
“Apa kau tidur dengannya?”
“Ya,”
“Kau juga melakukan itu saat di mansion ini?”
“Benar, kami melakukannya saat kau tertidur.”
Tanpa terasa air matanya kembali luruh saat mengingat percakapannya dengan Hartono di malam pertengkaran mereka. Pria itu, suaminya, orang yang ia percayai, dan merupakan cinta pertamanya, telah berani berzinah di belakangnya.
Dia bukan hanya menduakan cintanya, pria itu juga mematahkan janji suci pernikahan mereka yang telah keduanya yakini selama bertahun-tahun. Hartono menghancurkan segalanya, mulai dari kepercayaan hingga rasa cintanya dalam sekejap.
Kini Sharon bahkan menjadi sangat tersiksa dengan mengetahui fakta kalau suaminya juga menjadikan istana mereka sebagai salah satu tempat perzinahan pria itu dengan Mia.
Ia merasa tidak akan sanggup lagi untuk tinggal di mansion ini. Semua kenangan berharga yang telah ia bangun dengan suami dan putranya, justru dihancurkan oleh kelakuan busuk Hartono sendiri.
“Bu, ini aku!”
Terdengar suara Fabian dari luar kamarnya, memanggil sang Ibu yang tidak kunjung keluar kamar setelah berhari-hari.
“Boleh aku masuk?” Fabian bertanya.
Lelaki itu jelas merasa khawatir dengan kondisi ibunya. Belum lagi ia tidak melihat keberadaan ayahnya di manapun, membuat dugaan kalau kedua orang tuanya bertengkar semakin kuat.
Sharon menghapus air mata tanpa tenaga, ia pun menyahut panggilan Fabian dan menyuruh putranya untuk masuk.
Fabian lantas masuk dan menghampiri Sharon yang saat ini masih duduk termenung di atas ranjangnya.
Lelaki itu memperhatikan wajah ibunya yang terlihat pucat sementara kedua matanya sembab, membuat Fabian beranggapan kalau Ibunya baru selesai menangis.
“Kenapa, Bu? Apa ibu sedang sakit?” Fabian bertanya setelah mendudukkan dirinya di samping Sharon.
Sharon mengangguk mengiyakan, ia tidak ingin menyembunyikan apapun di depan putranya.
“Hati ibu yang sakit, putraku.” jawaban wanita itu sukses membuat Fabian terkejut.
“Sebenarnya ada apa? Siapa yang menyakiti perasaan ibu?” tanya lelaki itu.
Sharon terdiam sambil menahan dirinya yang kembali ingin menumpahkan air matanya. Namun Sharon tidak ingin putranya melihat seberapa rapuh dan hancurnya ia saat ini.
“Ayahmu telah berselingkuh.” jawab Sharon pelan.
__ADS_1
Fabian merasa seseorang tengah memukul dadanya dengan keras kala mendengar ucapan Ibunya. Kedua matanya melebar seiring menjalarnya rasa marah yang menyusup ke dalam rongga dadanya.
“Dia berselingkuh dengan wanita yang kemarin menjadi bagian dari kita.”
“Wanita sialan! Pelacur itu—”
Sharon kembali merasakan sesak pada dadanya mengingat bagaimana wajah polos Mia berhasil menarik hatinya. Ternyata terdapat kebusukan di balik wajah cantik nan polos wanita itu.
Sungguh, Fabian tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya mendengar penuturan Ibunya.
Bagaimana bisa ayahnya berselingkuh dengan Mia dan sejak kapan? Ini benar-benar mengejutkan dirinya. Bahkan dalam mimpinya sekali pun Fabian tidak pernah membayangkannya sama sekali.
Saat mendengar ayahnya telah berselingkuh, Fabian seketika kehilangan rasa hormat pada pria itu. Namun saat tahu dengan siapa ayahnya berselingkuh, selain rasa hormat yang hilang, dirinya juga membenci pria itu.
Karena selain berselingkuh, ayahnya juga telah menipu mereka. hal tersebut merupakan serangkaian kesalahan yang tidak mungkin bisa ia maafkan.
Melihat putranya yang bungkam, Sharon kemudian menggapai tangan Fabian dan menggenggamnya.
“Putraku, Ibu sangat berharap padamu untuk tidak mengikuti jejak yang dilakukan oleh ayahmu.” ujar Sharon mencoba mengingatkan Fabian.
“Aku tidak mungkin melakukan itu, Bu. Aku benar-benar mencintai Laura.” jawab Fabian dengan rasa percaya diri.
Wanita itu menyunggingkan senyum tipisnya, “Kau tahu nak? Ayahmu dulu juga seperti itu. Dia bilang dia sangat mencintaiku sebagai satu-satunya wanita di hatinya.”
“Hanya satu yang bisa mencegah manusia melakukan hal tersebut, Yaitu rasa takut terhadap Tuhannya.”
Fabian terdiam mendengarkan semua perkataan Ibunya yang terasa menggetarkan hatinya.
“Fabian, tanamkan semua rasa sakit yang ibumu alami dalam benakmu. agar kelak rasa sakit ini menjadi pengingat untukmu saat rasa bosan mulai menghampiri rumah tanggamu bersama Laura.”
**
Mia menatap nanar pada test pack dengan simbol positif yang tertera di dalamnya. Ternyata dugaannya atas semua keanehan yang terasa di tubuhnya memang benar.
Ia tengah mengandung, dan ini hasil perbuatannya dengan Hartono. Benih yang ia kandung adalah milik pria itu, pria yang ia cintai hingga saat ini.
Mia menjambak rambutnya dengan frustrasi, kenapa ia harus mengandung di saat mereka tidak lagi bersama. Di tambah lagi sekarang dirinya sedang menjalani pernikahan sandiwara bersama Haru.
Apa pendapat lelaki itu jika mengetahui dirinya sedang mengandung? Dan apa yang akan dipikirkan Nana mendengar kabar tersebut, sementara pernikahannya dengan Haru bahkan belum mencapai minggu ketiga.
“Apa yang harus aku katakan pada Haru?” tanya Mia sambil menyentuh perutnya.
__ADS_1
Meski hubungannya dengan Hartono telah usai, namun tidak ada secuil pun keinginan Mia untuk menyingkirkan janin dalam kandungannya. Karena janin ini merupakan bukti cintanya dengan Hartono.
“Bagaimana pun kondisinya, aku harus memberitahukan ini pada Haru.”
Perihal bagaimana keputusan lelaki itu nanti, Mia akan terima dengan lapang dada.
“Kenapa lama sekali?”
Mia terkejut ketika baru membuka pintu kamar mandi, ternyata ada Haru yang menunggu dirinya kembali dari kamar mandi.
“Kau baik-baik saja kan?”
“Kuperhatikan mukamu pucat akhir-akhir ini.”
Mia menatap Haru yang terlihat cemas, ia jadi merasa bersalah karena telah membuat lelaki itu khawatir.
“Mia—”
“Aku hamil, Haru.”
Keheningan tiba-tiba tercipta di antara mereka, Mia terdiam dengan perasaannya yang tidak karuan. Sementara Haru sendiri tengah bingung sekaligus terkejut mendengar kabar kalau istri pura-puranya sedang mengandung.
Mia menarik nafasnya dalam-dalam dan kemudian menghembuskannya secara perlahan.
“Kalau kau mau kita mengakhiri semua ini, aku tidak masalah.” ucap Mia.
Ia hanya beranggapan jika Haru tidak mungkin mau melanjutkan sandiwara mereka karena kehamilannya.
“Aku benar-benar terkejut saat mendengarnya.” Haru merespon untuk pertama kalinya setelah Mia memberikan kabar tentang kehamilannya.
“Tapi tidak apa, Mia. Kita bisa mencoba menjadi orang tua yang baik untuk bayi dalam kandunganmu.” ujar Haru sambil mengulas senyumnya.
Kedua mata Mia sontak terbelalak. Padahal ia sudah mengira kalau Haru akan membatalkan pernikahan kontrak mereka. tapi apa yang lelaki itu lakukan?
“Apa-apaan responmu itu?” Mia bertanya sambil menatap tajam Haru.
“Aku sedang hamil anak orang lain, Haru. Tidak kah kau merasa masalah dengan itu?” tanya Mia lagi dengan sedikit menaikkan nada bicaranya.
Haru kembali memamerkan senyumannya, ia kemudian menarik lengan Mia dengan lembut dan mengajak wanita itu untuk duduk di atas sofa.
“Aku sungguh tidak apa-apa, Mia.” jawab Haru membuat Mia semakin tidak mengerti dengan lelaki itu.
__ADS_1
“Aku akan ikut menjaga anakmu selayaknya seorang ayah.”
“Aku tidak masalah dengan semua itu. asalkan kau tetap berada di sini bersama Ibuku, maka aku juga tidak keberatan menganggap anakmu sebagai anakku juga.”