helai-helai rambut panjang milik Laura, di mana wanita itu berdiri tanpa rasa takut di atas balkon kamarnya.


Pikirannya tengah sibuk memikirkan rencana Fabian yang akan mengenalkan dirinya pada kedua orang tua lelaki itu.


Laura merasa dirinya takut dan tidak percaya diri sebagai kekasih Fabian. Lelaki itu berasal dari keluarga terpandang juga kaya raya, sementara dirinya hanya wanita dari kalangan biasa.


“Bagaimana kalau orang tuanya tidak menerimaku?” Laura bertanya pada dirinya sendiri.


Ia sering mendengar kisah cinta tentang pria kaya dan wanita miskin di mana hubungan mereka kebanyakan berakhir mengenaskan. Dan Laura takut kalau kisah cintanya akan berakhir serupa seperti itu.


“Kamu memikirkan apa sih sampai-sampai tidak mendengar saat kupanggil tadi.” Fabian menggerutu kesal gara-gara diabaikan oleh Laura.


Padahal dirinya ingin wanita itu menyambut dengan hangat ketika dirinya sampai tadi.


Laura yang tadi fokus menatap langit hitam di atasnya lantas memutar tubuhnya guna menatap sang kekasih. Ia menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyum manis yang membuat Fabian kehilangan rasa kesalnya.


“Kapan kamu sampai?” tanya Laura setelah berhasil memeluk tubuh kekasihnya.


Wajah mendongak ke atas agar bisa menikmati rupa tampan milik Fabian dengan puas. Fabian balas tersenyum pada wanita itu, lalu lelaki itu menghadiahi sebuah kecupan sayang di kening Laura.

__ADS_1


“Baru saja.” jawabnya singkat.


“Tadi kamu sedang memiliki apa?” tanya Fabian mengulangi pertanyaannya tadi.


Laura kemudian menjelaskan apa yang tadi sedang dirinya renungkan. Dan itu membuat Fabian merasa bersalah karena ternyata menjalin hubungan dengannya bisa membuat Laura tertekan.


“Aku senang menjadi kekasihmu, tapi aku juga takut kalau keluargamu tidak menyukai aku.” ujar Laura jujur.


Fabian belum merespon perkataan Laura. Ia lebih memilih menggendong wanita itu dan membawanya masuk ke kamar. Setelahnya ia membaringkan tubuh Laura di atas ranjang hingga kemudian dirinya pun ikut bergabung dengan wanita itu.


Keduanya tertidur dalam posisi berhadap-hadapan, saling memandang penuh cinta wajah masing-masing.


“Keluargaku tidak semenyaramkan itu kok.” bisik Fabian lembut. Ia berbicara sambil membelai mesra rambut kekasihnya.


“Aku yakin mereka akan menerimamu sebagai pilihan hidupku.” ucapnya kemudian.


Laura ingin merasa tenang, namun rasa takut itu kembali menghantui dirinya saat ia mengingat pekerjaannya di masa lalu.


“Tapi Fabian, bagaimana kalau keluargamu tahu kalau aku ini mantan hostess? Aku yakin mereka akan memandangku buruk.” Laura mengungkapkan ketakutannya. Dan Fabian mencoba menenangkan kekasihnya dengan cara memeluk tubuhnya.


“Aku rasa mereka tidak akan mengkorek masa lalumu hingga sedalam itu.” ujar Fabian tenang.


“Dan meskipun itu terjadi, aku yakin mereka tidak akan mempermasalahkannya.”


Fabian mengecup sisi wajah Laura, “Kamu jangan terlalu mengkhawatirkan itu. Apapun keputusan mereka, tidak akan merubah apapun pada hubungan kita.” bisik Fabian membuat Laura terdiam.


“Aku sangat mencintaimu, Laura. Aku hanya akan menikah denganmu.” ujarnya lagi.


Laura merasa terharu bukan main. Perasaan tulus Fabian dapat dirasakan olehnya tanpa batasan. Ia benar-benar bahagia dapat dicintai oleh lelaki sebaik Fabian.


“Aku juga mencintaimu tidak kalah besar.” ujar Laura penuh keyakinan.


Mendengar itu Fabian dapat tersenyum lega, ia senang kalau wanitanya sudah merasa baikan.

__ADS_1


“Dengar Laura, apapun yang terjadi kita akan tetap bersama.”


__ADS_2